
Anarya memacu laju mobil dengan kecepatan tinggi menuju kediaman Daneela, saudara kembar dari Daneesa wanita yang teramat ia cintai. Kekhawatiran akan kehilangan buah hati begitu menyesakkan dada, hingga tak berpikir lagi dengan keselamatan dirinya.
Demi apapun ia tak akan sanggup kehilangan Nesa, hanya Nesa satu-satunya penebus setiap dosa yang pernah ia lakukan terhadap Daneesa, hanya Nesa yang selama ini mampu membuat ia bertahan menjalani hari-hari suram tanpa cinta.
Sesampai di rumah yang ia tuju, ia bergegas mengetuk pintu dan mengucap salam berkali-kali. Riak kekhawatiran tampak jelas tersirat di wajah penuh gurat kesedihan. Kecemasannya semakin menjadi tatkala pintu tak kunjung terbuka. Beberapa kali pandangannya mencoba menerobos kaca jendela, namun tak ia dapati tanda-tanda adanya penghuni rumah.
"Daneela ... kembalikan anakku ...." ratap Anarya menyayat hati.
Tubuh Anarya lunglai dan terduduk bersandar pintu karena tak satupun salamnya ada yang tersahut, bahkan gedoran pintu berkali-kali hanya menyisakan sakit pada tangan.
"Nesa, kembalilah pada ayah, Nak. Ayah tak sanggup hidup tanpa Nesa," Kembali ratapan Anarya memilukan hati.
Ia menangis menangkupkan wajah ke lutut. Pikiran kacau diliputi rasa kalut, hatinya tak menentu. Wajahnya kusut masai dengan rambut acak-acakan. Berkali-kali ia meratap, memukul kepala dengan kepalan tangan.
Sementara itu, dari kejauhan tampak sepasang mata tua memandangi Anarya dengan genangan bulir bening di kedua kelopak netra.
"Maafkan Mama, Nak. Mama selama ini telah menghancurkan kehidupanmu," sesal Bu Bram seraya mengusap airmata yang runtuh ke pipi.
Namun, saat ini Bu Bram tak mampu mendekati putra semata wayangnya. Karena dapat dipastikan Anarya hanya akan semakin membenci dirinya. Bu Bram merasa menjadi seorang ibu yang telah gagal, ia bukanlah ibu yang baik karena tega merenggut kebahagiaan buah hati yang selama ini ia banggakan.
"Karmin, antarkan aku ke toko kue Daneela."
"Tapi, bagaimana dengan Den Anarya, Nyonya?"
"Biarkan saja dulu."
"Kasian Den Narya, Nyonya."
Bu Bram terdiam tak menjawab perkataan Pak Karmin. Ada gerak batin yang tak mampu ia elakkan. Ya, rasa bersalah. Kealpaan yang selama ini telah ia perbuat tanpa ia sadari telah melukai terlampau dalam putra kesayangannya.
"Kita ke toko roti Daneela sekarang," titah Bu Bram kembali yang tak bisa ditolak oleh Pak Karmin.
Sekitar lima belas menit mobil memasuki area parkir sebuah toko roti yang begitu ramai dengan pengunjung. Dengan mantap Bu Bram melangkahkan kaki memasuki toko. Netranya mengedar keseluruh ruangan, namun pandangannya tak menemukan sosok yang ia cari.
"Ada yang bisa kami bantu, Ibu?" Seorang pramuniaga toko menghampiri dan menyapanya dengan sopan.
"Daneela ada?"
"Maaf, Ibu. Mbak Daneela sejak kemarin tidak kesini."
__ADS_1
"Kemana dia?"
"Mbak Daneela keluar kota, sekitar satu minggu."
"Membawa cucu saya?"
Pramuniaga itu mengeryitkan dahi, tak mengerti dengan pertanyaan wanita elegan di hadapannya. Menyadari hal tersebut Bu Bram tergagap. Entah sejak kapan hati kecilnya mengakui Nesa sebagai cucu.
"Ma-maksud saya Nesa, gadis kecil yang ia ajak kesini."
"Oh, Neng Nesa?"
"Iya, Bu. Neng Nesa diajak serta jalan-jalan."
"Jalan-jalan atau pindah rumah?"
Kembali pramuniaga itu membuat lipatan di kening, semakin tak mengerti. Lagi-lagi Bu Bram tercengang dengan ucapannya sendiri. Entah mengapa lidah itu susah dikontrol.
"Ehm ... tadi, saya ke rumah Daneela. Tapi di rumah tidak ada orang, jadi saya kira sudah pindah rumah. Kamu ada kontak Daneela yang bisa dihubungi?"
" Ada, Bu. Sebentar saya ambilkan kartu namanya." Pramuniaga itu meninggalkan Bu Bram dan menuju meja kerja yang ada di sebuah ruangan khusus.
"Ini, Bu. Ada nomor Hp Mbak Daneela disitu," ujar pramuniaga seraya menyodorkan kartu nama Daneela.
Bergegas ia ambil gawai yang tersimpan rapi di dalam tas branded nan mahal. Segera jemarinya menekan nomor yang tertera. Sejurus kemudian sambungan terhubung.
"Cepat Daneela, angkat." Tak sabar rasanya Bu Bram menunggu nada dering berubah suara.
"Ya, Tuhan." Bu Bram makin panik karena panggilannya tak diangkat. Bulir keringat membasahi wajah yang masih menyisakan rona kecantikan masa muda itu.
Ia kembali menekan ulang nomor panggilan. Kembali terdengar nada sambung.
****
Sementara itu, di tempat lain -dimana Daneela yang sedang menikmati waktu bersama Nesa dan juga Bu Rani-, baru saja selesai mandi. Ia tertegun ketika mendapati ada panggilan yang tak ia kenal. Ia sengaja abaikan panggilan dan memilih segera memakai baju kemudian berniat menyusul Bu Rani dan Nesa yang tengah asyik bermain di taman tempat ia menginap.
"Assalamualaikum," sapa Daneela setelah ia pikir mungkin pelanggan baru yang ingin pesan kue di tokonya.
"Daneela, kembalikan cucuku!" Suara di ujung seluler teramat sangat mengejutkan bagi Daneela.
__ADS_1
Ia pandangi kembali layar gawai, mencoba mengenali nomor yang terpampang di dalamnya. Tetap tak ingat meski ia mencoba.
"Maaf ini siapa?"
"Aku Bu Bram, kembalikan Nesa sekarang juga."
Daneela terhenyak. Sejenak ia bingung, namun sejurus kemudian akalnya kembali.
"Hahaha ... sejak kapan Nesa anda akui jadi cucu?"
Bu Bram terbungkam. Kini justru dirinya yang berada dalam dilema dengan ucapan dia sendiri.
'Benar ucapan Daneela, sejak kapan aku mengakui Nesa sebagai cucuku?' Batin Bu Bram berperang antara rasa galat, sesal, dan keinginan untuk mengembalikan kebahagiaan Anarya.
"Kenapa diam? Apa Bu Bram yang angkuh itu telah kehilangan taring sehingga tak mampu bersuara?"
"Daneela, tolong bawa Nesa kembali. Demi Anarya."
"Maaf, saya tidak bisa. Nesa sudah menemukan kebahagiaan di sini. Ia berhak menikmati keceriaan masa kecilnya, bukan hinaan dan siksaan."
Kembali kerongkongan Bu Bram tercekat, tak mampu bersuara. Kata-kata Daneela menghunjam tepat di ulu hati. Tak mampu ia pungkiri kenyataan bahwa selama ini sikap dia dan Lasmi ke Nesa sangatlah buruk.
Belum sempat ia berucap, sambungan seluler telah ditutup oleh Daneela. Bu Bram hanya diam mematung, tubuhnya serasa dilucuti tanpa tulang. Gawai terjatuh dari tangan yang melemah, uraian airmata kini menganak sungai.
Pak Karmin yang menyaksikan majikannya merasakan kesedihan yang sangat dalam. Tak dapat ia sanggah, selama ini Bu Bram tak pernah sekalipun bersikap baik terhadap Nesa. Dan sekarang, rasa sesal itu datang namun luka yang ia cipta sudah tak mampu dibalut lagi.
"Maaf, Nyonya. Sebaiknya kita pulang. Nyonya butuh istirahat."
"Karmin, bagaimana dengan Nesa. Aku harus membawa dia pulang. Kamu lihat tadi, kan? Bagaimana Anarya menangis meratapi anaknya? Aku tak sanggup melihatnya, Karmin." Masih dengan sesenggukan Bu Bram menuturkan kesedihan hati yang teramat dalam.
"Biarkan Neng Nesa menikmati kebahagiaannya, Nyonya."
"Lalu Anarya?"
Pak Karmin menghela nafas, ia juga bingung tak tahu harus bagaimana.
"Bagaimana kalau Nyonya saya antar pulang dulu, nanti diselesaikan di rumah bersama Den Narya dan juga Tuan Bramantyo?"
"Aku malu, Kirman. Ibu macam apa aku ini yang tega membuat anaknya menderita."
__ADS_1
"Lebih baik mengakui kesalahan, Nyonya. Daripada seumur hidup nyonya dihantui rasa bersalah."
Bu Bram kembali terdiam, bahkan ketika Pak Karmin mulai melajukan mobil ia tetap bergeming. Hanya pikirannya yang mengembara entah kemana. Terlalu banyak hal yang ia sesalkan.