Sepenggal Kisah Anak Haram

Sepenggal Kisah Anak Haram
Chapter 26 Menyerah


__ADS_3

Lasmi yang tanpa pamit pergi meninggalkan ruangan ICU tempat di mana Anarya dirawat, kini tengah merenung di peraduannya. Shock sungguh ia rasakan ketika mendengar penjelasan dokter tentang keadaan Anarya.


Ia pandangi potret pernikahan dalam album. Wajah datar tanpa senyum menyiratkan tak bahagia dengan upacara sakral itu jelas tertangkap netra. Berbanding terbalik dengan senyum di bibirnya yang penuh kemenangan kala itu.


"Harusnya aku menyadari semua itu, Mas. Sejak awal pernikahan, kamu tak bahagia denganku." Terdengar hembusan nafas lelah.


"Aku hanya mendapatkan ragamu, bukan hatimu. Selama ini aku terlalu memaksa, berharap kamu berubah apalagi setelah kuberi Resti untukmu. Tapi aku salah, kamu tetaplah Anarya milik Daneesa." Butiran kristal bening satu persatu menuruni pipi Lasmi.


Bayangan perjalanan pernikahan pun berlalu lalang di benak Lasmi. Bagaimana ia selama ini menjatuhkan harga diri dan menjadi budak cinta Anarya. Dia tak lebih dari pengemis cinta yang terus memohon luluhnya hati Anarya, lelaki yang ia puja.


Malam pertama yang ia bayangkan begitu indah tak pernah ia dapatkan. Bahkan hingga lima bulan ia mengalami penolakan. Sungguh tragis. Sikap dingin Anarya begitu membuat ia tersiksa.


Kala itu hatinya begitu teriris. Sebagai seorang istri ia diabaikan dan tak pernah dianggap. Namun ia tak peduli, demi cinta dan obsesi memiliki Anarya ia melakukan banyak cara termasuk memasukkan obat perangsang pada minuman yang ia sajikan untuk Anarya.


"Mas ... sudah lebih dari lima tahun aku mencoba menakhlukkan hatimu. Tak sedikitpun usahaku mampu menggeser posisi Daneesa di hatimu." Lasmi menyeka airmata dengan telapak tangan, ada yang teramat nyeri ia rasa dalam hati.


"Baiklah, Mas. Sekarang aku menyerah. Lagipula aku tak bisa menerimamu dalam kondisi cacat. Aku tak mau sepanjang hidupku hanya mengabdikan diri untuk merawatmu." Lasmi tersenyum dalam derai tangis, seolah ingin menguatkan hati.


Ia bangkit dari ranjang dan menuju lemari. Tangannya mulai sibuk memasukkan pakaian ke dalam koper. Setelah ia rasa cukup, ia menuju kamar Resti. Hal yang sama ia lakukan, menata pakaian anaknya ke dalam koper.


"Kita mau kemana, Bu?" Resti yang sedang asyik bermain mendekat ke ibunya yang tengah sibuk memasukkan pakaian.


"Kita ke rumah nenek, Nak."


"Tapi kenapa bawa bajunya banyak sekali?"


"Kita menginap di sana lama, jadi butuh baju ganti yang banyak. Resti kan masih sakit, jadi harus ada yang merawat Resti."


"Aku maunya dirawat Ibu, nggak mau ditinggal di rumah Nenek," rengek Resti.


"Kita tinggal di rumah Nenek sementara sampai Resti sembuh. Ibu kan lagi hamil, Nak. Nggak boleh capek." Lasmi berusaha membujuk Resti agar tidak merengek lagi.

__ADS_1


"Tapi ayah lagi sakit, Bu. Nanti siapa yang jaga ayah?


"Kamu nggak perlu pikirkan itu. Ayah sudah dengan Eyang, ada suster juga di sana."


Resti hanya menurut saja ketika tangan Lasmi menariknya untuk meninggalkan rumah. Ia belum mengerti kenapa ibunya harus membawa semua pakaian.


"Itu taksinya sudah datang. Ayo cepat naik." komando Lasmi yang langsung di iya-kan oleh Resti.


"Maafkan aku, Mas. Sudah cukup pengorbananku selama ini," gumam Lasmi lirih sembari ia pandangi rumah yang telah memberinya banyak cerita cinta yang bertepuk sebelah hati.


Dengan mantap ia masuk ke dalam taksi dan pergi meninggalkan seluruh jejak kenangan pahit yang ingin ia hapus.


"Bu, kita di rumah nenek berapa hari?"


"Belum tahu, Resti." Lasmi berusaha tersenyum dan mengelus puncak kepala bocah yang cantik dan menggemaskan itu.


Namun, hati Lasmi kembali tersayat tatkala melihat wajah Anarya dalam diri Resti. Ya, wajah yang tak pernah bisa ia lupakan. Ia rengkuh gadis kecilnya dalam dekapan. Berkali-kali ia ciumi puncak kepalanya.


"Ibu menangis?"


"Tapi mata Ibu basah. Ibu sedih karena ayah sakit, ya?"


Lasmi mengangguk, menutupi prahara yang kini tengah melanda hatinya.


"Ayah pasti sembuh 'kan, Bu?"


"Iya. Resti berdoa saja untuk kesembuhan ayah."


"Hmm ... Resti boleh berdoa di dekat ayah, Bu?"


"Untuk sekarang belum boleh. Berdoanya cukup minta kepada Allah saja."

__ADS_1


"Kenapa, Bu?"


"Ayah nggak boleh diganggu. Makanya kita tinggal di rumah nenek dulu."


"Nanti Resti kalau kangen ayah gimana?"


"Sudahlah, Resti. Diamlah dulu. Kepala Ibu sakit." Lasmi memijat pelipisnya.


Resti yang melihat ibunya meringis menahan sakit mengurungkan niat bertanya. Ia menarik tubuh dari pelukan Lasmi. Pandangannya keluar jendela menatap gedung-gedung tinggi di sepanjang jalan yang ia lewati.


Resti merasa tak paham dengan pemikiran orang dewasa. Ayah yang dulu penyayang kini telah berubah menjadi pemarah. Ibu yang dulu suka teriak-teriak kini menjadi suka menitikkan air mata. Ia pun tak paham mengapa Nesa, kakak satu-satunya yang ia sayang harus terpisah darinya.


Lasmi menyandarkan kepala, denyut nyeri ia rasakan semakin mencengkeram di bagian tengkuk hingga kepala. Namun, ada yang lebih sakit lagi. Dalam daging merah yang disebut hati, rasa perih melilit duka.


Ada serpihan hati yang kecewa mencoba pergi membawa sisa kepingan asa, mencoba menerima takdir bahwa cinta yang melukainya harus ia lepas.


Baginya, perjuangan dalam mempertahankan Anarya telah usai. Tak ada lagi sisa asa yang menjadi lentera dalam titian asmara yang ingin ia rengkuh.


Membiarkan setiap relung jiwa yang patah berserak, menerima kenyataan bahwa cinta itu harus ia pupus dan dikubur dalam-dalam. Menepis setiap memori kebersamaan yang tak sempurna.


"Mungkin ini lebih baik, Anarya. Aku sudah terlampau lelah," gumam Lasmi dengan hembusan napas kasar.


Langit gelap menggelayut, seolah menjadi saksi kalahnya seorang Lasmi Sasmita dengan wanita yang telah tiada dan menjadi hantu dari masa lalu, menghantui pernikahan yang ia gadang akan membawanya dalam bahagia.


Entah sudah berapa banyak rinai air mata itu menitik di pipi Lasmi, mengiringi perjalanannya menuju rumah orang tua yang selama ini memanjakannya.


Bayang wajah Daneesa yang sedang tertawa puas melintas begitu saja. Lasmi merasa saat ini wanita masa lalu Anarya itu sedang mentertawakan nasib yang ia alami sekarang.


"Inikah balasan yang harus aku terima? Mungkin sekarang kamu puas, Daneesa. Kamu menang karena pada akhirnya aku tak dapat mengusirmu dari hati Anarya." Lasmi bermonolog dalam hati, pikirannya tak menentu. Ada beban yang begitu menghimpit.


Lasmi kini menyerah, ia melepas Anarya dan tak menginginkan lelaki yang akan cacat seumur hidup itu. Ia merasa harus bangkit, menata kehidupan baru dan meninggalkan seluruh obsesi yang membuatnya gila hingga nekad menyingkirkan Daneesa ke alam baka.

__ADS_1


Namun, di sisi lain hatinya juga ada kekhawatiran jika sampai Daneela melaporkan rekaman itu pada polisi. Ancaman besar baginya, yaitu penjara. Hal yang sangat ia takutkan, ia tak akan sanggup jika harus menghabiskan masa di balik jeruji besi.


Ia berharap semua itu tak akan terjadi.


__ADS_2