Sepenggal Kisah Anak Haram

Sepenggal Kisah Anak Haram
Part 41 Tulisan Daneesa


__ADS_3

Entah sudah berapa menit berlalu, Bu Rani tak juga membuka kotak kayu itu.  Seolah sedang menyiapkan diri untuk membuka lembaran masa lalu yang teramat menyakitkan, begitu berat untuk flash back ke masa-masa suram nan kelabu.


Cerita penuh duka yang diiringi banjir air mata membuat gundukan bukit lara di dasar batin. Sayatan demi sayatan luka mengores tak berdarah di setiap sisi hati.


Bu Rani menyeka bulir bening yang jatuh. Rasa kehilangan itu masih bersemayam dalam benak. Sosok gadis periang yang sering kali membuat dirinya bisa tertawa, melupakan kesedihan saat sang suami berpulang.


Ya ... Daneesa memang memiliki sifat yang jauh berbeda dengan Daneela. Daneesa lebih suka bercanda dan mudah melupakan pertengkaran. Ia akan merayu Daneela habis-habisan jika saudara kembarnya sedang ngambek.


Masih terekam jelas dalam ingatan Bu Rani tawa renyah milik Daneesa, keusilan yang sering membuat Bu Rani ingin mencubit hidung putri kesayangannya itu.


Perlahan Bu Rani menggeser duduknya, ia mengangsurkan badan mendekat ke kotak kayu. Tangan renta itu mulai membuka gembok yang mengunci penyimpan kenangan di masa lalu.


Semua pandangan tertuju hanya pada satu titik, yaitu isi yang terdapat dalam kotak kayu berwarna coklat tua itu. Lasmi tak sabar menunggu untuk tahu apa yang ingin ditunjukkan Bu Rani, sedangkan Anarya tak mengerti kejutan apalagi yang disiapkan ibu mertuanya.


"Ini adalah album foto yang akan membuktikan bahwa Nessa bukanlah anak haram," ujar Bu Rani sembari menyodorkan sebuah album foto yang telah usang.


Wajah Lasmi semakin pias, ia teringat perlakuannya ke Nessa selama ini. Dia juga yang sering menganggap anak kecil tak berdosa itu sebagai anak haram sekaligus pembawa sial dalam kehidupannya.


Tangan Lasmi sedikit bergetar kala meraih album foto yang masih tergelatak di meja. Dengan penuh rasa penasaran ia buka satu persatu lembaran pemisah antar gambar.


Ada nyeri yang menjalar ke relung hati kala bola manik menangkap gambar mesra Daneesa yang sedang memberikan sebuah kecupan di pipi Anarya. Setiap pose foto mampu menyayat sisi hati yang dipenuhi rasa cemburu.


Lensa netra Lasmi terhenti pada sebuah gambar pernikahan. Itu jelas Anarya dan Daneesa yang sedang melangsungkan ijab kabul. Lasmi mengalihkan pandangan ke arah Anarya.


"Jadi, kalian benar-benar sudah menikah?" tanya Lasmi ingin memastikan.


Anarya mendekat dan duduk di samping Lasmi. Ia mencoba melihat foto yang ada di pangkuan Lasmi. "Ya, kami sudah menikah meskipun nikah siri."


"Tapi ... kenapa Mama tidak cerita tentang itu?"


"Mama tidak setuju dengan pernikahan itu, Mama belum bisa menerima Daneesa sebagai menantu. Apalagi saat itu bisnis Papa lagi oleng, dan satu-satunya harapan adalah orang tuamu."


Lasmi tertunduk menyembunyikan bulir bening masih saja memaksa keluar. "Daneesa, maafkan aku. Sungguh aku tak tahu. Maaf ... karena aku hanya menuruti obsesiku tanpa mau tahu penderitaanmu," ucap Lasmi lirih.


"Masih ada satu lagi yang harus kamu baca, Lasmi." Bu Rani kembali menyodorkan barang peninggalan milik Daneesa.


Sebuah diary berwarna kuning dengan sampul tengah berbentuk hati dan terdapat foto Daneesa yang sedang dipeluk Anarya dari belakang. Tampak senyum kebahagiaan terukir di wajah mereka.


"Bukalah bagian yang ada pitanya. Kamu akan tahu seperti apa Daneesa sebenarnya."


Lasmi menuruti titah dari Bu Rani. Ia buka buku diary itu tepat dibagian yang bertanda pita kecil itu. Netranya menelusuri huruf demi huruf, kata demi kata yang terangkai menjadi kalimat. Sebuah fakta dari seorang Daneesa terungkap saat Lasmi membaca tulisan tangan itu hingga tuntas.


Dear diary


Hari ini aku kesal dengan Anarya. Kamu tahu kenapa?


Dia melanggar janji untuk tidak menyentuhku. Dia menjebakku dengan memberikan minuman yang telah dicampur obat perangsang.


Entahlah, diary ....


Aku harus percaya atau tidak dengan alasannya. Dia bilang, dia ingin membuatku hamil agar orang tuanya menyetujui pernikahan kami.


Jujur aku kecewa dengan cara yang ia pilih. Meskipun kami sudah menikah siri, sah dalam agama sebagai suami istri ... tapi dia sudah berjanji tidak akan melakukan hal itu sebelum mendapat restu.


Menurutmu, aku harus bagaimana?


Lasmi menoleh ke arah Anarya. "Jadi, Mas Narya menjebak Daneesa? Itu artinya Daneesa ...."


"Ya, aku yang salah. Aku yang menjebak dia, dan Daneesa bukan wanita murahan seperti yang kamu kira selama ini." Suara Anarya bergetar, sesal atas kesalahan yang dulu pernah ia perbuat begitu menindih dada.


"Aku juga menyesal, karena kebodohanku ... Daneesa harus merasakan penderitaan, begitu juga dengan Nesa putriku. Aku memang bodoh! Bodoh!" Anarya menangis dan memukuli kepalanya sendiri.


"Mas, berhenti! Semua sudah berlalu dan kamu sudah menebusnya." Lasmi berusaha menghentikan Anarya.


"Bacalah di bagian akhir, itu tulisan Daneesa untuk terakhir kali sebelum ia meregang nyawa karena ulahmu, Lasmi."


Lasmi terhenyak saat mendengar kembali arahan Bu Rani. Namun, ia tak mampu menolak. Rasa ingin tahu mendorongnya untuk segera mencari tulisan terakhir Daneesa.


Jantung Lasmi semakin berdegup kencang, begitu pun dengan Anarya yang juga ingin tahu apa isi tulisan itu.

__ADS_1


Dear Diary


Kamu tahu nggak kalau aku lagi kangen? Sudah pasti kangen dengan lelaki tampan penggoda hati itu, hehehe ....


Hari ini usia kandunganku sudah masuk delapan bulan. Biasanya Anarya datang membawakan banyak makanan, terutama buah. Dia memaksaku untuk makan banyak buah dan juga minum susu. Katanya biar janin di perutku makin sehat.


Ah, dia memang suami yang baik.


Tapi ... sudah hampir dua minggu ini dia nggak datang. Kenapa, ya?


Aku khawatir, diary. Perasaan aku nggak tenang kalau dia nggak datang ke rumah.


Hmm ... apa aku ke sana saja, ya? Aku harus cari tahu kenapa Anarya tidak pernah ke rumah lagi. Lagi pula, aku ini istrinya. Jadi, berhak tahu juga di mana suamiku.


Menurut kamu gimana, diary? Salah nggak kalau aku ke sana? Si mungil udah nendang mulu, nih! Kayaknya dia juga sudah kangen dengan ayahnya.


Aku rasa, aku memang harus ke sana. Mungkin sore nanti aku akan ke rumah Mama mertua, hehehe ... lucu, ya, aku menyebut wanita judes itu Mama mertua.


Tapi tak apalah, bagaimana pun Bu Bram adalah nenek dari anakku ini. Semoga saja kelak ia akan bisa menerimaku dan juga anak ini.


Dairy ....


Ternyata aku sudah banyak menulis hari ini. Semoga kamu nggak bosan jadi tempat curhatku, ya?


Entahlah ... tetiba aku ingin banyak bicara denganmu. Aku ingin meluapkan seluruh perasaanku selama ini.


Baiklah, diary. Aku sudahi dulu, ya. Aku mau bikin kue untuk Mama mertua, nih! Semoga aja ia suka dengan kue buatan sang menantu yang pinter masak ini.


Terimakasih karena sudah selalu mendengarkan curhatanku.


See you my diary.


Trenyuh hati Anarya membaca tulisan istri pertamanya. Harapan untuk diterima di keluarga Bramantyo ternyata masih ada dalam benaknya. Namun sayang, justru kepergian Daneesa ke rumah justru berujung maut.


"Itu tulisan terakhir Daneesa, setelah itu ia tak pernah menyentuhnya lagi karena di hari yang sama ia pulang dalam keadaan pendarahan hebat." Bu Rani menjelaskan dengan pandangan menerawang dan netra berkaca-kaca.


Memori Lasmi seketika flash back ke masa lalu. Saat itu, ia sedang berkunjung ke rumah keluarga Bramantyo. Kabar Bu Bram berhasil mengirim Anarya pergi jauh dari Daneesa membuat dirinya bahagia penuh suka cita.


Bisnis keluarga Bramantyo saat itu memang sedang terancam gulung tikar. Kehadiran Lasmi seolah membawa oase dalam keterpurukan mereka. Ditambah dengan obsesi Lasmi terhadap Anarya, Bu Bram semakin nekad mengorbankan kebahagiaan anak kesayangannya.


Sedang asyik berbincang dan merayakan kemenangan, datang seorang wanita yang sedang hamil besar. Ia membawa sebuah kardus berisi cake almond yang katanya ia buat khusus untuk Bu Bram.


Ya, dialah Daneesa. Rival terberat yang harus aku singkirkan dari hidup Anarya.


Kedatangannya mendapat penolakan dari Bu Bram. Wanita yang saat itu begitu benci dengan Daneesa menepis tangan Daneesa yang hendak salim dengannya. Bahkan kue yang dibawa Daneesa juga dibuang ke lantai, kemudian diinjak-injak.


Saat itu, hanya tatapan sinis yang diberikan Lasmi. Melihat wanita itu dihina, Lasmi justru merasa puas. Karena merasa muak dengan Daneesa, Bu Bram menarik tangan Lasmi untuk mengajaknya naik ke balkon saja.


Tak disangka ... Daneesa yang masih ingin tahu di mana Anarya, malah ikut menaiki tangga sembari berteriak memanggil nama Anarya. Tentu saja hal tersebut membuat Bu Bram semakin murka dan Lasmi pun tak bisa menahan rasa cemburunya.


Sungguh di luar kendali. Lasmi berbalik dan mendorong tubuh Daneesa. Seketika wanita yang sedang berbadan dua itu limbung, sejurus kemudian terjatuh menggelundung ke bawah.


Seperti telah dirasuki setan, Lasmi turun ke bawah dan menendang tubuh yang semakin lemah itu. Makian ia lontarkan berulangkali. Sedangkan Bu Bram yang melihat itu semua sontak kaget dan takut jika terjadi apa-apa dengan Daneesa.


Namun, lagi-lagi pengaruh Lasmi terlalu kuat menguasai pikirannya. Harta. Ya, harta orang tua Lasmi yang akan menyelamatkan keluarganya dari kemiskinan. Alhasil, akhirnya Bu Bram justru ikut menyeret keluar tubuh Daneesa.


Mereka biarkan Daneesa berjalan tertatih menuju jalan besar, kemudian menghilang dibawa oleh sebuah taksi.


"Hingga sekarang, aku tak tahu kenapa Daneesa pulang dalam keadaan mengenaskan seperti itu," ujar Bu Rani dengan diiringi isak tangis.


Ucapan Bu Rani menyadarkan Lasmi dari lamunan masa lalu yang begitu brutal. Ia semakin terhenyak kala tangan Anarya menyenggol lengannya. Anarya memberi isyarat seakan memaksa Lasmi untuk menceritakan hal yang sebenarnya.


Berat. Sungguh baginya itu hal terberat untuk mengakui semua kesalahannya. Ia menggeleng, tak sanggup jika harus membuka masa lalu yang tak seharusnya ia lakukan.


Lasmi sejenak menatap wanita yang duduk di seberang meja. Gurat kesedihan masih saja tampak jelas di raut wajah keriputnya.


"Maafkan saya, Bu. Maaf jika tak bisa menolong Daneesa saat itu." Lasmi menghambur ke pangkuan Bu Rani.


"Mungkin Daneesa mengalami pendarahan karena kecapaian. Hanya saja yang aku heran kenapa ada lebam-lebam di tubuhnya?" Kembali Bu Rani bermonolog.

__ADS_1


"Tidak, Bu. Semua salahku, semua karena aku."


Bu Rani berhenti dari isakan tangisnya. Ia telisik wajah Lasmi yang masih mendongak ke arahnya. "Apa maksud kamu?"


Seolah menyadari ucapannya, Lasmi terpegun. Perlahan ia beringsut mundur dan melepas tangan Bu Rani. Tatapan yang masih mengarah padanya, membuat ia semakin takut untuk berhadapan dengan wanita di hadapannya itu.


"Tidak, bukan ... bukan aku!" Lasmi berdiri, kemudian berlari ke luar rumah.


Bu Rani yang melihat itu semua menjadi banyak tanda tanya di benaknya. Ia menatap Anarya, mencoba meminta penjelasan. Namun, lelaki itu justru masih terpekur dengan foto dan juga tulisan Daneesa.


Ada kerinduan sekaligus penyesalan yang teramat dalam terpancar dalam sorot netra sayu itu. Lagi dan lagi, tetes bening merembes dari kelopak mata.


"Nak Anarya, bisa Mama tahu kenapa dengan Lasmi?"


"Eeh ... dia, dia sangat menyesal, Ma. Dia merasa selama ini sudah dzolim terhadap Daneesa dan juga Nesa."


"Oh ... apa dia tahu kenapa Daneesa pendarahan? Karena tadi dia bilang ...."


"Iya, Ma. Dia tahu tapi tidak mengerti cara menolongnya," jawab Anarya sembari mengulas senyum agar Bu Rani tak semakin bingung.


Anarya terpaksa berbohong karena tak ingin membuat luka lama semakin menganga. Sudah cukup bagi wanita yang sangat ia hormati itu merasakan sakitnya kehilangan.


"Ya, sudahlah. Yang terpenting sekarang Daneesa sudah tenang karena melihat anaknya hidup bahagia."


"Iya, Ma. Mama mau ikut sekalian? Pasti Nessa bakalan seneng lihat neneknya datang."


"Kamu ini, mau mengejek orang tua renta ini?" Bu Rani cemberut mendengar tawaran Anarya.


"Hehehe ... maaf, Ma. Narya lupa kalau Mama nggak bisa naik mobil lama-lama. Bisa mabuk kendaraan nanti." Anarya tertawa kecil untuk mencairkan kekakuan yang sedari tadi melanda.


"Itu tau!"


Anarya kembali terkekeh melihat ibu mertuanya yang berpura-pura merengut.


"Ma, sudah hampir sore. Anarya pamit, ya?"


"Iya, hati-hati. Jaga Daneela dan cucuku."


"Pasti, Ma. Dan ... terimakasih sudah bantu Anarya untuk membuka mata hati Lasmi. Terimakasih juga atas semua kejutan demi kejutan yang Mama hadirkan hari ini." Hampir saja bulir bening jatuh kembali.


"Anarya, bawa buku itu bersamamu. Tunjukkan ke Mama kamu bahwa hingga akhir hayatnya, Daneesa masih menganggapnya sebagai ibu mertua."


"Iya, Ma."


"Kemarin, setelah menerima telepon darimu, Mama segera meminta dua keponakan Mama untuk bantu mengatur semuanya. Termasuk foto-foto yang ada di ruangan ini."


"Pantesan aja, Ma. Anarya kaget tadi waktu datang. Berasa melihat Daneesa di mana-mana, hehehe ...."


"Ya sudah ... itu Lasmi sudah menunggu. Kayaknya masih nangis aja, tuh! Sampaikan saja kalau Mama sudah memaafkan dia."


"Iya, Ma. Kalau begitu Narya pamit dulu. Assalamu'alaikum." Anarya meraih tangan ibu mertuanya kemudian mencium takzim punggung tangan Bu Rani.


"Wa'alaikumsalam."


Dengan senyum lega, Anarya melangkah keluar menuju ke mobil. Di sana tampak Lasmi yang masih sesenggukan dan larut dalam urai penyesalan.


"Kenapa kamu tidak berterus terang?" tanya Anarya setelah duduk di belakang kemudi.


"Aku nggak sanggup, Mas."


"Bu Rani sudah memaafkanmu."


"Benarkah?"


"Iya. Dan memang lebih baik kamu tidak mengatakan apa yang sebenarnya terjadi, karena itu hanya akan mengembalikan luka lamanya saja."


"Tapi ...."


"Sudah, aku tadi hanya ingin melihat kesungguhanmu saja. Terimakasih sudah mau berubah."

__ADS_1


Lasmi mengangguk. Semburat kelegaan terpancar dari senyum yang mulai menghias wajah. Seolah beban berat yang selama ini menghimpit kini telah terangkat sudah. Dalam hatinya ia berjanji akan berubah menjadi manusia yang lebih baik.


Namun, masih ada satu hal yang sangat mengganjal di hati dan mengganggu pikirannya. Hasil tes DNA.


__ADS_2