Sepenggal Kisah Anak Haram

Sepenggal Kisah Anak Haram
Chapter 24 Sebuah Rahasia


__ADS_3

Kehadiran Lasmi yang tiba-tiba sontak membuat Daneela kaget dan sedikit salah tingkah. Bagaimanapun Lasmi adalah istri sah Anarya, wanita yang lebih berhak atas diri pria yang kini mulai menyusup dalam relung hatinya.


"Kenapa diam? Apa kamu berharap suamiku bangun dan hanya mengingatmu saja?" sindir Lasmi sinis dengan tatapan sarat kebencian.


"A-aku kesini karena mengantar Nesa." Daneela berusaha membela diri, ia tidak terima jika kedatangannya dianggap sebagai pemanfaatan situasi.


"Alasan!" Sentak Lasmi dengan nada tinggi.


"Terserah kamu, Lasmi. Percaya atau tidak bukan urusanku."


"Dasar wanita licik. Kamu memanfaatkan Nesa untuk mendekati Anarya. Ingat, dia adalah suamiku. Jadi, jauhi dia. Jangan menjadi perusak rumah tangga orang dengan memanfaatkan situasi."


"O ya? Hahaha ... apa kamu tidak malu, Lasmi? Kamu begitu memaksa Anarya untuk mencintaimu, sampai tega menghalalkan berbagai cara. Dimana letak harga dirimu sebagai perempuan yang membeli tubuh seorang Anarya demi kepuasan batinmu?" Begitu tajam luapan hati Daneela membalas setiap luka yang bertahun-tahun mengendap.


Lasmi terhenyak. Kata-kata Daneela telak mampu menghunjam ke ulu hati. Harga dirinya berasa tercabik-cabik tak berbentuk. Sungguh berasa hina karena telah menjadi budak cinta yang selama ini menyiksa batinnya. Ia bangkit dari kursi roda kemudian perlahan mendekati Daneela.


Plak!


Sebuah tamparan mendarat tepat di pipi kiri Daneela, ia tak siap dengan tamparan keras itu hingga badan ramping itu hampir terhuyung ke belakang.


"Ini balasan untuk mulut lancangmu, Daneela. Tak seharusnya kamu berujar seperti itu. Kamu tak layak menghina seorang Sasmita Lasmi," ujar Lasmi dengan begitu sombongnya.


"Apa kamu ingin menyusul saudara kembarmu?" Tangan Lasmi kini menjambak kuat rambut Daneela hingga membuat wanita itu meringis kesakitan.


"Aku peringatkan kamu untuk menjauh dari Anarya. Dia milikku dan selamanya akan menjadi milikku. Akan aku singkirkan semua penghalang, termasuk dirimu." Lasmi mendorong tubuh Daneela hingga terjatuh ke lantai.


"Pergilah. Percuma kamu disini," usir Lasmi seraya telunjuknya mengarah ke pintu.


Daneela berdiri, membenahi tatanan rambut dan baju yang cukup berantakan akibat ulah Lasmi yang arogan. Tatapan Daneela tak ada rasa gentar sedikitpun. Ia justru tersenyum mengejek.


"Kasihan sekali kamu, Lasmi. Karena cinta bertepuk sebelah tangan, hatimu diperbudak nafsu."


"Hahaha ... aku tidak peduli. Bahkan ketika aku mengambil keputusan untuk menyingkirkan Daneesa selama-lamanya pun aku tak peduli resiko apa yang akan aku hadapi."

__ADS_1


"Apa maksud kamu?" Daneela mengernyitkan dahi, mencoba memahami arah bicara Lasmi.


Lasmi yang sudah terlanjur keceplosan berusaha untuk tetap tenang. Tak ada penyesalan dalam binar netranya, yang ada tetaplah ambisi besar yang menguasai nurani.


"Apa yang kamu lakukan terhadap Daneesa?" Daneela mencoba mengulangi kembali pertanyaannya, berharap titik terang menyingkap kejanggalan kematian Daneesa.


"Tak ada. Aku hanya mengambil sesuatu yang harusnya menjadi milikku."


"Katakan, apa yang sudah kamu lakukan kepada Daneesa! Apa kamu penyebab kematian adikku?" Daneela semakin menyelidik.


"Bukan sepenuhnya aku yang menyebabkan kematian Daneesa, namun Bu Bram ada andil juga dalam menyingkirkan Daneesa."


"Katakan dengan jelas, apa yang sudah kalian lakukan!" Daneela mulai meradang, kedua tangannya mencengkeram krah baju yang digunakan Lasmi, gigi gerahamnya pun mulai bergemelutuk menahan emosi.


Luka lama atas kehilangan saudara kembarnya kini menganga kembali, terasa lebih menyakitkan dari sebelumnya.


"Katakan apa yang sudah kalian lakukan pada Daneesa!"


Daneela mulai melepaskan tangan, mencoba melunakkan hati. Tangan itu mengepal menahan emosi. Gejolak amarah meletup-letup, namun ia mencoba menguasai untuk mendapatkan banyak informasi.


Lasmi tersenyum penuh kemenangan. Tanpa menghiraukan Daneela yang sedang naik pitam, ia berbalik mendekati Anarya. Tangan kanannya membelai pipi pria yang membuat ia tergila-gila selama ini.


"Anarya, demi kamu semua akan aku lakukan. Tak akan aku biarkan seorang pun menghalangi cinta kita." Kini telunjuk Lasmi menyentuh bibir Anarya.


"Seharusnya cinta ini tak membuatku nekad melakukan hal buruk. Tapi penolakanmu yang membuatku terpaksa menyingkirkan Daneesa waktu itu. Kamu ingin tahu apa yang terjadi dengan kekasihmu itu, Anarya?" Lasmi memandangi wajah Anarya yang masih terlelap dalam alam bawah sadar.


"Cukup dengan menghasut Mamamu, aku dapat menggenggam semuanya. Mamamu yang gila harta itu dengan mudah aku peralat untuk mencelakai Daneesa yang kala itu hamil besar. Dialah yang mengakibatkan Daneesa mengalami pendarahan hebat, hingga akhirnya kehilangan nyawa."


Daneela yang mendengar monolog Lasmi terhenyak. Ia tak pernah menyangka bahwa kematian Daneesa adalah sebuah pembunuhan berencana. Ada yang semakin terkoyak dan tercabik-cabik di dalam hatinya. Teramat sakit.


"Huff ... tapi Mamamu terlalu bodoh, Anarya. Ia tak mampu membunuh bayi yang ada dalam rahim Daneesa. Dan aku benci itu. Karena anak itu aku tak bisa mendapatkan cintamu. Kamu terus saja hidup dengan bayangan Daneesa. Kamu pikir itu tak membuatku semakin sakit?" Emosi Lasmi membuncah, ia terisak di tepi ranjang.


"Kamu gila, Lasmi. Kamu terlalu terobsesi dengan Anarya," ucap Daneela.

__ADS_1


"Aku tak peduli."


"Jiwa kamu sakit."


"Hahaha ...." Lasmi berdiri dan membalikkan tubuh. "kamu salah Daneela. Aku ini smart, pandai memanfaatkan peluang."


"Peluang apa? Peluang membunuh untuk menguasai Anarya?"


"Whatever! I dont care anything."


"Apa kamu bahagia selama ini, Lasmi?"


"Bahagia atau tidak, bagiku tidak penting. Bagiku yang terpenting adalah bisa memiliki Anarya tanpa diganggu oleh wanita mana pun."


"Apa kamu tidak merasa kasihan dengan Anarya? Dia tersiksa selama ini."


"Kamu pikir aku tidak tersiksa dengan sikap Anarya selama ini? Apa dia peduli? Jika dia saja mengabaikan perasaanku, untuk apa aku pedulikan perasaan dia?"


"Hatimu memang sudah mati Lasmi. Tapi kali ini kamu akan peduli jika rekaman ini sampai ke kantor polisi." Daneela memperdengarkan hasil rekaman di gawainya.


Wajah Lasmi berubah pias. Kepanikan kini menggantikan wajah sombongnya. Ia tak menyangka saat ia terlena, Daneela mencuri kesempatan untuk merekam ucapannya.


"Kamu tak akan punya keberanian melaporkan aku. Bu Bram juga akan terlibat. Anarya tak akan memaafkanmu jika kamu mencelakai ibunya."


"Lakukan saja, Daneela." Suara lemah itu mengagetkan kedua wanita yang sedang beradu mulut itu, serempak mereka menoleh ke arah tubuh pria yang tergolek di atas ranjang.


"Anarya?" Hampir bersamaan mereka mengucap kata itu.


Ada binar bahagia di netra Daneela melihat pria yang akhir-akhir ini telah mencuri hatinya telah sadar dari tidur panjang.


Namun tidak dengan Lasmi, wajah piasnya semakin pias tatkala pria yang telah membuat ia gila itu menyadari semua. Kini, ia berada dalam persimpangan antara ingin lari dari hadapan Anarya atau tetap memohon cinta Anarya.


Sebuah rahasia yang dipendam rapat selama ini, kini telah terbongkar dengan mengurai benang kusut yang meninggalkan lara dan kesedihan yang berkepanjangan.

__ADS_1


__ADS_2