
Setelah puas menenangkan diri di Villa, Anarya berniat menemui Daneela untuk segera menyampaikan niatnya. Namun, baru beberapa kilometer mobil yang ia kendarai menjauh dari kota, pikiran Anarya berubah haluan.
Dalam kebimbangan yang ia rasa, sisi hati kecilnya mendorong untuk kembali ke rumah. Ia harus menyelesaikan masalah dengan Lasmi terlebih dahulu, setelahnya baru pergi ke Daneela.
Laju mobil berhenti agak jauh dari rumah. Sengaja ia tak langsung menuju ke tempat yang menurutnya kini menjadi sebuah momok baginya. Anarya tiba-tiba merasa butuh banyak oksigen untuk setiap napas yang ia hembuskan.
Beberapa kali ia menghela napas berat, menghembusnya kuat-kuat seolah ingin melepas semua beban yang menghimpit batin.
"Aku harus melakukannya, demi Nesa." Anarya berusaha meyakinkan pendirian yang mulai goyah, kemudian melajukan mobilnya memasuki pekarangan rumah yang di dominasi dengan warna ungu muda itu.
Dengan langkah ragu, Anarya memasuki rumah yang telah beberapa hari ini ia tinggalkan. Tekad dalam hati mulai ia tata kembali, membulatkan niat untuk menceraikan Lasmi.
"Ayah," panggil Resti dari dalam rumah seraya menghambur ke pelukan Anarya.
"Ayah kemana saja? Resti kangen Ayah," ucap Resti yang kini sudah dalam gendongan Anarya.
Trenyuh hati Anarya mendengar kata-kata dari bocah kecil yang selama ini sering ia abaikan. Ternyata Resti selama ini menginginkan kehadirannya.
"Ayah ada urusan kerja, Nak. Resti tahu kalau Ayah sering keluar kota, kan?"
"Tapi kenapa telpon Resti nggak diangkat, Yah?"
Anarya terdiam. Ia berpikir selama ia pergi yang menelpon adalah Lasmi, bukan Resti. Perasaan bersalah mengusik sisi hati kecilnya sebagai seorang ayah. Tak semestinya ia mengabaikan Resti, balita yang masih membutuhkan kasih sayang darinya.
"Maafkan Ayah, ya? Ayah terlalu sibuk, sampai nggak bisa nerima telpon dari anak Ayah yang cantik ini." Anarya berusaha menghibur Resti yang masih bermuram durja.
"Ayah jangan pergi lagi, ya. Resti takut kalau ibu kenapa-kenapa, Yah."
"Ibu baik-baik saja, 'kan?"
"Ibu nggak mau makan, Yah. Bik Sanah tiap hari kesini untuk antar makanan buat Ibu dan Resti. Tapi ... Ibu tetap saja nggak mau makan."
"Biar nanti Ayah yang bujuk Ibu untuk makan. Resti sudah makan belum?"
"Belum, Yah. Oh iya, Yah. Kak Nesa kok nggak diajak pulang?"
"Ayah belum bisa jemput Kak Nesa, sayang."
"Kalau begitu, kita jemput Kak Nesa bareng aja, Yah. Resti juga kangen dengan Kak Nesa."
"Iya, Sayang. Nanti kalau Ayah jenguk Kak Nesa, Ayah janji akan ajak Resti ke sana."
__ADS_1
"Janji?" Resti memberikan kelingkingnya.
"Janji untuk anak Ayah yang cantik," balas Anarya sembari mengait kelingking kecil Resti.
"Ayah, Resti lapar. Temani Resti makan, ya. Resti mau disuapin Ayah," pinta Resti dengan tatapan memohon.
Anarya tersenyum, kemudian mengangguk dan membawa Resti masuk menuju meja makan. Ada rasa tidak tega menyusup dalam hati Anarya ketika menyuapkan makanan suap demi suap.
'Dia juga anakku, bagaimana bisa aku meninggalkannya?' Ia usap lembut puncak kepala putri kedua hasil pernikahannya dengan Lasmi.
'Lasmi juga sedang hamil. Jika aku tinggalkan sama saja aku meninggalkan dua anakku. Ayah macam apa aku ini?' Anarya masih terus saja merutuk dalam hati, pendiriannya mulai goyah kembali.
'Ah, tapi Lasmi sudah membuat kesalahan besar. Ia tak bisa menjadi ibu yang baik bagi Nesa,' bantah sisi lain dari hati kecilnya.
Bagi dia, kesalahan Lasmi bukanlah kesalahan kecil, melainkan sudah fatal. Wanita yang ia harapkan mampu menjadi ibu yang bisa memberikan kasih sayang ke Nesa, justru menjadikan kehidupan putrinya seperti neraka.
Tak pernah terlintas dalam benaknya selama ini untuk mencari wanita lain selain Lasmi, wanita pilihan mamanya. Wanita yang dianggap penyelamat bagi perekonomian keluarga Bramantyo yang waktu itu hampir bangkrut.
Lasmi bagi Bu Bramantyo adalah dewi penolong, tetapi bagi Anaryo ... Lasmi adalah ujian pengikis kesabaran. Tak dapat ia bayangkan bagaimana Nesa menerima banyak tekanan dari Lasmi dan Bu Bram selama ini. Gadis kecil yang begitu polos.
Perang batin mulai menyergap dan berkecamuk di hati Anarya. Tekad bulat kini menyurut penuh pertimbangan, antara tetap menjadi ayah yang baik bagi Resti dan bayi yang ada dalam kandungan Lasmi atau Daneela demi kebahagiaan Nesa.
"Mas." Sebuah pelukan datang ke punggung Anarya, membuat lamunannya buyar.
"Lepas, Lasmi." Anarya berusaha melepas, namun Lasmi malah mengeratkan pelukan.
"Aku nggak bisa melepasmu. Sampai kapan pun aku nggak akan melepaskanmu," ucap Lasmi seraya kepalanya bersandar manja di tengkuk Anarya.
Anarya dengan kasar menghempas tubuh Lasmi, kemudian berdiri membalikkan tubuh. Ia lihat Lasmi yang terjengkang di lantai sambil memegangi perutnya yang masih rata.
"Resti makan sendiri dulu, ya. Ayah mau istirahat," pesan Anarya sembari mengelus puncak kepala Resti.
Tanpa menunggu jawaban, Anarya melenggang menuju kamar dan mengunci diri. Tak ia hiraukan teriakan Lasmi yang berkali-kali memohon.
Pikiran Anarya yang semula telah mantap untuk meninggalkan Lasmi, kini penuh pertimbangan. Ada Resti yang membutuhkan dia, ada calon bayi yang tak berdosa. Bagaimana ia bisa menghukum anak-anak itu?
Nuraninya terus saja bicara tentang kewajiban serta tanggungjawab ia sebagai ayah. Apakah ia bisa mengorbankan kebahagian anak-anak hanya demi ego untuk mendapatkan kebahagiaan?
Lalu, bagaimana dengan Nesa? Dia memang sudah menemukan bahagia dengan Daneela, tapi rasa tidak rela melepas Nesa berkecamuk di hati Anarya. Ia berasa hampir mati saat tahu harus kehilangan penyemangat hidupnya.
"Argh!" teriak Anarya sembari menjambak rambut dengan kedua tangan, segala rasa memenuhi ruang hati dan juga kepalanya yang serasa hampir pecah.
__ADS_1
"Aku harus memutuskan sekarang juga," gumam Anarya.
Ia melangkah menuju pintu. Netranya penuh keterkejutan ketika ia dapati Lasmi sedang tergolek lemas di lantai, sedangkan Resti menangis di samping ibunya.
"Lasmi ... bangun Lasmi." Anarya menepuk-nepuk pipi Lasmi, namun tak ada respon.
Kepanikan menyelimuti pikiran Anarya, segera ia angkat tubuh Lasmi menuju mobil dan membawanya ke rumah sakit. Tangis Resti yang meraung menambah Anarya semakin bingung.
"Resti jangan menangis, jaga Ibu. Kita akan bawa Ibu ke dokter."
"Resti takut, Yah."
"Resti nggak perlu takut, Ibu baik-baik saja. Sekarang diam, biar Ayah fokus menyetir," bujuk Anarya yang disambut dengan anggukan dari bocah kecil itu. Resti menurut, meski masih terisak ia berusaha menahan tangis.
Dua puluh lima menit kemudian mobil Anarya memasuki depan UGD rumah sakit. Dengan tergopoh ia mengangkat tubuh Lasmi yang masih tergolek lemas. Beberapa petugas langsung datang membantu.
Tak berapa lama infus dan selang oksigen telah terpasang. Netra Lasmi perlahan membuka.
"Mas ... aku mohon jangan pernah tinggalin aku," tangis Lasmi pecah. Ia meraih jemari Anarya dan mendekapnya.
"Sudahlah, Lasmi. Jangan berpikir hal itu. Sekarang yang terpenting adalah kesehatanmu."
"Tidak, Mas. Hanya jawabanmu yang dapat membuatku pulih kembali."
Hening. Lidah Anarya kelu, bibirnya terkunci rapat.
"Berjanjilah, kamu tidak akan pernah meninggalkan aku, Mas." Sorot netra Lasmi kian memelas.
Anarya mengelus kepalanya seraya mengangguk, "istirahatlah dulu. Aku akan menemui dokter," ucapnya yang disambut senyum bahagia Lasmi.
Anarya melangkah keluar, bukan menuju ke ruang dokter, melainkan keluar meninggalkan rumah sakit. Entahlah ... langkah itu kini gamang. Kebimbangan merayapi hatinya.
"Pak Karmin, antar Bik Sanah ke rumah sakit. Tolong suruh jagain Lasmi. Sekarang juga," perintah Anarya melalui sambungan seluler.
Setelah menutup percakapan, Anarya menggandeng Resti menuju mobil. Niat untuk menemui dokter ia urungkan. Baginya sekarang, menemui Daneela adalah hal yang terpenting.
"Ayah, kita mau ke mana?"
"Kita mau jemput, Kak Nesa. Nanti perjalanannya jauh, Resti tidur saja di tempat duduk tengah, ya?"
"Iya, Yah." Resti mengangguk, menurut saja ketika Anarya membuka pintu mobil dan menatakan jok mobil menjadi hamparan tempat tidur yang cukup bagi tubuh mungilnya.
__ADS_1
'Daneela ... aku akan datang meminangmu, demi Nesa.' Hati kecil Anarya mencoba memantapkan niat sebelum akhirnya ia melajukan mobil menuju harapan yang ingin ia jemput, meski sepanjang perjalanan batinnya berusaha menepis setiap bimbang yang terus saja menyembul dari dasar hati.