
"Sasa, ide kamu cerdas sekali!" ucap Ratna dengan sangat gembira saat akan menutup kembali pintu kamar anaknya itu.
Setelah melihat suaminya terlelap dengan tidurnya, Ratna diam diam pergi kekamar Sasa dan masuk tanpa mengetuknya terlebih dahulu.
"Ada apa bu?" tanya Sasa dengan suara khas orang bangun tidur karena kehadiraan Ibunya itu, tidur Sasa terusik dan harus terbangun.
"Ibu bangga punya anak seperti kamu!" ucap Ratna lagi sembari menghidupkan kembali lampu kamar Sasa karena kamar anaknya ini sangat gelap.
"Iya dong Bu, Sasa!" balas Sasa dengan sedikit menyombongkan dirinya.
"Ibu tadi tidak tahu lagi bagaimana caranya agar ayahmu tidak mencari Nita,.untungnya Ibu punya anak yang pintar dan bisa diandalin!" ucap Ratna yang kini sudah duduk berhadapan dengan Sasa.
"Sasa juga tidak akan mungkin dong Bu membiarkan Ayah mencari keberadaan Nita, biarkan saja dia pergi dan tidak perlu kembali!" ucap Sasa.
"Kira kira kemana anak itu ya?" ujar Ratna dengan senyum licik.
"Itu bukan urusan kita Bu yang penting sekarang kita bebas tanpa anak beban itu!" balas Sasa pula dengan senyum yang tak kalah licik dan melipat kedua tanganya dan di letakanya di atas dadanya dan lutut yang memangku gulingnya.
"Ibu bangga punya anak seperti kamu!" ucap Ratna yang langsung memeluk tubuh Sasa.
"Oh iya Ibu sekarang masuk kamar Ibu aja gih entar ayah curiga loh!"
"Itu aman, kamu ngk perlu khawatir!"
"Oh iya emang bener Ninda ngabarin kamu kalau Nita nginap di rumahnya?"
"Gimana mau ngabari kalau nomornya aja aku ngk punya Bu, lagian Nita ngk penting juga!" balas Sasa.
__ADS_1
Nita yang kini sudah berada di dalam kamar yang di tunjukan padanya kini hanya dapat memeluk lututnya di atas kasurnya. Ia masih menangis mengingat kejadian tadi yang benar benar menyayat hatinya sebelumnya ayah adalah orang yang tidak pernah menyentuh apalagi melukai fisiknya dan kini semua itu telah terjadi hanya karena fitnah yang tidak benar yang di tujukan padanya.
Ia menangis dan mengusap air matanya sendiri rasanya ia ingin kembali kedunianya dulu, dunianya yang tanpa drama, di mana tawanya belum palsu. Sekarang dunianya beda, perhatian dan kasih sayang ayahnya kini hanya tertuju pada ibu dan adik tirinya.
"Ma, Nita kangen sama Mama!" ucap Nita di tengah tengah sesukan tangisanya.
"Dulu Mama bilang Nita harus jadi anak yang kuatkan Ma, sekarang lihatlah anakmu ini Ma, Dia rapuh Ma, dia tidak bisa menjalankan apa yang pernah mama sampaikan, aku lemah Ma!" tangis Nita yang yang semakin menjadi jadi.
Sari yang ternyata memperhatikan Nita dari balik pintu merasa iba dan kasihan pada gadis itu. Ia melihat dengan jelas kesedihan dan kehancuran Nita saat ini bahkan Nita lebih hancur dari keponakanya dulu.
Sari yang menyaksikan kondisi Nita benar benar tidak dapat menahan air matanya, ia ikut menangis dan terharu melihat Nita saat ini.
"Nak, kamu ada masalah apa? cerita sama ibu!"
Sari yang sudah tidak dapat lagi melihat Nita yang terus seperti itu, terpaksa menghampiri Nita dan duduk di depan gadis itu. Hatinya benar benar tersayat melihat wajah Nita yang pucat pasih dan tangan yang terus gemetaran.
"Kamu ada masalah apa di rumah hingga kamu seperti ini? kamu ngkpp cerita sama Ibu daripada kamu pendam sendiri yang ada nyiksa diri kamu sendiri."
"Nita boleh peluk sebelumnya Bu?" tanya Nita menatap wajah Sari penuh harap.
"Tentu boleh Nak!" ucap Sari yang langsung merentangkan kedua tanganya dan memeluk Nita dengan penuh kehangatan agar Nita dapat merasakan kasih sayang dan ketulusan darinya dan untuk mengurangi rasa sedihnya.
Sangat lama Nita memeluknya entah kenapa rasanya ia tak ingin melepas pelukan itu, nyaman sudah tentu dirasanya. Tangisnya tiba tiba saja reda saat mendapat dekapan wanita paruh baya itu.
"Masalah apa yang sedang menimpa mu Nak?" tanya Sari setelah Nita melepas pelukanya dan melihat gadis itu lebih tenang dari sebelumnya.
"Nita di pukul habis habisan oleh ayah Nita sendiri Bu, hanya karena ucapan Ibu dan adik Nita yang selalu saja menyalahkan Nita!" ucap Nita.
__ADS_1
"Apa pun yang di ucapkan oleh mereka selalu saja di percaya oleh ayah sedangkan ucapan Nita di anggap sampah dan tidak penting seakan seluruh kesalahan adalah Nita pelakunya, Ibu dan adik Nita tak henti hentinya selalu mencari perhatian ayah dan selalu bersikap baik di depan ayah dan selalu menjatuhkan Nita dengan cara yang lembut membuat ayah selalu mempercayai mereka dan lupa kalau Nita ini juga anaknya" ujar Nita yang kembali meneteskan air matanya.
"Sudah jangan menangis, kamu pasti akan bahagia di waktu yang tepat dan akan ada masanya ayahmu akan menyesal dengan apa yang telah di perbuatnya sama kamu dan ibu bersama adik mu akan mendapat atas apa yang telah mereka perbuat. Sekarang intinya kamu harus lebih banyak bersabar dan bersyukur dengan apa yang kamu punya sekarang dan kamu juga boleh kok cerita dan curhat sama Ibu dan kamu boleh menganggap Ibu sebagai ibu kamu, Ibu juga pasti akan sangat bahagia!"
"Jangan sedih terus! ujar Sari dengan menghapus air mata yang masih mengalir di wajah Nita.
"Makasih ya Bu!" ucap Nita yang kembali memeluk Sari yang kedua kalinya.
Entah dari mana datang tiba tiba saja Nita merasa lebih nyaman dan percaya untuk bercerita tentang kehidupanya pada Sari, Walau ia baru mengenal art itu, ia merasa kalau Sari adalah orang yang paling tepat untuk menceritakan seluruh permasalahanya.
"Nita juga mau di nikahkan Bu dengan seseorang yang Nita sendiri ngk cinta dengan orang itu" ucap Nita di tengah pelukan hangatnya.
"Lakukan sesuai isi hati kamu, curhatlah sama Allah, kerjakan lima waktu mu dan lakukan sepertiga malam, minta petunjuk sama yang maha kuasa agar kamu bisa memilih harus membantah atau menerima keputusan ayahmu dalam hidupmu." balas Sari dengan mengusap punggung Nita dengan lembut.
"Ba.. baik Bu!" ucap Nita tanpa melepas pelukanya.
"Cieee yang sudah ngk takut" ledek Erwan yang entah sejak kapan sudah berada di belakang keduanya.
Mendengar ucapan lelaki itu Nita hanya bisa tersenyum malu dan perlahan melepas pelukanya serta menundukan pandanganta kearah bawah.
"Usil banget kamu ya!" ucap Sari sembari mencubit perut Erwan membuat lelaki itu merasa geli.
"Gimana sudah membaik?" tanya Erwan yang kini sudah duduk di sebelah Sari.
"Sudah Kak, Makasih ya sudah mau nolongi Nita kalau ngk, mungkin sekarang Nita masih di jalanan!" Nita.
"Iya sama sama lagian tadi cuma kebetulan sama sekalian sih," balas Erwan dengan senyum jaimnya.
__ADS_1
"Lain kali kalau dah malam jangan main hujan ya kasihan badanya entar demam!"