
Di dalam kantor besar miliknya, Hendra terdiam diri di atas kursi kebesaraan ia mulai memikirkan apa yang telah di lakukanya pada Nita, itu sudah keterlaluan dan di luar batas. Tidak akan ada seorang ayah yang tega melakukan hal tersebut pada anaknya kecuali dirinya.
Hendra melayangkan pikiranya, perasaan bersalah terus saja menghantuinya saat ini, ia terus memutar mutarkan kursinya yang di dudukinya, ia masih memikirkan mengapa ia bisa setega itu pada putrinya sendiri.
Nessa yang sempat menjadi istrinya dan berakhir karena Nessa meninggalkanya untuk selamanya dan menitipkan Nita padanya dan kini ia justru memperlakukan Nita dengan tidak baik, sekarang ia dihantui perasaan bersalah pada dua orang yang sangat di sayanginya.
Jika di tanya, tentu Hendra akan menjawab bahwa dirinya lebih mencintai Viona dari pada Ratna, istri keduanya, selain memiliki paras yang lebih cantik dari Ratna, Nessa juga terkenal sangat baik dan ramah pada siapa pun dan selalu menyamakan antara keluarganya dengan keluarga suaminya, dari situlah Viona selalu mendapat perlakuan baik dari mertua maupun iparnya.
Berbeda dengan Ratna yang selalu memihak pada keluarganya dan seakan mengabaikan keluarga dari pihaknya bahkan Hendra sering di karang oleh Ratna untuk berkunjung kerumah orang tuanya mengunakan alasan yang lembut, namun secara tidak langsung Hendra dapat membaca kalau ucapan Ratna itu melarangnya untuk bersilahturahmmi dengan keluarganya yang lain.
Terkadang dan sering kali Hendra merasa tidak enak hati pada Ratna karena sejujurnya ia masih sangat mencintai Nessa dan belum memiliki perasaan apa pun pada Ratna tetapi, ia juga tidak bisa untuk menalak Ratna karena ia berfikir jika ia berpisah dengan Ratna, bagaimana nanti nasib Nita, anaknya? Siapa yang akan merawat putrinya? dan dari siapa nanti Nita akan mendapat kasih sayang seorang ibu jika bukan dari Ratna?.
Berbagai pertanyaan muncul di benaknya apalagi sekarang yang ia tau kalau Nita sekarang semakin bandal dan sangat sulit di atur, ia merasa Nita seperti itu karena Nita kurang kasih sayang dari seorang ibu dan karena ia juga jarang meluangkan waktunya untuk putrinya itu.
Fikiranya terus melayang, perasaanya semakin tidak karuan tiba tiba saja perasaan cemas menghampirinya, mungkin ini yang di namakan naluri seorang anak pada ayahnya dan sampe kapan pun hubungan darah dari itu tidak akan putus walau di antara mereka saling membenci satu sama lain.
Dadanya mulai terasa sesak. Apa yang sebenarnya terjadi pada putrinya hingga ia merasakan khawatir yang begitu mendalam, bukankah Sasa bilang Nita sedang berada di rumah Ninda dan setau Hendra jika Nita bersama dengan sahabatnya itu, dapat di pastikan Nita akan merasakan lebih aman dan selamat karena Ninda selalu memberi solusi terbaik yang ia punya di setiap permasalahan yang di hadapi Nita.
Ia semakin di rundung perasaan cemas dan khawatir, pikiranya tidak bisa terlepas dari Nita membuat Hendra semakin menyesal atas apa yang telah diperbuatnya pada anak semata wayangnya, apalagi malam itu ia juga tidak langsung mencari keberadaan Nita.
Refan perlahan mengerakan jari telunjuknya, pergerakan kecil, namun dapat di rasakan oleh Martha yang sedang mengengam tangan putra bungsunya itu.
"Pa, tangan Refan bergerak Pa!" teriak Martha dengan mulut yang terbuka lebar.
__ADS_1
"Mama serius?" tanya Seno yang langsung mendekati istrinya.
Erwan karena merasakan kelelahan dengan hari hari yang di jalaninya kini tertidur pulas di atas sofa yang ada di dalam ruangan adiknya karena mendengar ucapan mamanya barusan ia langsung lompat dari tempatnya dan langsung menghampiri adiknya yang masih terbaring di atas ranjang rumah sakit.
"Adek, Abang yakin kamu kuat, kamu pasti sadar!" ucap Erwan penuh semangat dengan menggengam tangan kiri Refan dan menatap bola mata adiknya itu dengan penuh harap.
"Sa, Sasa, Sasaaaa!" teriak Refan yang masih menutup matanya dengan kepala yang terus mengeleng geleng membuat Seno juga merasa khawatir dengan anaknya itu.
"Dokter, Dokter, Dokteerrr!" teriak Seno sekuat mungkin sembari memegang pundak kanan Refan.
"Pa, adek kenapa?" tanya Erwan yang ikut panik dan air mata yang kini sudah mengalir di wajahnya dan menatap penuh tanya pada kedua orang tua yang ada di hadapanya.
"Papa juga tidak tahu Nak!" ucap Seno yang ikut menangis.
Setelah melakukan pemeriksaan yang cukup menengangkan akhirnya dokter itu menghembuskan nafasnya panjang yang membuat Hendra, Martha, Erwan dan Danuar yang berada di dalam ruangan itu ikut menegang dan semakin takut. Bagaimana jika hal buruk terjadi pada Refan.
"Alhamdulilah anak, Ibu dan Bapak sudah melewati masa kritisnya dan tinggal menunggu pemulihanya saja!" ucap Dokter itu di sertai dengan senyuman di bibirnya.
Kini semua orang yang ada di dalam ruangan itu merasa lega dan dapat bernafas kembali setelah ketegangan yang terjadi.
"Tapi saya sarankan untuk mempercepat masalah pemulihan Bapak atau adik dapat menghadirkan sosok yang di sebut oleh Nak Refan!" saran Dokter itu pula.
Seno, Mertha dan Erwan saling lempar pandang, ketiganya sama sama binggung dan tidak mengetahui siapa sosok yang di sebut oleh Refan barusan karena yang mereka tau sejak satu tahun belakangan ini Refan sedang tidak menjalin hubungan apa apa dan sedang tidak dengan siapa pun, lantas siapa sosok yang di panggilnya?
__ADS_1
Semua mata kini tertuju pada Danuar yang merupakan teman dekat dan curhat Refan, Danuar yang mengerti dengan tatapan yang tertuju padanya kini ikut mengeluarkan suaranya.
"Saya tidak mengetahui betul siapa sosok Sasa itu, tapi seingat saya Refan pernah bercerita ia sedang menyukai gadis yang tidak satu sekolah denganya, gadis itu cantik, tinggi dan juga berkulit putih, tetapi ia juga bilang wanita itu tidak memiliki perasaan apa pun padanya!" ucap Danuar.
"Apa kamu tau alamat gadis itu?" Seno.
"Tidak Om, bertemu denganya saja saya tidak pernah!" Danuar.
"Kemana kita harus mencari gadis yang bernama Sasa itu Pa? pasti Refan sangat mencintainya hingga di saat kondisi seperti ini Refan menyebut namanya!" Martha.
"Itu sudah pasti Ma!" Seno.
"Baiklah kalau begitu, saya tinggal lebih dulu!" pamit Dokter itu yang di ikuti oleh Suster yang berjalan di belakangya.
"Aku pasti akan cari gadis itu, siapa pun yang bisa buat adiku bahagia pasti akan ku buat bahagia pula!" gumam Erwan dalam hati.
"Refan pasti menyimpan foto gadis itu!" Danuar.
"Kita tidak ada yang mengetahui sandi ponsel Refan!" jawab Seno dengan jari telunjuk yang menempel di dagunya dan tampak sedang berfikir keras untuk mengetahui sosok gadis itu.
"Kamar Refan, dia pasti menyimpanya d imeja belajar atau di dalam lemarinya atau di dalam laci yang ada di kamarnya!" Danuar.
"Kamu benar sekali!" selonong Erwan yang langsung berlari keluar dan meninggalkan seluruh orang yang di dalam ruangan ini dan pergi menuju rumah orang tuanya.
__ADS_1