Sepintas Tentang Mu

Sepintas Tentang Mu
Membiarkan Nita pergi


__ADS_3

"Kamu kenapa Nak? Kamu terlihat takut dan tampak trauma? tanya bu Sari yaang berusaha mendekati Nita yang masih menatap sekitarnya dengan kebinggungan.


"Alamat kau di mana biar saya antar pulang?" tanya Erwan pula dengan lembut.


"Saya tidak mau pulang!" ucap Nita mulai panik dengan mengeleng gelengkan kepalanya, pertanda ia benar benar takut dengan apa yang telah lelaki itu ucapkan.


"Kamu kenapa tidak mau pulang?" tanya Sari lagi dengan mengelus punggung Nita dengan penuh kasih sayang berharap dapat mengurangi sedikit ketakutan pada gadis itu.


"Ngk, aku ngk mau pulang!" ucap Nita dengan nafas yang tersenggal senggal dan menjauhkan tubuhnya dari Sari sepertinya ketakutan semakin terjadi pada Nita.


"Kamu tidak boleh seperti itu, orang tuamu pasti mencariimu!" ucap Erwan.


Sari mengelengkan kepalanya pada Erwan pertanda ia tidak menyukai sikap majikanya barusan karena sebelumnya Sari pernah di hadapkan pada kejadiaan seperti ini di mana ia harus menjadi sosok ibu pada keponakanya dan keponakanya itu juga merasakan hal yang sama seperti yang terjadi pada gadis yang di bawa oleh majikanya itu kerumah.


"Kamu mau tinggal di mana sekarang?" tanya Sari dengan lembut tampa menyentuh tubuh Nita yang di khawatirkan Nita akan semakin takut padanya. Nita hanya mengelengkan kepalanya sebagai jawaban ia tidak tahu atas pertanyaan yang Sari berikan padanya.


"Yasudah untuk beberapa waktu ini, kamu tinggal di sini ya sama ibu, kamu mau tidur sendiri atau ibu temani?" tanya Sari yang menatap bola mata Nita dengan tulus.


"Nita biasa tidur sendiri!" jawab Nita.


"Yasudah kalau begitu nanti ibu siapkan kamarnya ya!" balas Sari tersenyum.


"Kamu ibu buatkan teh hangat ya agar tubuh kamu tidak terus terusan mengigil!"


"Tidak usah bu, Nita takut merepotkan!" ucap Nita tersenyum.

__ADS_1


"Tidak ada yang di repotkan kok!"


Sedangkan di dalam rumahnya, Hendra tampak gelisah di depan teras menunggu kehadiraan putri sulungnya yang tak kunjung datang. Sebenarnya ada rasa sesal di hati pria itu telah menghardik anaknya dengan sangat kasar. Sudah berulang kali ia menelpon anaknya itu tetapi yang di temukanya ponsel Nita terletak dikamarnya. Nita pergi tanpa membawa apapun selain pakaian yang melekat di tubuhnya.


Pria paruh baya itu duduk di atas kursi yang berada di depan rumahnya, ia tampak sedang gelisah dan penuh ketakutan, takut sesuatu buruk terjadi pada anaknya.


Sebenarnya Hendra sangat menyanyangi Nita namun karena hasutan dari istri dan anak bungsunya kepercayaannya terhadap Nita seakan akan sudah tidak ada. Apalagi ketika anak dan istrinya itu menceritakan keburukan Nita, Hendra seakan melihat adanya bukti dari ucapan mereka karena setiap mereka bicara itu ketika Nita sedang melakukan kesalahan di tambah Nita yang tidak pernah membantah ucapan ibu dan adiknya.


Hendra terus menatap derasnya air hujan yang jatuh dari langit yang membasahi seluruh tanah pekarangan rumahnya. Bagaimana jika hujan itu menimpah tubuh Nita? Siapa yang akan menolongnya? Bagaimana jika ada orang yang berniat jahat padanya?.


"Aku harus segera menemui Nita!" lirih Hendra yang hendak meninggalkan kursi yang di dudukinya untuk mencari keberadaan Nita.


Sebuah gengaman manja tiba tiba saja melingkar di lengan lelaki itu, Hendra menghentikan langkahnya dan menoleh pada orang yang sedang memeluk tubuhnya dari belakang.


"Yah, Ibu takut sesuatu buruk terjadi pada Nita, kasihan sekali anak itu!" ucap Ratna orang yang memeluk tubuh Hendra dengan air mata yang telah membasahi wajahnya.


"Ibu takut yah"! ucap wanita itu dengan manja dan semakin mengeratkan pelukanya pada pria itu.


"Ibu sama Sasa di rumah saja, biar ayah yang mencari Nita!" ucap Hendra sembari mengeus punggng Sari dengan lembut.


"Sasa sedang tidur yah, Ibu takut." ujar Ratna dengan air mata yang semakin membasahi wajahnya.


"Tapi Ayah harus segera mencari Nita dan menemui anak itu karena bagaimana pun ayahnya yang telah membuatnya seperti ini!" ucap Hendra berharap agar gengaman tangan Ratna terlepas dari lenganya.


"Ayah, Ibu!" teriak Sasa tiba tiba dari dalam rumahnya dengan sesekali menatap kearah ponselnya.

__ADS_1


"Ada apa Sa?" tanya Hendra yang melihat raut wajah Sasa tampak mengeluarkan sebuah kabar gembira yang akan dapat membuatnya sedikit tenang dan menghilangkan rasa khawatirnya dari putri sulungnya.


"Kak Ninda bilang, Kak Nita ada di rumahnya!" ucap Sasa dengan mata yang mengarah pada ponselnya seakan ia mendapat informasi itu baru saja dan di dapatnya dari handphonenya.


Terlihat dengan jelas eksperesi yang keluar dari wajah lelaki itu tampak lega dan sedikit ketakutanya berkurang.


"Sedang apa Nita sekarang?" tanya Hendra antusias.


"Kak Ninda bilang tadi Kak Nita nanti akan pulang setelah ia merasa tenang dan saat ini Kak Nita sedang istirahat!" ucap Sasa yang masih saja melirik kearah handphonenya.


"Syukurlah jika begitu, akhirnya anak itu tidak kenapa kenapa!" ucap Hendra lega sembari mengusap dadanya.


"Ayah sudah dengarkan Nita tidak papa dan sekarang ayah yang harus istirahat, kasihan dari tadi ayah gelisah terus, tubuh ayah pasti kelelahaan!" ucap Ratna yang membawa tubuh suaminya itu kembali masuk kedalam rumahnya.


"Enak aja tuh si Nita pergi dari rumah mau dincariin, untung gue pintar!" gumam Sasa dengan senyum miring yang terbit dari sudut bibir kirinya setelah Ibunya benar benar membawa ayahnya menjauh darinya.


Sasa juga tak ingin berlama lama di depan hujan deras seperti ini yang ada akan membuaat tubuhnya merasa kedinginan. Wanita itu kembali masuk kedalam rumahnya dan menutup rumahnya dengan rapat.


Setelah merasa aman dan sudah tidak ada lagi yang menganjal fikiranya, Sasa dengan santai tertidur di batas ranjang yang ada di kamarnya dengan memainkan ponselnya.


Sekarang ia sudah berasa menjadi anak tunggal di dalam rumahnya karena sudah tidak ada lagi keberadaan Nita dan sekarang kasih sayang dan perhatian dari ayah dan ibunya kini hanya tertuju padanya.


"Ayah tidur dulu ya, istirahatkan tubuh Ayah, Ayah tadi pasti kelelahan karena seharian bekerja dan pulang Ayah harus marah marah seperti tadi!" ucap Ratna yang kini sudah membawa suaminya itu kedalam kamar dan hendak menidurkan Hendra.


"Iya Bu, memang badan ayah lelah sekali!" ucap Hendra yang kini sudah terbaring di atas kasurnya.

__ADS_1


"Makanya Ayah harus banyak istirahat dan jangan terlalu banyak memikirkan segala sesuatu yang hanya akan membuat kepala Ayah semakin pusing!" ujar Ratna sembari memasangkan selimut tebal di atas tubuh Hendra.


"Iya Bu, Sekarang Ayah sudah merasa lega karena sudah tau Nita tidak kenapa kenapa, Ayah merasa lebih lega dari sebelumnya" ucap Hendra yang terdengar sangat tenang.


__ADS_2