
Setelah membantu Sari menyiapkan bekal untuk Erwan dan membantu pekerjaan kecil yang di lakukan Sari. Nita segera bergegas menganti pakaianya dan berdandan serapi mungkin untuk mengantarkan makanan yang sudah di siapkanya untuk Erwan.
Terbiasa hidup sederhana membuat Nita terbiasa dengan hal hal kecil yang orang kaya lain belum tentu bisa melakukanya.
Nita berangkat kekantor Erwan dengan membawa selembar kertas yang Sari berikan padanya, sebagai petunjuk Nita kealamat majikanya itu, gadis itu pergi dengan menaiki sebuah angkot yabg tidak terlalu banyak penghuninya.
Sedangkan Refan, ia tidak hadir kesekolah hari ini sama seperti Nita karena kondisi Refan yang masih belum stabil dan sekarang ia masih di rawat di rumah sakit untuk memulihkan kondisinya yang hampir mengalami drop dan karena itu pula Danuar akhirnya menghubungi orang tua Refan dan melarikan Refan kerumah sakit.
Tubuhnya kini terbaring di atas ranjang rumah sakit di temani oleh Ibunya yang setia berada di sampingnya dan Danuar yang rela meninggalkan pekerjaannya demi menemani teman yang sudah di anggap seperti adiknya sendiri.
"Kapan kamu sadarnya Nak?" isak Martha melihat kondisi Refan yang semakin melemah dan wajahnya yang semakin pucat pasih, ketakutan kehilangan putranya itu sungguh sangat di khawatirkanya.
"Bangun Sayang!" isak Martha lagi. Air matanya kini benar benar membasahi wajahnya. Seno yang memiliki peran sebagai suami Martha langsung membawa kepala istrinya itu kedalam dekapanya setidaknya sedikit mengurangi kekhawatiran pada istrinya itu.
"Pah, gimana kondisi Refan sekarang?"
"Mama takut kehilangan Refan, Mama sayang sama Refan!"
Seno hanya tersenyum membalas ucapan istrinya itu karena ia sendiri pun, mungkin tidak akan sanggup jika harus kehilangan putranya itu, walau sering kali Refan memberi masalah pada keduanya.
Ketakutan terbesar dalam hidup Martha kembali terulang karena 3 tahun yang lalu, hal ini juga pernah terjadi pada Refan dan dokter bilang jika hal ini terulang kembali kemungkinan anaknya itu akan kehilangan usianya dan itu benar benar hal yang sangat di takuti oleh Seno dan Martha. Bagaimana jika hal itu benar terjadi?, berarti mereka harus kehilangan anak bungsunya.
Sebenarnya ketakutan yang di rasakan Seno jauh lebih besar daripada yang di rasakan oleh istrinya namun ia masih bersikap tegar di hadapan sosok wanitanya, karena ketika ia juga menampakan kekhawatiraan yang lebih dari pada istrinya akan membuat Martha semakin panik.
"Pah, Mah, adek kenapa?" tanya seseorang lelaki yang baru saja memasuki ruangan Refan di rawat dengan terburu buru dan menerobos pintu begitu saja tanpa meminta izin pada penghuni yang ada di dalamnya.
__ADS_1
"Adikmu, Nak?" aduh Martha yang langsung memeluk putra sulungnya yang baru saja menghampiri mereka.
Orang yang baru saja datang itu adalah Erwan yang merupakan anak pertama dari Seno dan Martha. Ia baru saja mengetahui kondisi Refan dari Danuar yang menghubunginya tidak lama ini dan ia langsung bergegas kerumah sakit dan meninggalkan seluruh pekerjaannya yang sudah menumpuk itu, karena baginya keluarga dan nyawa adalah segalanya dari apa pun itu, apalagi jika di bandingkan hanya dengan harta itu tidak akan memberikan nilai apa pun.
Dengan memeluk Mamanya, Erwan memperhatikan sekujur tubuh adiknya yang masih di infus. Aura kekar dan perkasa yang di milliki oleh Refan seakan semuanya lepas dari tubuhnya begitu saja, kini yang terlihat hanya hanya wajah lesu yang tergambar darinya.
Setetes air mata mengalir dari wajah lelaki itu seakan mengambarkan perasaanya saat ini. kenapa hal ini harus kembali terjadi pada adiknya?, pikirnya. Ia sudah membayangkan bagaimana hancurnya nanti ia ketika ia harus di tinggal oleh Refan.
Meskipun Refan adalah anak yang paling bandal dan sering membuat masalah di antara mereka tetapi ia sangat menyanyangi Refan. lantas sekarang apa yag harus di lakukanya agar kondisi Refan kembali kesedia kala?.
"Safa sudah di beritahu tentang hal ini?" tanya Erwan yang seketika mengingat sesuatu, setelah terjadi keheningan beberapa menit.
"Oh iya, aku lupa memberitahunya Kak!" ujar Danuar yang langsung merogoh sakunya dan mengambil telponya untuk memberitahu orang yang di maksud oleh Erwan.
"Tidak perlu, Safa tidak perlu tau hal ini, jika dia tau nanti dia akan terus kepikiran tentang Refan sedangkan ia sekarang harus fokus pada interviewnya!" ucap Refan yang mampu membuat Danuar kembali menyimpan ponselnya.
"Ma, Mama jangan pesimis gitu dong harusnya Mama harus semangat dan yakin kalau Refan itu pasti sembuh!" ujar Seno yang tidak menyukai ucapan istrinya itu.
"Iya Ma yang dibilang Papa itu benar karena semangat Mama adalah obat bagi Refan dan doa Mama adalah kekuataan baginya, tapi jika Mama tidak yakin seperti ini, bagaimana Refan dapat bertahan?" balas Erwan pula.
"Kamu ingatkan apa yang dokter itu katakan tiga tahun yang lalu, kamu tidak lupakan?" ucap Martha lagi yang kini menjauhkan tubuhnya dari Erwan dan menatap bola mata anaknya itu dengan sangat dalam.
"Ma, hidup dan mati itu ditangan Tuhan bukan Dokter dan ingat Ma, setiap manusia pernah melakukan kesalahan dan Erwan yakin pasti Dokter itu sedang melakukan kesalahan!" Erwan.
"Justru karena Refan pernah mengalami ini, tiga tahun yang lalu dia sanggup Ma dan Papa yakin kalau kali ini Refan pasti kembali bertahan!"
__ADS_1
.
Di dalam sebuah bangunan bernuasa pendidikan yang tak lain adalah sekolah. Sasa bersama kedua temannya di koridor kelas sedang menikmati kesepian yang tengah terjadi.
Di saat semua orang sedang mengikuti pembelajaran, Sasa justru bersama kedua temanya tidak memasuki kelas dan hal ini sudah biasa mereka lakukan dengan di temani beberapa makanan ringan, mereka tertawa dengan begitu riangnya saat Sasa menceritakan kebusukanya pada teman temanya.
"Sampe segitunya Sa, loh memperlakukan kakak tiri loh itu?" ucap Widya sembari mengemut permen tangkai yang di pegangnya.
"Parah sih loh Sa!" ujar Trisa dengan mulut yang terus mengunyah kripik pedasnya.
"Mau main main sama Sasa!" ucap Sasa dengan tatapan dan senyuman licik yang kembali terbit dari wanita bermuka dua itu.
"Jadi sekarang si Nita belum pulang juga dan ayah loh ngk ada nyariin si Nita sama sekali?" Trisa.
"Gimana mau nyari orang gue bilang Nita lagi nenangin diri di rumah Ninda, ntar kalau dia pulang pasti bakal di marahi lagi." jawab Sasa lagi dengan anggkuhnya.
"Terus ide gila itu gimana?" Widya.
"Ya pasti gue jalani lah apalagi Refan mau!"
"Hidup Nita benar benar kelar loh buat?" Trisa.
"Siapa dulu, Sasa!" sombong Sasa dengan mencolok sedikit hidungnya.
"Kramat betul hidup Nita sejak bokapnya nikah sama nyokap loh!" Widya.
__ADS_1
"Jelas dong karena nyokap gue mau nikah sama bokapnya diakan buat bahagiain gue dan gue ngk mungkin bisa bahagia kalau perhatian ayah masih terbagi buat Nita!"