Sepenggal Kisah Anak Haram

Sepenggal Kisah Anak Haram
Part 36 Ketakutan


__ADS_3

Cuitan burung gereja menyambut mentari yang datang tanpa penghalang. Hangat sinar sang bagaskara lembut menyentuh kulit, tak ada keluh kesah dari satu pun makhluk atas hadirnya.


Aktivitas di rumah sakit pagi itu sudah dimulai, para petugas berseragam putih telah mulai memasuki ruang pasien rawat inap untuk kontrol sebelum pergantian shift jaga.


Lasmi terbangun kala seorang perawat datang untuk memeriksa kondisi Resti dan mengganti perban. Netra wanita yang semalam dicekam rasa ketakutan tampak begitu cekung dengan lingkar hitam membentuk mata panda, lelah terpancar dari raut wajah yang kusut masai.


Entah bagaimana ia bisa tertidur tadi malam. Setelah lelah menahan segala rasa takut sekaligus kesal, ia hanya mampu sembunyi di balik selimut yang ia bawa. Sakit hati dan perasaan dicampakkan masih tetap bertengger di hati, tak mampu ia singkirkan begitu saja.


Lasmi terpekur, diam seribu bahasa. Netranya kembali nanar mengedar seluruh ruangan. Ucapan terakhir arwah Daneesa masih saja tergiang jelas di telinga hingga detik ini.


Masih serasa seperti mimpi didatangi sosok di masa lalu yang teramat ia benci, antara percaya dan tidak. Pada awalnya ia berpikir bahwa semua itu hanyalah permainan Daneela belaka, namun mengenai kejadian saat ia mendorong Daneesa dari tangga hanya dia dan mantan mertuanya saja yang tahu.


Rasa penasaran membuat pikiran Lasmi mulai menganalisa dan menduga. Dugaan pertama ialah mantan ibu mertuanya, prasangka pun melayang ke wanita yang dulu selalu mendukung semua keinginannya itu.


"Apa mungkin Mama yang cerita? Tapi ... kalau Mama yang cerita, rasanya itu mustahil. Dia pasti nggak akan berani cerita kejadian itu ke siapapun apalagi ke Daneela," gumamnya sembari menggigit bibir.


"Tidak mungkin. Mama pasti tahu resiko yang akan ia terima jika cerita tentang Daneesa terungkap. Wanita seperti dia pasti akan takut kalau sampai harus menghabiskan sisa umur di penjara."


Lasmi terus saja sibuk dengan pikirannya yang penuh praduga. Beberapa kali ia ketuk-ketuk pelipis, menandakan bahwa ia tengah berpikir keras.


"Tapi ... apa iya semalam itu arwah Daneesa?" Pandangannya tertuju pada pintu, tempat di mana Daneesa muncul.


Bulu kuduk Lasmi tetiba kembali meremang. Ia tak kuasa membayangkan jika arwah Daneesa muncul lagi atau ternyata sedang duduk di dekatnya. Apalagi ... ah, mengingat kata-kata Daneesa membuat Lasmi seperti orang yang tertekan.


Saat ini Lasmi berada di persimpangan, antara berusaha kembali merebut cinta Anarya atau mengalah pada keadaan. Di sisi lain, ia masih sangat mencintai lelaki yang telah membuatnya tergila-gila hingga berbuat nekad.


"Bu, Ibu ...." Suara Resti yang memanggil berkali-kali akhirnya memecah kericuhan suasana otak Lasmi.


Tanpa menyahut, Lasmi menatap lekat gadis kecil itu. Kembali ucapan arwah Daneesa menggema di telinganya, masih terdengar jelas permintaan agar ia berhenti membuat ulah. Sepertinya ia tak akan bisa menggunakan gadis kecil itu sebagai alat untuk memaksa Anarya kembali ke pelukan.


"Bu, hari ini Resti sudah boleh pulang, kan?" Resti mengulangi kembali pertanyaan yang tak mendapat respon dari Lasmi, wanita itu masih diam terpaku dengan tatapan yang tak tenang.


"Iya, nanti menunggu dokter datang dulu." Lasmi akhirnya melempar senyum, kemudian bangkit dari duduk dan mendekat ke tepi ranjang.


"Ayah ke sini untuk jemput, Bu?"


"Iya."


"Hore ... Ayah dan Kak Nessa datang lagi!" seru Resti penuh dengan suka cita, binar bahagia begitu terlihat di wajah cantiknya.


Lasmi hanya tersenyum simpul. Pandangannya lagi-lagi mengedar ke pintu, terbayang kala sosok itu tiba-tiba muncul di sana. Bulu kuduk seketika meremang kembali, ia sapu seluruh ruangan dengan tatapan penuh ketakutan.


"Hih ... kenapa aku jadi parno begini, sih!" ucap Lasmi sembari mengusap tengkuknya yang masih saja merinding.


"Ibu kenapa?" tanya Resti sembari meraih tangan Lasmi dan membuat ia terhenyak.


"Hah! Apaan, sih, kamu! Bikin Ibu kaget saja!" teriak Lasmi kaget, dengan reflek tangannya menepis kasar tangan mungil itu.


Seketika terdengar tangisan histeris Resti, ada darah yang mengucur dari tangannya. Melihat hal tersebut justru Lasmi makin panik, ia tak tahu jika sikapnya tadi membuat infus di tangan Resti terlepas.


"Maaf, Sayang. Maaf, Ibu nggak sengaja." Lasmi masih dengan kepanikan mencoba meraih tangan Resti, namun anak kecil itu justru semakin kencang tangisannya.


Lasmi dengan cepat menekan tombol untuk memanggil perawat, tak berselang lama petugas jaga dayang dan dengan sigap menolong Resti yang masih terisak menahan sakit.


Beruntunglah perawat wanita itu mampu menenangkan Resti, sehingga gadis kecil itu berhenti dari tangisnya meski masih ada sisa sesenggukan. Sorot ketakutan pada sosok ibu kini menjelma, beberapa kali ia merengek meminta perawat untuk tetap menjaganya.

__ADS_1


"Ehm ... Resti, mbak perawat itu harus bertugas lagi. Maaf, ya ... Ibu tadi nggak sengaja." Lasmi berusaha menyentuh puncak kepala Resti, namun gadis kecil itu sudah terlanjur ketakutan sehingga ia menarik kepala menjauh dari jangkauan tangan Lasmi.


"Ibu jahat! Ibu nggak sayang Resti lagi!" teriak Resti sembari melompat dari ranjang dan berlari keluar meski dengan tubuh yang masih belum sepenuhnya imbang, hampir saja tubuh kecil itu terjatuh saat mencoba berlari dari kejaran ibunya.


Lasmi seketika panik dan berlari mengejar Resti, namun langkahnya terhenti kala melihat Anarya yang tengah mengangkat Resti ke gendongan. Di sampingnya berdiri sosok wanita yang sejak tadi malam mengganggu pikirannya.


"Da-Daneesa ...." Lasmi mundur selangkah, tiba-tiba pandangannya mengabur dan ....


Bruk!


Tubuh Lasmi limbung dan hampir jatuh, namun dengan sigap Anarya segera menurunkan Resti dan tangan kekar itu berhasil menangkap tubuh mantan istrinya sebelum jatuh ke lantai.


****


Perlahan Lasmi membuka netra, kelopak matanya meredup untuk mengatur intesitas cahaya yang masuk ke retina. Beberapa kali ia kerjapkan mata untuk meyakinkan bahwa ia telah berada di dunia nyata.


Kesadarannya sedikit demi sedikit telah kembali, bola manik itu terus saja mengedar tak tenang. Saat lensa matanya merekam sosok yang ia takuti, Lasmi segera bangun dan turun dari ranjang.


Rasa takut itu menjangkiti pikirannya hingga beberapa kali ia menyebut nama Daneesa dan berkali-kali pula ia meminta agar sosok dalam pandangannya itu pergi.


Melihat Daneela yang hanya bergeming, Lasmi nekad mendorong tubuh yang ia anggap Daneesa. Ia berharap sosok itu lenyap dari hadapannya.


Daneela yang merasa terusik justru membalas, ia dorong wanita yang tengah hamil itu hingga tersungkur ke lantai. "Sudah gila kamu, Lasmi!" teriak Daneela menghardik.


Ada senyum penuh kemenangan yang Daneela sembunyikan, hanya hatinya yang tahu saat ini ia sedang bersorak sorai melihat kondisi Lasmi. Ia merasa puas berhasil membuat Lasmi lupa dengan niatnya.


Anarya yang melihat tingkah Lasmi merasa kebingungan. Ia layangkan pandangan ke Daneesa seakan meminta pendapat, namun Daneela hanya mengedikkan bahu.


"Aku keluar dulu, Mas. Sepertinya Lasmi tidak mau aku di sini, aku ajak Resti keluar."


"Lasmi, tenanglah. Kamu ini kenapa?" tanya Anarya sembari membantu wanita yang tengah mengandung anak ketiganya itu untuk berdiri.


"Daneesa, Mas ... dia semalam datang."


Anarya mengeryitkan dahi, ia masih belum mengerti apa maksud dari ucapan Lasmi. "Maksud kamu?"


"Iya, semalam Daneesa datang. Dia mengganggu aku, aku takut dia akan balas dendam." Tangis Lasmi pecah, tangannya memeluk lengan Anarya seakan meminta perlindungan.


"Lasmi, aku rasa kamu hanya bermimpi didatangi almarhumah Daneesa."


"Nggak, Mas. Dia beneran datang."


Anarya terdiam. Ia menelisik wajah Lasmi yang masih menyiratkan kekhawatiran dan kecemasan yang sangat. Tak biasanya Lasmi bersikap seperti itu selama hidup dengan Anarya dulu.


"Aku tahu ini di luar nalar, Mas. Tapi serius aku nggak bohong."


"Mungkin kamu saat ini sedang kecapekan, Lasmi. Sekarang kamu istirahatlah, biar Resti aku yang jaga." Anarya menuntun Lasmi ke ranjang.


"Mas, aku nggak mau mati konyol karena arwah Daneesa."


"Daneesa sudah tenang di surga. Dia tidak mungkin datang untuk balas dendam."


"Tapi, Mas ...."


"Sepertinya kamu sudah waktunya berubah, Lasmi. Datanglah ke makam Daneesa dan mintalah maaf."

__ADS_1


Lasmi terdiam. Bagaimana mungkin ia harus minta maaf pada jasad yang sudah berkalang tanah? Berat baginya untuk melakukan itu.


"Aku tahu kamu tak akan bisa melakukan itu, Lasmi. Jadi, sekarang kamu lebih baik istirahat dan tenangkan pikiran kamu. Kasihan bayi yang ada di perutmu."


"Sejak kapan kamu peduli dengan anak ini, Mas?" Lasmi tertunduk seraya mengelus perutnya yang sudah terlihat membuncit.


Perkataan Lasmi membuat Anarya tak mampu berkata, ia tidak menampik tuduhan Lasmi bahwa memang selama ini ia lebih memilih hanyut dalam kebahagiaan bersama keluarga barunya.


"Sudahlah, sekarang kamu istirahat. Aku mau menemui dokter dulu sekalian mau urus administrasi."


"Tapi Mas nanti ke sini lagi, kan?" tangan Lasmi dengan cepat menyambar lengan Anarya.


"Iya. Sekarang kamu yang tenang, oke?"


Lasmi mengangguk, perlahan ia lepaskan genggaman tangannya dari lengan Anarya. Ada harap yang masih ia gantungkan terhadap lelaki yang telah lepas dari hidupnya.


Setelah Anarya keluar, Lasmi berusaha menetralisir setiap rasa takut yang menyelimuti hati dan pikirannya. Ia mencoba memejamkan netra, berharap ketika nanti ia membukanya kembali keadaan sudah kembali normal.


Sudah lebih dari lima belas menit ia memejamkan mata, namun tak jua ketenangan itu ia dapat. Kelebatan peristiwa di masa lalu justru berlalu lalang menghadirkan sesal yang mulai menggerayangi sanubari.


Kesalahan yang dulu ia anggap sebagai perjuangan cinta, kini berubah menjadi bumerang baginya. Prinsip penuh kesombongan yang dulu ia pertahankan, kini justru harus ia tekan dalam-dalam.


Haruskah seorang Lasmi mengakui kekalahan setelah berjuang sekian lama?


Haruskah ia datang mengemis ampunan pada arwah yang dianggap rival yang telah berhasil ia singkirkan?


Semua itu rasanya mustahil. Seorang Lasmi tak mungkin akan melakukan hal serendah itu. Perjuangan tetaplah perjuangan, prinsip tetaplah prinsip.


"Tidak akan aku menyerah hanya karena hantu Daneesa. Aku harus tetap maju, aku tidak boleh kalah!" Lasmi menguatkan hati, ia berusaha tak menjadi lemah karena ketakutannya.


Dengan keyakinan yang kembali terbangun, Lasmi menghela napas panjang. Ia siap menghadapi apapun yang akan terjadi. Dengan mantap, ia buka kembali netranya dan ....


"Aaaa ...." teriakan histeris Lasmi menggema ke seluruh ruang.


Melihat sosok yang sedari malam menghuni alam pikirannya, sontak ia terkejut dan bangkit dari ranjang. Ia meloncat dan lari terbirit-birit keluar dari ruang rawat inap, lari tanpa arah sembari teriak tak jelas.


Tak ia hiraukan panggilan Resti yang melihat ibunya berlari ketakutan. Baginya saat ini menjauh dari Daneesa adalah hal terbaik karena ia tak ingin mati dicekik hantu wanita di masa lalu itu.


"Tante, Ibu kenapa?" tanya Resti kala bayangan Lasmi menghilang di ujung lorong.


"Ehm ... mungkin Ibu Lasmi tadi mimpi buruk, jadi waktu bangun Ibu Lasmi ketakutan." Daneela mencoba menjelaskan agar Resti tidak khawatir.


"Tapi nanti Ibu balik ke sini, kan, Tante?"


"Iya, Sayang. Nanti kalau Ibu Lasmi sudah sadar, pasti kembali ke sini."


Daneela berusaha menenangkan bocah kecil yang ternyata sudah memiliki perasaan khawatir terhadap orang tuanya. Ia rengkuh bahu Resti dan mengajaknya untuk duduk bersama Nessa.


Ada desir tak tega yang menyusup ke relung hati. Jujur, ia tak ingin melihat seorang anak kecil ikut merasakan akibat dari perseteruan orang dewasa. Daneela pun tak menyangka jika apa yang ia lakukan justru berdampak pada kejiwaan Lasmi.


Daneela memang merasa puas dengan apa yang terjadi dengan Lasmi. Ia berharap Lasmi tak akan berbuat nekad sama seperti apa yang dulu ia perbuat ke Daneesa. Tapi semua di luar dugaan, justru ketakutan membuat Lasmi seperti orang gila.


Hah? Benarkah Lasmi mulai gila?


Wajah Daneela seketika berubah kala anggapan itu hadir dalam benaknya.

__ADS_1


__ADS_2