
Jalanan di malam hari nampak begitu lengang. Anarya yang keluar dari masjid kembali menuju mobil dan melajukan mesin beroda empat itu dengan tujuan ke vila, tempat ia kali pertama melakukan kesalahan dan melanggar sumpahnya.
Dengan perlahan ia memutar gagang pintu dan mendorongnya. Ia mengedarkan pandangan menyapu ruangan pertama dari bagian vila bergaya minimalis itu. Hanya keheningan yang ia dapati. Setelah menyalakan lampu, langkahnya menapaki tangga menuju lantai atas.
Sebuah kamar dengan dinding kaca bagian depan menembus pandangan ke arah pemandangan yang menyegarkan netra. Ruangan itu masih sama seperti sembilan tahun silam saat ia datang membawa Daneesa dalam keadaan di bawah pengaruh obat perangsang. Ya, kesalahan pertamanya berujung duka tanpa akhir hingga kini.
"Maafkan aku, Daneesa. Aku melanggar janji kita," gumamnya lirih sembari mengelus sprei berwarna biru laut yang menghampar di tempat tidur.
Kenangan itu muncul kembali, melintas jelas di setiap slide memori. Ia terduduk di sisi ranjang, ia biarkan pikirannya kembali mengenang seluruh cerita masa lalu yang menyisakan berjuta penyesalan.
Saat itu, Anarya telah berusaha memperjuangkan cintanya. Demi Daneesa ia ambil keputusan tanpa mempertimbangkannya terlebih dahulu.
Sebuah pernikahan yang bisa dibilang nekad. Demi mendapat restu orang tua, Anarya meminta Daneesa untuk menikah bawah tangan terlebih dahulu. Disaksikan oleh Bu Rani dan beberapa saksi lainnya, acara sakral pengikat janji suci ijab qobul pernikahan pun dilaksanakan tanpa kehadiran orang tua Anarya.
Ya, saat itu hanya ada kegilaan Anarya. Ia takut kehilangan wanita yang teramat ia cintai, sehingga ia nekad meminta ijin Bu Rani untuk menikahi Daneesa.
Anarya tetap memaksa meski Bu Rani sangat keberatan dengan cara tersebut. Berkat usaha kerasnya meyakinkan orang tua Daneesa, alhasil Bu Rani meloloskan permintaannya, namun dengan satu syarat.
"Nak, Anarya. Daneesa saat ini juga masih kuliah. Ibu ingin ia fokus dengan masa depannya dulu. Apalagi Daneesa adalah penerus usaha keluarga, ia punya tanggungjawab untuk melanjutkan usaha Bakery yang Ibu miliki."
"Anarya janji, Bu. Anarya tidak akan menghalangi Daneesa menyelesaikan kuliah. Anarya juga akan dukung usaha Daneesa kelak."
Bu Rani tersenyum melihat kegigihan Anarya untuk meyakinkannya. Masih dengan senyum tersungging, Bu Rani pun berujar kembali, "Apa kamu sudah meminta petunjuk pada Allah? Jika kamu sedang dalam persimpangan, salat dan mohonlah petunjuk pada Allah. Jangan terburu-buru untuk memutuskan sesuatu."
"Anarya sudah yakin, Bu. Hanya ini cara agar Mama dan Papa bisa merestui hubungan aku dan Daneesa." Sorot netra Anarya kini pasrah.
"Baiklah, kalau memang itu sudah menjadi jalan yang ingin kamu tempuh. Semua aku serahkan kembali pada Daneesa, ia mau atau tidak."
Demi langit ketujuh, binar asa seketika terpancar dari netra Anarya. Segera ia meraih tangan Bu Rani dan menciumi punggung tangan wanita yang memiliki sifat keibuan itu, berkali-kali seraya mengucap terimakasih.
Bu Rani membalas sikap Anarya dengan mengusap bahu pria muda yang pantang menyerah itu. Sebenarnya hati Bu Rani sedang menangis karena harus melepas putri kesayangan menikah tanpa restu dari pihak orang tua mempelai pria.
"Tapi dengan satu syarat, Nak Anarya."
"Apa itu, Bu?" Anarya mendongak dan menatap lekat pada wajah sendu yang melukiskan ada sebuah rasa ketidakrelaan atas semua pilihannya. Anarya berharap syarat itu tak terlalu menyulitkannya.
"Setelah menikah, jangan pernah sentuh Daneesa sebelum kalian benar-benar mendapat restu dari orang tuamu dan sah secara negara."
Anarya terdiam. Syarat tidak menyentuh Daneesa itu mudah baginya, karena tujuan ia menikahi Daneesa bukan semata-mata menginginkan hal tersebut. Namun tantangan selanjutnya yang membuat ia justru kini bergeming. Bagaimana jika ia gagal membuat orang tuanya yakin terhadap pilihannya? Apakah pernikahan sah secara hukum negara itu tak akan terwujud?
"Bagaimana, Nak Anarya?" tanya Bu Rani membuyarkan lamunan Anarya.
"I-iya, Bu. Saya sanggup, Ibu tidak perlu khawatir untuk masalah tersebut.
Akhirnya Anarya menerima syarat tak akan menyentuh Daneesa selama pernikahannya belum sah secara hukum negara. Dan ini merupakan tantangan terberat bagi dia, mendapatkan restu orang tuanya.
__ADS_1
Pernikahan itu pun digelar dengan sederhana, tak ada pesta. Hanya ijab dan qobul yang sakral menjadi sebuah kebahagian tersendiri bagi mereka yang sedang dilanda asmara. Beberapa jepretan foto mengabadikan momen penting dalam perjalanan cinta mereka.
Namun kenyataan pahit kembali merenggut asa yang ingin digenggam oleh Anarya. Sekuat ia berusaha, maka sekuat itu pula penolakan yang ia terima. Bu Bram tetap menolak kehadiran Daneesa dengan alasan kedudukan sosial yang kontras bak langit dan bumi. Daneesa dirasa tak pantas menjadi pendamping penerus trah keluarga Bramantyo.
"Anarya, masih banyak wanita kaya yang sepadan dengan status sosial kita. Coba buka mata kamu, lihat itu Lasmi yang sudah sejak lama menaruh hati kepadamu. Jangan kamu dibutakan oleh cinta wanita tak berkelas seperti Daneesa!" omel Bu Bram saat itu.
"Ma, aku dan Daneesa sudah menikah. Ini buktinya." Anarya menyodorkan beberapa lembar foto pernikahannya dengan Daneesa ke arah Bu Bram.
Sontak foto-foto itu mampu membuat netra Bu Bram dan suaminya membulat terbelalak, terutama Bu Bram yang tetiba dadanya merasa sesak. Oksigen seolah tak mau masuk ke paru-paru, hingga terpaksa ia menjatuhkan diri dan terduduk di sofa. Ya, Bu Bram shock kala itu.
"Minumlah dulu, Ma," kata Pak Bram sembari menyodorkan segelas air putih yang kemudian disambut oleh Bu Bram.
"Pa, anak kita sudah dijebak oleh wanita miskin itu," ucap Bu Bram sedih setelah beberapa tegukan air putih membasahi kerongkongan.
"Anarya tidak dijebak, Ma. Anarya yang datang meminta Daneesa ke ibunya," sahut Anarya tak terima.
"Sudah cukup!" teriak Pak Bram seraya bangkit dan berkacak pinggang.
"Anarya, kamu salah besar mengambil langkah menikahi gadis itu tanpa ijin kami," sambung Pak Bram dengan tatapan tajam ke arah Anarya.
"Tak sepantasnya kamu melakukan itu, apa kamu anggap kami sudah mati?"
"Aku sudah berusaha memberitahu Papa dan Mama, tapi kalian menolak!" teriak Anarya tak kalah histeris.
"Tapi bukan berarti kamu bisa seenaknya saja mengambil keputusan!"
"Minggu ini, Papa akan urus kepindahanmu."
"Maksud Papa apa?"
"Kamu akan kuliah di Australia."
"Nggak, Pa!"
"Mau nggak mau itu keputusan Papa." tegas Pak Bram tanpa memberi kesempatan pada Anarya untuk menolak.
"Baiklah kalau Papa memaksa, jangan salahkan Anarya jika berbuat nekad."
"Apa maksud kamu?"
Anarya tak menjawab. Hanya tatapan penuh kekecewaan yang ia siratkan. Tanpa menghiraukan pertanyaan ayahnya, ia melenggang pergi keluar dari rumah.
Kalut. Ya, saat itu Anarya benar-benar kalut. Ia tak tahu lagi apa yang harus dilakukan untuk membuat kedua orang tua itu berubah.
Satu minggu sudah pernikahan dia dengan Daneesa, satu minggu itu pula ia pergi dari rumah dan memilih tinggal di kamar kost untuk menghindari pemaksaan Pak Bram yang mengultimatum agar pindah kuliah ke Australia.
__ADS_1
Pagi itu ia berjumpa kembali dengan Daneesa. Seperti biasa menjemput Daneesa untuk berangkat kuliah. Tapi ada yang aneh dari sikap Daneesa pagi itu. Ia lebih banyak diam, bahkan enggan mencium tangan Anarya saat ia hendak masuk ke kelas.
Daneesa juga mengacuhkan Anarya saat jam istirahat, bahkan saat pulang pun Daneesa enggan berjalan sejajar dengan Anarya.
"Daneesa, kamu kenapa? Bilang donk kalau aku ada yang salah."
"Tanya saja ke Mama kamu," ketus Daneesa sambil tetap berjalan.
"Kenapa lagi dengan Mama?"
Daneesa menghentikan langkah, menatap tajam pria penghuni hatinya. "Pulang dan tanyakan pada Mama kamu. Aku tak ingin menjelaskan apapun," ucap Daneesa kemudian berlalu meninggalkan Anarya yang masih tak mengerti dengan sikap Daneesa.
Sore itu juga Anarya pulang kembali ke rumah untuk meminta penjelasan kepada Mamanya. Pantas saja Daneesa merasa sakit hati karena kecewa dengan sikap Bu Bram yang beberapa waktu lalu mendatangi toko roti untuk melabrak Daneesa dan ibunya.
Anarya semakin meradang saat tahu sikap Bu Bram yang terlalu arogan terhadap keluarga Daneesa. Ingin rasanya ia menyudahi hidup agar tak merasakan siksaan neraka dunia yang diciptakan oleh orang tuanya sendiri.
Hampir satu bulan Anarya berusaha meminta maaf pada Daneesa atas sikap Bu Bram, tetapi entah terbuat dari apa hati Daneesa. Begitu keras. Sulit memaafkan.
"Daneesa, kenapa kamu tak bisa memaafkan Mama. Dan kenapa kamu menghukum aku atas kesalahan Mama?" protes Anarya saat mendatangi rumah Daneesa.
"Luka yang ditoreh Mama kamu sudah terlalu dalam, Anarya. Dia boleh menghinaku, tapi tidak dengan Ibuku."
"Ya, aku tahu itu." Teramat lirih Anarya berucap, ia tundukkan wajah tak mampu memandang tatapan sakit hati dari Daneesa.
"Jika kamu tahu, maka berhentilah memohon. Karena sampai kapan pun aku tak akan pernah memaafkan sikap Mama kamu."
"Sebaiknya kamu pergi," sambung Daneesa sembari berdiri dan melangkah meninggalkan Anarya.
Anarya mencoba menyusul Daneesa yang telah mengunci pintu kamar. Di balik pintu terdengar isak tangis yang teramat memilukan. Hati Anarya serasa dicabik. Keinginannya untuk membahagiakan Daneesa justru menciptakan banyak luka pada hati wanita yang sangat ia cintai.
"Pulanglah dulu, Nak Anarya. Daneesa mungkin butuh waktu untuk menyembuhkan setiap luka akibat ucapan Mama kamu," saran Bu Rani yang melihat Anarya berdiri di depan pintu dengan derai bulir bening di pipi.
Anarya menoleh, kemudian segera menyeka air mata. "Baiklah, Bu. Sekali lagi saya minta maaf atas semua kesalahan Mama, tapi tolong jangan benci saya. Saya sudah berupaya untuk membuat mereka merestui hubungan kami, saya rela meninggalkan mereka demi cinta saya ke Daneesa," ucapnya memelas.
"Iya, Ibu tahu. Ibu tidak membencimu, nanti Ibu akan usahakan untuk membujuk Daneesa. Sekarang pulang dan tenangkan hatimu. Istirahatlah, karena Ibu lihat kamu juga sedang tidak sehat."
"Baik, Bu. Terimakasih." Anarya mencium punggung tangan sang ibu mertua dengan penuh takzim, kemudian melangkah pergi dan kembali ke tempat kost.
Keadaan yang begitu membuat Anarya tertekan, pipinya terlihat lebih tirus. Penampilan yang dulu begitu rapi, kini berubah drastis. Rambut yang sudah mulai panjang tak ia urus, wangi yang menguar dari tubuhnya pun hampir tak tercium lagi.
Kondisi Anarya benar-benar memprihatinkan. Namun, entah setan apa yang telah membisiki hati seorang Anarya sehingga sore itu ia memasuki toko penjual obat perangsang. Dalam pikirannya hanya ada satu cara, yaitu menghamili Daneesa. Toh ia sudah sah sebagai suami Daneesa dalam hukum agama.
"Maafkan aku, Daneesa." Isakan tangis Anarya kembali pecah ketika semua masa lalu itu hadir.
Sesal yang berkepanjangan membuatnya tak mampu memaafkan dirinya sendiri hingga kini. Bahkan untuk melupakan cinta pertamanya pun ia tak mampu.
__ADS_1
Daneesa. Ya, gadis itu telah mengambil seluruh hati dan cintanya. Daneesa telah membawa pergi semua jiwanya. Kini, hanyalah raga yang berusaha kompromi dengan takdir.
"Tuhan, ampunkan aku. Ijinkan aku mengambil sedikit saja asa hidupku dari seorang Daneela sebagai pengganti wanita yang teramat kucintai," doa Anarya dalam sedu sedan tangisnya.