Sepenggal Kisah Anak Haram

Sepenggal Kisah Anak Haram
Part 38 Rahasia Terbongkar


__ADS_3

Kedatangan Anarya dan Daneela disambut hangat oleh Bu Bramantyo. Resti dan Nessa yang telah duluan ada di rumah itu bergegas menghambur ke pelukan Anarya. Resti yang sudah lama tidak merasakan kasih sayang seorang ayah, dia begitu tampak bergelayut manja dan tak ingin lepas dari ayahnya.


Sore itu Pak Bramantyo dan Anarya kompak mengajak bermain dengan anak-anak. Tawa ceria mewarnai kebersamaan mereka di taman depan rumah. Sejenak kesedihan yang pernah hadir sirna dan tenggelam oleh suka cita yang mereka cipta.


Sementara itu, di tempat lain dalam waktu yang sama ....


"Daneela," panggil Bu Bram setengah berbisik di tepi ambang pintu kamar.


Daneela yang masih di dekat jendela melihat keceriaan Anarya dan anak-anak segera menoleh ke sumber suara. Ia bergegas mendekat dan meminta Bu Bram untuk masuk, tak lupa ia tutup kembali pintu kamar.


"Ma, Lasmi sepertinya mengalami gangguan kejiwaan. Dia jadi ketakutan setiap melihat aku, dia pikir aku ini hantunya Daneesa."


"Mama nggak nyangka kalau tindakan kita akan berdampak seperti itu."


"Iya, sekarang Lasmi dalam keadaan kritis. Kemungkinan dia terjatuh saat berlari, dia ketakutan melihatku sampai lari tunggang langgang lupa kalau dia sedang hamil."


"Tapi kenapa Yoga ada di sana?"


"Aku belum tahu masalah itu, Ma. Terus kita harus bagaimana? Aku merasa bersalah, Ma." Kecemasan menyelimuti pikiran Daneela.


Bu Bram menghela napas, tangannya merengkuh bahu sang menantu dan menuntunnya untuk duduk di tepi ranjang. "Lasmi sudah pantas menerima karma atas apa yang ia perbuat dulu. Jadi, kamu jangan merasa bersalah, Daneela."


Daneela menatap lekat wanita paruh baya yang masih terlihat sisa-sisa kecantikan masa muda itu. Dulu wanita itulah yang mendukung semua tindakan jahat Lasmi, dan sekarang dengan mudahnya ia berkata bahwa Lasmi pantas menerima karma, lalu dia?


Sungguh Daneela tak habis pikir, bagaimana dengan mudah perempuan ini bicara tentang karma tanpa berpikir bahwa ia ikut andil dalam kesalahan Lasmi di masa lalu.


"Tapi, Ma ... kita tak seharusnya menakut-nakuti Lasmi. Dia sedang hamil, dan sekarang nyawanya jadi taruhan."


"Dulu dia juga lakukan itu ke Daneesa."


"Dan Mama ikut mendukung tindakannya, kan?"


"Daneela!"


Sontak Daneela terhenyak, ia kelepasan bicara. Ia tak mampu menahan apa yang menjadi gejolak dalam dada, himpitan rasa sakit itu muncul kala tahu bagaimana mereka mencelakakan Daneesa.


"Mama sudah mengakui kesalahan Mama di masa lalu, dulu Mama terlalu bodoh dihasut oleh Lasmi, Mama terlalu serakah akan harta sampai menggadaikan cinta Anarya. Tapi tolong, jangan pernah bahas itu lagi."


Bu Bram terlihat marah, ia berdiri dan melangkah menuju ke pintu. Baru saja ia memutar gagang pintu dan menariknya ....


"Anarya?" Bu Bram terkejut bukan kepalang saat melihat anak lelakinya telah berdiri di ambang pintu.


Daneela yang mendengar Bu Bram menyebut nama Anarya ikut terperanjat, seketika ia berdiri dan khawatir jika suaminya mendengar seluruh pembicaraan.


"Sudah bicaranya? Kenapa nggak diungkap saja semua kebusukan kalian?"


"Anarya!" bentak Bu Bram.


"Apa, Ma? Mama mau mengakui kejahatan Mama ke Daneesa? Anarya siap dengerin, kok."


"Mama ... Mama ... Anarya, tolong maafin Mama. Kamu tahu saat itu Mama dihasut oleh Lasmi."


"Kalian sama, Ma. Sama-sama wanita tak punya hati! Kalian sengaja menyingkirkan Daneesa dari hidup aku dengan cara keji. Aku baru tahu kalau wanita yang melahirkan aku adalah wanita jahat yang tega mengakhiri hidup wanita lain."


"Mama nggak ada niatan untuk membunuh Daneesa, Lasmi yang mendorong Daneesa hingga jatuh dari tangga."


"Dan Mama tidak berusaha menolong Daneesa, Mama justru membiarkan dia pergi dengan kondisi pendarahan hebat?"


Bu Bram terdiam. Ia tak mampu membela diri. Bagaimana pun ia memang salah karena dulu mendukung apa yang dilakukan Lasmi.


"Sekarang ... Mama juga berusaha mengubah Daneela menjadi wanita tak berhati?" Telunjuk Anarya menunjuk ke arah Daneela yang sedari tadi menggigit bibir menahan rasa khawatir.


Anarya menerobos masuk dan menarik Daneela dengan kasar. "Lihat, Ma ... dia wanita yang aku pikir akan seperti Daneesa, tapi nyatanya ia lebih memilih mengikuti apa kata wanita yang telah ikut andil membunuh saudara kembarnya!"


"Mas, aku lakuin itu karena untuk menghentikan Lasmi!" Daneela berusaha membela diri.


"Apa harus dengan cara membuat wanita hamil menjadi tertekan? Ada nyawa lain dalam perut Lasmi, dan nyawa itu tak berdosa!"

__ADS_1


"Maaf, Mas ...."


"Apa maafmu bisa menebus seluruh kesalahan? Sekarang kamu senang karena Lasmi nyaris meregang nyawa dengan cara yang sama seperti Daneesa? Puas?"


"A-aku ...." Daneela tak mampu berucap lagi, lidahnya kelu. Rasa sesal memenuhi ruang sanubari.


"Aku kecewa dengan kamu, Daneela. Aku pikir hati kamu seperti Daneesa, hati yang tak pernah menyimpan dendam."


"Mas! Apa aku salah kalau berusaha melindungi diri aku, kamu, dan Nessa?"


"Melindungi diri dari apa?"


"Aku tahu, Mas ... aku tahu Lasmi berusaha memaksa kamu untuk kembali. Aku tahu dia menggunakan Resti untuk membuat kamu menuruti semua permintaan dia."


"Aku takut jika nasib aku akan sama seperti Daneesa, harus mati di tangan Lasmi, wanita yang pastinya kamu tahu senekad apa dia!" lanjut Daneela tak ingin kalah.


"Tapi apa harus dengan cara menyerang psikis dia untuk membuat dia berhenti?"


"Aku pikir dengan cara itu akan membuat dia berubah, tapi aku nggak nyangka kalau dia justru akan seperti itu."


Anarya kehabisan kata, harus dengan apa ia menjelaskan maksud hatinya. Ia hanya tak ingin Daneela berubah menjadi jahat dan pendendam. Sebagai suami, Anarya merasa sedih jika harus mengetahui istrinya lebih menurutkan emosi dibandingkan hati nurani.


"Tolong jaga Resti dan Nessa di sini, besok kita baru akan pulang. Sebaiknya kamu renungkan lagi apa yang sudah kamu lakukan," ucap Anarya penuh penekanan.


"Dan Mama, tolong jangan pengarungi Daneela untuk menjadi seperti Mama," lanjut Anarya kepada Bu Bram.


Tanpa menunggu jawaban dari keduanya, Anarya melangkah pergi. Ia lajukan mobil untuk kembali ke rumah sakit, bagaimana pun ia yang harus bertanggungjawab atas apa yang terjadi dengan Lasmi.


Jujur dalam hati, ia tak bisa menyalahkan Daneela tetapi juga tak mau membenarkan tindakan Daneela yang menyerang secara psikir Lasmi hingga kejiwaan Lasmi terganggu.


Kembali hasil diagnosa dokter terngiang di telinga, dokter menyatakan bahwa Lasmi dalam tekanan batin sehingga mempengaruhi kondisi kejiwaannya. Sekarang, Lasmi memang sedang menuai karma dari hasil perbuatannya dulu. Tapi, bukankah manusia tidak berhak menghakimi?


****


Lelaki itu terduduk di tepi ranjang, tatapan sendu ia layangkan kala menatap wajah Lasmi yang tampak begitu kuyu. Tak henti ia menciumi tangan kanan Lasmi yang masih terbaring lemah.


"Ya," jawab pria bernama Yoga itu dengan suara parau akibat menangis.


"Terimakasih sudah ada untuk aku."


"Lasmi, aku sudah bilang ke kamu kalau aku akan selalu ada buat kamu."


Lasmi tersenyum meski tampak terpaksa. Ia tahu Yoga begitu mencintainya hingga kini, namun ia terlalu bodoh dengan mengejar cinta Anarya. Terkadang ia merasa bahwa selama ini ia sudah membuang waktu dengan sia-sia hanya demi laki-laki yang tak mampu menghargai perasaannya.


"Anak aku bagaimana?" tanya Lasmi mengalihkan pembicaraan.


"Anak kamu ... Lasmi, kamu harus kuat, ya."


"Anak aku kenapa? Dia selamat, kan?"


"Dokter sudah berusaha, tapi anak kamu tidak bisa diselamatkan. Benturan keras itu membuat bayi kamu tak bisa bertahan."


Seketika Lasmi tersedu, tangis tanpa suara itu pecah. Kesedihan semakin mendera hati yang telah terluka, bulir bening itu tak mampu ia tahan lagi.


"Lasmi, kamu harus kuat. Kamu itu wanita tegar." Yoga berusaha menguatkan wanita yang kini tengah terpuruk itu.


"Lagipula, kenapa kamu bisa sampai lari ketakutan dan terjatuh begitu?"


Lasmi berusaha mengingat apa yang terjadi. Klise peristiwa menjelang ia terkena musibah itu terekam baik dalam memorinya.


"Aku melihat Daneesa. Dia ingin balas dendam dengan mencekik leherku, itu sebabnya aku lari."


"Daneesa? Siapa dia?"


Lasmi terdiam, seolah ia tersadar dengan apa yang diucapkan. Tak mungkin ia cerita ke Yoga siapa Daneesa, bisa-bisa pria itu akan beranggapan bahwa dirinya wanita jahat yang penuh obsesi.


"Daneesa adalah istriku yang dibunuh oleh Lasmi!" Tiba-tiba sebuah suara muncul dari balik pintu.

__ADS_1


Sontak dua orang itu langsung menoleh. Wajah Lasmi berubah pucat pasi, sedangkan Yoga terkejut dengan pernyataan laki-laki yang sempat ia hajar tadi siang.


"Mas ...." Hanya kata itu yang mampu terucap dari bibir Lasmi, ketakutan kembali mencekam batinnya.


Yoga berdiri dan menghadap ke arah Anarya. "Daneesa istri kamu? Lalu Lasmi?"


"Daneesa adalah wanita yang kunikahi pertama kali, dia meninggal karena pendarahan parah setelah di dorong Lasmi dari tangga. Aku baru tahu hari ini setelah Mamaku cerita semuanya."


Kembali Yoga tercengang. Pandangan tajam kini ia layangkan ke Lasmi, ia tak percaya wanita yang ia cintai sampai nekad berbuat tindak kriminal seperti itu.


Yoga mendekati Lasmi yang seketika salah tingkah. "Apa itu benar?"


"Itu semua nggak benar, aku tidak mendorong Daneesa. Itu murni kecelakaan."


"Oh, ya? Jika itu murni kecelakaan, lalu kenapa kalian tidak menolong Daneesa yang kesakitan dan kepayahan berjalan untuk menyelamatkan diri dari kalian?"


"Kalian? Maksudnya ada orang lain selain Lasmi?" Yoga semakin tak mengerti.


"Ya, Mamanya Anarya juga terlibat dalam kejadian itu." Lasmi menimpali dalam kekhawatiran yang menyelubungi pikiran.


Bola mata Yoga semakin membeliak mendengar pengakuan Lasmi. "Itu artinya apa yang dikatakan laki-laki bodoh ini benar?"


"Bu-bukan begitu. A-aku ... aku saat itu kalap karena wanita itu menolak untuk meninggalkan Anarya."


"Aku nggak menyangka Lasmi, ternyata selama ini aku mencintai wanita berhati iblis. Aku bisa terima kamu abaikan cinta aku, tapi untuk menerima kesalahan kamu yang sudah masuk kategori kejahatan itu ... maaf, aku nggak bisa."


"Yoga!" teriak Lasmi kala melihat lelaki yang selama ini menyimpan perasaan cinta kepadanya itu berlalu.


Ingin sekali ia mengejar pria pemilik cinta sejati itu, namun kondisi tubuhnya yang masih lemah membuatnya tak bisa berbuat banyak. Ia hanya bisa memejamkan mata dan kembali bulir bening merembes dari kelopak netra yang tertutup rapat.


"Aku memaafkanmu, Lasmi. Dan aku minta ... berhentilah membuat hidupku berantakan. Tatalah kehidupanmu untuk menjadi lebih baik, dan lepas semua obsesi beserta dendam yang selama ini menguasai akal sehatmu." Anarya berusaha bicara dari hati ke hati.


"Mas ... apapun yang aku lakukan selama ini semata-mata karena cinta aku ke kamu."


"Ya, aku tahu. Tapi hati nggak bisa dipaksa, Lasmi. Berapa lama kamu berusaha mengambil hatiku, namun justru hati kamu yang makin terluka. Jangan siksa batin kamu dengan memaksa sesuatu yang tak bisa kamu miliki."


Lasmi kembali terdiam. Pandangan nanar itu kembali mengedar menyapu langit-langit kamar. "Apa Daneesa akan berhenti mengganggu jika aku membiarkanmu pergi dan hidup tenang bersama Daneela?"


"Sudah pasti. Daneesa hanya ingin kamu berubah menjadi lebih baik. Daneesa sudah memaafkan kamu."


"Benarkah itu, Mas?"


Anarya mengangguk. "Setelah kondisimu membaik, aku akan antar kamu ke makam Daneesa. Kamu bisa bicara dengannya."


"Mas yakin dia nggak akan marah?"


"Dia wanita baik, Lasmi. Dia tak pernah berpikir untuk membalas dendam."


Tangis Lasmi kembali pecah. "Maafkan aku, Daneesa. Aku janji akan berubah, beri aku kesempatan." Lasmi menempelkan kedua telapak tangan ke dada seolah sedang memohon.


Anarya tersenyum, ia berharap wanita yang tengah tertekan batinnya itu mampu berubah menjadi wanita yang memiliki hati. Sekerasnya hati pasti akan terkikis oleh kelembutan. Anarya sengaja tak menggunakan kekerasan, karena ia tahu jika menyelesaikan masalah dengan cara memojokkan Lasmi maka yang ada wanita itu makin menggila.


"Aku akan bicara ke Yoga agar tetap memberikan perhatiannya ke kamu."


"Tidak usah, Mas. Dia benar, selama ini aku sudah mengabaikan perasaan dia. Aku meninggalkan dia demi kamu. Aku juga tak pantas menerima cinta tulus darinya."


"Aku yakin dia pasti akan kembali karena dia tak bisa move on dari kamu." Anarya tersenyum, ia mencoba mencairkan suasana.


Lasmi turut tersipu malu mendengar ucapan Anarya. Baru kali ini ia merasakan begitu nyaman atas sikap Anarya, begitu lembut dan mampu meneduhkan hatinya kembali.


Lasmi melepas Anarya dengan penuh senyum. Ketakutan yang ia rasakan perlahan menghilang, tekadnya sudah bulat. Ia ingin memperbaiki seluruh kesalahan di masa lalu.


Malam itu Anarya kembali ke rumah Bu Bram, ia sampai saat lampu di rumah besar itu telah padam dan situasi sepi. Ya, malam telah larut. Namun, ia masih bisa melihat Daneela berdiri di balkon untuk menanti kepulangannya.


Tampak Daneela segera menuruni tangga dan membukakan pintu untuk suaminya. Kekhawatiran belum jua sirna, masih bergelayut di wajah lelah itu.


Anarya masuk tanpa menyapa Daneela, langkahnya segera menuju ke kamar mandi hanya untuk sekedar mencuci tangan dan kaki. Setelah itu ia rebahkan tubuh dan mulai memejamkan mata.

__ADS_1


Daneela hanya bisa diam tak berani mengucap sepatah kata. Dia merasa bersalah telah membuat Anarya kecewa. Namun, dia bisa apa? Merayunya? Entahlah.


__ADS_2