Sepintas Tentang Mu

Sepintas Tentang Mu
Jenazah ditemukan


__ADS_3

"Akhirnya gue bisa belanja sepuasnya!" ujarĀ  Naura yang turun dari lantai atas mengunakan iskalator yang ada didalam mal itu dan membawa tas belanjaan yang berisikan pakaian dan sepatu yang baru dibelinya.


Ia terus saja memandang tas belanjaanya itu dengan gembira dan menciumnya, tampaknya gadis ini sedang benar benar gembira dengan harinya.


"Kapan lagi coba gue bisa belanja tampa ditemani oleh Erwan?" ujar gadis itu gembira sembari terus melangkahkan kakinya menuju halaman mall dan mengambil mobilnya dari parkiran.


"Terus saja begini Sayangku!" teriak Naura yang melempar seluruh belanjanya itu diatas kursi mobilnya.


"Duh bahagianya jadi gue!" ujarnya lagi yang kemudian melajukan mobilnya dikecepatan sedang.


Naura harus menghentikan kelajuan mobilnya dan senyum yang selalu terbit dibibirnya kini memudar seketika saat melihat sebuah sekumpulan orang orang yang banyak memenuhi jalanan.


"Siapa sih, gangu banget!" ujar Naura yang melihat kearah depanya mengunakan kaca spion mobilnya.


"Apaan sih!" ujar lagi yang kini sudah turun dari mobilnya.


Naura menghampiri segerombolan orang orang itu dan menerobos keramaian dan bibirnya seketika menciut dan menatap jijik pada sebuah jenazah yang ada dihadapanya.


"Itu apaan?" tanyanya pada orang orang yang berada ditempat itu.


"Korban tabrak lagi Mbak!" jawab salah satu diantaranya.


"Pasti semasa hidupnya sering nyakitin orang makanya mati sampe segitunya!" balas Naura yang masih menatap korban yang ditutupi oleh koran itu.

__ADS_1


"Ehh, Mbak ngk boleh ngomong gitu dia itu korban harusnya yang nabrak itu yang mati bukanya Mbaknya, kalau ngomong hati hati Mbak!" amuk wanita yang tak jauh dari Naura.


"Apaan sih!" ujar Naura yang langsung berlalu meninggalkan tempat dan orang orang yang ada disana.


Naura menghembuskan nafasnya panjang setelah ia sudah berada ditempat yang lebih sepi dari sebelumnya dan merasa heran dengan orang orang yang berada disekitarnya, mengapa mereka merasa iba pada korban sedangkan ia sendiri merasa kalau kematian seseorang adalah perilakunya selama ia hidup, jika ia sering melakukan kejahatan maka ia akan meninggal dalam keadaan yang kurang baik menurutnya.


"Akhhhhh, bisa ngk sih jalan pake mata?" teriak Naura saat sebuah dada bidang mengenai wajahnya karena sedari tadi wanita itu berjalan dengan menoleh kearah belakang dan terus menatap orang orang yang mendekati korban.


"Sopanlah sedikit pada orang tua anak muda!" ucap Hendra yang baru sampai ditempat kejadian dengan diikuti oleh Direktur, menajer dan sekretarisnya yang berada dibelakangnya.


"Makanya Pak kalau jalan tuh pake mata!" teriak Naura sewot dengan menunjuk wajah Hendra.


"Bukanya kamu yang berjalan dengan terus menoleh kebelakang, kamu ngk punya mata?" teriak Direktur Hendra pula yang tidak terima jika atasanya diperlakukan seperti itu, ia langsung berdiri bersebelahan dengan Hendra dan menatap Naura dengan intens.


Beberapa orang ditempat itu mulai menghilang dan sepi, mobil ambulance juga sudah tiba ditempat kejadian, jenazah mulai diangkat kedalam ambulance oleh anggota polisi dan dibantu oleh beberapa warga yang berada disitu.


Tubuh Hendra kembali melemah saat melihat jenazah korban diangkat ke ambulance, air matanya kembali berlinang, kakinya bergemetar dan kini kepalanya sudah bersandar dipundak Direkturnya. Matanya menatap pilu pada mayat yang sudah dimasukan didalam petinya.


Sasa dan Ibunya yang juga baru tiba disitu, tersenyum tipis melihat hal yang ada dihadapanya, keduanya saling lempar senyum seakan mengerti dengan pemikiran yang lain, secara tidak sengaja sekretaris Hendra melihat apa yang dilakukan oleh anak dan istri Hendra dan hanya dapat mengelengkan kepalanya. Harusnya ini adalah momen sedih bagi keluarga besar Hendra dan bisa bisanya ibu dan adik Nita tersenyum melihat hal ini.


Sedih rasanya, kasihan sudah tentu dirasakan oleh Sekretaris Hendra ternyata selama ini, ini yang dirasakan oleh Nita, betapa kuatnya gadis ini mempunyai keluarga seperti ini, pikirnya. dan Sekretaris Hendra adalah saksi betapa manjanya dahulu Nita pada ibu dan ayahnya dan sekarang ia dipaksa kuat dan mandiri menghadapi keluarga barunya.


Air mata menajer Hendra juga mengalir saat melihat hal yang ada dihadapanya, ia mengerti dan paham apa yang sedang dirasakan oleh atasanya pasti hancur sudah tentu pastinya.

__ADS_1


"Akhirnya kesayangan ayah cuma gue!" gumam Sasa dengan senyum liciknya.


"Kalau beginikan gue perlu lagi buat menjodohkan Refan dengan Nita, tugas gue berkurang dan kebahagiaan gue semakin bertambah!" gumanya lagi dengan menatap mobil ambulance itu dengan sinis.


Nathan adalah sosok lelaki yang sangat mencintai Nita karena kesederhanaaan dan kepolosan serta ketulusan Nita dalam berbagai hal dan selalu sabar dalam mengahadapi apa pun yang sedang terjadi padanya.


Nathan juga seorang lelaki yang dekat dengan Sasa, tetapi lelaki itu menganggap Sasa tidak lebih sebagai teman namun Sasa sudah terlanjur berharap lebih padanya. Sasa dan Nathan sudah bersahabat lima tahun lamanya dan karena rasa yang dimilikinya itu membuat Sasa tidak pernah menaruh hati pada lelaki mana pun selain Nathan, sahabatnya dan itu merupakan salah satu pemicu Sasa sangat membenci Nita karena Nathan sangat mencintai Nita.


"Loh kenapa sih suka sama Kakak gue?" tanya Sasa pada Nathan ketika keduanya tengah meminum es cream dibawah pohon rindang dan berada ditepi lapangan selepas olahraga sore.


"Ya gue ngerasa kalau Nita itu beda dari yang lain!" ucap Nathan sembari memakan es yang afa ditanganya.


"Bedanya?"


"Kepolosanya yang buat dia itu gemesin apalagi wajah chubinya!" ucap Nathann sembari membayangkan wajah tembem Nita.


"Sampai kapan loh bakal suka sama dia?" tanya Sasa dengan menatap wajah Nathan dengan seksama dan sudah tidak melihat esnya mulai mencair.


"Gue juga tau sampai kapan, tapi yangbjelas gue bakal mundur perlahan kalau ada benar benar sudah ada yang miliki," jawab Nathan sembari mengelap bibirnya dengan tanganya sendiri tanpa melihat wajah Sasa.


"Maksud loh kalau Sasa sudah punya pacar, loh mundur?" tanya Sasa yang masih menatap wajah Nathan.


"Bukan, pacar itukan belum tentu jodohnya tetapi kalau dia benar benar sudah memiliki suami, aku akan mundur drastis, aku memang mencintainya tetapi aku juga tidak ingin menjadi perusak kebahagianya karena ketika mencintai seseorang maka kebahagianya adalah tujuan utama bagi kita!" jelas Nathan dengan menatap kearah depan dengan tatapan kosong.

__ADS_1


Sakit sudah pasti dirasakan oleh Sasa, sejak saat itu Sasa sudah berniat untuk menikahkan Sasa dengan Refan karena Sasa tau Refan sangat mencintai dirinya dan tidak mungkin menolak permintaannya.


__ADS_2