
Malam telah larut, namun netra Daneela tak mampu terpejam. Ia pandangi wajah lelaki yang telah berhasil meluruhkan dendam yang menggunung dalam hatinya.
Kembali ia telentang, melepas pandangan ke langit-langit kamar. Terlalu banyak pertanyaan yang muncul dalam benaknya, termasuk apa yang Anarya bicarakan dengan Bu Bram.
Pikiran Daneela mulai berkecamuk, ketakutan akan masa lalu yang dialami Daneesa tak bisa diabaikan begitu saja. Ia tak ingin mengalami hal yang sama seperti saudara kembarnya.
Kini ia bangkit dari peraduan, kaki yang sebenarnya lelah karena pekerjaan menggarap orderan kue hampir menyita waktu dan tenaganya hari ini terpaksa ia langkahkan keluar kamar.
Di ruang makan, Daneela duduk sembari minum air putih yang ia tuang hanya setengah gelas. Entah sudah berapa kali ia menghempas napas sembari mengusap wajah.
"Lasmi ... tak akan pernah kubiarkan kamu menjadikan aku sebagai korban berikutnya. Kecurangan dan kelicikan yang dulu kamu andalkan, tak akan bisa memperdaya siapapun lagi."
Tak terasa tangan Daneela meremas taplak meja dengan begitu geram. Kilatan memori akan peristiwa masa lalu yang menimpa Daneesa kembali memenuhi ruang ingatan.
Ya, saat itu Daneela sedang mengandung delapan bulan. Ia pulang dalam keadaan pendarahan hebat. Dengan panik Daneela dan Bu Rani membawanya ke rumah sakit bersalin.
Tak ada cerita kenapa ia sampai seperti itu, karena hingga akhir napasnya Daneesa tak pernah cerita apa yang telah terjadi. Setelah melahirkan, ia hanya meminta Daneela untuk menjaga putrinya dari orang-orang jahat.
Kecurigaan Daneela saat itu adalah Bu Bram, karena hanya dia yang menentang hubungan Anarya dan Daneesa. Namun, saat itu ia tak punya bukti untuk melaporkan kejahatan yang telah dilakukan wanita sombong dan arogan itu.
Tak pernah ia sangka, ternyata di balik semua kejadian itu ada Lasmi sebagai dalangnya. Ia menggunakan keterpurukan keluarga Bramantyo sebagai kesempatan untuk mendapatkan cinta Anarya.
Bu Bram yang berasal dari keluarga tidak mampu tak ingin kekayaan suaminya hilang, ia takut akan menjadi miskin lagi. Bagai gayung bersambut, niat Lasmi mendapat respon baik dari Bu Bramantyo.
Huff ....
Kembali Daneela menghela napas dan menghembuskannya kuat-kuat. Cerita masa lalu yang ia ketahui dari penjelasan Anarya membuat dadanya terasa sesak dan terhimpit.
Kali ini ia tak akan membiarkan Lasmi berulah lagi. Air mata Bu Rani sebagai seorang ibu yang kehilangan anak sudah cukup menyakitkan bagi Daneela, dan kini ia tak akan biarkan Lasmi membuat airmata orang tua itu jatuh lagi.
"Baiklah, aku harus ambil tindakan. Aku harus ketemu dengan Lasmi. Tapi ... bagaimana aku bisa menemui dia tanpa ketahuan Anarya?" Telunjuk Daneela mengetuk-ngetuk gelas yang telah kosong.
"Atau ... ehm ... atau aku terus terang saja ke Anarya kalau aku ingin menemui Lasmi untuk memberi peringatan ke dia?" gumam Daneela yang masih terus berpikir.
"Tidak, tidak ... Anarya saja masih menyembunyikan sesuatu dariku. Itu artinya aku harus tahu apa yang ia sembunyikan. Jika sudah jelas permasalahannya, barulah aku bertindak." Binar sumringah seketika hadir dalam raut wajah ayu milik Daneela, ia jentikkan jari sembari tersenyum.
Kembali ia tuangkan air minum ke gelas yang sedari tadi ia pegang. Namun, baru saja hendak minum ... kembali wajah berseri itu surut.
"Tapi ... bagaimana aku dapat informasi?" Tangan Daneela menggaruk kasar kepala yang tak gatal.
"Argh ... akan aku paksa Anarya bicara. Susah amat, sih! Pokoknya, aku tak mau jika aku atau Nessa berada dalam bahaya. Lebih baik aku harus tegas dari sekarang!" Daneela berusaha membulatkan tekad.
Harapan dia untuk mereguk manisnya dunia bersama lelaki yang ia cintai tak akan ia lepas begitu saja. Demi Nessa dan juga nasib rumah tangganya.
****
Sinar mentari pagi menerobos rerimbunan daun, hangat menyentuh kulit. Burung-burung kecil berkicau ria mengiringi naiknya sang surya sepenggalah.
Di langit, tak ada sedikit pun awan yang menggantung. Hanya awan cirrus stratus yang mendominan angkasa. Begitu cerah suasana hari ini.
Berbanding terbalik dengan suasana hati seorang Anarya. Ia terlihat begitu tak bersemangat ketika berada di tengah anak dan istrinya. Raga bersama mereka, namun pikirannya melayang ke Resti.
Anak kecil itu benar-benar menyita pikirannya. Bahkan semenjak ancaman Lasmi, ia menjadi semakin tak tega meninggalkan bocah kecil yang selama ini memanggilnya dengan sebutan ayah.
'Benarkah aku ayahnya?' tanya Anarya dalam hati.
Kegelisahan itu kian menjadi kala ia menemui Bu Bramantyo. Dari wanita itu, Anarya mendapatkan informasi bahwa sebelum dengan Anarya, Lasmi pernah memiliki hubungan dengan pria lain bernama Yoga. Namun, sejauh mana hubungan mereka, Bu Bramantyo tak bisa memastikan.
Keraguan akan darah yang mengalir dalam tubuh Resti semakin menguat dengan adanya cerita itu. Bisa saja Lasmi hamil dengan Yoga, namun lelaki itu tak mau bertanggungjawab sehingga Lasmi mengejar Anarya dan memaksanya menikah.
Segala kemungkinan bermunculan di otak Anarya. Ia mencoba menghitung tenggang waktu antara pernikahan dengan kehamilan Lasmi. Dengan jeli Anarya kembali menjelajah masa lalu, ia mencoba mengingat kejadian demi kejadian.
Saat itu, Lasmi datang ke rumah menemui Bu Bramantyo. Namun, untuk apa Anarya tak tertarik untuk mengetahui karena sedikit pun ia tak tertarik dengan Lasmi.
Seminggu setelah kedatangan Lasmi ke rumah, Bu Bramantyo mulai memaksa Anarya untuk menemani Lasmi bepergian atau mengantar Lasmi pulang.
__ADS_1
Keinginan Bu Bramantyo semakin kuat kala kondisi keuangan yang semakin sulit. Bu Bramantyo memohon agar Anarya menyelamatkan perekonomian keluarga.
Saat itu, Anarya masih bersikukuh mempertahankan keinginannya untuk tetap dengan Daneesa, apalagi Daneesa tengah mengandung anak hasil buah cinta mereka.
Berbagai cara dilakukan Bu Bramantyo untuk memisahkan Anarya dengan Daneesa, hingga akhirnya ia mengirim Anarya keluar negeri untuk kuliah. Di luar dugaan, ternyata kepergian Anarya dijadikan kesempatan untuk menyingkirkan Daneesa.
Hanya berselang satu bulan semenjak kepergiannya, ia mendengar kabar kematian wanita yang sangat ia cintai. Saat itu tak ada curiga terhadap dua wanita licik itu, karena kabar yang ia dapatkan hanya menceritakan bahwa Daneesa meninggal pasca melahirkan.
Desakan menikah dengan Lasmi tak pernah ia hiraukan hingga akhirnya Nessa berusia tiga tahun dan ia ambil dari tangan Bu Rani sebagai penebus kesalahan terhadap Daneesa. Ia terpaksa menerima Lasmi karena kala itu Lasmi menunjukkan kasih sayangnya terhadap putri semata wayangnya itu.
Ya, pernikahan itu terjadi setelah Nessa tiga tahun. Itu artinya rentang waktu sangat panjang, tidak mungkin Lasmi hamil dengan Yoga sebelum menikah dengannya. Apalagi kehamilan Lasmi terjadi setelah usia pernikahan hampir delapan bulan.
Butuh waktu untuk menerima Lasmi sebagai istri, karena bayang-bayang Daneesa terus saja menghantui setiap tarikan napasnya. Rasa bersalah telah meninggalkan ia dalam keadaan hamil, bahkan gagal meyakinkan Bu Bramantyo untuk menerima Daneesa sebagai menantu.
'Jadi, jelas Resti bukan anak Yoga. Apa benar Resti anakku? Tapi kenapa golongan darahnya berbeda?' batin Anarya.
Lamunan Anarya membuatnya tak sadar bahwa sedari tadi Daneela memperhatikan setiap ekspresi wajahnya. Bahkan panggilan Nessa hingga beberapa kali tak ia dengarkan. Daneela yang melihat Nessa mencoba menarik lengan ayahnya, cepat-cepat memberi kode kepada gadis kecil itu agar diam dulu.
"Ma, Ayah kenapa?" tanya Nessa setengah berbisik.
"Sttt ... biarkan saja dulu, kita lihat. Sepertinya Ayah sedang berpikir keras." Daneela menjawab sembari melempar senyum.
Gadis kecil nan lugu itu hanya manggut-manggut dan menurut apa kata Daneela. "Sayang, hari ini Ayah mau bawa Nessa ketemu Dek Resti. Jadi, setelah sarapan Nessa siap-siap, ya?"
"Iya, Ma." Nessa menjawab dengan anggukan penuh semangat, ia bergegas menyelesaian makan yang hanya tinggal beberapa suap lagi.
Seusai makan, gadis kecil itu segera menuju kamar untuk berganti baju dan menyiapkan diri. Daneela yang melihat polah tingkah Nessa, hanya tersenyum.
Setelah Nessa meninggalkan ruang makan, Daneela mendekati Anarya yang masih hanyut dalam lamunan. Tak ingin membuang waktu, ia segera menepuk lengan lelaki di hadapannya itu.
Tepukan yang sedikit keras membuat Anarya terhenyak dan bangun dari kesibukan di alam pikirnya. "A-apa, Sayang?" Anarya tergagap.
"Mas, aku mau kamu jujur. Sebenarnya ada apa?"
Anarya hanya terdiam, kebingungan masih bergelayut menutup wajah tampannya. Ia ingin jujur, namun masih belum yakin akan apa yang ia pikirkan.
Sejenak ia mengambil oksigen sebanyak mungkin untuk mempersiapkan diri bicara dengan wanita yang kini menggantikan posisi Daneesa di hatinya.
"Mas mau jujur, tapi Mas belum yakin. Banyak hal yang membingungkan, Yang." Anarya mengusap wajahnya sembari kembali menarik napas dalam-dalam.
"Katakan saja apa itu." Daneela terus mendesak, ia tak ingin berada dalam rasa penasaran.
Anarya membenahi duduknya, ia agak mencondongkan badan dan bicara setengah berbisik karena takut di dengar oleh Nessa. "Jadi begini ... Mas bingung Resti itu anak siapa."
Daneela yang mendengar perkataan suaminya seketika terperanjat, bola manik membulat dan mulut seedikit menganga. Ia tak yakin bagaimana Anarya bisa meragukan Resti sebagai anaknya.
"Mas, kamu sadar dengan apa yang kamu omongin?" tanya Daneela dengan memicingkan mata, ia mencoba meyakinkan bahwa yang ia dengar adalah salah.
"Iya, Yang. Mas ragu kalau Resti itu benar-benar darah daging Mas, karena ...."
"Karena apa?"
"Darah Resti berbeda dengan golongan darah Mas."
Daneela mengelus dada, "Ya Allah, Mas ... jadi, hanya karena itu kamu meragukan Resti sebagai anak kamu?" tanya Daneela yang dijawab dengan anggukan Anarya.
"Mas ... bisa saja golongan darah Resti sama seperti Lasmi, yang namanya golongan darah, kan, nggak harus sama dengan ayah."
"Iya, aku tahu. Tapi golongan darah Resti juga tidak sama dengan Lasmi. Itu sebabnya saat Resti butuh darah, aku dan Lasmi tidak bisa mendonorkan darah. Ingat, kan, siapa yang akhirnya mendonorkan darah?"
Daneela mengeryit, ingatannya kembali saat ia ikut ke rumah sakit. Dalam kepanikan, Anarya mengatakan kalau Resti membutuhkan donor darah berjenis O. Namun, saat itu tak terbersit pertanyaan kenapa bukan mereka yang mendonorkan darah.
Dan sekarang ia mengerti, tetapi kalau Resti bukan anak Anarya ... lalu siapa ayah biologis Resti?
"Mas yakin golongan darah kalian berdua beda?"
__ADS_1
"Ya."
"Sudah tanya ke dokter?"
Anarya menggeleng. "Rencananya hari ini aku akan menemui dokter dan minta penjelasan."
"Kenapa tidak minta test DNA saja? Jadi semua jelas."
"Mas takut, Yang."
"Takut? Mas takut dengan ancaman Lasmi?"
"Bukan, tapi Mas takut jika benar Resti bukan darah dagingku."
"Kalau begitu abaikan saja masalah itu. Terima Resti sebagai anak kamu."
"Tidak semudah itu. Lasmi saat ini menggunakan Resti untuk membuat aku kembali padanya. Anak itu kasihan dijadikan pelampiasan kekesalan ibunya."
"Huff ... menyebalkan! Sepertinya Lasmi itu wanita yang sakit, Mas. Dia butuh psikiater untuk mengobati gangguan kejiwaan yang ia alami selama ini." Daneela merasa kesal dengan tingkah Lasmi yang makin keterlaluan.
Anarya tak menanggapi perkataan Daneela karena ia sendiri pun masih dalam kebingungan yang tak berujung. Bagi Anarya tak masalah jika ia tetap membawa Resti untuk berkumpul dengan keluarga barunya, tapi akan berbuntut panjang.
Keberadaan Resti di rumahnya akan menjadi celah bagi Lasmi untuk sering berkunjung, itu artinya sama saja memberi kesempatan ke wanita culas itu untuk masuk dalam kehidupan rumah tangganya.
Tetapi jika Resti dibiarkan di sana, itu sama artinya membiarkan anak itu tersiksa dengan tabiat Lasmi yang kasar. Anarya tahu betul bagaimana nekadnya Lasmi, ia bisa melakukan apa saja demi mewujudkan obsesi gilanya.
Keadaan menjadi hening, tak ada suara lagi yang keluar dari keduanya. Masing-masing sibuk dengan berbagai hal dalam pikirannya, hingga kedatangan Nessa mengakhiri keheningan itu.
"Yuk, Yah! Nessa sudah siap!"
Anarya menoleh ke arah suara, ia tersenyum kala melihat putrinya yang sudah selesai bersiap-siap. Senyum gadis kecil itu selalu mengingatkan ia pada wanita yang sangat ia cintai.
"Ya sudah, kita berangkat sekarang."
"Tapi, Yah ... kita belum beli buah untuk Dek Resti."
"Nanti kita mampir ke kios buah."
"Jangan, Yah. Kita ke toko kue saja. Dek Resti suka kue lapis."
"Iya, Sayang ... ya sudah, ayo berangkat."
Tangan Anarya merangkul bahu bidadari kecilnya, kemudian berjalan meninggalkan Daneela yang masih membereskan piring bekas mereka sarapan.
Setelah meletakkan piring di dapur, Daneela bergegas menyusul Anarya yang telah sampai di teras rumah. "Mas, aku ikut, ya?"
"Yakin nggak masalah kalau kamu ikut?"
"Lebih baik aku ikut, ada yang mau aku bicarakan dengan Lasmi."
Anarya melipat dahi mendengar ucapan Daneela. Satu kekhawatiran justru muncul, kali ini ia tak ingin terjadi apa-apa dengan Daneela. Sudah cukup kehilangan Daneesa, dan ia tak mau jika hal sama menimpa wanita pengganti Daneesa ini.
"Sayang, sebaiknya kamu di rumah, ya? Biar aku dan Nessa saja yang ke sana."
"Lho, Pa ... kenapa Mama nggak boleh ikut?" tanya Nessa sembari memandang heran ke Anarya.
"Nessa tahu, kan, kalau Ibu Lasmi nggak suka dengan Mama Ela?"
"Iya, Nessa tahu, Pa. Tapi nanti Mama biar nunggu di luar saja, jadi Ibu nggak tahu."
Anarya sejenak berpikir. "Baiklah, Mama Ela ikut. Tapi janji, harus nunggu di mobil saja. Nggak usah turun."
"Oke!" Daneela mengedipkan mata dan memberi kode dengan jari, dengan langkah cepat ia kembali ke kamar untuk sekedar merapikan rambut dan mengambil tas.
Pagi itu mereka kembali ke rumah sakit dengan tujuan hati masing-masing. Anarya yang ingin menemui dokter, Nessa yang ingin menemui adik kesayangannya, dan Daneela yang akan diam-diam menemui Lasmi.
__ADS_1
Entah apa yang akan terjadi jika Lasmi bertemu dengan sosok yang teramat ia benci.