
Kepala Anarya serasa hampir pecah. Ia melajukan mobil dengan pikiran bercabang, tak sepenuhnya fokus pada jalanan yang cukup ramai.
Sudut netra Anarya melirik kaca di atas kepala, tampak Resti lelap tertidur. Anak itu begitu penurut dan tidak rewel, seolah tahu apa yang dirasakan oleh orang tuanya.
Tiiiiin ... Brak!
Bunyi klakson panjang diiringi dengan dentuman bunyi benda saling bertabrakan membuyarkan lamunan Anarya.
Decitan keras roda mobil beradu dengan aspal terdengar memekak telinga. Tanpa bisa menghindar, Anarya pasrah ketika mobilnya tersambar sebuah kendaraan besar. Seketika pandangannya buram dan tak tahu lagi apa yang terjadi.
☘☘☘
Sementara itu, di tempat lain dimana seorang gadis kecil yang telah menemukan kebahagiaan yang ia pinta dari Sang Pemilik Hidup, sedang bermain dengan boneka kesayangannya.
Imajinasi bocah yang menginginkan ayah dan ibu ada bersamanya menjadi bahan cerita yang seru baginya. Namun, keasyikan itu terhenti ketika tak sengaja manik hitam itu mengarah ke layar datar bersuara yang menyiarkan sebuah berita kecelakaan.
Netra Nesa menyorot pada mobil yang plat nomornya sangat ia kenal, plat nomor yang merupakan simbol dari namanya.
"Ayah ...." Nesa berdiri dan mendekat ke layar televisi seolah ingin memastikan siapa yang ada dibalik layar itu.
"Ma! Ayah, Ma!" teriak Nesa dengan langkah surut ke belakang saat melihat sosok tubuh yang sedang dievakuasi.
"Mama! Cepat kemari!"
"Apa, Sayang?"
"Lihat, Ma. Itu Ayah," tangis Nesa pecah.
Daneela yang melihat berita tabrakan karambol dengan salah satu korban merupakan lelaki yang selama ini menyematkan luka dalam hati keluarganya. Daneela terpegun menatap kaca layar datar yang masih memuat proses evakuasi pengangkatan tubuh Anarya yang kondisi kakinya terjepit.
"Ma! Itu Dek Resti!" Nesa semakin histeris seraya menunjuk televisi.
Tampak seorang pria yang mengevakuasi membobong tubuh anak kecil. Ya, itu Resti. Ia juga menjadi korban dari tabrakan itu. Daneela menutup mulut dengan kedua tangan. Hampir saja ia turut berteriak histeris.
"Ya, Allah ... selamatkan mereka." Dengan hati tak menentu penuh kekhawatiran Daneela berdoa, mengharap semuanya akan baik-baik saja.
"Ma, kita jenguk Ayah dan Dek Resti sekarang, ya? Kasihan, Ma," pinta Nesa seraya menarik ujung baju Daneela.
"Iya, Sayang. Kita segera kesana." Daneela mencoba menenangkan Nesa dengan sebuah pelukan.
__ADS_1
"Sekarang, ya, Ma."
Daneela mengangguk dan segera masuk kamar mempersiapkan beberapa lembar pakaian ganti serta perlengkapan lainnya. Setelah berpamitan dengan Bu Rani, Daneela membawa Nesa menemui Anarya.
Berbekal kabar dari televisi, Daneela menuju rumah sakit tempat Anarya dan Resti dirawat. Setelah dari resepsionis, akhirnya Daneela menemukan ruang ICU, di mana ada sosok yang mulai ada dalam doanya sedang terbaring lemah.
Dari balik kaca pintu ia memandang sendu pada sosok yang tergolek lemah dengan banyak alat menempel pada tubuhnya. Cairan bening menetes dari netra yang tak mampu menahan genangan kesedihan.
Perlahan ia membuka pintu, Nesa yang tak sabar segera menerobos dan menghambur ke tubuh ayahnya yang terbaring tanpa bisa membuka mata
"Ayah, Nesa datang untuk Ayah. Ayah bangun, Yah." Nesa berusaha mengguncang pelan lengan Anarya.
"Ayah kenapa nggak mau bangun? Ayah nggak denger Nesa, ya? Jawab donk, Yah." Airmata Nesa menganak sungai, rasa takut kehilangan menyelimuti perasaan bocah kecil itu.
"Ma, Ayah kenapa nggak mau bangun? Ayah tidur 'kan, Ma? Ayah nggak meninggal, 'kan?"
Daneela yang sedari tadi mematung dengan linangan bening kristal membanjiri pipi, trenyuh menyaksikan semua adegan kehidupan yang tengah berlangsung pada gadis kecil dihadapannya.
Baru saja Nesa mengecap bahagia, namun kini ia harus merasakan kembali ketakutan yang maha dasyat mengguncang jiwa. Daneela segera mendekat dan memeluk Nesa. Ia mencoba menenangkan gadis kecil yang mulai tak mampu mengontrol tangisnya lagi itu.
"Nesa jangan khawatir. Ayah nggak apa-apa, kok. Ayah hanya tertidur, Sayang. Dokter kasih obat tidur biar Ayah bisa istirahat."
"Nesa, Sayang ... kapan Mama pernah bohong?"
Nesa terdiam. Kembali ia pandangi wajah ayahnya. Tangan kecilnya mulai mengusap pipi Anarya, kemudian menciumnya beberapa kali.
"Nesa sayang Ayah. Sangat sayang Ayah. Nesa janji nggak akan tinggalin Ayah lagi. Nesa mau jagain Ayah sampai Ayah sembuh."
"Nesa berdoa untuk kesembuhan Ayah, ya? InshaAllah Ayah akan sehat lagi dan kita bisa berkumpul lagi." Daneela mencoba membujuk Nesa, memberikan sedikit rasa tenang bagi keponakan yang kini menjadi anaknya, meski hatinya diliputi oleh berjuta kekhawatiran yang mendera.
"Iya, Ma."
"Tadi Nesa lihat di samping rumah sakit ada masjid?"
"Iya."
"Nesa berani berdoa sendiri di sana?"
"Berani, Ma. Tapi ... Nesa ingin melihat Dek Resti dulu."
__ADS_1
"Sebaiknya Nesa berdoa dulu, nanti jenguk Dek Resti biar Mama temani. Takutnya kalau ada Ibu Lasmi di sana."
"Tapi, Ma ...."
"Nesa anak baik, pasti mau dengerin apa kata Mama. Mama hanya nggak mau kalau terjadi apa-apa dengan Nesa. Nesa paham maksud Mama?"
Nesa hanya mengangguk, kemudian berbalik keluar dari ruang ICU. Tinggallah Daneela seorang diri menemani Anarya dengan pilu menyayat rasa.
Perlahan Daneela mendekat, ia perhatikan wajah Anarya yang tanpa ekspresi. Namun, Daneela kembali tertegun ketika melihat ada bulir bening menitik keluar dari sudut netra Anarya.
"Kamu mendengar perkataan Nesa tadi, Narya?" lirih Daneela seraya mengusap lembut sudut netra Anarya.
"Aku tak tahu ini hukuman untukmu atau bukan, Narya. Tapi asal kamu tahu, sekarang ini ada yang terasa hilang dari separuh hatiku."
Tangan Daneela perlahan menyentuh jemari Anarya. Ada sesuatu yang menjalar, perasaan yang aneh. Seulas senyum hambar tersungging dari bibirnya.
"Anarya, kamu memang penoreh luka bagiku dan juga ibuku. Mungkin untuk memaafkanmu tak mudah. Tapi melihatmu seperti ini sungguh aku tak tega, apalagi ketika melihat Nesa menangis untukmu."
Sejenak Daneela tertunduk, menatap jemari Anarya. Sebuah cincin titanium steel bergambar mahkota raja. Cincin yang sama dengan milik saudara kembarnya.
"Ternyata kamu masih menjaga cintamu untuknya. Kamu menyiksa hidupmu sendiri, Anarya." Dengan perlahan Daneela mencoba melepas cincin itu.
Di luar dugaan, jemari Anarya mengatup keras seolah tak mengijinkan cincin itu lepas dari jari. Daneela terkejut, ia pandangi wajah Anarya. Berharap pria di hadapannya membuka mata.
"Anarya ... bangunlah jika kamu tak rela kehilangan cintamu. Bangun! Nesa membutuhkanmu. Aku tak sanggup melihat bocah kecil itu menangis lagi."
'Aneh. Ia merespon dengan semua perkataan, namun kenapa ia tak mampu membuka matanya?' batin Daneela.
Dengan perlahan dan hati berdebar, Daneela mendekatkan wajah ke sisi wajah Anarya. Nafasnya berubah tak teratur, ada gejolak yang ia rasa dan berusaha ia redam.
Daneela memejamkan netra mencoba mengendalikan perasaan. Berkali-kali Daneela menghela napas, berusaha menetralisir perasaan yang berkecamuk.
Setelah ia rasa hati mulai tertata kembali, ia memberanikan diri menatap wajah Anarya dalam jarak yang sangat dekat.
"Anarya ... bangunlah. Ijinkan aku menggantikan Daneesa demi putri kecilmu. Aku tahu kamu ingin melihatnya bahagia, bukan? Bangunlah," bisik Daneela dengan lirih.
Tiba-tiba suara layar pendeteksi detak jantung berbunyi, menandakan detak kehidupan mengalami perubahan. Jari Anarya mulai ada pergerakan. Daneela yang melihat itu sontak ingin bersorak karena ternyata alam bawah sadar Anarya merespon setiap perkataan yang ia ucap.
"Apa yang kamu lakukan disini, Daneela?" Sebuah suara mengejutkan muncul dari balik pintu.
__ADS_1
Daneela terhenyak tatkala melihat wanita di atas kursi roda itu memandanginya dengan rasa tidak suka. Pandangan penuh kebencian.