
Pagi ini Daneela bangun lebih awal, lebih tepatnya ia tak nyenyak tidur karena pikiran yang diliputi rasa bersalah melayang entah ke mana. Sesal akan apa yang ia lakukan tak dapat ia hapus begitu saja.
Semalaman Daneela gelisah karena Anarya bersikap dingin, amarah lelaki itu benar-benar ia luapkan dengan cara diam seribu bahasa. Sikap Anarya justru menjadikan Daneela kebingungan harus berbuat apa untuk membuat suaminya kembali bicara.
Selepas salat subuh, Anarya telah selesai merapikan diri. Aroma sabun sehabis mandi begitu segar tercium oleh indera pembau. Pagi ini ia mengenakan celana jeans hitam dan kaos berwarna biru laut.
"Pagi-pagi sudah rapi, Mas. Memangnya Mas Narya mau ke mana?" tanya Daneela tak tahan lagi karena melihat sang suami sudah begitu rapi.
"Ada urusan sebentar," jawab Anarya tanpa menoleh, ia menyisir rambut sembari bercermin.
"Mau ke rumah sakit lagi?"
Anarya menghentikan tangan yang masih menyisir. Ia tarik napas perlahan, kemudian menatap lekat wanita yang tampak sedang khawatir itu. Dengan langkah perlahan, kaki Anarya melangkah mendekati Daneela yang masih duduk di atas pembaringan.
Ia raih tangan wanita yang sangat ia cintai itu, "Aku harus menyelesaikan semua yang aku mulai. Jadi, aku minta kamu tetap diam di sini menjaga anak-anak. Aku akan kembali setelah semua beres."
"Tapi, Mas ...."
"Percaya denganku. Apa yang kamu perbuat adalah tanggung jawabku karena kamu adalah istriku."
"Maafkan aku, Mas ... a-aku ... hanya ...."
"Ssttt ...." Anarya menempelkan telunjuknya ke bibir Daneela, "Tugas kamu sekarang jaga anak-anak. Bisa?"
"Baik, Mas. Tapi, tolong jangan marah lagi ke aku."
Anarya tersenyum melihat Daneela yang masih diliputi kecemasan. Tangan kekak Anarya pun merengkuh kepala wanita di hadapannya, kemudian ia daratkan sebuah kecupan hangat.
"Terimakasih, Mas."
"Berjanjilah, Daneela. Jangan pernah berubah seperti mereka. Tetaplah jadi Daneelaku yang punya hati malaikat," pinta Anarya sembari mengeratkan pelukannya.
Daneela terharu, ia hanya mampu menganggukkan kepala tanpa bisa mengucap kata.
Dengan pandangan sendu, akhirnya Daneela melepas kepergian Anarya. Ia mencoba yakin akan keputusan yang dibuat oleh lelaki yang pernah ia anggap musuh itu.
Saat melenggang melewati ruang tamu, Anarya berpapasan dengan Bu Bram yang baru saja selesai menyirami tanaman bonsai kesayangannya.
"Anarya pergi dulu, Ma. Nitip Daneela dan anak-anak, mereka biar di sini dulu sampai Narya pulang."
"Kamu mau kemana?"
Anarya hanya tersenyum, ia enggan menjawab pertanyaan wanita yang telah menghancurkan seluruh mimpinya. "Oya, Ma ... tolong, jangan ajari Daneela jadi jahat, ya!"
"Maksud kamu?" Sontak wajah Bu Bram memerah.
"Mama pasti tahu apa yang aku maksud. Ya, sudah ... Anarya berangkat dulu." Anarya segera meraih tangan wanita yang masih menahan amarah itu, mencium punggung tangannya kemudian bergegas pergi.
Bu Bram tak bisa mencegah Anarya berlalu, ia hanya mampu menahan kekesalan karena ucapan anak yang sejatinya adalah putra kesayangan namun salah cara dalam menyayangi.
Anarya melajukan mobil ke arah rumah sakit untuk menjemput Lasmi. Hati dan perasaannya kini lebih lega, semua masalah telah menemukan ujung penyelesaian. Kali ini ia ke rumah sakit selain menjemput Lasmi, ia juga akan mengambil hasil tes DNA yang akan membuktikan anak siapa sebenarnya Resti.
Langkah panjang setelah turun dari mobil ia ayunkan menuju ruang dokter, tak sabar rasanya untuk melihat hasil tes DNA antara dia dengan Resti. Ada harap bahwa anak itu adalah darah dagingnya, namun di sisi lain ia masih ragu dengan harapan itu.
Perlahan ia tarik kertas dalam amplop putih, sejenak menghela napas panjang. Dalam hati ia berdoa agar ia sanggup menerima kenyataan jika selama ini Lasmi berbohong tentang Resti.
"Silahkan dibuka, Pak Anarya."
"I-iya, Dok."
Tangan Anarya sedikit gemetar. Terlalu banyak rasa sakit yang ia rasa. Kegetiran demi kegetiran mewarnai setiap cerita hidupnya selama ini. Kehilangan Daneesa yang menyebabkan ia harus menanggung rasa bersalah karena tak mampu menjaganya.
Bertahun-tahun pula kenyataan demi kenyataan pahit memukul hancur seluruh harapan, luluh lantak tiada tersisa lagi asa dalam benaknya.
__ADS_1
"Pak Anarya."
"Eh ... iya, Dok!" Sekali lagi Anarya tersentak dari lamunan.
Tanpa pikir panjang lagi, tangannya segera membuka lipatan kertas itu. Pandangan seketika nanar ketika membaca hasil akhir dari tes DNA tersebut.
"Maaf, Dok. Apa ini maksudnya?"
"Hasilnya seperti yang tertera di situ, Pak Narya."
"Jadi, Resti bukan anak saya?"
Dokter muda itu hanya mengangguk sembari tersenyum tipis menanggapi pertanyaan Anarya yang pastinya shock dengan kenyataan yang kini harus ia terima. Sekian tahun bersama Lasmi, kebohongan demi kebohongan telah diciptakan oleh wanita berhati culas nan licik itu.
"Baik, Dok ... saya pamit. Terimakasih."
"Sama-sama, Pak Narya."
Langkah Anarya lunglai ketika keluar dari ruangan. Ia sandarkan tubuh yang serasa tak bertulang itu ke dinding, berulangkali ia tarik napas untuk menetralisir semua rasa yang berkecamuk.
Usaha Anarya gagal, hanya sekedar menenangkan hati ia tak mampu. Rasa sakit tercabik-cabik oleh seribu kebohongan menjalar ke setiap sudut ruang hati.
Serasa langit runtuh menimpa tubuh, pukulan telak seolah mengenai tepat ulu hati. Ingin rasanya ia marah dan memaki-maki Lasmi, namun ia harus berusaha menahan seluruh luapan amarah.
Anarya terduduk di lantai, ia tangkupkan kedua tangan ke wajahnya. "Ya Allah ... bantu hamba untuk menjadi lebih kuat agar semua permasalahan ini cepat selesai."
"Baiklah. Aku akan sembunyikan hasil tes DNA ini dari siapapun. Aku akan cari tahu sendiri siapa ayah biologis dari Resti. Aku yakin pasti akan bisa menemukan laki-laki itu." Akhirnya Anarya mengambil keputusan setelah beberapa lama berpikir.
"Sekarang aku harus menyelesaikan urusan dengan Lasmi. Membuat Lasmi berubah menjadi lebih baik dan menyadari akan kesalahannya adalah hal terpenting. Paling tidak dia nggak akan mengganggu hidupku dengan Daneela."
Seakan menemukan kekuatan baru, Anarya mencoba bangkit. Hamparan masa depan bersama Daneela dan Nessa tergelar indah tanpa gangguan Lasmi. Hanya itu yang menjadi keinginan terbesarnya saat ini.
Anarya segera menyimpan hasil tes DNA itu ke dalam saku jaket. Langkahnya bergegas menuju ruangan di mana Lasmi dirawat. Saat tiba di depan pintu, ia segera mengubah ekspresi wajahnya agar Lasmi tak curiga dengan apa yang terjadi dengan dirinya.
Mendengar suara lelaki yang pernah membuatnya gila, Lasmi sontak menoleh kemudian melempar senyum. "Sudah, Mas. Ini tadi aku coba telpon kamu tapi nggak diangkat."
"Oh, itu ... ponsel aku ketinggalan di mobil. Ya sudah, ayo berangkat. Sudah menyelesaikan administrasi, kan?"
Lasmi mengangguk, kemudian ia mengikuti Anarya yang telah mengambil tas berisi pakaian gantinya dan berjalan keluar ruang rawat inap menuju parkiran.
"Kita langsung ke makan Daneela?" tanya Lasmi ketika hendak masuk ke mobil.
"Iya. Nanti kita beli bunga di jalan aja sekalian. Setelah itu kita ke Bu Rani, ibunya Daneela."
"Ke Bu Rani? No, no, no ... aku takut kalau harus ketemu Bu Rani."
"Kenapa?"
"Aku belum siap, Mas."
Anarya mencoba tersenyum. "Lasmi, kamu kalau ingin taubat jangan nanggung. Nanti aku temani kamu ke sana." Anarya mencoba menguatkan Lasmi yang tampak ragu.
"Berangkat sekarang, ya?" tanya Anarya meminta persetujuan Lasmi kembali.
"Apa kamu tidak membenciku, Mas?"
Kembali Anarya terpaksa harus tetap tersenyum demi membuat Lasmi tak berubah pikiran. Ia harus sebaik mungkin menjaga sikap agar rencananya berjalan mulus hingga tujuan.
"Lasmi, kita lupakan semua yang pernah terjadi. Sekarang kita tatap masa depan. Kamu berhak bahagia meski bukan denganku, kamu harus yakin itu." Anarya masih berusaha meyakinkan wanita yang telah membuat banyak kebohongan itu.
"Terimakasih, Mas. Maaf kalau selama ini aku sudah membuatmu banyak kehilangan mimpi yang sangat berarti." Lasmi menunduk, ada bulir bening yang jatuh di atas punggung tangannya.
"Aku menyesal, Mas. Demi Tuhan aku menyesal sudah pernah jadi wanita jahat. Aku benar-benar ingin bertaubat ... hiks ... hiks ... hiks ...." tangis Lasmi pecah, penyesalan demi penyesalan membuat sesak di dada.
__ADS_1
"Sudahlah, Lasmi." Tangan Anarya mengelus bahu wanita yang tengah larut dalam penyesalan itu.
"Lasmi, kita berangkat sekarang, ya. Biar nggak kesiangan, ok?"
"Berjanjilah, Mas. Kamu tidak akan pernah membenciku."
"Iya. Mas janji nggak akan benci. Mas sudah maafin semua kesalahan kamu. Kita berangkat, ya." Tanpa menunggu persetujuan Lasmi lagi, Anarya mulai menginjak gas dan melajukan kendaraan beroda empat itu untuk menuju ke makam Daneela.
Sepanjang perjalanan tak banyak pembicaraan yang terucap. Hanya sesekali Lasmi menatap lelaki yang masih mengisi ruang hatinya, ada rasa tak ikhlas untuk melepas. Namun, ia tak punya daya lagi untuk mempertahankan apa yang menjadi inginnya.
Lasmi menyadari apa yang ia perjuangkan selama ini harus berakhir tanpa ada hasil. Benar kata Anarya bahwa hati tak bisa dipaksa. Cinta yang mengubah diri Lasmi menjadi wanita penuh obsesi. Ia tak bisa menerima jika harus ditolak oleh lelaki yang ia cintai.
Di tengah lamunan, tetiba Lasmi ingat sesuatu. "Mas, bagaimana dengan hasil tes DNA? Sudah keluar?"
"A-apa?" Anarya tergagap karena tak siap dengan pertanyaan Lasmi.
"Hasil tes DNA."
"Eeeh ... itu ... Mas belum tahu."
"Lho, memangnya Mas Narya nggak tanya ke dokter?"
"Mas belum sempat. Nanti saja kalau semua urusan sudah kelar. Sekarang kita fokus dulu ke makam Daneesa dan ke Bu Rani. Setelah kamu meminta maaf ke mereka, baru kita bicarakan tentang Resti."
"Iya, Mas."
Suasana kembali hening, hanya suara deru mobil yang terdengar. Sudut netra Anarya melirik ke arah Lasmi, ia menangkap ada kekhawatiran yang teramat sangat.
Anarya tahu betul apa yang sedang dipikirkan Lasmi. Mungkin kalau hanya ke makam Daneesa tak terlalu berat baginya, namun untuk menemui Bu Rani sudah pasti itu hal tersulit karena ia takut akan menerima murka dari wanita yang kehilangan anak gegara Lasmi.
Kekhawatiran Lasmi bertambah karena ia menyadari bahwa hasil tes DNA sudah jelas akan berbeda. Ini artinya Lasmi tahu kalau Resti bukanlah anak Anarya.
"Kita sudah sampai, Lasmi. Turun, yuk!"
Lasmi hanya terpegun. Keraguan kembali menghampiri.
"Malah diam?"
"Mas ...."
"Lasmi, kita sudah sampai. Jangan tunda lagi."
Tak ada pilihan lain bagi Lasmi kecuali mengikuti ucapan Anarya. Ia turun dan membawa keranjang bunga yang ia beli di jalan tadi.
Sejenak ia berdiri di pintu masuk makam, mencoba menguatkan hati untuk yakin bahwa jalan yang ia pilih sudah benar. Setelah beberapa kali menghela napas, ia pun bergegas melangkahkan kaki mengikuti Anarya.
Tatapan bola maniknya tertuju pada sesosok wanita tua yang tengah berdoa di dekat pusara bertuliskan nama Daneesa.
"Mas, itu Bu Rani." Lasmi menarik lengan Anarya agar berhenti.
"Iya, malah kebetulan kalau begitu. Jadi, kita nanti bisa langsung bicara dengan beliau."
"Tapi, Mas ... aku belum siap."
"Lasmi, siap atau tidak kamu harus lakukan kalau kamu memang benar-benar ingin bertaubat."
Lasmi tak bisa mengelak lagi, apalagi ketika sosok wanita itu berdiri dan berbalik menatapnya tajam. Sorot kemarahan itu masih jelas tersirat dalam bola netra yang sudah mulai kelabu.
Tatapan penuh amarah dan semburat kebencian itu membuat nyali Lasmi menciut. Ia hanya mampu mencoba menghindari tatapan itu dengan cara bersembunyi di balik badan Anarya. Tapi percuma, wanita tua itu justru berjalan mendekatinya.
Dada Lasmi semakin tak karuan, ia benar-benar tak siap jika harus menerima makian dari seorang ibu yang terluka karena kehilangan anak.
Setiap langkah Bu Rani dirasakan Lasmi sebagai gempuran dasyat yang siap menghancurkan bukit batu kesombongan yang ia pelihara selama ini.
__ADS_1
Kini ia pasrah ....