Sepintas Tentang Mu

Sepintas Tentang Mu
Aku membenci gebetan mu


__ADS_3

Sesuai dengan ucapan karyawannya, Erwan segera mendatangi puskesmas yang berada paling dekat dengan kantornya. Dengan berlari secepat mungkin Erwan segera menghampiri bagian administri di tempat itu untuk menanyakan keberadaan Nita di dalam bangunan ini.


Dan benar saja Nita menjadi salah satu pasien yang di rawat di dalamnya, setelah mengetahui ruangan tempat Nita di rawat Erwan segera mendatangi tempat itu.


Sesampainya di sana Erwan hanya dapat memandangi tubuh Nita yang terbaring di atas ranjang melalui jendela ruangan dan Nita yang tengah di tangani oleh beberapa tenaga medis.


Erwan terus memandangi wajah Nita yang tampak diam dan polos, walau pun ia sedang luka tetapi aura tenang tetap terlihat di wajahnya, bahkan wajahnya masih terlihat segar dan aura cantiknya yang masih terpanjar.


Dreettrrttttttt.


Erwan merogoh ponselnya dan melihat panggilan masuk dan ia harus menghembuskan nafasnya saat melihat nama kontak yang tertera di layar ponselnya karena kesibukanya seharian ini ia sampai lupa untuk mengabari orang yang menghubunginya itu.


"Kamu kemana seharian ini ngk ada kabar?" cerobos wanita itu melalui sambungan udara setelah Erwan mengangkat panggilannya.


"Tadi adek sakit Yang!" jawab Erwan dengan suara yang sudah melemas karena seharian ini ia harus bertarung dengan rasa khawatirnya, mulai dari kondisi Refan yang membuat panik semua orang dan kini ia harus menyaksikan gadis yang di tolongnya terbaring di atas ranjang rumah sakit.


"Emang kalau Refan sakit, kamu ngk bisa ngabarin aku sebentar aja?" cerocosnya lagi.


"Kamu ngertiin dong Yang posisi aku, dalam kondisi seperti ini mana sempat aku ngabari kamu dan tadi aku juga harus cari gadis yang adik aku sayang agar proses penyembuhanya cepat selesai, aku capek seharian ini Yang!" Erwan.


"Jadi kamu lebih mentungin adik kamu daripada aku pacar kamu?"


"Dengar ya Naura Sayang, aku ngk bisa milih antara kamu dan Refan yang jelas aku sayang sama kalian berdua!" ucap Erwan selembut mungkin, dan berusaha untuk bersabar agar pacarnya itu tidak semakin marah padanya.


"Ngk, kamu harus pilih antara aku atau adik kamu itu!"


"Jangan aneh aneh deh Sayang, kalian itu dua orang yang memiliki peran penting dalam hidup aku!"

__ADS_1


"Kalau memang aku penting, sekarang kamu temani aku belanja, soalnya di mall lagi ada barang barang keluaran baru, import pula tuh Yang!" ucap pacar Erwan yang tak lain bernama Naura Kasih Helmiah.


"Aku ngk bisa temani kamu belanja Yang, mana mungkin dengan kondisi adik aku yang belum sehat, aku malah senang senang kemall sedangkan adik aku lagi berjuang dan mama yang dari tadi ngk berhenti nangis!" jawab Erwan.


"Jadi kamu ngk bisa luangi waktu kamu buat aku?"


"Bisa Yang, tapi nanti setelah kondisi Refan membaik dan aku juga akan memperkenalkan kamu kekeluarga dan aku juga akan berkunjung kerumah kamu untuk memulai hubungan serius dengan mu!" bujuk Erwan.


"Luangin waktu aja kamu ngk mau, apalagi mau seriusin aku ngk mungkinlah!" ucap Naura dengan nada yang bisa dibilang meragukan ucapan Erwan barusan.


"Kamu minta di temeni di waktu tidak tepat!" Erwan.


"Bilang aja aku bukan priorits kamu!"


"Gimana kalau kamu belanja sendiri, biar uangnya aku transfer?"


"Hemmm tapi aku maunya sama kamu Yang!


"Aku butuhnya kamu Yang, bukan uang kamu!"


"Aku minta maaf, aku belum bisa lain kali ya sekarang kamu pergi sendiri dulu ya!" Erwan.


"Iya Yang!"


"Yeeyyyyyyy akhirnya dapat transferan!" teriak Naura kegirangan hingga memantulkan handphonenya di atas kasur empuk miliknya setelah mematikan sambungan telponya.


"Akhirnya gue bisa belanja sendiri tanpa di temani dia dan gue bisa jalan sama siapa pun apalagi adiknya dia lagi sakit mana sempat dia memperhatiin gue dan bisa gue manfaatkan untuk jadi benih benih rupiah buat gue!"

__ADS_1


Naura segera turun dari ranjang tidurnya dan bergegas menganti pakaianya dan dengan menyandang tas creamnya, ia kembali memperhatikan gambaran dirinya melalui pantukan cermin yang menampakan seluruh bagian tubuhnya.


Naura kembali mempoles bibirnya dengan sedikit lip cream agar menumbuhkan aura segar di bibirnya agar tidak terlihat pucat dan setelah merapikan kembali bagian rambutnya Naura meninggalkan kamarnya.


"Akhirnya gue keluar sendiri!" teriak Naura ketika di dalam mobil dan sedang mengendarainya.


Karena selama ia menjalin hubungan dengan Erwan, gadis itu tidak pernah melakukan kegiatan apa pun selain di temani oleh Erwan, biasanya setiap gadis yang di perlakukan demikian akan merasa baper dan semakin sayang padanya, tetapi tidak pada Naura, gadis itu justru merasa risih dengan perhatian yang Erwan berikan.


Setelah mendapatkan perawatan kecil dan penanangan seadanya dan luka yang terdapat di tubuh Nita di lap dan di bersihkan, kemudian di perban, Dokter yang berkerja di puskesmas itu menyarankan agar Nita mendapatkan perawatan yang lebih intensif dan memadai serta di tempat yang lebih modern karena luka yang di alami Nita dapat di bilang cukup parah.


Setelah mendapat persetejuan dari Erwan, selaku penanggung jawab dari Nita. Nita segera di bawa dan di pindahkan dengan rumah sakit sesuai rekomendasi puskesmas itu.


Setelah mengantar Nita kerumah sakit yang lebih besar, Erwan kembali kerumah sakit tempat adiknya di rawat karena ia juga harus memastikan kondisi Refan membaik. Jika ia menyatukan rumah sakit Nita dan Refan pasti orang tuanya itu akan nenaruh curiga padanya.


Di dalam ruangan Refan, Erwan mendapati Sasa yang tengah menyuapi Refan dan hanya mereka berdua yang ada di dalam ruangan ini dan kedua sahabat Sasa yang sudah pulang lebih dulu.


"Mana Mama?" tanya Erwan dengan mata yang mengarah pada Refan yang masih terlihat pucat.


"Mama pulang, ngambil pakaian katanya!" ucap Refan acuh.


"Sini Abang aja yang nyuapin!" ucap Erwan yang langsung mengambil sendok dan mangkok makan yang di pegang oleh Sasa.


"Refan ngk mau!" ucap Refan layaknya sseorang anak kecil yang menolak makanan dari ibunya ketika hendak di suap, ia menjauhkan tubuhnya dari Erwan dan membuang wajahnya dari abangnya itu.


"Refan kamu harus makan!" ucap Erwan dengan tegas.


"Refan mau makan kalau Sasa yang suapin Refan bukan Abang!" jawab Refan yang kini sifat anak anaknya sudah semakin timbul.

__ADS_1


Erwan menatap wajah Sasa, ia sudah menaruh curiga kalau gadis itu pasti merasa menang karena Refan hanya mau padanya, bukanya merasa salut pada gadis itu, Erwan justru merasa jijik dan semakin ilfil pada Sasa yang di nilai bermuka dua dan pandai mencari perhatian dari orang lain.


Dengan wajah datarnya Erwan kembali memberikan mangkok dan sendok makan itu pada Sasa dan duduk di atas sofa yang berada di dalam ruangan Refan. Erwan hanya mampu menghembuskan nafas gusarnya saat melihat Sasa yang terus menyuapi adiknya, perasaan tidak suka itu semakin melandah dirinya.


__ADS_2