
Hendra yang masih memandangin foto Nita tiba tiba merasakan getaran didalam sakunya, ia segera mengerakan tanganya dan mengambil handphonenya.
"Apa kamu sudah menemukanya?" tanya Hendra setelah membaca nama kontak yang tertera dilayar ponselnya.
"Kami sudah menemukan Nita Tuan, tetapi tubuh Nita sekarang sudah terbujur kaku dan tidak sadarkan diri!"
"Apa maksud mu?" tanya Hendra mulai panik dan bangkit dari kursi yang didudukinya.
"Kami menemukan Nita ditepi jalan yang sudah ramai dikerumuni oleh orang orang dan beberapa polisi dan kata mereka ada korban tabrak lari dan korban dipastikan meninggal dunia," jelas orang itu.
"Apa maksudmu? Nita meninggal?" ujar Hendra dengan suara menengang.
"Begitulah tuan!"
"Sharelock alamat biar aku segera kesana!"
Sesampainya ditempat yang Direkturnya itu berikan padanya, Hendra melihat kerumunan yang sangat ramai dan dipenuhi banyak orang termasuk beberapa polisi yang ikut serta dalam tempat itu.
Hendra menerobos sekumpulan orang orang itu dan mendekati tubuh seorang gadis yang sudah terbujur kaku diatas aspal dan ditutupi oleh selembaran lembaran koran itu dan tangan yang siap membuka kertas yang menutupi gadis itu.
"Maaf Pak sebaiknya jangan dibuka dahulu karena masih akan dilakukannpenyelidikan lebih lanjut jika Bapak membukanya maka akan banyak oknum yang mengambil keuntungan dengan memfoto maupun memvidio jenazah, ini demi kebaikan bersama!" ucap salah satu polisi yang segera menghentikan kegiatan Hendra itu dengan mengangkat tangan Hendra.
"Tetapi perkiraan siapa nama jenazah Pak?" tanya Hendra yang kini sudah berdiri berhadapan dengan polisi yang menegurnya.
"Nama almarhum Nita Pak, kami mengetahuinya melalui tas yag dibawa korban dan didalamnya terdapat nama almarhum" balas polisi itu.
"Nita?, Anak ku?, Kamu benar benar akan meninggalkan Ayah?"
Tubuh Hendra melemas seketika, tenaganya sudah tak lagi ada, air matanya kini teruai begitu banyaknya, badanya tak lagi berdaya. Tubuh besar miliknya terjatuh hingga tak sadarkan diri saat mengetahui nama sang korban.
Dikretur bersama kelompoknya segera membopong tubuh Hendra menjauh dari tempat ini karena jika ia masih bertahan disini akan berakibat fatal dan semakin buruk bagi Hendra dan segera melarikan Hendra kepuskesmas terdekat.
"Semoga Tuan lekas sadar!" ucap salah satu karyawanya.
Kini seluruh stafnya yang ikut melakukan pencarian Nita sudah berkumpul didalam ruangan Hendra dirawat tetapi walaupun jumlah mereka yang tidak sedikit suasana hening masih tercipta diantara mereka karena jika mereka ribut akan hanya mempersulit masa pemullihan Hendra.
Duka yang dialami Hendra ini juga ikut dirasakan oleh staf stafnya yang mengetahui kondisi Nita karena Hendra sendiri terbilang atasanya yang tidak terlalu mengatur dan memaksa kehendak karyawanya dan selalu ramah terhadap bawahan.
__ADS_1
Orangnya bijak dan tidak pelit serta menghargai toleransi yang tinggi dan dapat memahami orang orang bawahanyan makanya ketika Hendra marah maka tidak ada satu karyawan maupun staf yang membantah ucapanya dan ketika ia mengalami suatu musibah tangan para stafnya sangat ringan untuk mengulurkan bantuan padanya dan kaki yang selalu melangkah untuk membantu bosnya itu.
Walaupun mereka tidak mengenali sosok Nita tetapi mereka ikut merasakan kesedihanya yang dirasakan oleh atasanya itu bahkan kini mereka tengah menatap foto foto Nita dimedsosnya.
"Wajah Nita natural banget ya!" ucap sekretaris Hendra sembari menatap layar ponselnya.
"Kenapa Nita ngk pernah main kekantor lagi padahalkan dulu sering banget bahkan dulu ia sempat mau menjadi sekretaris tapi sekarang kok lain banget ya!" ujar menajer wanita pula.
"Tapi seingat gue sih Nita ngk pernah main lagi kekantor sejak Sasa anak tiri tuan Hendra jatuh dari tangga kantor,"
"Gue jadi kasihan sama Nita karena istri tuan Hendra sekarang!"
"Gue juga ngerasain hal yang sama!"
Sasa kembali kerumahnya dengan membawa beberapa makanan yang sudah dibelinya dari pinggir jalan mengunakan masker dan ini pertama kalinya ia akan memakan makanan pinggir jalan.
Dengan sangat hati hati Nita masuk kedalam rumahnya melalui pintu dapur dan menyilap dari balik pintu.
"Bu!" bisik Sasa dengan memperhatikan sekelilingnya untuk memastikan ayah benar benar tidak ada disini.
Ratna yang mendengar suara putri kesayanganya segera membukakan pintu yang terbuka hanya sedikit dan membantu Sasa membawa banyak makanan yang sudah dibelinya dan segera menghidangkanya diatas meja makan serapi mungkin.
"Panggil ayahmu, Ibu juga sudah lapar!" Ratna.
"Baik Bu!"
"Ayah ada dikamar Nita!"
"Kenapa ayah disitu Bu?"
"Ibu juga tidak tau!"
"Sudah panggilah!"
Sasa pergi menaiki anak tangga untuk memanggil ayahnya sedangkan Ratna duduk lebih dulu kursi meja makan dan menyondoki nasi kedalam piring dan memasukan beberapa lauknya.
"Bu, Ayah tidak ada dikamar!" teriak Sasa yang masih menuruni anak tangga dengan berlari sekencangnya.
__ADS_1
"Serius kamu?" tanya Ratna yang ikut menengang.
"Sasa serius Bu!"
"Coba lihat dikamar Ibu!"
"Aku juga sudah melihatnya tetapi ayah juga tidak ada!"
"Pasti ayahmu sudah mencari Nita!"
"Kita tidak bisa membiarkan ini Bu, Nita tidak boleh kembali kerumah aku tidak mau kasih sayang ayah terbagi apalagi Ibu taukan bagaimana paniknya ayah ketika tau Nita pulang pasti nanti akan merasa bersalah pada Nita dan memperlakuka Nita dengan baik, lalu aku gimana Bu?"
"Ibu setuju dengan pikiranmu, Ibu juga tidak mengingikan Nita kembali, biarkan saja dia dilenyap ditelan bumi"
Tak lama setelah berkata demikian handphone Ratna yang terletak diatas meja bergetar menandakan adanya panggilan masuk yang tertuju padanya.
"Halo, Dengan siapa?" ucap Ratna setelah mengangkat sambungan udara itu.
"Saya sekretaris Pak Hendra Bu, ingin menyampaikan bahwa Pak Hendra sedang berada di puskesmas Budi Daya Kesehatan dan sepertinya penyakit jantung bapak kembali kambuh setelah mengetahui kepergian Nita dari dunia!" ucap orang itu.
"Pergi dari dunia? apa maksud mu?" ucap Ratna.
"Tubuh Nita ditemukan terbaring ditepi yang sudah tertutup koran dan polisi mengatakan bahwa korban bernama Nita," jelas sekretaris itu lagi.
"Baiklah, Saya dan anak saya akan segera kesana!"
"Kenapa Bu?" tanya Sasa yang mekihat wajah ibunya mulai menengang.
"Nita meninggal!" ucap Ratna bersorak gembira hingga mengangkat tanganya dan langsung memeluk tubuh Sasa dan Sasa hanya terdiam dan merenung mendengar kabar duka atau suka itu.
"Kamu kenapa Sayang, kok ngk senang gitu?" tanya Ratna heran setelah melepas pelukanya dan melihat raut wajah Sasa yang sulit diartikan.
"Kalau Nita meninggal, lalu bagaimana tentang pernikahanya dengan Refan? rencananya bisa gagal dong," pikirnya.
"Kamu kenapa Sayang?" ulang Ratna.
"Sasa ngkpapa Ma!"
__ADS_1
"Yasudah sekarang kamu siap siap, kita berangkat kepuskesmas Budi Daya Kesehatan!" ujar Ratna yang kembali meletakan ponselnya.