
Sekitar tiga puluh menit perjalanan yang ditempuh oleh kendaraan beroda empat itu untuk menuju rumah sakit. Nessa yang tak sabar bertemu dengan adiknya, sesampainya di area parkir ia segera turun dan menenteng plastik putih berisi sebuah kardus dengan isian kue kesukaan Resti.
Setelah berpamitan ke Daneela, kaki kecil itu dengan riang melangkah memasuki rumah sakit, tangan kanannya menggandeng jemari Anarya meninggalkan wanita yang punya rencana tersendiri.
"Assalamu'alaikum ...." ucap Nessa memberi salam ketika membuka pintu ruang inap.
Ada netra kecil seketika berbinar kala melihat siapa yang datang. Nessa langsung menghambur memeluk Resti yang masih duduk menikmati potongan buah melon.
Pertemuan kakak beradik yang begitu mengharukan. Keduanya yang terpisahkan karena konflik kedua orang tua, teramat menanggung rindu untuk bermain bersama. Pelukan hangat itu sebagai pelepas kerinduan yang begitu dalam.
"Dek Resti sudah baikan?" tanya Nessa lembut sembari mengelus pipi adiknya.
"Iya, Kak. Kata Pak Dokter besok sudah boleh pulang." Binar mata keduanya makin berkilat.
"Ini kakak bawain kue lapis kesukaan Dek Resti, donat coklat juga ada." Tangan Nessa membuka kardus dan menunjukkan isi makanan yang ia bawa.
"Aku mau kue lapis dulu, Kak." Tanpa menunggu diambilkan, tangan Resti segera meraih kue lapis dan menggigitnya dengan penuh nikmat.
Nessa dan Anarya tersenyum melihat Resti yang begitu bahagia dengan kehadiran mereka. Namun tidak untuk Lasmi. Tatapan mata penuh kedengkian itu masih saja tersirat kala menatap Nessa.
"Nessa, tolong tungguin Dek Resti, ya? Ayah dan Ibu Lasmi mau ketemu dokter dulu."
"Iya, Yah." Nessa mengangguk taat.
"Kita ke dokter sekarang," ajak Anarya ke Lasmi.
"Untuk apa?"
"Kita bahas di luar. Sekarang ikuti saja aku," titah Anarya tak mau disanggah.
Anarya melangkah keluar diikuti Lasmi. "Untuk apa kita menemui dokter, Mas?" tanya Lasmi setelah di luar ruangan.
"Kita harus tanya kenapa golongan darah Resti bisa beda dengan ayah dan ibunya," jawab Anarya tanpa menghentikan langkah.
Lasmi berusaha mensejajari langkah Anarya. "Itu artinya kamu meragukan Resti sebagai anak kamu?"
"Ya, siapa tahu itu hasil hubungan gelap kamu dengan Yoga."
"Mas!" teriak Lasmi sembari mencekal lengan Anarya dan berusaha menghentikan langkah lelaki itu.
"Sudah cukup kamu sakiti aku, dan sekarang kamu ingin menuduhku selingkuh?" Telunjuk Lasmi mengarah pada wajah Anarya, tampak kekesalan begitu nyata di sorot netranya.
"Aku tidak menuduh, tapi Yoga masih sering menemuimu saat kamu sudah menikah denganku."
"Tapi aku selalu menghindar, aku lebih memilih kamu daripada dia!"
"Lasmi, sekarang kita temui saja dokter. Ada banyak kemungkinan yang bisa saja terjadi, mungkin bayi kita tertukar atau memang itu bayi kita namun bukan benihku. Bisa saja, kan, semua kemungkinan terjadi?"
"Kamu keterlaluan, Mas!"
"Sudah, ayo temui dokter dulu." Anarya mengabaikan Lasmi yang sedang menahan emosi, ia teruskan langkah kembali ke ruang dokter yang saat itu menangani Resti.
Di sebuah ruangan bercat putih, seorang dokter muda mempersilahkan duduk. Setelah duduk, Anarya menyampaikan maksud kedatangannya.
Senyum ramah nan manis dari dokter muda itu mengembang, seakan ia memahami kegelisahan dari lelaki di hadapannya. "Begini, Pak Narya. Golongan darah itu diturunkan dari sifat darah tersebut, homogen atau heterogen."
"Maksudnya, Dok?" Anarya masih juga belum mengerti.
"Begini, Pak. Dalam hukum Mendel gen orang tua yang bergolongan darah A dan B dapat menurunkan gen golongan darah A, B, AB, dan O."
__ADS_1
"Kok, bisa?"
"Sifat heterogenzigot yang mempengaruhi hal tersebut. Jadi, tidak usah heran jika putri Pak Anarya beda golongan darah."
Anarya termangu, ada sedikit sesal telah meragukan darah dagingnya sendiri. Tapi ia masih merasa belum puas, hingga akhirnya ia berpikir untuk melakukan tes DNA.
"Saya ingin dilakukan tes DNA, Dok. Saya harus tahu dengan pasti siapa ayah biologis anak tersebut."
"Mas! Kamu benar-benar kelewatan! Resti itu anak kamu, darah daging kamu!" Lasmi tak mampu menahan emosinya lagi.
"Baiklah, Pak. Pak Narya bisa menggunakan rambut Resti dan rambut Bapak sendiri untuk tes DNA, nanti petugas akan membawanya ke laboratorium dan memeriksanya, hasilnya akan keluar setelah satu sampai dua minggu."
Anarya mengiyakan perkataan dokter dan menyetujui semua prosedur termasuk biaya administrasi tes DNA. Setelah semua selesai, Anarya berpamitan dan diikuti oleh Lasmi.
Keduanya keluar dari ruangan dokter tanpa menyadari bahwa ada telinga yang sedari awal telah menguping di balik pintu yang tak tertutup rapat. Melihat Anarya dan Lasmi keluar, Daneela buru-buru bersembunyi.
Setelah mengetahui seluruh percakapan Anarya dengan dokter, Daneela justru merasa bingung. Tak tahu apa yang akan ia katakan pada Lasmi untuk memintanya tak bikin ulah lagi.
Daneela menguntit kembali langkah Anarya dan Lasmi. Kali ini ia merasa kesulitan untuk menemui Lasmi tanpa terlihat oleh Anarya. "Apa aku harus tetap menemui Lasmi dan mengatakan semua uneg-uneg yang mengganjal ini?" Daneela bergumam di balik persembunyiannya.
Dari jarak dekat dapat ia lihat perdebatan sengit masih terjadi di antara Anarya dan Lasmi. Lasmi merasa tidak terima dengan apa yang dilakukan oleh Anarya, sedangkan Anarya berusaha memaksa Lasmi untuk berterus terang tentang Yoga.
"Turunkan suaramu, Lasmi! Ini di rumah sakit." Bentak Anarya ketika mendapati Lasmi yang makin emosi karena ia tak menggubris komplain yang dilontarkan Lasmi sedari tadi.
Lasmi kini terisak dan tak mampu lagi menahan segala rasa yang begitu menghimpit batin. Kesombongan yang selama ini ia perlihatkan, kali ini luruh bagai gunung es yang mencair.
"Tiga tahun aku mengemis cintamu dan berjuang untuk mendapatkanmu, hingga aku akhirnya bisa menikah denganmu. Aku pikir pernikahan selama lima tahun itu akan membuat hatimu benar-benar tersentuh dan menyadari betapa besar cinta ini ... tapi, nyatanya kamu terlalu jahat, Mas."
"Dari awal caramu mencintaiku sudah salah, Lasmi. Cintamu menjadi sebuah obsesi yang membuat kamu menghalalkan berbagai cara."
"Apa kalau aku jadi orang baik kamu akan jatuh cinta denganku? Apa posisi Daneesa bisa tergeser olehku?"
"Kenapa diam? Kamu tak bisa menjamin apapun, Anarya. Meski aku terlahir sebagai wanita berhati malaikat pun, aku rasa hatimu tak akan tersentuh. Jadi, buat apa aku menjadi baik?"
"Lasmi, kita sudahi saja masalah kita. Aku hanya ingin hidup tenang."
"Kamu bisa hidup tenang dengan wanita perebut suami orang itu! Sedangkan aku? Aku harus menerima segala rasa sakit ini. Sungguh tak adil, Anarya ... hiks, hiks, hiks ...." Kembali Lasmi tersedu, kesedihan yang tampak dalam raut wajah dan tangisannya begitu memilukan hati.
"Lasmi, maafkan aku. Tapi tolong jangan sebut Daneela perebut suami orang, dia tak pernah merebutku darimu. Rumah tangga kita hancur karena ulah kamu sendiri." Anarya masih mencoba menyadarkan Lasmi dari kesalahannya.
"Aku tahu, aku memang salah karena tak bisa menerima Nessa dengan baik. Tapi kamu juga harus ingat kenapa aku sampai seperti itu, sikap kamu yang menyebabkan aku menjadi ibu tiri yang kejam. Seandainya kamu berikan hatimu, aku tak perlu menjadi jahat."
"Sekarang berubahlah, Lasmi. Demi Resti, dia anak kandungmu. Resti anak yang lahir dari rahimmu, jadi tak pantas jika kamu menyiksanya."
Lasmi tertegun, ia usap air mata yang membasahi netra. Kini tatapan tajam menghunjam ia arahkan tepat ke lensa mata Anarya, ada kilat amarah dan dendam masih tersisa di sana.
"Apa kamu masih peduli dengan Resti?"
"Ya."
"Kalau kamu peduli, kenapa kamu masih meragukan dia sebagai anakmu?" Pertanyaan Lasmi begitu menohok, membuat Anarya sedikit kelimpungan untuk menjawab.
"Kamu tak peduli apapun kecuali kebahagiaan anak haram itu, Narya. Hanya dia yang jadi prioritas kamu!" Kata-kata penuh penekanan itu membuat Anarya semakin tak mampu mengelak, karena selama ini ia memang lebih mementingkan kebahagiaan Nessa dibandingkan yang lainnya.
"Dan aku yakin, kamu menikahi Daneela bukan karena cinta, melainkan karena demi anak haram itu. Kamu tak akan pernah bisa menghapus bayang-bayang Daneesa, sehingga kamu nikahi wanita bodoh itu."
"Jaga ucapan kamu, Lasmi. Kamu tahu kenapa aku lebih memilih Daneela daripada kamu?"
"Karena wanita itu bodoh! Dia bisa menerima kamu yang hidup dalam bayangan masa lalu!"
__ADS_1
"Kamu salah besar! Daneela berbeda dengan kamu. Dia bisa menjadi ibu yang baik untuk Nessa, dia bisa memberikan kasih sayang yang tulus untuk anak tak berdosa seperti Nessa."
"Whatever! I don't care about it!"
"Karena kamu hanya peduli dengan obsesimu saja, dan kali ini kamu tak akan bisa menggunakan Resti untuk membuatku kembali. Sekali lagi kamu siksa Resti, jangan salahkan aku jika terpaksa melapor ke polisi." Anarya seakan kehilangan kesabaran, ia terpaksa mengeluarkan kalimat ancaman agar Lasmi berpikir lagi.
Perseteruan akhirnya terhenti. Lasmi yang merasa tak ada pilihan hanya bisa menunjukkan wajah kesal tanpa bisa membalas lagi. Ia menghentakkan kaki, kemudian masuk ke ruang rawat inap. Selang berapa menit disusul Anarya yang ikut masuk untuk mengajak Nessa pulang.
"Resti cantik, Ayah dan Kak Nessa pulang dulu, ya?"
"Tapi Ayah janji, besok ke sini lagi untuk antar Resti pulang, ya, Yah?"
"Iya, Sayang." Tangan Anarya mengelus puncak kepala gadis kecil itu, kemudian mendaratkan ciuman bertubi-tubi di wajah mungil Resti.
Perpisahan kedua bocah itu menyisakan senyum bahagia, waktu yang diberikan Anarya untuk melepas rindu sepertinya cukup mengobati rasa kangen mereka.
Sikap Lasmi yang acuh terhadap Nessa tak mempengaruhi kebahagiaan yang dirasakan bocah kecil itu, seolah sudah terbiasa dengan perlakuan Lasmi.
Daneela yang masih mencoba menguping pembicaraan, bergegas menyingkir ketika mengetahui Anarya dan Nessa akan keluar. Ia kembali ke balik persembunyian agar tidak terlihat oleh mereka.
Sesampai di parkiran, Anarya tak menemukan Daneela. Ia edarkan pandangan mencari wanita yang mirip dengan sosok di masa lalu itu.
"Mama, kok, nggak ada, Yah?"
"Iya. Nessa masuk mobil saja dulu, Ayah mau coba mencari."
"Nggak usah dicari, Yah. Itu Mama!" Nessa menunjuk ke arah wanita bergaun merah maroon yang sedang menenteng plastik bawaan.
"Darimana kamu, Yang?"
"Dari kantin, Mas. Haus, jadi cari yang seger-seger. Nih, Mama juga beli jus alpukat kesukaan Nessa." Daneela menyerahkan satu cup jus ke Nessa sembari tersenyum.
"Ya sudah, ayo masuk. Kita langsung pulang saja," ajak Anarya.
"Nggak mampir-mampir?"
"Mas capek, pengen langsung istirahat saja."
Mendengar itu, Daneela langsung mengajak Nessa masuk ke mobil. Ia tahu bahwa pria di hadapannya kini sedang lelah pikiran. Jika dulu ia dihantui oleh rasa bersalah terhadap Daneesa, kini lelaki itu dihadapkan pada keadaan yang begitu menyulitkan.
"Bagaimana kata dokter, Mas?" tanya Daneela basa-basi, karena ia telah tahu jawabnya.
"Mas minta tes DNA. Hasil tes DNA itu yang akan menjadi satu-satunya jawaban untuk menentukan langkah berikutnya."
"Apa Mas Narya ada rencana untuk meminta hak asuh Resti?"
"Sepertinya itu lebih baik ... kamu tak keberatan jika Resti bersama kita, kan?"
"Tentu tidak, Mas."
"Terimakasih, Sayang." Anarya menggenggam erat jemari Daneela, ia merasa beruntung mendapatkan wanita yang begitu pengertian.
Masih dengan senyum mengembang, tangan Anarya mulai melajukan kendaraan roda empatnya. Meski ada kegundahan yang merayapi hati dan pikiran, namun keberadaan Daneela mampu membuatnya lebih nyaman.
Keyakinan akan kekuatan cinta begitu besar sehingga ia tak perlu khawatir dengan kehadiran Lasmi yang masih berusaha merusak kebahagiaannya.
Anarya tak mau ambil pusing lagi, ia tak ingin sedu sedan Lasmi meluluhkan pendiriannya. Lebih baik ia dianggap sebagai lelaki yang tak punya hati daripada harus terjebak dalam perangkap sandiwara wanita licik itu.
Lagipula hati memang tak bisa dipaksakan, sekuat apapun memaksakan maka yang ada adalah sakit hati.
__ADS_1