
"Akhirnya kamu ke sini juga, Lasmi." Kalimat itulah yang pertama diucap oleh Bu Rani saat langkahnya tak jauh dari Lasmi.
Sorot kebencian itu begitu nyata. Bagi Bu Rani, Lasmi adalah penabur luka yang ia rasakan bertahun-tahun. Kebenciannya semakin menjadi kala mengetahui bagaimana sikap Lasmi ke Nessa.
Lasmi yang menerima tatapan penuh amarah itu tak mampu mengelak, ia tergagap dan salah tingkah. Netranya tak kuasa membalas, ia hanya bisa tertunduk malu sekaligus takut.
Anarya membaca suasana yang menegangkan tengah berlangsung, ia berusaha mendekat ke arah Bu Rani meski Lasmi masih menarik lengannya agar jangan terlalu dekat dengan wanita tua yang sedang ingin meluapkan murkanya itu.
"Assalamu'alaikum, Ma." Anarya meraih tangan Bu Rani dan mencium punggung tangan dengan takzim.
"Wa'alaikumsalam. Kenapa Nak Anarya membawa dia ke makam Daneesa?"
"Begini, Ma. Lasmi ... ehm ... Lasmi ...."
"Saya ingin minta maaf ke Daneesa dan Ibu," sahut Lasmi dengan cepat.
Sontak pandangan Bu Rani dan Anarya tertuju pada wanita yang tengah dilanda kegalauan antara berani dan takut untuk mengakui kesalahan. Lasmi berusaha mengumpulkan kekuatan.
Sejurus kemudian Bu Rani beralih menatap ke arah Anarya. Ada isyarat penuh makna yang disampaikan Anarya, sebuah anggukan pelan.
"Lasmi, apa dengan minta maaf kamu bisa menghidupkan anakku kembali?" Kembali tatapan tajam itu menghunjam nyali Lasmi yang tengah kembang kempis menahan malu dan takut.
"Sa-saya tahu, Bu. Tapi ... tapi saya tidak ingin selamanya dihantui rasa bersalah. Saya tidak mau setiap saat arwah Daneesa mendatangi kehidupan saya."
"Apa kamu yakin anakku mau memaafkan kamu?"
Lasmi terdiam. Ia tertunduk dan memainkan jemarinya pertanda ia sedang tidak tenang. Dalam hatinya pun sama, bertanya apakah arwah wanita yang telah ia hancurkan hidupnya akan bersedia memaafkan seluruh kesalahannya?
"Lasmi, apa yang akan kamu berikan padaku atau anakku jika kami memaafkanmu?" Suara Bu Rani kini lebih tenang, tak ada getar emosi dalam nada bicaranya.
Lasmi mendongak menatap nanar wajah yang telah dipenuhi garis tanda usia senja. Seketika Lasmi berlari menghambur dan meraih tangan renta itu. "Saya berjanji tidak akan mengganggu Anarya dan Daneela, Bu. Saya berjanji akan berubah menjadi orang yang baik." Tangis Lasmi pecah, ia cium berulang kali punggung tangan itu.
"Kamu yakin dengan ucapanmu?"
Lasmi menatap netra Bu Rani, ia ingin sekali meyakinkan pada wanita yang selama ini menyimpan luka karena dirinya. "Iya, Bu. Saya sudah mantap untuk bertaubat. Itu sebabnya saya datang kemari."
"Baiklah. Minta maaflah ke Daneesa dan kirimkan doa untuknya. Setelah itu mampirlah ke rumah Ibu, ibu akan tunjukkan sesuatu untukmu."
"Apa itu, Bu?"
"Lakukan saja, nanti kamu juga akan tahu. Ibu duluan."
Bu Rani melangkah meninggalkan Lasmi dan Anarya. Ada senyum tipis di sudut bibir yang ia tujukan hanya kepada Anarya, menantunya. Senyum sarat makna dan hanya mereka yang tahu.
Anarya bergeming dari tempat ia berdiri. Ia biarkan Lasmi dengan prosesi pertaubatan, menumpahkan seluruh penyesalan di pusara batu nisan Daneesa.
Harapan akan hidup lebih tenang dari gangguan Lasmi tergambar jelas di pelupuk netra lelaki pemilik wajah tampan dengan pandangan sayu itu. Kesempatan hidup bahagia bersama anak dan istri akan ia raih setelah Lasmi bersedia melepasnya.
"Daneesa, aku telah penuhi janjiku untuk menjaga Nessa dan berusaha memberikan kebahagiaan seutuhnya. Sekarang, maafkan Lasmi agar ia mampu menemukan kebahagiaan lain sehingga tak akan mengganggu kehidupanku dan Nessa," doa Anarya dalam hati.
Saat hati Anarya selesai berdoa, tetiba angin lembut bertiup menyapu wajah Anarya. Beberapa bunga kamboja berjatuhan mengenai kepala Lasmi, membuat wanita yang tengah masyuk berdoa itu mendongak ke atas.
"Daneesa, apakah ini artinya kamu memaafkan aku?" Binar bola manik Lasmi penuh harap dan haru.
Lasmi berdiri dengan cepat dan berlari menuju tempat Anarya berdiri. "Mas! Apakah Daneesa memaafkan aku?" Ekspresi senang terlukis di wajah Lasmi, ditambah saat Anarya menganggukkan kepala.
"Sekarang kita ke Bu Rani. Beliau pasti sudah menunggu kita."
"Iya, Mas!" Wajah sumringah Lasmi masih dipenuhi dengan senyum kegembiraan.
"Sebentar, aku pamit dulu ke Daneesa. Aku juga mau kirim doa untuknya."
__ADS_1
Lasmi mengangguk. "Kalau begitu aku ke mobil dulu, ya, Mas?"
"Iya."
Anarya beranjak dari tempatnya. Dengan senyum bahagia, ia mendekat ke batu penanda bahwa di situ ada wanita yang sangat ia cintai hingga detik ini.
"Terimakasih, Sayang ... terimakasih untuk semua pengorbananmu selama ini. Terimakasih sudah memberiku tanda cinta yang tak ternilai dan tak terukur besarnya. Mas janji akan terus menjaga buah cinta kita dan juga hati ini."
Tak terasa embun bening muncul dari sudut netra. Anarya kembali merasakan ada hembusan angin begitu lembut menyapu wajahnya. Ia memejamkan mata dan menikmati belaian sang bayu yang ia rasa bagai sentuhan tangan wanita yang selama ini bertahta di hatinya.
Beberapa menit Anarya terbuai dengan apa yang ia rasa. Ia tersadar ketika gawai dalam sakunya bergetar. Tangan kanannya segera menyelinap ke saku bagian dalam jaket yang ia kenakan.
"Bu Rani," gumam Anarya, ibu jarinya segera menggeser tombol penerima panggilan.
"Sudah sampai mana, Nak Anarya?" Suara dari seberang sepertinya tak sabar menunggu kedatangannya.
"Ini masih di makam, Ma. Sebentar lagi langsung ke rumah Mama."
"Ya sudah, hati-hati."
"Iya, Ma."
Anarya menutup panggilan dan bergegas menuju mobil. Tampak Lasmi sedang menunggu dengan penuh kegelisahan. Wajah penuh suka cita yang tadi sempat ia lihat telah berubah.
Tangan Lasmi berkali-kali membuka layar gawai, menatap sebuah nomor kontak, lalu menutupnya kembali. Untuk yang kesekian kali akhirnya ia memutuskan untuk menelepon pemilik nomor kontak itu.
"Yoga, bisa kita ketemu nanti sore?"
"...."
"Kita ketemu sekitar pukul lima sore, untuk tempat nanti aku kabari lagi."
"...."
Anarya mengurungkan niat untuk membuka pintu mobil. Ia tahu kenapa Lasmi menghubungi Yoga, sudah pasti berkaitan dengan status ayah biologis Resti. Anarya yakin bahwa saat ini Lasmi cemas dengan hasil tes DNA.
"Mas ... sejak kapan Mas Narya di situ?"
"Sejak tadi dan cukup waktu untuk mendengar semua pembicaraanmu dengan Yoga."
"Tolong jangan salah paham, Mas."
Anarya mengembangkan senyum. "Tak apa, Lasmi. Aku yakin Yoga lelaki yang baik dan tulus mencintaimu." Anarya sengaja mengalihkan pikiran Lasmi, ia tak ingin wanita di hadapannya curiga dengan apa yang sudah ia ketahui.
Lasmi hanya mengangguk sembari mengulas senyum. "Yuk, sekarang kita ke Bu Rani!" ajak Lasmi dengan penuh semangat.
"Sudah tidak tegang lagi?"
"Sudah jauh lebih lega, Mas. Beban yang ada dalam batin sudah sedikit berkurang."
"Syukurlah."
Anarya kembali bersiap melajukan kendaraan beroda empat itu untuk membelah jalanan yang dihiasi beraneka ragam jenis kendaraan. Pendar kebahagiaan menaungi raut wajah yang dulu sempat kehilangan keceriaan.
Sekitar dua puluh menit mobil yang membawa Anarya dan Lasmi memasuki sebuah pekarangan yang cukup asri. Tanaman hias tampak tertata rapi dan terawat.
Dari luar, suasana rumah tampak lengang seolah tak berpenghuni. Ya ... setelah Daneela menikah, Bu Rani tinggal dengan dua keponakan yang sengaja ia ambil untuk menemani sekaligus membantu mengurus rumah dan juga toko.
Saat pagi hingga malam sudah pasti rumah sepi karena setelah selesai mengerjakan pekerjaan rumah, mereka akan pergi ke toko bakery milik Bu Rani. Hari ini Bu Rani sengaja tidak pergi ke toko karena mempersiapkan sebuah kejutan untuk Lasmi.
Setelah mengetuk pintu dan mengucap salam beberapa kali, akhirnya terdengar sahutan dari dalam. "Masuklah," titah Bu Rani setelah membuka pintu.
__ADS_1
Anarya dan Lasmi melangkah mengikuti ayunan kaki renta milik Bu Rani yang dibantu dengan sebuah tongkat. Netra Lasmi mengedar, menyapu setiap isi ruangan. Ruangan yang hampir dipenuhi dengan foto kenangan keluarga Bu Rani.
Anarya pun merasa heran, sejak kapan foto-foto itu terpajang hampir memenuhi dinding dan juga buffet. Ia tak menyangka akan menemukan foto Daneesa dan Daneela yang tersusun dari masa mereka masih bayi dan tumbuh hingga dewasa.
"Ma, ini Daneesa dan Daneela?" tanya Anarya sembari menyentuh foto yang ia maksud.
"Iya. Mereka adalah buah hatiku, mereka adalah penyemangat hidup bagiku." Pandangan Bu Rani melayang ke sebuah foto yang menampilkan kenangan saat Daneesa dan Daneela berpose dengan sepeda baru mereka.
"Saat itu usia mereka masih delapan tahun, sama persis dengan usia Nessa saat ini. Mereka bahagia karena memiliki orang tua yang mampu memberi kasih sayang secara utuh. Sepeda itu adalah kado ulang tahun yang diberikan oleh almarhum papanya."
Bu Rani berhenti sejenak. Ada yang terasa sesak dalam dada dan ingin ia hempaskan. "Namun, tidak dengan Nessa cucuku. Di usianya yang masih bayi ia harus kehilangan sosok ibu yang ia butuhkan air susu dan juga belaiannya," lanjutnya dengan netra berkaca-kaca.
"Tak cukup di situ. Di usia yang seharusnya ia bisa menikmati keceriaan bermain dengan teman-teman sebayanya, lagi-lagi ia kehilangan hak sebagai anak. Ia harus menelan kegetiran hidup." Bulir bening tak mampu lagi ia tahan.
Bu Rani berdiri mematung menatap foto di hadapannya. Suasana menjadi hening. Namun, tidak dengan susana hati Lasmi yang tetiba bergemuruh penuh dengan sesuatu yang begitu menyesakkan dada kala mendengar penuturan dari Bu Rani.
"Lasmi, kamu lihat foto itu?" Telunjuk Bu Rani mengarah pada foto yang menggantung di dinding sebelah barat, foto berukuran besar dibingkai dengan frame berwarna silver.
Semua mata seketika mengikuti arah telunjuk wanita yang masih diliputi kesedihan itu. Tetap tak ada kata yang terucap dari bibir Lasmi, hanya hembusan napas berat yang entah ke berapa kali ia hempaskan.
"Dalam foto itu banyak harapan yang digantungkan. Daneesa dan Daneela belajar membuat kue karena papanya ingin mereka melanjutkan usaha toko bakery. Daneela dikirim ke Singapura untuk belajar pastry dan Daneesa tetap kuliah di sini untuk belajar manajemen."
Bu Rani menghentikan ceritanya. Ia ayun langkah perlahan mendekati gambar kenangan penuh harapan itu. Dengan tangan keriputnya, ia mengusap bagian wajah Daneesa.
"Namun sayang, Daneesa tak bisa mewujudkan mimpi papanya karena ia harus meregang nyawa saat melahirkan. Masih terbayang dalam ingatan, bagaimana dia berteriak kesakitan karena pendarahan hebat dan juga ada beberapa lebam di tubuhnya."
Kembali air mata itu tak mampu mengendap, luruh bersama gumpalan kesedihan yang hendak mengurai kebenaran nan pahit.
Pandangan Bu Rani kini beralih ke Lasmi yang ternyata terpegun bak patung, hanya bulir bening yang mengalir ke pipi. Relung hatinya kian menyesak saat mendengar cerita seorang ibu yang harus menerima pupusnya harapan untuk sang anak.
"Apa kamu tahu rasanya kehilangan, Lasmi? Apa kamu tahu bagaimana sedihnya perasaan seorang ibu yang menyaksikan anaknya sekarat menahan sakit dan akhirnya ia harus meregang nyawa?"
"Ma-maaf, Bu." Lasmi tak mampu menahan lagi, ia sesenggukan dalam tangisnya.
Lasmi tak menyangka jika apa yang ia sebut sebagai perjuangan cinta ternyata menghancurkan impian banyak orang, banyak hati yang terluka akibat obsesi yang hendak ia raih.
Saat itu, ia tak pernah peduli dengan derita orang lain. Ia tak peduli jika apa yang ia perbuat akan menyakiti banyak pihak. Satu yang ia tahu, yaitu memiliki Anarya.
Sesal itu memang tak mampu mengubah apapun, namun berharap semua kesalahan yang pernah ia lakukan di masa lalu mendapatkan maaf.
Lasmi menghambur memeluk kaki yang sudah tak kokoh lagi, ia hanya bisa menangis dan memohon ampunan. Kali ini tangisnya benar-benar penuh penyesalan, sangat ... sangat ... sangat menyesal.
"Berdirilah, Lasmi. Ada satu lagi yang ingin aku tunjukkan padamu."
Lasmi melepas tangannya, perlahan ia berdiri dan menatap nanar ke Bu Rani. "Apa, Bu?"
"Duduklah, aku akan ambilkan dulu."
Lasmi menurut saja, ia melangkah gontai menuju sofa. Entah apalagi yang akan menjadi kejutan baginya. Ia hanya bisa berharap setelah ini maaf akan ia dapatkan dari Bu Rani.
Setelah beberapa menit menunggu, akhirnya Bu Rani muncul kembali membawa sebuah kotak kayu yang masih terkunci dengan gembok kecil.
Sesampainya di hadapan Lasmi, kotak berukuran sekitar 30 x 40 cm ia letakkan di meja.
"Aku harap setelah melihat isi dari kotak ini, kamu akan membuka mata dan menyadari bahwa selama ini kamu salah menilai." Bu Rani tak langsung membuka, ia masih menatap lekat wanita yang dulu menjadikan anaknya sebagai rival.
Anarya yang sedari tadi diam menyaksikan adegan demi adegan, kini ikut penasaran. Ia mendekat dan ikut duduk di sofa, menunggu kejutan yang telah dipersiapkan Bu Rani selanjutnya.
Ada banyak tanya yang berkecamuk dalam dada Anarya, begitu pun Lasmi. Detak jantung kian tak beraturan menanti terbukanya sebuah kesaksian yang sekian lama ditutup rapat oleh seorang ibu yang memendam luka dan rasa kehilangan selama bertahun-tahun.
Bagi Bu Rani, lapisan luka itu telah lama mengerak dan sulit untuk mengikisnya meski dengan ribuan kata maaf. Namun, demi nama baik Daneesa, ia harus mengurai benang kusut yang menjadikan cucunya dianggap anak haram.
__ADS_1