Sepenggal Kisah Anak Haram

Sepenggal Kisah Anak Haram
Part 35 Pemain Sandiwara


__ADS_3

"Mas, aku khawatir dengan Resti." Daneela mengawali pembicaraan saat mereka tiba di rumah.


Sejenak suasana menjadi lengang. Anarya bergeming mendengar ucapan Daneela. Ia meneruskan langkah membopong tubuh Nessa yang kelelahan hingga tertidur, langkahnya langsung menuju kamar.


Setelah mencuci tangan dan kaki, Daneela segera meluruskan kaki di atas kasur lantai depan televisi. Ia sandarkan kepala ke tumpukan bantal sembari memejamkan netra.


"Kok, tidur di sini, Yang? Nggak di kamar saja?" tanya Anarya membuat Daneela mendongakkan kepala ke arahnya.


"Nggak, Mas. Mau nyantai dulu sambil nonton TV."


"Kalau lihat televisi, ya, dinyalain TV-nya." Anarya tersenyum sembari meraih remote.


Ia tekan tombol on, kemudian menempatkan diri di sisi kaki Daneela. Tanpa sungkan tangan Anarya meraih kaki Daneela dan meletakkannya di pangkuan, kemudian jemari itu mulai memijit.


"Mas ...." Daneela ingin menarik kakinya, namun ditahan oleh Anarya.


"Sudah, nggak apa-apa. Mas tahu kamu pasti juga capek."


"Capek apa? Aku, kan, nggak jalan."


"Kemarin kamu lembur buat orderan, banyak banget. Sudah pasti kamu capek."


"Itu, kan, kemarin. Lagi pula ada yang bantuin, Mas."


"Nggak apa pijitinnya sekarang. Mas pengen." Akhirnya Daneela menyerah dan membiarkan tangan kekar itu memijit kakinya.


"Mas, kita ambil Resti saja, ya? Jujur aku khawatir kalau Resti jadi korban kegilaan Lasmi." Daneela mengulang kembali ucapan yang tak mendapat respon dari suaminya.


"Yang, kita bahas itu nanti."


"Kapan?"


"Setelah hasil tes DNA keluar."


"Apa Mas masih ragu kalau Resti itu anak dari buah cinta kalian?"


"Yang ...." Netra Anarya mendelik, seakan ia tak terima jika Daneela berpikiran ia mencintai Lasmi.


Daneela terkekeh melihat ekspresi Anarya yang tak ikhlas, namun di sisi lain Daneela merasa prihatin dengan apa yang terjadi. Anarya benar-benar menuai panjang hasil kesalahan di masa lalu.


Anarya mendapatkan hukuman atas ketidakberdayaan dia di masa lalu. Seandainya dulu ia mampu melindungi Daneesa, mungkin seumur hidup ia tak perlu terperangkap dalam bayang-bayang penyesalan dan berujung masalah panjang yang tak henti menyita pikirannya.


"Daneela, kamu tidak sedang mengolokku, kan?" ucap Anarya dengan lemah, ada getar dalam nada bicaranya.


Daneela seketika berhenti mengekeh, perasaan bersalah justru kini merayapi hati. "Bu-bukan maksud aku mengolok, Mas. Aku hanya ...."


"Berhentilah membicarakan Lasmi dan masa lalu. Sudah cukup aku merasakan hidup dalam bayangan Daneesa, penyesalan itu telah aku tebus dengan menjaga hatiku untuk Daneesa selama ini."


"Maaf, Mas." Daneela tertunduk, wajahnya berubah pias dan merasa tidak enak.


"Semenjak berniat menikahimu, aku sudah memantapkan hati untuk menjadikanmu satu-satunya wanita yang akan menemaniku hingga akhir napas. Demi Nessa, jangan bahas tentang masa lalu dan Lasmi lagi."


"Iya, Mas. Maaf." Dengan sedikit takut Daneela mencoba menatap Anarya yang ternyata tengah menatapnya lekat.


Tatapan lembut Anarya membuat perasaan Daneela membaik, begitu teduh. Tak ada sorot kemarahan di sana. Ya, Anarya meminta dengan penuh kelembutan tanpa emosi sedikit pun.

__ADS_1


Tangan kanan Anarya membelai pipi Daneela, membuat wajah wanita itu bersemu merah merona. "Aku mencintaimu, Daneela. Dan aku ingin kamu melahirkan buah cinta kita, adik untuk Nessa. Yang banyak ...."


Seketika wajah Daneela makin memerah tersipu malu. Kebencian yang dulu pernah menghinggapi hati, kini benar-benar luruh dan hanya ada rasa cinta untuk lelaki penuh kasih itu.


"Iya, Mas. Nanti aku kasih lima, hahaha ...."


"Yakin lima?"


Daneela mengangguk dengan wajah masih tersipu, sedangkan Anarya tersenyum kemudian merengkuh bahu wanita pujaannya.


****


Di tempat lain.


Bulir bening itu masih saja mengalir menuruni pipi. Entah sudah berapa lama ia terisak menahan nyeri yang ia rasa makin menyiksa hati.


Dinding putih dan beberapa ekor cicak seolah menjadi saksi akan hati yang terluka tengah meratap pilu di tengah sunyi sang malam yang kian merayap. Tak ada tangan yang menghapus tanda lara yang terus saja berurai.


Beberapa kali punggung tangan itu menyeka netra yang penuh air dan sembab. Sorot kesedihan menjadikan kelopak mata menjadi kuyu, bahkan dendam yang menggunung tenggelam dengan semburat sedih.


Ya, dia Lasmi. Ia tengah dirundung kepiluan yang begitu mendalam. Ia merasa menjadi orang paling disia-siakan. Saat ia penuh kecewa, tak ada satu pun orang yang hadir untuk memberinya kekuatan.


Lasmi merasa dicampakkan sejak awal, ia gagal mendapatkan hati seorang Anarya. Segala upaya telah ia tempuh, bahkan hal yang tak seharusnya ia lakukan pun ia tempuh sampai menyingkirkan Daneesa yang berujung kematian wanita malang itu.


"Kamu sekarang tertawa puas, Daneesa. Kamu merasa menang karena meski jasadmu dalam tanah, tapi cintamu telah mengikat hati Anarya." Lasmi bergumam sendiri, mengeluarkan segala isi hati yang kian menggerogoti akal sehatnya.


"Ya ... kamu sudah kalah sejak awal, Lasmi." Tetiba suara itu muncul dalam ruangan yang sepi itu.


Lasmi terhenyak, netranya seketika tertuju pada sosok wanita bergaun putih yang sedang bersandar di pintu. Beberapa kali ia mengucek mata, namun sosok yang ia lihat tidak hilang juga.


"Bukan. Aku Daneesa, wanita yang sedang berperang denganmu."


"Ti-tidak mungkin. Kamu pasti Daneela yang ingin menakut-nakuti." Lasmi berdiri, kemudian beringsut mundur lebih mendekat ke Resti yang tengah tertidur pulas.


"Hahaha ... Lasmi, Lasmi. Kamu ini aneh, lihatlah aku baik-baik. Akulah wanita hamil yang dulu kamu dorong dari tangga dan terjatuh hingga pendarahan."


Lasmi terkesiap. Hanya Daneesa yang tahu hal tersebut. Ketakutannya makin menjadi karena ia berpikir arwah Daneesa akan menuntut balas.


Berkali-kali ia cubit lengannya, namun sakit ia rasa. "Ini bukan mimpi, ini nyata. Dia benar-benar Daneesa ...." gumam Lasmi dengan tubuh yang mulai menggigil ketakutan.


Lasmi terduduk lemas di lantai sembari menekuk lutut dan menyembunyikan wajah. Entah sudah berapa kali ucapan permintaan maaf dan ampun ia lontarkan.


"Lasmi, aku tidak butuh permintaan maafmu. Aku hanya ingin kamu berubah. Jangan ganggu kehidupan Anarya dan Daneela, ia saudara kembarku dan sudah pasti kebahagiaan dia juga kebahagiaanku. Jadi, jangan pernah gunakan cara apa pun untuk memisahkan mereka."


"Ba-baiklah, tapi tolong sekarang kamu pergi."


"Bagaimana aku bisa pergi jika di hati kamu masih ada dendam terhadap Daneela dan Nessa anakku? Bersihkan dendam itu dari dasar hatimu, jangan jadikan mengerak dan menjadikanmu hilang akal."


"Baik, Daneesa. Aku janji tidak akan menaruh dendam kepada mereka," jawab Lasmi masih dengan ketakutan yang kian menjadi.


"Jangan gunakan Resti untuk menekan Anarya."


Lasmi terdiam, dalam hatinya berkecamuk penuh tanya. Bagaimana arwah Daneesa bisa tahu tentang hal tersebut.


"Kenapa? Masih berpikir darimana aku tahu?"

__ADS_1


Lasmi masih terdiam dan lebih memilih menyembunyikan wajah di kedua lututnya. Ia tak ada keberanian melihat arwah pucat itu.


"Selama ini aku mengikutimu, Lasmi. Demi menjaga orang-orang yang aku kasihi, aku setiap hari ada di dekatmu untuk melihat semua apa yang kamu rencanakan."


Perlahan Lasmi mengangkat kepala, bola manik itu membeliak tak percaya. Dengan mengumpulkan berjuta keberanian, ia mencoba memalingkan kepala ke arah Daneesa berdiri.


Deg!


Seketika Lasmi makin terhenyak dan terjengkang ke belakang. Wanita yang sedari tadi bicara sudah tak ada lagi. Namun, pintu itu masih terbuka ... segera Lasmi berdiri meski dengan gemetar. Ia mencoba keluar dan mencari sosok wanita itu.


Beberapa kali ia mengedarkan pandangan ke lorong rumah sakit dan kembali ke ruang rawat inap, namun sosok itu tak ia temukan. Dengan cepat tangannya segera menutup pintu.


Ia tarik sofa ke sisi ranjang agar dekat dengan Resti, ketakutan yang ia rasa membuat kegelisahan makin menjadi. Ia mencoba menutupi diri dengan jaket, berharap sosok itu tak akan pernah hadir lagi.


****


"Bagaimana, Daneela? Berhasil?" tanya seorang wanita yang tengah menunggu dengan khawatir.


"Beres, Ma." Daneela mengacungkan dua ibu jari ke arah wanita itu.


"Ya sudah, sekarang kita pulang ke rumah Mama. Kamu pulang besok siang saja, biar Anarya nggak curiga."


"Iya, Ma." Senyum Daneela mengembang, ia gamit tangan wanita yang dulu membencinya.


Dua wanita yang pernah bermusuhan itu melenggang ke arah area parkir, ke tempat sebuah mobil hitam yang sedang menunggu.


"Yuk, Pak Kirman ... jalan."


"Siap, Nyonya." Pak Kirman melajukan mobil membelah jalanan malam yang lengang.


Senyum terukir di kedua bibir wanita beda generasi itu, Bu Bram merengkuh bahu sang menantu dengan begitu sayang. "Maafkan, Mama dulu, ya. Sekarang sudah waktunya Mama bayar semua keburukan Mama yang dulu."


"Iya, Ma. Terimakasih sudah bantu, Ella."


Senyum kembali menghias bibir keduanya. Daneela berharap cara yang ia tempuh akan berhasil, Lasmi akan bisa berubah menjadi insan yang punya hati.


Paling tidak, kata-kata terakhir yang menyatakan kalau dia selalu ada di sekitar Lasmi akan menjadikan Lasmi takut untuk bertindak. Daneela tak ingin terjadi apa-apa dengan Resti.


Sikap Anarya yang tak ingin membicarakan Lasmi, membuat Daneela memutar otak untuk mencari jalan keluar sendiri. Satu-satunya orang yang bisa diharapkan adalah Bu Bram, karena hanya Bu Bram yang tahu akan kesalahan masa lalu Lasmi.


Sore itu ... saat Anarya sedang mengguyur badan di kamar mandi, Daneela memutuskan untuk menelepon Bu Bram. Ia menceritakan semuanya di telepon, bagai gayung bersambut Bu Bram mempunyai ide agar Daneela bisa keluar dari rumah tanpa membuat Anarya curiga.


Daneela mengakui kecerdikan Bu Bramantyo yang ternyata pandai mengatur siasat. Bu Bram menelepon Anarya dan bilang jika ia sedang tidak enak badan, ia butuh Daneela untuk menjaganya barang semalam saja sampai Pak Bram pulang.


Pucuk dicinta ulam pun tiba, rencana Bu Bram berjalan lancar. Anarya mengijinkan Daneela untuk ikut Pak Karmin yang menjemputnya tanpa sedikit pun rasa curiga.


Keadaan rumah sakit yang lengang makin membuat Daneela tak menemukan kendala saat memasuki ruang rawat inap itu. Tekadnya sudah bulat, memberi pelajaran pada wanita yang telah mati hati nuraninya.


Daneela benar-benar bisa memanfaatkan waktu, kala melihat Lasmi yang tengah larut dalam kesedihan ia membuka pintu perlahan dan memulai aksinya.


Saking hanyut dalam ratapan, Lasmi benar-benar tak menyadari bahwa Daneela telah berdiri di dekat pintu lebih dari lima belas menit. Hingga akhirnya semua adegan terjadi dan membuat wanita itu ketakutan.


Kini, Daneela mengukir senyum sepanjang perjalanan. Harapan untuk mengakhiri semua dilema yang diciptakan Lasmi begitu kuat, ia tak ingin ada korban dari kebrutalan obsesi wanita yang mungkin telah kehilangan akal pikirannya.


Mobil terus melaju membawa pemain sandiwara tengah malam untuk pulang. Pak Kirman yang melihat keakraban dua wanita yang pernah berseteru itu hanya tersenyum, ikut merasa bahagia.

__ADS_1


Mereka tak tahu bahwa di ruang berdinding putih itu ada wanita yang masih dalam ketakutan, meringkuk dalam jaket tebalnya.


__ADS_2