
Nita yang sejak tadi memperhatikan perbincangan keluarganya, Sudah tidak dapat lagi menahan rasa sakit di hatinya dan memilih untuk meninggalkan tempat itu dan pergi menuju kamarnya.
"Nita mau kemana kamu?"
Suara besar yang sudah tidak asing lagi baginya, Nita mengarahkan pandanganya pada sumber suara dan melihat jelas adanya kemarahaan di wajah ayahnya.
Nita menghentikan langkahnya dan memilih untuk berdiam diri di tempatnya tanpa menjawab pertanyaan ayahnya itu dan mencegah air mata yang akan jatuh karena ia tak ingin ada seorang pun yang melihatnya menangis, apalagi dengan kondisi seperti ini pasti ayahnya itu akan menganggap ia sedang bersandiwara untuk mendapat empati darinya.
"Nak, jawab pertanyaan ayah!" ucap Ratna yang berlagak sok lembut dan peduli terhadapnya. sembari mengatakan hal itu wanita itu membersihkan dan kembali merapikan piring dan peralatan lainya yang selesai di gunakan tadi sewaktu makan bersama Sasa.
"Ayah juga bicaranya jangan keras keras! kasihan tuh Kak Nita di marahi mulu!" ucap Sasa pula yang tak kalah caper dari ibunya.
"Nita jawab pertanyaan Ayah!" nada bicara Hendra kali ini lebih keras dan tinggi bahkan kini ia sudah beranjak dari duduknya dan berjalan menghampiri putri sulungnya itu.
"Nita mau kekamar Yah!" ucap Nita dengan nada lemah.
"Apa katamu? Kekamar? Apa pekerjaan mu sejak tadi? di kamar saja, tega kamu membiarkan ibu dan adikmu membersihkan rumah tanpa bantuan dari mu!" ucap Hendra yang kini sudah berada di hadapan Nita.
"Ayah tidak tahu kebenaraanya!" guman Nita dalam hati.
"Tadi Nita kecapean Yah, makanya Nita ketiduran!"
"Kamu selalu saja pandai dalam membuat alasan!"
"Nita tidak alasan Yah, tadi Nita benar benar kelelahan sepulang sekolah!" ucap Nita tertunduk takut.
__ADS_1
"Kenapa tadi kamu pulang terlambat?" tanya Hendra yang kini memasang kedua bola matanya melotot.
"Tadi angkutanya lama nyampai Yah!" ujar Nita.
"Kak Nita sih, tadi aku ajakin bareng di mobil aku ngk mau!" ucap Sasa pula yang kini sudah berdiri di sebelah ayahnya. benar benar wanita bermuka dua.
"Kenapa tadi pas adik kamu ngajaki kamu ngk mau? bilang saja tadi kamu lama bukan menunggu angkutan tapi kamu pergi main sama teman teman cowok mu itu!"
"Ayah, Nita tidak seperti itu, Nita tidak seburuk yang Ayah pikirkan, semoga kelak Ayah tahu dan mengerti posisi Nita sekarang dan kondisi Nita sejak pernikahan Ayah ini!" ucap Nita yang kini mulai meneteskan air matanya.
Gadis itu kini pergi meninggalkan ayahnya dan adiknya yang masih di tempatnya dengan berlari Nita pergi menuju kamarnya. Rasanya ucapan dan perlakuan yang orang rumahnya berikan kepadanya sudah tidak dapat lagi di bendung, perih sesak, semua sudah menjadi satu di dalam hati Nita.
"Anak itu sungguh keterlaluan!" ucap Hendra dengan tangan kanan yang sudah mengepal menatap kepergian putrinya itu yang masih melewati anak tangga satu persatu.
"Yah, sudahlah jangan terlalu memarahi Nita seperti itu!" ucap Ratna.
"Iya Ayah, Kasihan Kak Nita, tiap hari Ayah marahi mulu" sambung Sasa namun berharap Ayahnya itu tetap memarahi Nita. Ibu dan Anak ini memang tidak sejalan dengan ucapan dan tingkah lakunya.
"Anak itu sudah keterlaluan!" ucap Hendra lagi yang semakin geram.
"Tadi Ibu juga sudah nasehati Nita tapi ya gitu Yah, Nita bukanya mendengarkan malah dia melawan semua yang Ibu ingatkan padanya!" ucap Ratna yang semakin membuat situasi semakin panas dan membuat suaminya itu semakin membenci anaknya sendiri.
"Iya Yah, tadi disekolah juga aku sudah ingati Kak Nita biar ngk terlalu bergaul sama cowok tetapi responya sama kayak Ibu, Kak Nita malah bilang siapa loh ngatur gue?" ucap Sasa dengan nada yang terdengar kecewa.
Dengan amarahnya Hendra pergi meninggalkan istri dan anaknya, menaiki anak tangga satu persatu dan tangan yang masih mengepal dengan sempurna.
__ADS_1
Setelah kepergian Hendra Sasa dan ibunya yang licik itu saling bertatapan dan kemudian tertawa dengan sangat lebar seraya mengecaskan kedua tanganya dan setelah puas dengan tawanya ibu dan anak itu pergi mengikuti langkah ayahnya menuju kamar Nita.
Di dalam kamarnya, Nita menangis hebat dengan memeluk guling dan bantal yang di punyanya dengan posisi badan yang telengkup.
Dengan kuat Hendra mendobrak pintu kamar yang di kunci oleh Nita dan masuk dengan lanjang, di ikuti oleh Sasa dan Ratna yang sudah berada di belakangnya. Nita terpelongo menatap kehadiraan mereka apalagi dengan raut wajah ayahnya yang terlihat sangat murka. Apa yang sudah di katakan Ibu dan adiknya mengenai dirinya di hadapan ayahnya sehingga ayahnya bersikap seperti ini.
Plakkkkk!
Dengan kuat Hendra menampar pipi kiri Nita hingga merah dan menghempaskan tubuh anaknya itu kelantai dengan sangat kasar.
Sakit sudah tentu di rasakan oleh gadis itu namun, ia sendiri tidak bisa berbuat apa apa selain diam dan menerima semua perlakuan yang tidak menyenangkan yang ia dapat dari ayahnya sendiri.
Mulut Nita tak lagi dapat berkutik, hanya air mata yang dapat menjelaskan betapa sakitnya fisik dan batinya saat ini, fikiranya yang masih lelah memikirkan seluruh kejadian hari ini di tambah ayahnya yang dengan tega melukai fisiknya tanpa menaruh rasa iba padanya.
"Anak kurang ajar kamu!" murka Hendra dengan menendang tubuh Nita yang hampir saja kepala gadis itu terbentrok dengan dinding yang ada di dekatnya. Tubuh gadis itu terpental di lantai, nafasnya sudah tersenggal senggal.
"Ayah keterlaluan!" ucap Nita dengan tangisan yang sudah tersendu sendu, suara yang sudah habis dan tubuh yang gemetar akibat menahan luka yang sangat sakit di tubuhnya.
Lagi lagi karena tak ingin melawan ayahnya, Nita pergi menerobos Sasa dan Ratna yang berdiri bersampingan di depan pintu kamarnya dan pergi berlari sekencang mungkin.
"Anak durhaka kamu!" teriak Hendra yang memutar kepalanya melihat kearah mana anak itu pergi.
Tiba tiba saja malam itu petir datang begitu kuat seakan mewakili perasaan Nita saat ini di iringi air hujan yang begitu banyak mengalir dari langit menuju tanah. Nita terus berlari di tengah aspal tanpa merasa takut dengan cuaca yang sedang seperti ini dan gelapnya suasana malam.
"Ayah suatu saat kelak kau akan tau betapa hancurnya perasaan ku saat ini dan akan ku pastikan ayah akan meminta maaf pada ku atas apa yang telah ayah lakukan!"
__ADS_1
Nita berteriak sekuat mungkin, mengeluarkan sisa suara yang ia punya, matanya mengarah pada langit, harapan di tujukan pada sang Ilahi dan bulan bersama bintang yang menjadi saksi atas ucapanya barusan.
"Sampai kapan pun tidak akan ku lupakan perlakuan ayah ini!" teriak Nita lagi dengan dada yang mulai terasa sesak dan mulut yang sesekali menelan air hujan yang jatuh.