
Daneesa yang tengah sibuk dengan pikiran mengenai kondisi Lasmi, tak menyadari bahwa Anarya telah berkali-kali memanggil namanya. Ia tersadar kala tangan lelaki itu menepuk pipinya.
"Kamu kenapa, Yang?"
"A-i-itu ... Lasmi, Mas."
"Lasmi kenapa?"
"Dia tadi lari ke sana." Daneela menunjuk ke arah Lasmi hilang dari pandangan.
Baru saja Anarya mengikuti arah telunjuk Daneela, tetiba muncul seorang lelaki yang membopong tubuh Lasmi. Ia tergopoh dan panik memanggil perawat dan dokter.
Perawat yang berjaga dengan cepat segera menyiapkan ranjang pasien dan membawa tubuh Lasmi yang terkulai lemas ke ruang unit gawat darurat. Dari kejauhan sempat netra Anarya melihat ada darah di kaki Lasmi.
"Sebentar, Yang. Kamu tolong jaga anak-anak, aku mau lihat kondisi Lasmi karena tadi aku lihat ada darah di kakinya."
Tanpa menunggu persetujuan dari Daneela, Anarya bergegas melangkahkan kaki ke arah ruang di mana Lasmi mendapat penanganan. Di depan ruangan telah berdiri sosok laki-laki yang tadi membopong tubuh Lasmi. Raut kecemasan begitu jelas terlihat di wajah berjambang itu.
"Dasar laki-laki bodoh!" ucap lelaki itu kasar ketika melihat kedatangan Anarya, tanpa basa basi ia layangkan bogem mentah ke perut Anarya hingga membuat Anarya terhuyung.
Belum juga Anarya menguasai keseimbangan tubuhnya, tangan kekar laki-laki itu dengan kuat mencengkeram kerah baju Anarya. Tubuh Anarya yang kalah besar itu didorong kasar hingga menempel ke dinding.
"Kalau sampai terjadi apa-apa dengan Lasmi, maka kamu yang harus bertanggungjawab!"
"Kamu ini siapa?" tanya Anarya sembari berusaha melepaskan cengkraman lelaki kekar itu.
Belum sampai mendapat jawaban, seorang perawat keluar. "Keluarga Ibu Lasmi!" panggil perawat itu.
Seketika lelaki itu melepaskan Anarya, ia buru-buru mendekat ke arah perawat berdiri. "Iya. Saya, Sus. Bagaimana keadaan Lasmi?"
"Bu Lasmi kondisinya kritis, Pak. Segera harus operasi untuk menyelamatkan bayi dan ibunya. Bu Lasmi juga butuh transfusi darah."
Penjelasan perawat itu membuat Anarya dan lelaki itu tercengang. Namun, kekhawatiran lebih tampak pada lelaki yang sejak tadi belum diketahui namanya itu.
"Tolong, lakukan yang terbaik untuk Lasmi."
"Baik, Pak. Silahkan urus administrasi terlebih dahulu dan tanda tangan surat persetujuan untuk tindakan operasi."
Tanpa menunggu lama, lelaki itu bergegas ke bagian administrasi untuk mengurus semuanya. Ia meninggalkan Anarya yang masih tercenung tak mengerti.
Lasmi akhirnya masuk ke ruang operasi. Menurut keterangan dokter, ia mengalami pendarahan hebat sehingga kondisinya tak memungkinkan untuk lahir normal. Ditambah kehamilannya masih jauh dari hari perkiraan lahir.
Anarya teringat percakapannya dengan dokter yang menangani Lasmi sebelumnya, dokter itu bilang bahwa kondisi kejiwaan Lasmi sepertinya sedang terguncang. Bahkan dokter pun menanyakan apakah Lasmi sedang dalam masalah.
Jujur, ada rasa bersalah terselip dalam hati Anarya. Ia meninggalkan Lasmi dalam kondisi hamil, masih pula ia tambah dengan keraguan terhadap kejelasan status ayah biologi Resti. Apakah masalah itu benar-benar membebani Lasmi?
"Tapi kenapa Lasmi bisa sampai pendarahan seperti itu, ya?" gumam Anarya penasaran.
"Lalu, siapa laki-laki yang membawanya itu?" Anarya memijit pelipisnya, ia merasa kepalanya tetiba pusing.
"Mas, gimana keadaan Lasmi?" Tiba-tiba Daneela sudah berada di sampingnya, membuat ia seketika menoleh.
"Anak-anak mana?" Netra Anarya mencoba melihat belakang Daneela.
"Tadi aku minta Pak Kirman untuk jemput dan bawa mereka ke rumah mama."
"Ooh ...."
"Terus gimana kondisi Lasmi?"
"Dia masih di ruang operasi, kondisinya kritis."
Daneela menggigit bibir, ia khawatir jika terjadi apa-apa dengan Lasmi. Bagaimana pun semua terjadi karena Lasmi ketakutan melihatnya. "Apakah Lasmi akan bernasib sama seperti Daneesa?" tanpa sadar kalimat itu meluncur begitu saja.
Anarya yang mendengar sontak mendongak. "Apa maksud kamu, Yang?"
"Oh ... itu, Mas ... ehm ... Lasmi."
"Kamu bilang Lasmi akan bernasib sama seperti Daneesa. Apa maksudnya?"
"Maksud aku ... ehm ... kamu ingat, kan, bagaimana Daneesa meninggal?"
"Maksudnya kamu berharap Lasmi meninggal seperti Daneesa?" Sungguh Anarya tak menyangka cara berpikir Daneela.
__ADS_1
"Bu-bukan, maksud aku Daneesa meninggal karena pendarahan hebat juga."
"Cukup, Daneela. Tak sepantasnya kamu bicara seperti itu. Kamu juga seorang wanita, nanti akan hamil dan melahirkan. Jangan sampai dendam dalam hati kamu menguasai cara berpikirmu."
Daneela terdiam. Seandainya saja ia tahu bagaimana Lasmi mendorong Daneesa hingga terjatuh dari tangga dan mengalami pendarahan hingga menjemput ajal.
Sebenarnya dari hati terdalam Daneela tak pernah rela kala mendengar cerita Bu Bram. Hanya saja karena sekarang Bu Bram sudah menjadi mertua apalagi juga telah mengaku menyesal, maka ia memaafkan segala kesalahan wanita paruh baya itu.
"Terus siapa lelaki yang menunggu Lasmi di ruang operasi itu, Mas?" Daneela berusaha mengalihkan pembicaraan.
"Entahlah. Yang pasti dia marah besar saat tahu kondisi Lasmi seperti itu. Dia menghajar aku tadi."
"Apa?"
"Iya, tiba-tiba mukul perut aku."
"Tapi Mas nggak apa-apa, kan?" Daneela khawatir dan mencoba melihat perut Anarya.
"Nggak apa-apa, Yang."
Pandangan Daneela ke arah lelaki yang tengah dalam keadaan cemas. Diam-diam Daneela mengeluarkan ponsel dan memotret pria yang sedang duduk tak tenang itu.
[Ma, kenal orang ini, nggak?] ketik Daneela dan mengirimnya ke Bu Bram.
Tak berapa lama balasan masuk. Emotikon terkejut sebagai jawaban pertama.
[Yoga ... dia Yoga, mantan pacar Lasmi.]
Seketika netra Daneela membulat, hampir ia tak percaya bahwa lelaki itu adalah pria yang teramat mencintai Lasmi. Apakah Lasmi sampai sekarang masih berhubungan dengan Yoga?
Pantas saja jika Anarya meragukan Resti dan anak yang sedang dikandung Lasmi. Ternyata laki-laki itu masih ada dalam kehidupan wanita jahat itu.
[Tapi ... kenapa tidak mengenali laki-laki itu, Ma?]
[Hanya mama yang tahu tentang Yoga. Di mana kamu ketemu laki-laki itu?]
"Kamu chat siapa, Yang?" tanya Anarya yang melihat Daneela lebih sibuk dengan gawainya.
"Ini, chat dengan Mama. Nanyain anak-anak rewel nggak."
"Belum. Tadi waktu telepon hanya bilang minta ijin buat nyuruh Pak Kirman jemput anak-anak saja."
"Ya sudah, biar nanti aku saja yang cerita ke Mama. Itu hp kamu bunyi."
"Eh, iya."
"Siapa, kok, nggak diangkat?"
"Mama." Daneela merasa kebingungan, dia tahu pasti Bu Bram akan membahas tentang Yoga.
"Diangkat, Yang. Jangan sampai Mama marah."
"I-iya, Mas."
Dengan terpaksa Daneela mengangkat panggilan, namun otaknya berputar bagaimana caranya memberitahu Bu Bram bahwa dia tak bisa bicara tentang Yoga.
"Hallo, Ma. Ini ada Anarya, Mama mau bicara dengan dia?"
Seperti paham maksud Daneela, Bu Bram akhirnya menutup panggilan.
[Kita bicara lewat chat saja.] Begitu pesan Bu Bram akhirnya.
[Iya, Ma. Yoga ada di rumah sakit. Sebentar aku mau cari alasan untuk menjauh dari Anarya.]
Sejenak Daneela berpikir, dia harus segera cerita tentang Lasmi dan Yoga ke Bu Bram. Dari tadi ada hal yang sangat mengganjal, ada rasa bersalah karena perbuatannya membuat Lasmi seperti orang gangguan jiwa.
"Mas, aku ke toilet sebentar, ya."
"Mama nggak jadi ngomong?"
"Tadi waktu aku angkat conecting, kayaknya sinyal lagi nggak bagus."
"Coba Mas pinjam Hpnya, biar Mas telepon balik."
__ADS_1
Daneela makin panik. Jika gawai dipinjam, bagaimana bisa dia telepon Bu Bram?
"Sudah, katanya kamu mau ke toilet. Sini Hp kamu." Tangan Anarya mengambil benda pipih itu dari tangan Daneela.
"Hp Mas di mana?"
"Mati."
Deg!
Tak ada alasan lagi untuk Daneela. Ia semakin bingung antara tetap ke toilet atau mempertahankan gawai agar tidak dipakai Anarya.
"Ya, Daneela. Posisi kamu sudah jauh dari Anarya?" tanya Bu Bram dari ujung panggilan.
Suara yang diloudspeaker itu membuat Daneela terhenyak, terlebih Anarya. Ia mengernyitkan dahi tak mengerti dengan pertanyaan mamanya.
"Ini Anarya, Ma. Kenapa Daneela harus menjauh dari aku, Ma? Ada yang kalian sembunyikan?"
Sejurus kemudian suasana hening. Tak ada jawaban dari Bu Bram ataupun Daneela. Tatapan tajam yang dilempar Anarya ke arah Daneela membuat wanita itu semakin kelimpungan.
Anarya berdiri, ia mendekat dan masih memegang gawai yang masih menyala. "Jelasin, apa maksud perkataan Mama? Kamu mau ke toilet hanya alasan?"
Daneela makin tertunduk merasa tak nyaman. Ia sendiri bingung harus bilang apa ke Anarya.
"Anarya, tadi Mama sengaja suruh Daneela menjauh dari kamu karena Mama mau bicara tentang ...."
"Tentang apa, Ma?"
"Itu ... tentang kenapa kamu meragukan Resti sebagai anak kamu. Daneela heran saja kenapa kamu sampai begitu."
"Kenapa Daneela nggak tanya langsung ke aku?"
"Dia takut menyinggung perasaan kamu, Narya."
"Ya Allah ... baiklah, Ma. Nanti Narya telepon lagi." Tanpa menunggu jawaban dari Bu Bram, Anarya menutup panggilan.
Tampak Daneela menelan ludah. Wajah lega tersirat dalam sorot matanya. Ternyata Bu Bram memang bisa diandalkan, dengan cepat dan tanggap memberi alasan sehingga Anarya tak curiga.
"Telepon Mama sekarang, dan menjauhlah dari aku," perintah Anarya sembari memberikan gawai kepada Daneela.
"Maaf, Mas."
"Udah sana pergi."
"Mas marah?"
"Nggak. Buat apa marah." Anarya berlalu meninggalkan Daneela, ia merasa ada sesuatu yang memang sedang disembunyikan oleh istri dan ibunya.
Berkali-kali Daneela memanggil, namun masih saja ia abaikan. "Mas, Mas Narya mau ke mana?" Daneela berusaha mensejajari langkah suaminya.
"Pulang!"
"Nggak menunggu Lasmi selesai operasi?"
"Nggak. Kepalaku pusing!"
Daneela kehabisan kata. Ia memilih diam dan mengekori Anarya yang berjalan menuju mobil. Sepanjang perjalanan tak ada pembicaraan sama sekali.
"Lho, Mas ... ini bukan jalan ke rumah kita," ujar Daneela ketika tahu Anarya tak melewati jalan biasanya.
"Malam ini kita tidur di rumah Mama," jawab Anarya dingin.
"Tapi ...."
"Anak-anak di sana, kan?"
"Iya."
"Ya sudah. Ngapain juga kita pulang ke rumah kalau anak-anak tidak di sana."
Daneela hanya bisa menurut tanpa dapat membantah ucapan suaminya. Baru kali ini ia melihat seorang Anarya yang sedang marah, hanya diam tak mau bicara. Sikap Anarya justru membuat Daneela salah tingkah.
'Ah, mungkin ada benarnya malam ini tidur di rumah Mama. Jadi, aku bisa bicara lebih leluasa.' gumam Daneela dalam hati, ia menghela napas perlahan.
__ADS_1
Anarya hanya melirik wanita di sebelahnya dengan sudut mata. 'Aku yakin kamu akan banyak bicara dengan Mama. Aku harus tahu apa yang sebenarnya kalian sembunyikan,' bisik hati Anarya.
Ternyata mereka punya niat masing-masing. Daneela tak tahu apa yang akan dilakukan Anarya selanjutnya.