Sepenggal Kisah Anak Haram

Sepenggal Kisah Anak Haram
Part 44 Bahagia Menjelma


__ADS_3

Sesuai rencana yang telah dirancang oleh Anarya, semua berjalan sesuai yang dikehendaki oleh lelaki yang sedang berjuang menemukan sebuah kebenaran itu.


Alamat rumah Yoga telah didapat dari Bu Bramantyo yang dulu pernah mendatangi pria mantan kekasih Lasmi di masa lalu. Saat itu Bu Bram merasa Yoga adalah sebuah batu sandungan yang sewaktu-waktu bisa mengambil Lasmi.


Bagi Bu Bramantyo, Lasmi adalah dewi penolong yang akan menghindarkan ia dari jurang kemiskinan. Itu sebabnya semua ia tebas habis agar tak ada lagi jalan penghambat.


Sekarang semua berbalik, justru gadis yang dulu ia gadang-gadang akan memberi kebahagiaan malah berbalik arah. Penghianatan Lasmi di belakang Anarya membuat Bu Bramantyo semakin menyesali tindakannya dulu.


Setelah berpikir cukup lama, akhirnya Bu Bramantyo menyerahkan secarik kertas bertuliskan sebuah alamat. Itu sebabnya Anarya pagi ini dengan cepat dapat menemukan kediaman Yoga Wijaya, lelaki yang diduga kuat sebagai ayah biologis Resti.


Anarya yang masih di belakang kemudi segera menepikan mobil. Sudut netranya melirik penanda waktu di pergelangan tangan, kemudian bersiap turun.


"Ini rumah siapa, Mas?" tanya Daneela tak mengerti.


"Daneela, kamu tunggu di mobil. Jaga anak-anak, aku masuk sebentar." Anarya tak menghiraukan pertanyaan istrinya yang sedari tadi mengernyitkan dahi karena kebingungan.


Tampak raut kecewa menaungi wajah Daneela, antara curiga dan juga penasaran membaur menjadi satu. Namun, ia tak bisa memaksa Anarya untuk bercerita. Daneela hanya mampu menatap punggung suaminya yang menghilang di balik pagar tinggi.


"Untuk apa kamu ke sini?" tanya pria berperawakan tinggi dengan wajah hampir mirip artis Primus Yustisio itu.


Ada rasa tidak suka tersirat dari riak wajah pria yang memiliki dendam tersendiri dengan Anarya tersebut. Dalam hatinya menyimpan rasa tidak suka dan menganggap Anarya lah penyebab Lasmi berpaling.


"Yoga, aku ke sini karena ini." Tanpa basa-basi Anarya mengulurkan sebuah amplop berlogo sebuah rumah sakit di kota tempat ia melakukan tes DNA.


"Apa ini?" Dahi Yoga melipat tanda tak mengerti.


"Buka dan bacalah."


Tangan Yoga dengan ragu membuka amplop dan mengeluarkan kertas yang ada di dalamnya. Perlahan ia melebarkan kertas yang terlipat, kemudian mulai membaca kata demi kata hingga akhirnya sejenak ia bergeming.


"Apa maksudnya ini?"


"Jangan pura-pura tidak tahu. Kamu yang menghamili Lasmi, kan?" sergah Anarya tanpa babibu lagi membuat Yoga membeliakkan netra.


"Gila kamu! Menyentuh Lasmi saja aku tidak pernah, bagaimana bisa aku menghamili dia?"


"Kamu yakin?"


"Tentu saja yakin."


Banyak tanda tanya memenuhi ruang pikir mereka berdua. Anarya yang sejak kemarin yakin Yoga adalah ayah biologis dari Resti, kini merasa bingung dengan teka-teki itu.


"Sebentar ... beberapa hari yang lalu Lasmi menghubungi aku minta ketemu, tapi ia batalkan. Apa mungkin ada yang ingin ia bahas?"


Anarya memicingkan mata hingga kedua alis hampir tertaut. Tampak ia berpikir. "Kamu tidak mencoba menemuinya?"


"Sudah kucoba telepon tapi tak diangkat."


"Huff ... aku tak tahu lagi akan mencari titik terang ke mana. Aku tak masalah jika harus membesarkan Resti, tetapi dia anak perempuan yang kelak jika menikah membutuhkan wali meskipun aku tahu itu percuma karena walau ia tahu siapa ayahnya, ia tetap kehilangan hak wali."


Hampir bersamaan Anarya dan Yoga membuang napas kasar. Suasana hening seketika, keduanya sibuk dengan pikiran masing-masing.


"Tak habis pikir dengan Lasmi," gumam Yoga sembari menggaruk kepala yang tak gatal.


"Sama. Aku juga tak mengerti dengan wanita penuh obsesi itu," sahut Anarya seraya menyilangkan tangan ke dada dan menyandarkan tubuh ke dinding.


"Yoga, bantu aku untuk mendapatkan jawaban. Kita ke rumah Lasmi sekarang." Anarya menegakkan badan dan bergegas menarik lengan Yoga.


"Aku naik motor saja."

__ADS_1


"Nggak usah, kita biar tiba di sana bersamaan."


Anarya setengah memaksa Yoga untuk ikut dengannya menuju ke mobil. "Kamu bawa istri dan anak-anak kamu?" tanya Yoga saat melihat Daneela dan kedua bidadari kecil Anarya.


"Iya, Resti kangen dengan ibunya." 


"Ooh ...."


"Ayo, masuk!"


Yoga bergegas masuk ke mobil dan duduk di jok belakang dekat dengan Nesa dan Resti. Ia melempar senyum ramah pada kedua gadis kecil itu.


Tak membuang waktu, Anarya segera menginjak pedal gas dan melajukan mobil ke arah kediaman Lasmi yang baru. Anarya sengaja tak menjelaskan niat kedatangannya, ia hanya bilang ingin mengantar Resti yang rindu dengan dirinya.


Hanya butuh waktu 20 menit mobil Anarya memasuki halaman rumah bercat hijau pupus itu. Di depan pintu tampak seorang wanita yang tengah menunggu kedatangan mereka. Binar netra seketika bersinar kala melihat Resti berlari ke arahnya.


Pelukan hangat menyambut gadis kecil itu. Ciuman bertubi-tubi mendarat di wajah gadis nan imut itu. Begitu rindunya Lasmi dengan anak yang pernah ia jadikan sasaran kemarahannya.


"Ibu rindu kamu sayang. Resti tinggal dengan Ibu lagi, ya?" Lensa mata Lasmi mulai berkaca-kaca menahan penyesalan yang menyesak di batinnya.


"Resti maunya tinggal bareng Kak Nesa, Bu. Boleh, ya?"


Sejenak Lasmi menatap gadis kecil di hadapannya. Anak yang masih sangat lugu, ia lebih memilih tinggal dengan kakak Nesa yang berstatus hanya saudara tiri dibandingkan dengan Lasmi, ibunya sendiri.


Namun, tak ada pilihan. Lasmi kali ini harus merelakan buah hatinya untuk tinggal bersama Anarya dan Daneela. Ia anggukkan kepala tanda merestui keinginan Resti.


"Resti nggak kangen dengan kamar di atas?" Anarya mencoba mengalihkan perhatian anak kecil yang masih ingin bergelayut manja di pangkuan ibunya.


"Kangen banget, Yah."


"Kalau begitu ... ajak Kak Nesa ke atas, ya? Di ajak tidur siang, kita akan pulang sore nanti."


"Yang bener, Yah?"


"Iya, Yah!" Resti melonjak kegirangan, kemudian menarik tangan Nesa dan mengajaknya ke atas.


Setelah kedua gadis kecil itu menghilang dari pandangan, Anarya meminta Lasmi untuk duduk bersama. Begitu pun dengan Daneela dan Yoga.


"Lasmi, aku ke sini tidak semata-mata mengantar Resti. Tapi ada hal yang lebih penting dari sekedar mempertemukan kalian."


Dahi Lasmi mengernyit, sirat kekhawatiran mulai muncul dalam wajahnya. "Memangnya ada masalah apa?" Lasmi mencoba untuk tetap tenang.


Tanpa mengucap kata, Anarya mengulurkan amplop berisi hasil tes DNA yang telah dibaca oleh Yoga sebelumnya. Dengan sedikit ragu yang menggelayut, akhirnya Lasmi menerima dan mulai membukanya.


Dengan seksama bola manik Lasmi bergerak mengikuti tulisan yang ia baca, kemudian terhenti kala membaca hasil akhir tes. Ia mendongak, menatap Anarya dengan tatapan nanar.


Mata yang mulai berkaca-kaca itu semakin tak dapat menyembunyikan sebuah penyesalan yang teramat sangat. Potongan klise di masa lalu berkelebatan kembali, menggugah memori yang telah lama mati suri.


"Jujurlah, Lasmi. Siapa ayah biologis dari Resti."


"Sebentar, sebentar ... sebenarnya ada apa ini, Mas?" Tetiba Daneela menyela, ia tak mampu lagi menahan rasa penasaran.


Semua terdiam. Terlihat tangan Lasmi yang memegang kertas mulai gemetar, menandakan ada sesuatu yang sedang ia coba tahan. Tanpa menunggu jawaban atas pertanyaannya, Daneela mengambil kertas itu dari tangan wanita yang kini diliputi kekhawatiran yang sangat.


"Apa ini? Mas Narya, kamu yakin dengan hasil tes DNA ini?"


"Iya ... dan sekarang aku minta ke Lasmi untuk menjelaskan."


"Maafkan aku, Mas." Tetiba Lasmi menghambur ke kaki Anarya dengan tangis yang pecah.

__ADS_1


"Lasmi, aku sudah lama memaafkan kamu. Aku tak masalah selama ini kamu telah membohongi aku. Tapi sekarang ini yang terpenting adalah status Resti."


"Dia anak Yoga, Mas."


"Apa maksud kamu, Lasmi? Kapan aku menyentuhmu?" Yoga yang mendengar tuduhan Lasmi seketika berdiri dan teriak tak terima.


Lasmi perlahan berdiri. Ia seka bulir bening yang masih tersisa. "Kamu kenal dokter Irwan?" tanya Lasmi yang ditujukan ke Yoga.


Tampak Yoga masih mencoba mengingat nama yang disebutkan oleh Lasmi. "Maksud kamu dokter Irwan yang ....!


"Iya, dokter tempat kamu menyumbangkan ******. Kamu tahu siapa yang menerima donor tersebut? Aku, Yoga. Akulah wanita yang menerima bibit pembuahan darimu."


"Ta-tapi ...."


"Ya, semua itu adalah rencanaku. Saat itu aku hampir putus asa karena Anarya tak menyentuhku. Aku khawatir jika dibiarkan maka akan ada kesempatan dia untuk lepas dariku. Itu sebabnya aku minta tolong dokter Irwan untuk mengatur skenario."


"Gila kamu, Lasmi! Kamu manfaatkan keadaanku saat itu untuk kepentinganmu!" Emosi Yoga mulai meninggi.


"Aku tahu saat itu kamu butuh uang untuk pengobatan ayahmu. Jadi, tak perlu emosi. Kita sama-sama diuntungkan."


"Argh!!!" teriak Yoga sembari memukul dan menendang dinding.


Anarya dan Daneela yang mendengar pengakuan Lasmi beberapa kali berdecak heran. Obsesi Lasmi membuat ia melakukan kegilaan yang sangat di luar nalar. Tergolong nekad dan licik.


"Sekarang sudah jelas siapa ayah dari Resti. Aku hanya ingin tahu saja, setelah ini ... silahkan kalian putuskan bagaimana ke depannya," ujar Anarya memberi keleluasaan berpikir pada dua orang yang sedang terlibat masa lalu yang rumit.


"Semua aku serahkan ke Resti. Aku hanya ingin anak itu mengecap kebahagian bersama orang yang ia inginkan," tutur Lasmi pasrah.


"Hanya saja ... jika Resti bersamamu, ijinkan aku sesekali berkunjung ke rumahmu untuk bertemu dengannya." Kembali Lasmi meminta.


Anarya menatap Daneela seolah meminta pendapat. Menyadari itu semua, Lasmi segera mendekat ke arah Daneel yang masih bergeming di tempat ia duduk.


"Daneela, ijinkan Resti tinggal bersama kalian. Dia tidak bisa dipisahkan dengan Nesa," pinta Lasmi sembari menggenggam erat punggung tangan Daneela.


Daneela menghela napas, kemudian melepaskannya secara perlahan. Dalam hatinya, ia merasa kasihan dengan Lasmi. Demi obsesi sampai melakukan hal buruk semacam itu.


"Aku ikut keputusan Mas Narya, karena dia lebih tahu apa yang harus ia lakukan." Daneela berusaha menghindar menyetujui permintaan Lasmi.


"Kamu bodoh, Lasmi. Anak sendiri saja kamu berikan ke orang lain!" hardik Yoga yang mulai tak tahan dengan sikap Lasmi.


Selama ini Yoga sangat mencintai Lasmi, namun kejadian demi kejadian membuat mata hati Yoga terbuka untuk melihat siapa Lasmi.


Lasmi menatap nyalang ke arah Yoga. Ada sorot amarah yang berkilat di lensa mata hitam itu.


"Aku memang bodoh, tapi aku tak ingin melakukan kebodohan untuk kesekian kalinya. Jika Resti lebih bahagia dengan Anarya dan Daneela, lebih baik aku yang berkorban."


Yoga terdiam. Sebenarnya dalam hati ia masih berharap untuk menua bersama wanita yang begitu ia cintai.


"Lasmi, kita lupakan masa lalu. Menikahlah denganku dan kita rawat Resti bersama-sama." Suara Yoga melunak.


Sebuah anggukan Lasmi berikan untuk pria yang pernah ia sia-siakan. Ia sudah tak ingin membuang waktu hanya untuk lelaki yang tak pernah menginginkannya.


Hari ini kebahagiaan menaungi hati yang selama ini telah berjuang. Semburat sinar penuh suka cita tampak dalam raut wajah yang beberapa waktu lalu diliputi ketegangan.


Akhirnya, bahagia itu menyapa setiap insan yang mau bersabar menghadapi setiap ujian. Ya, ujian hidup yang begitu panjang dan menguras air mata.


Sore itu, Anarya dan Daneela pulang dengan senyum penuh kebahagiaan. Mereka gandeng dua bidadari kecil menuju ke mobil untuk kembali ke istana nan damai dengan cinta kasih.


Nesa, gadis kecil yang kehilangan masa kanak-kanaknya kini telah menemukan kesempurnaan cinta kedua orang tuanya. Tangis yang dulu sering mewarnai hari-harinya telah tergantikan dengan sejuta nikmat utuhnya keluarga.

__ADS_1


Di depan pagar tampak sesosok bergaun putih melepas pandangan ke arah mobil Anarya yang mulai menjauh dari rumah Lasmi. Bibir pucat itu melengkung ke atas menyiratkan rasa lega melepas Anarya untuk saudara kembarnya.


Tamat.


__ADS_2