Sepintas Tentang Mu

Sepintas Tentang Mu
Rasa nyaman


__ADS_3

Malam itu juga Hendra terlelap diranjang Nita dengan memeluk bingkai foto pernikahanya dengan Nessa.


Sedangkan Sasa dan Ratna kini berada dalam didapur, keduanya tengah memikirkan apa yang sedang akan dihidangkanya untuk sarapan pagi ini sedangkan suaminya sangat tidak menyukai makanan luar apalagi untuk makan pagi seperti ini, memasak, Ratna tidak paham hal itu apalagi Sasa yang sudah terbiasa manja dari kecil.


Tetapi jika mereka tidak juga menghidangkan makanan untuk pagi ini bisa jadi kecurigaan suaminya akan semakin besar padanya, mereka yang sering mengaku ngaku yang masak selama ini akan terbongkar dan terbukti bahwa Nita tidak bersalah.


"Bu, gimana kalo kita pesan makanan saja?" ide Sasa dengan mengangkat jari telunjuknya setelah keduanya berfikir panjang.


"Ayah mu nanti bisa curiga!" ucap Ratna tanpa membalikan badanya mengarah pada Sasa.


"Kita pesan makanan warteg Bu atau makanan pinggiran, makanan seperti itukan sama seperti makanan rumahan,"


"Mama ngk sudi makan makanan warteg apalagi makanan pinggir jalan yang kamu maksud itu,"


"Tapi kita ngk punya jalan keluar lagi Bu, Nita sudah tidak disini sebelum ayah mengetahui kebohongan kita lebih dalam." Sasa.


"Kamu benar sekarang kita harus pesan makanan!"


"Sekarang kamu berangkat nanti Ibu akan bilang sama ayah kamu sedang menyiram tanaman tapi kamu jangan lama yang ada nanti ayah kamu itu akan semakin curiga sama kita!"


"Baik Bu!"


"Yasudah sana berangkat!" ujar Ratna mendorong tubuh Sasa sedikit menjauh darinya agar anaknya itu segera membeli makanan.


Setelah kepergian Sasa, Ratna menatap seluruh isiĀ  dapur, semua barang tampak berantakan dan lantai yang tampak kotor dan piring serta perkakas lainya yang sudah menumpuk, pantas saja suamunya marah melihat ini semua.

__ADS_1


Hendra terbangun dengan sendirinya setelah mencuci wajahnya Hendra langsung berjalan menuju meja makan dan sesampainya disana hendra melihat meja itu tampak sepi dan kosong, tidak ada satu pun makanan yang terhidang.


Hendra kembali menuju kamar tetapi kali ini ia memasuki kamarnya, ia segera mandi dan membersihkan tubuhnya serta menganti pakaian dan memberi tubuhnya sedikit parfum. Selesai dengan ritual paginya Hendra langsung keluar dari rumahnya dan meninggalkan rumahnya untuk kembali mencari Nita.


Didepan kantor perusahaannya seluruh kepercayaan Hendra telah berkumpul didepan gedung besar itu untuk menunggu kehadiranya.


"Temukan anak ku hari ini juga!" ucap Hendra dengan wajah datarnya dan melewati mereka yang sudah berkumpul ditempat itu tampa basa basi.


Semua kepercayaannya itu langsung mengangkatkan kepalanya setelah Hendra memasuki ruanganya, semuanya saling lempar pandang dan saling memberi isyarat.


"Sekarang kita harus bagi tugas untuk mencari Nita, putri kesayangan Tuan besar kita!" ucap seorang lelaki diantara mereka yang memiliki pangkat paling tinggi diantara mereka.


"Tetapi kita harus mencarinya kemana?" tanya sekretaris Hendra.


"Kita tanya setiap rumah sakit yang ada dikota ini!" ucap seorang menajer.


"Sekarang kita bagi kelompok yang memiliki tugas masing masing!" Sekretaris Hendra.


Setelah pembagian kelompok yang terdiri dari emlat orang setiap kelompoknya, kepercayaan kepercayaan Hendra itu pergi untuk mencari keberadaan Nita dengan arah yang berbeda, ada yang pergi kesekolah Nita dan ada pula yang kerumah sakit dan ada yang mencari menelusurin jalanan yang ada dikota ini.


Hendra didalam ruanganya diatas kursi kebesaraan, mulai berfikir keras ia sudah tidak lagi memikirkan dan mempersoalkan tentang istri dan anak tirinya, sekarang yang ada dibenaknya hanyalah bagaimana cara menemukan Nita secepatnya, ia sangat merindukan anaknya itu.


"Kemana kamu Nita?" lirih Hendra dengan tatapan kosong yang terus mengarah pada foto Nita yang terpajang diatas mejanya dengan mengenakan baju merah putih, foto yang mengambarkan foto Nita ketika sd, foto yang sudah bertahun lamanya.


Hendra sudah berulang kali mencoba menghubungi nomor Nita namun tidak membuahkan hasil sama sekali, nomor itu sudah tidak aktif yang menambah beban fikiran Hendra jika Nita terpisah dengan handphonenya pasti anaknya dalam bahaya.

__ADS_1


Erwan yang kini sudah berada dalam rumah sakit tempat Nita dirawat, ia tengah menyuapi Nita yang masih terbaring diatas kasurnya, kondisi Nita mulai membaik, tubuhnya mulai stabil tetapi kaki dan tangan Nita masih membutuhkan perawatan yang lebih intensif jika tidak ingin mendapat efek samping yang berat lagi.


"Maafin Nita ya Kak sudah banyak merepotkan Kak, bahkan saat Nita berniat baik pun Nita masih merepotkan Kak!" ucap Nita sendu ketika sebuah sendok mulai masuk kedalam mulutnya.


"Kamu ngk boleh ngomong gitu Nit, kamu sudah Kakak anggap seperti adik Kakak, jangan sedih ya, cepat sembuh juga!" ucap Erwan sembari mengelus rambut Nita.


"Makasih ya Kak!" balas Nita tersenyum.


"Kamu punya nomor handphone yang bisa dihubungi untuk mengabari orang tua kamu kalau kamu sedang dirumah Kakak, kasihan mereka nanti khawatir mencariin kamu!"


Nita hanya dapat mengelengkan kepalanya dan kemudian tertunduk dengan wajahnya yang seketika lesu dan kusu.


"Mereka ngk ada yang peduli sama Nita, Kak bahkan saat Nita pergi dari rumah seperti ini mereka tidak yang berniat mencari keberadaan Nita, mereka hanya peduli dan sayang pada Sasa, adik tiri Nita begitu juga dengan ayah yang hanya memperhatikan Nita sampai lupa siapa yang anak kandungnya!" ucap Nita.


"Kamu sabar ya!" ucap Erwan yang langsung membawa Nita kedalam dekapan hangat yang dipunyanya.


"Setiap masalah pasti ada jalan keluarnya dan jika kamu tidak menemukan kebahagian dikeluarga mu, Kakak yakin pasti suami mu kelak bisa membahagiakan mu dan kebahagian itu yang tidak pernah kamu dapatkan dikekuargamu!" ucap Erwan yang masih memeluk tubuh Nita.


"Kok nyaman banget ya dipelukan Kak Erwan seperti ini!" gumam Nita sembari mendongkan kepalanya untuk menatap wajah tenang dan tampan yang dimiliki Erwan yang masih mengelus rambutnya.


"Ngk, ini hanya sebatas nyaman, aku tidal boleh mencintai Kak Erwan dan hanya Afdhal lelaki yang aku sayang setelah ayah," gumamnya lagi yang kini mengalihkan tatapanya itu dan menjauhkan tubuhnya dari Erwan.


"Kamu kenapa?" tanya Erwan yang mulai merasa asing dengan sikap Nita.


"Tidak apa apa Kak!" ucap Nita yang hanya tersenyum tipis membalas ucapan Erwan.

__ADS_1


"Kamu kalau ada sesuatu bilang ke Kakak, kalau Kakak bisa pasti Kakak bantu!" dan Nita hanya tersenyum membalas ucapan Erwan itu lagi.


__ADS_2