
Suasana malam yang begitu tenang dengan alunan musik klasik dari lagu I'll Make Love To You milik Boyz II Men membuat lena indera pendengar. Tak ada yang terusik dengan lirik yang teralun, begitu nikmat.
Cafe yang sering dikunjungi Pak Bramantyo dan Anarya tampak begitu nyaman untuk bersantai, cocok digunakan untuk menghabiskan waktu sembari menikmati secangkir kopi dengan cita rasa tinggi.
Seruputan demi seruputan kenikmatan rasa menari di lidah, membuat candu ingin terus menikmatinya.
"Cerita ke Papa, apa yang sebenarnya terjadi?" Pak Bramantyo memulai pembicaraan.
Anarya merauk oksigen untuk mengisi paru-paru yang terasa menyesak. Sebuah kebohongan selama menikah dengan Lasmi masih menggores di hati, meninggalkan rasa kecewa yang mendalam.
"Resti bukan anak Anarya, Pa. Hasil tes DNA beda."
"Hah? Kamu yakin?"
"Iya, Pa. Jujur, Anarya juga kaget. Setelah tahu status ayah biologi Resti, Narya bingung."
"Anarya ... jangan pernah berubah untuk menyayangi Resti. Jika memang kenyataannya dia bukan darah dagingmu, tapi ia tumbuh dalam peluk kasih sayangmu."
"Iya, Pa. Anarya juga tidak bisa jauh dari Resti, apalagi Nesa juga sangat sayang dengan Resti."
"Lalu, kalau Resti bukan anakmu ... terus siapa ayah biologis dia?"
Sejenak Anarya terdiam. Kegalauan yang menaungi relung hati masih tersirat di raut wajah. Beberapa kali menelan saliva dan terdengar hembusan napas kasar.
"Papa tahu tentang Yoga?"
"Sebentar." Pak Bramantyo mencoba mengingat sesuatu, kemudian ia memanggutkan kepala.
"Yoga mantan pacar Lasmi? Bukannya lasmi sudah meninggalkan dia demi kamu?" Kembali Pak Bram mengernyitkan dahi membentuk susunan lipatan.
"Ternyata mereka masih menjalin hubungan di belakangku, Pa. Anarya juga nggak menyangka Lasmi bisa sejauh itu membohongi aku."
"Kamu yakin Resti anak Yoga?"
Anarya mengangguk kuat, "Anarya yakin, Pa."
"Apa yang membuatmu seyakin itu?"
"Jadi begini, Pa. Waktu Lasmi di rumah sakit, laki-laki itu sangat khawatir dan memang masih mencintai Lasmi hingga sekarang."
"Mereka bahas tentang Resti?"
Kali ini Anarya menggeleng lemah. Ia memang tak ada bukti kuat untuk menuduh Yoga. Tetapi keyakinan itu kokoh menguat dalam hati. Ia merasa tak akan salah menganalisa.
"Kalau begitu, kamu harus pastikan dulu."
"Iya, Pa. Rencananya besok aku mau menemui Yoga."
"Kamu tahu rumahnya?"
"Mama pasti tahu, Pa. Nanti Anarya akan tanya ke Mama."
__ADS_1
"Apa nggak sebaiknya kamu telepon Yoga dan mengajaknya ketemu?"
"Anarya tidak punya nomor dia. Jadi, satu-satunya jalan hanya mendatangi rumah dia saja, Pa."
"Kalau memang itu kamu anggap terbaik, ya, lakukan saja. Tapi jangan buat Mama kamu khawatir."
"Siap, Pa." Anarya mengulas senyum tipis di sudut bibir.
Kembali lelaki dewasa yang sedang dirundung kegalauan itu menyeruput kopi yang hampir dingin. Entahlah ... lidahnya kini tak dapat lagi merasakan nikmat espresso yang tersaji. Pikiran hanya melayang ke masalah Resti.
****
Anarya membuka netra saat azan Subuh berkumandang, memanggil setiap umat muslim untuk menjalankan kewajibannya. Segera ia berusaha mendorong diri yang begitu berat untuk bangun, melepas jerat bisik setan.
Langkah kaki Anarya urung kala menoleh ke arah Daneela. Wanita yang beberapa hari ini dia abaikan karena kesalahan Daneela yang mengikuti saran Bu Bramantyo.
Wajah tanpa polesan make up itu menampilkan pesona yang begitu natural. Bagi Anarya, bayangan kehadiran Daneesa selalu dapat ia lihat dalam diri Daneela, saudara kembarnya.
Itu sebabnya Anarya tak ingin sosok Daneela berubah menjadi wanita yang kejam dan pendendam. Ia hanya ingin seluruh kebaikan dalam diri Daneesa selalu ada pada wanita yang sekarang menjadi bidadari surganya.
Perlahan Anarya mengangsurkan badan, mendekatkan wajah ke arah Daneela. Ia kecup lembut puncak kepala wanita yang tengah lelap dalam mimpi.
Daneela seolah tersadar dari alam bawah sadarnya, ia rasakan ada sesuatu yang menyentuh kepalanya. "Mas, sudah bangun?" tanya Daneela masih dengan kelopak netra yang meredup karena menyesuaikan dengan intensitas cahaya.
"Iya. Yuk, salat bareng!"
"Mas nggak salat di masjid?"
"Bangunkan anak-anak, kita salat jamaah."
Anarya tersenyum bahagia kala melihat orang-orang yang ia cintai dalam hidupnya, kini berkumpul saling menyayangi. Ia daratkan kecupan lembut di kening Daneela, Nesa, dan Resti.
Ada getar yang aneh menyelinap saat ia mencium Resti. Anak kecil yang selama ini sering bergelayut manja di pangkuannya, ternyata bukan darah dagingnya. Tatapan Anarya begitu lekat ke arah netra Resti, ia rangkum wajah mungil itu dengan kedua tangannya. Tak ia pungkiri bahwa cinta kasihnya dari dalam hati sebagai seorang ayah.
"Resti kangen Ibu Lasmi, nggak?" tanya Anarya dengan nada lembut.
Resti mengangguk perlahan, kemudian menunduk. "Tapi ... tapi, Resti takut ketemu Ibu." Lirih suara gadis kecil itu, seakan ia masih trauma dengan apa yang sudah dilakukan Lasmi kepadanya.
Anarya menarik Resti ke dalam pangkuan, kemudian merengkuh bidadari kecil yang sangat ia sayangi selama ini. Tak pernah terbersit dalam hatinya untuk memisahkan Resti dengan Nesa. Namun, ia tak akan bisa menolak jika Lasmi akan mengambil Resti dari tangannya.
"Nanti siang kita semua main ke rumah Ibu Lasmi. Resti tetap sayang Ibu, kan?" Kembali dengan lembut Anarya bertanya.
Ada binar suka cita saat Resti mendengar ucapan ayah yang sangat ia cintai itu. "Benarkah itu, Yah?" Resti mencoba meyakinkan.
Anarya mengangguk mantap sembari ia sunggingkan senyum. Bagaimana pun ia tak ingin Resti membenci Lasmi, ibu kandung yang telah melahirkannya.
"Kita pergi dengan Mama Daneela dan Kak Nesa juga?"
"Iya, Sayang." Anarya mengeratkan pelukan dan mencium berkali-kali pipi chubby milik Resti sehingga gadis kecil itu merasa geli dan tertawa.
Melihat Anarya dan Resti yang asyik bercengkerama, Nesa tak mau ketinggalan. Ia mendekat dan ikut bergelayut manja di leher sang ayah. Anarya menyambut dengan sebuah pelukan hangat. Ia rengkuh kedua bidadari kecil itu.
__ADS_1
"Mas serius kita akan ke sana?" Kini gantian Daneela yang tak yakin dengan ucapan suaminya.
Sejenak Anarya terhenti dari kemahsyukan bersama dengan dua gadis kecilnya, kemudian meminta Nesa dan Resti untuk kembali ke kamar.
"Mendekatlah kemari, Bidadari surgaku." Anarya meminta Daneela untuk mendekat dan duduk di sampingnya.
Ucapan Anarya membuat Daneela tersipu malu. Pria itu memang romantis, tahu betul bagaimana membuat wanita bahagia lahir batin. Tak pernah ia membentak istri atau pun main fisik. Sungguh Anarya suami yang sangat didamba oleh seorang Daneela.
Bagi Daneela, Anarya adalah lelaki yang mampu meredam emosinya. Ia paling tidak bisa jika harus melihat Anarya yang jika marah justru malah akan diam seribu bahasa.
Anarya mengulas senyum termanisnya saat Daneela mendekat dan duduk di sampingnya. Ia raih jemari wanita yang kini mengisi sebagian ruang hatinya, mendesak keluar memori Daneesa yang selama ini tersimpan rapi dalam ingatannya.
"Daneela, aku mencintaimu bukan karena semata-mata kamu mirip Daneesa," ujar Anarya memulai percakapan hati ke hati itu.
Tatapan mereka saling bertaut. Sorot netra teduh terpancar dari lensa mata Anarya. Sedangkan Daneela hanya merespon dengan senyum bahagia.
"Aku ingin terus hidup bahagia bersamamu, menua bersamamu, dan menghabiskan seluruh waktuku hanya bersamamu dan anak-anak."
"Mas kenapa pagi-pagi jadi romantis begini?" Daneela merasa heran dengan sikap suaminya.
"Daneela, aku serius. Hmm ... ada hal penting yang harus kusampaikan ke kamu." Anarya mengubah posisi, ia duduk menghadap Daneela.
Tatapan bola netra pria romantis itu menelusuri setiap inci wajah kekasih halalnya. Ia tarik napas perlahan dan membuangnya kuat-kuat seakan sedang mempersiapkan hati.
"Resti bukan darah dagingku," ucap Anarya dengan cepat.
Sontak bola manik Daneela membeliak tak percaya mendengar apa yang ia dengar. "Maksud mas?"
"Dari hasil tes Deoxyribonucleic Acid menyatakan bahwa dari perulangan nukleotida tersebut, tidak terlihat adanya kecocokan darah Resti dengan milikku."
"Maksudnya hasil tes DNA kalian nggak sama?"
Anarya mengangguk. "Dan aku ingin kita menemui Lasmi untuk menyampaikan semuanya."
"Lasmi?" Kembali Daneela terhenyak sehingga membuat nada suaranya sedikit meninggi.
"Lasmi sudah bertaubat. Dia juga sudah menemui Bu Rani, ibumu."
"Benarkah?"
"Iya, Daneela. Untuk apa aku bohong. Jadi, begini ... kemarin waktu aku pergi seharian, aku mengajak dia ke makam Daneesa. Setelah selesai, aku mengajak dia ke rumah Bu Rani."
"Mama tak apa-apa?" Tampak raut khawatir menyelimuti wajah Daneela.
"Bu Rani tak apa-apa, justru beliau yang memberi kejutan pada Lasmi. Yakinlah bahwa Lasmi kini sudah berubah."
Daneela terdiam. Ia bergeming karena tak mengerti harus berkata apa menanggapi cerita Anarya.
"Aku tahu siapa ayah biologis Resti, itu sebabnya aku ingin menemui Lasmi."
"Mas Narya tahu? Siapa dia, Mas?"
__ADS_1
"Nanti kamu akan tahu setelah bertemu dengan lelaki itu."
Daneela kembali menatap lelaki yang menjadi imamnya itu. Ia hanya bisa pasrah dengan rasa penasaran yang memenuhi ruang benak, sabar untuk menunggu jawab dari semua teka-teki itu.