
"Lain kali kalau dah malam jangan main hujan ya kasihan badanya entar demam!" ucap Erwan dengan candaanya.
"Eh he he Iyaa Kak," jawab Nita sembari tertawa renyah.
"Imut kamunya kalau lagi senyum gitu!" puji Erwan dengan memajukan bibirnya dengan wajah Nita.
"Kakak bisa aja," balas Nita yang hanya bisa tersenyum malu.
"Iya emang kamu manis banget, mau jadi adik aku ngk?" lanjut Erwan lagi.
Erwan memanglah sosok lelaki tampan yang penuh perhatian terhadap siapa pun dan selalu membantu orang lain tanpa membeda bedakanya. Ia juga terbilang orang yang sangat mudah bergaul dengan orang lain bahkan dengan artnya saja hubunganya sudah seperti ibu dan anak. Ia tak pernah memandang seseorang dari fisik maupun harta atau penampilan luar orang lain tetapi selagi orang itu bisa menghargainya maka ia akan sangat menghargai orang itu tetapi jika ia sudah direndahkan disaat itulah skill bertarungnya dimulai.
"Mau banget Kak apalagikan Nita ngk punya Kakak pasti seneng banget rasanya jika punya kakak seperti Kak Erwan!" balas Nita yang terlihat sangat bahagia.
"Nita anak pertama ya?" tanya Erwan yang mulai hati hati dengan ucapanya takutnya senyum gadis itu kembali memudar dan menghilang dari wajahnya yang mungil.
"Nita juga anak tunggal Kak sebelum Nita punya adik!" ucap Nita yang diakhiri dengan senyum paksa.
"Kak Erwan juga sama kek Nita dulunya juga anak tunggal cuma karena mama Kakak melahirkan lagi jadi Kakak berubah jadi anak sulung." jawab Erwan yang tidak mengerti dengan maksud ucapan Nita.
"Kita beda Kak sampai sekarang anak kandung ayah dan ibu cuma aku, tapi karena ayah nikah lagi dengan seorang janda yang punya anak semua kebahagian aku di rengut olehnya dan jadilah aku di posisiku sekarang." ujar Nita dengan sendu.
"Sudah jangan sedih! kan sekarang sudah ada Ibu dan Kak Erwan yang jadi Ibu dan Kakak mu yang bisa kamu ajak bicara kapan saja," ucap Sari yang kini ikut angkat bicara dan langsung membawa tubuh Nita kedalam dekapanya.
__ADS_1
Refan, lelaki itu kini sedang berada di lapangan futsal, tetapi kali ini ia tidak ikut main bersama temanya yang lain karena ia masih membayangkan atas apa yang telah di ucapkanya tadi sewaktu di rumah Nita. Apa ini masih hal wajar atau sudah kelewat batas?.
Ia masih binggung, Mengapa dengan mudahnya ia mengucapkan kalimat yang seharusnya tidak di ucapkanya?. Bisa bisanya ia mengiyakan permintaan tidak masuk akal yang Sasa pinta padanya.
Apa mungkin ia menikah dengan seorang wanita yang tidak di cintainya dalam kondisi pendidikanya yang belum selesai dan tidak memiliki pekerjaan. Makan apa kelak anak bersama istrinya apalagi setahunya sekarang Nita tengah mengandung seorang anak dan jika ia menikah hanya untuk memberitahukan pada orang lain bahwa anak yang tengah di kandung Nita adalah anaknyaa dan setelah itu ia akan meninggalkan Nita dan mengkahiri hubungannya. Apa ia akan setega itu?. Pernikahan juga tidak untuk di permainkan, Sebandalnya, ia juga masih menginginkan pernikahan sekali dalam seumur hidupnya, lalu mengapa ia bisa melakukan hal itu hanya alasan ia mencintai Sasa.
Tubuh Refan memang berada di area lapangan futsal tapi tidak fikiranya. Ia terus saja menyesali perbuatanya siang tadi tetapi di sisi lain ia juga sangat mencintai dan ingin memiliki gadis itu, tapi yang di inginkan tidak seperti ini caranya. Ini hanya akan menipu keluarganya dan keluarga Nita kelak dan akan sangat melukai perasaan Nita.
"Loh kenapa bro?" tanya Danuar yang merupakan teman akrabnya, lelaki itu sejak tadi memperhatikan Refan dari kejauhan yang tampak sedang memikirkan sesuatu.
"Gue ngkpp Bro!" jawab Refan sembari menghembuskan nafas panjang.
"Loh nampaknya gelisah, Kenapa ngk ikut main?" tanyanya lagi.
"Gue bodoh!" rutuk Refan.
"Hanya karena cinta gue sebodoh ini, Apa yang sebenarnya gue fikirin?".
"Sedangkan Sasa belum tentu punya perasaan yang sama ke gue, lah gue sebodoh ini karena dia!"
"Gue nyakiti perasaan Nita yang ngk ada nyakiti gue sama sekali, bahkan Nita itu anak yang terkenal baik di kelas bahkan di sekolah!"
"Gue memang bej*d tapi gue juga ngk tega nyakiti perasaan orang yang ngk pernah nyakiti gue!"
__ADS_1
"Haaaaaaaaaa!"
Berulang kali Refan menendang pohon yang ada di dekatnya. Berteriak sekencang mungkin untuk meluapkan amarahnya atas penyesalan yang baru ia lakukan.
Kini Refan sudah berada di tepi jalan raya setelah melajukan motornya dengan kecepataan di atas rata rata, setelah kepergianya dari lapangan futsal, lelaki kini sudah berada di bawah pohon rindang yang berukuran besar.
Penyesalan besar tengah di rasakanya, pernikahan bukanlah hal main main dan bukan untuk di permainkan, tetapi mengapa dengan mudahnya bibirnya mengatakan sesuatu yang seharusnya tidak di katakanya?. akhh bod*h hari ini ia merasa bodoh hanya karena sebuah cinta ia menghancurkan mimpi dan cita cita yang telah di bangunnya sejak tahun tahun lalu.
Refan juga memiliki prinsip apa yang telah di ucapkanya harus di lakukan dan di kerjakanya karena lelaki sejati yang di pegang adalah ucapan dan janji yang telah di ucapkanya.
Dan sekarang ia harus bertanggung jawab atas apa yang telah di katakanya tadi siang di hadapan Sasa dan ayah. Sekarang penyesalanya sudah tidak gunanya, tugasnya adalah menepati apa yang telah di ucapkanya.
Dengan nafas yang masih tersengal sengal Refan kembali melajukan motornya dengan sangat laju, fikiran yang terus saja melayang pada kejadian siang tadi, jalanan di buat rata olehnya, dan ia seperti menjadi satu satunya penghuni jalan karena sangking lajunya dan tidak memperdulikan keberadaan pengendaraan lain.
Brugghhhhhhhhh.
Refan dan motornya terjatuh, tubuh lelaki itu terguling dari aspal hingga kedataran terjal, matanya masih dapat menerawang sekitarnya, ia sudah berada di tempat yang sangat semak dan banyak di tumbuhi oleh tanaman liar, tak lama setelah melihat sekitarnya lelaki itu memejamkan matanya.
Sudah banyak sekali panggilan masuk di handphone Refan namun sudah tak lagi di dengar oleh Refan karena kondisinya yang masih pingsan dan untungnya ponselnya tidak terjatuh dan masih berada di sakunya yang dapat berguna untuk melacak keberadaan orang nanti yang akan mencari keberadaanya.
Menyadari kondisi Refan yang sejak kumpul di lapangan tadi hanya banyak diam dan bicaranya yang dapat di hitung, tentu bukan kebiasaan Refan membuat Danuar merasa merasa aneh dan merasa ada yang sedang sahabatnya itu sembunyikan. Diam diam Danuar mengikuti Refan dari belakang namun karena terlalu laju motor yang di kendaraain Refan membuat Danuar tertinggal jejak.
Setelah melaju cukup jauh namun tak kunjung di temukanya Refan, Danuar terus menghubungi nomor Refan sembari menjalankan motornya namun dengan kecepatan sedang hingga motor Danuar berhenti di depan motor yang di bawa Refan yang tergelatak di tengah aspal.
__ADS_1