
"Terus tadi pagi kamu kemana?" tanya Hendra.
"Aku dari pagi hingga sore di rumah Yah!" bohong Ratna.
"Tidak perlu berbohong lagi, aku sudah tau, tadi pagi aku kesini dan tidak ada satu pun kalian yang berada di rumah dan keadaan rumah ini lihatlah sudah seperti kapal pecah. Apa kalian tidak merapikanya tadi?"
"Jangan bilang kamu terlambat bangun!" ucap Hendra yang melihat mulut Sasa mulai terbuka dan akan menjawab pertanyaan darinya.
"Ayah maafkan Sasa!" ujar Sasa yang kini kembali tertunduk.
"Saya tidak mau tau besok kita cari Nita sampai dia ketemu jika tidak, tidak ada yang boleh pulang lebih dulu!" ujar Hendra dengan wajah datarnya.
"Kak Nita di rumah Kak Ninda, Yah!" jawab Sasa yang kini menatap wajah ayahnya itu.
"Kalian sama sama pembohong ya, Ibu kamu tadi bilang di rumah sejak pagi, sekarang kamu bilang Nita di rumah Ninda, nanti apa lagi yang akan kalian katakan?" ucap Hendra yang semakin murka pada dua wanita yang ada di hadapanya.
"Tadi Ayah sudah kerumah Ninda dan pembantunya bilangnya kalau Nita sudah seminggu ini tidak pernah datang kerumahnya, kebohongan apalagi yang akan kalian ucapkan setelah ini?" murka Hendra.
Selesai mengatakan demikian Hendra pergi meninggalkan mereka dan berjalan menuju kamar Nita. Di dalam kamar anaknya itu Hendra melihat begitu banyaknya foto Nessa, wanita yang telah melahirkan Nita terpajang denan rapi di dinding kamarnya.
Hendra mendekatkan tubuhnya dengan salah satu foto dan mengelus bingkai foto itu dengan jari jemarinya. Foto yang di sentuhnya itu adalah foto pernikahanya dahulu dengan Nessa.
Sebelum menikah dengan Ratna foto itu terpajang di ruang keluarga namun, kini beralih kekamar Nita yang Hendra sendiri tidak tau bagaimana kronologi foto itu bisa di pindahkan kekamar Nita.
Tak terasa air mata Hendra kembali mengalir saat melihat foto Nessa yang di balut dengan gaun panjang berwarna putih dan mahkota yang menempel di kepalanya, senyuman bahagia yang saat itu terbit di wajah Nessa dan Hendra yang berdiri di sebelahnya dengan memegang bunga.
"Cepat banget kamu ninggalin aku Nes, sekarang lihatlah aku gagal menjadi seorang ayah bagi anak kita!" lirih Hendra yang terus mengusap kaca bingkai itu.
"Andai kamu masih hidup sebulan tiga hari lagi adalah hari pernikahan kita yang kedua puluh tapi saat itu kamu tidak ada Nes, aku kangen banget sama kamu!" ucapnya lagi dengan sendu.
"Kamu benar Nes, tidak akan ku temukan wanita sesabar dan sepengertian kamu!"
__ADS_1
"Maaf, aku terlambat menyadarinya!"
Hendra melepas foto itu dari tempatnya dan mendudukan bokongnya di atas ranjang tidur Nita.
"Diamlah, aku sudah lelah!" ucap Hendra yang sepertinya ia sedang mabuk berat karena terlalu banyak meminum minuman beralkhol dan Hendra langsung menidurkan tubuhnya di atas ranjang tampa membuka sepatu yang di pakainya.
"Mau sampai kapan kamu begini Mas?" ucap Nessa yang kini sudah berada di bagian kaki Hendra dan membuka sepatu suaminya.
"Sampai aku puas dengan duniaku!" jawab Hendra dengan mata yang sudah tertutup.
Nessa mulai membersihkan tubuh suaminya yang tampak kotor dan berantakan, hal pertama yang di lakukan Nessa adalah membuka jaket yang melekat di tubuh Hendra.
Namun di dalam jaket itu Nessa menemukan sebuah benda yang biasa wanita pakai di bibirnya, Cukup lama Nessa memandangi benda itu dan menatap wajah suaminya dengan penuh curiga.
"Mas ini punya siapa?" tanya Nessa dengan menunjukan lipstick yang di temukanya itu di depan wajah Hendra.
"Punya karyawan di kantor!" jawab Hendra enteng.
"Kenapa bisa ada di kamu Mas?" Nessa.
"Sebangsat bangsatnya kamu, Mas, aku akan tetap terima kamu, tapi kalau kamu main perempuan lain di depan maupun di belakang ku, maka tidak akan ku maafkan!"
"Tidak masalah, masih banyak juga wanita yang menginginkan ku!" jawab Hendra dengan santainya .
"Banyak yang menginginkan mu, tapi apa mereka akan tulus seperti aku mencintai mu?"
"Akhhhh, sudahlah aku lelah, menjauhlah!" ucap Hendra mengibaskan kakinya dengan kuat hingga Nessa yang masih berada di sekitar kakinya, terjatuh dari atas ranjang.
"Mas!" ucap Nessa, kini dirinya sudah berada di atas lantai.
"Bangkitlah sendiri, aku tidak akan menolongmu!" jawab Hendra yang seakan mengerti dengan panggilan Nessa itu karena Nessa memberikan isarat pada Hendra mengunakan tangan kanan.
__ADS_1
"Kamu tega banget ke aku Mas!" jawb Nessa dengan nada sendu dan langsung bangkit langsung berdiri di hadapan suaminya.
"Mas, coba dengerin aku! aku ini istri kamu! Tolonglah hargai aku sedikit saja!" ucap Nessa yang tepat di hadapan Hendra yang masih saja tertidur di atas ranjang.
"Aku lelah, Apa kamu tidak bisa menutup mulutmu?, Aku lelah!" balas Hendra.
"Mas aku ini manusia, aku istri kamu dan aku juga bukan figura dalam rumah ini!" ucap Nessa dengan air mata yang kinj sudah mengalir di wajahnya.
"Terus mau kamu apa?" tanya Hendra yang kini sudah bangkit dari posisi tidurnya dan berdiri di hadapan Nessa yang sudah menangis.
"Tidak akan kamu temukan Mas, wanita sesabar dan sepengertian aku menghadapi kamu!" ucap Nessa yang kemudian berlari dan keluar dari kamar dengan membanting pintu kamarnya dengan cukup kuat.
Hendra saat itu bukanya membujuk atau mengejar Nessa, ia justru malah memilih untuk tidur dan mengabaikan Nessa yang berlari entah kearah mana.
Flashback of.
Hendra yang masih memeluk foto Nessa merasa amat sangat menyesal dengan perbuatanya saat itu, jika waktu itu ia tidak membiarkan Nessa dan mengejarnya, mungkin saat ini Nessa masih bersamanya dan Nita masih mendapatkan kasih sayang dari seorang ibu yang tulus menyayanginya.
Karena selepas Nessa keluar dari dalam kamarnya ia berlari kearah jalan dan berlari sekencang mungkin tanpa tujuan yang jelas hingga sebuah mobil yang berlawanan arah dengannya datang menabrak dirinya yang menyebabkan Nessa kehilangan nyawanyan di tmempat kejadian.
"Andai saat itu aku mengejar mu mungkin sekarang Nita masih berada dalam rumah ini dan kita masih kumpul bersama!" lirih Hendra
"Ini semua salahku!" teriak Hendra dengan kencang.
"Bu, Ayah kenapa?" tanya Sasa pada Ratna yang berada di hadapanya.
Karena melihat Hendra yang marah besar padanya, Ratna bersama Sasa mengikuti Hendra dari belakang dan mengintip apa yang sedang di lakukan Hendra di dalam kamar Nita dari balik pintu kamar Nita yang tidak di kunci.
"Ibu juga ngk tau!" jawab Ratna yang masih mencari celah celah untuk mengintip lebih jelas.
"Apa ayah sudah tau semuanya?"
__ADS_1
"Semoga saja tidak!" jawab Ratna yang masih berfokus pada pintu untuk mengetahui apa yang sedang suaminya lakukan.
"Nit, kembalilah Nak, Ayah tidak ingin kejadian seperti ibu mu kembali terulang pada mu Nak, Maafkan Ayah yang tidak langsung mencari mu dan Ayah malah percaya pada Sasa yang telah membohongi Ayah, maafin Ayah Nak!" ujar Hendra pula di tengah tengah isak tangisnya.