
Malam ini menjadi saksi Nita telah menjadi anak durhaka dengan menyumpah orang tuanya. Sejak empat tahun kebelakangaan ini, Nita memang sudah tidak lagi mendapat kasih sayang dari ayahnya bahkan perlakuan adil sudah tidak lagi di temukanya sejak Sasa dan ibunya itu menginjakan kakinya di rumahnya, ia seakan menjadi sumber kesaalahan atas apa yang terjadi.
Nita terduduk di tengah aspal dengan hujan yang masih menguyur dengan derasnya. Ia memeluk lututnya dan memberikan ketenangan pada dirinya lewat air air hujan yang melintas di wajahnya.
"Aku benci takdirku!"
Kalimat terakhir yang Nita ucapkan sebelum akhirnya, ia terdiam diri meratapi nasibnya yang malang setelah kepergian ibu kesayanganya. Seakan semuanya pergi bersama kenangan masa lalu, Ayahnya memang masih hidup tetapi cinta dan kasih sayangnya sudah tidak lagi ia dapatkan dari sosok lelaki itu bahkan seluruh kebahagianya telah di rengut oleh ibu dan adik tirinya.
Tubuhnya yang masih terasa lemas karena hardikan ayahnya dan fisiknya yang semakin melemah karena di timpah air hujan membuat Nita menjatuhkan tubuhnya di jalanan yang sangat gelap dan banyak petir itu.
Nita terbaring di pinggir jalan dengan nafas yang semakin lemah, tubuhnya semakin mengigil dan wajahnya yang terlihat pucat.
Melihat seseorang yang tergeletak di jalanan seperti itu membuat seorang pengendara mobil berwarna hitam menghentikan kendraanya dan menghampiri Nita yang masih terbaring.
Lelaki dengan jas hitam yang melekat ditubuhnya itu membawa Nita kedalam mobil.
Lelaki itu membopong Nita kedalam rumahnya dan menidurkanya di atas sofa yang berada diruang tengah yang ada dirumahnya itu.
"Bi, Bi!" panggil lelaki itu pada art rumahnya.
"Iya Den," sahut wanita paruh baya itu dengan tertunduk dan lap yang masih berada dipundaknya.
"Bi, tolongkan gantikan pakaian wanita ini kasihan baju basah sekali!" ucapnya pada artnya itunya.
Wanita itu kini juga mengarahkan pandanganya pada Nita dan menatap tuannya itu dengan heran sekaligus curiga. Tumben sekali majikanya itu membawa wanita kedalam rumah apalagi dengan kondisi wanita yang di bawanya pingsan dan basah kuyup. Apa yang sebenarnya terjadi?.
__ADS_1
"Bi, jangan menatapnya seperti itu! kasihan dia kebasahan!" ucapnya lagi karena melihat pembantunya itu hanya menatap tubuh Nita penuh tanda tanya dan ia juga menatap majikanya dengan curiga.
"Dia siapa Den?" tanya pembantunya lagi sembari menunjuk kearah Nita.
"Erwan menemukan di tengah jalan Bi!" jawab lelaki itu.
"Ta.. tapi Den belum mengenal wanita ini!" ucapnya dengan sedikit gugup.
"Lakukan saja apa yang aku perintahkan Bi!" pinta lelaki bernama Erwan itu.
"Ba..baik Den!" balas artnya dengan bergegas meninggalkannya dan mengambil pakaian yang akan di gunakan untuk wanita yang sedang terbaring pingsan itu.
Setelah artnya datang dengan membawa pakaianya, Erwan pergi meninggalkan ruang tengah dan berjalan menuju kamarnya untuk menganti pakaianya dan memberikan waktu pada pembantunya itu untuk mengantikan baju Nita karena tidak mungkin jika ia masih di tempat ini.
Selepas menganti pakaianya, Erwan tak langsung menghampiri Nita, ia memilih untuk mengistirahatkan tubuhnya setelah seharian bekerja karena ia yakin pasti pembantunya itu dapat melakukanya dengan baik.
Setelah beberapa menit di dalam ruangan ini, Nita perlahan membuka matanya dan mengamati tempat keberadaanya, tempat yang sebelumnya tak pernah di datanginya. Siapa yang membawanya ketempat ini?, pikirnya.
Nita yang baru saja menyadari sedang di kompres mengawaskan kain yang berada di keningnya dan meletakanya di atas meja yang ada di dekatnya dan mendudukan bokongnya di atas sofa tempatnya tertidur barusan.
Nita masih saja memperhatikan sekelilingnya, bangunan yang terkesan gelap namun dengan nuasa mewah yang mampu membuatnya takjup dengan apa yang di lihatnya. Semua barang barangnya terlihat mahal dan tentu sangat jarang di miliki orang. Pasti pemilik rumah ini adalah orang kaya dan sangat disegani oleh orang lain, pikir Nita lagi.
Setelah beberapa menit dengan posisinya, Nita mulai merasa jenuh. Tak ada seorang pun yang datang menghampirinya. Ia sendiri tidak tahu apa yang harus di lakukanya, ia tidak mungkin langsung pulang sebelum mengucapkan terima kasih pada orang yang telah menolongnya dan ia juga tidak tahu arah pulang tetapi jika terus menunggu ia sudah merasa bosan.
Karena tak ada juga yang menghampirinya, Nita tertidur di sofa yang di dudukinya.
__ADS_1
"Den, Den, Gadis yang Den bawa sudah terbangun!" teriak art Erwan saat akan membersihkan meja dan sofa yang ada ada di dalam ruangan itu, sebelum melakukan kegiatan itu, art itu lebih dulu mengecek kondisi Nita apalagi saat melihat postur tubuh Nita yang berbeda dengan sebelumnya.
Nita yang mendengar suara terikan wanita paruh baya yang ada di hadapanya seketika terbangun dan kembali membenarkan posisi duduknya dan menatap wanita itu dengan sedikit ragu dan takut apalagi ia sama sekali tidak mengenali wanita itu.
Erwan walau berada di lantai atas masih dapat mendengar suara pembantuny. Ia langsung bangun dari tidurnya dan segera bergegas menuju ruangan di mana ia meletakan Nita.
"Dek, Adek sudah sadar?" tanya pembantunya itu yang kini duduk di sebelah Nita. Nita yang baru tersadar dari tidurnya masih merasa takut pada art itu, Ia malah sedikit menjauhkan posisinya dari wanita paruh baya yang ada di hadapanya. Art itu dapat melihat dengan jelas ketakutan yang sedang di alami Nita, ia tidak dapat merasa jengkel atau kesal pada gadis itu karena wajar saja jika gadis itu merasa takut pada orang yang baru di kenalnya.
"Kamu tidak perlu merasa takut dengan Ibu karena Ibu nanti yang akan membantu kamu memulihkan kembali suhu badan kamu!" ucap art itu dengan lembut. Nita yang mendengarnya hanya menganguk pelan.
"Kamu sudah sadar?" tanya Erwan yang baru saja sampai di antara keduanya dan melihat raut wajah ketakutan di wajah Nita hingga diakhir pertanyaanya ia merendahkan volume suaranya.
"Kalian siapa?" tanya Nita yang masih sangat ketakutan.
"Aku tadi menemukanmu di pinggir jalan dengan pakaian yang sangat basah. Apa kamu memiliki masalah?" tanya Erwan. Artnya yang mendengar pertanyaan yang di lontarkan majikanya segera mengarahkan pandanganya mengarah pada Erwan dan memberikan isyarat pada majikanya untuk tidak menanyakan hal itu.
Erwan yang mengerti dengan isyarat itu segera membungkam mulutnya. Ia paham maksud pembantunya itu karena jika ia menanyakan hal itu sama saja Erwan secara tidak langsung menanyakan hal yang menjadi privasi gadis itu sedangkan ia baru saja mengenalnya.
"Rumah kamu di mana Nak?" tanya pembantunya dengan lembut.
"Saya tidak mau pulang!" ucap Nita dengan nada yang terdengar masih trauma dengan apa yang baru di alaminya.
"Ibu siapa?" tanya Nita setelah beberapa menit terjadi keheningan di antara ketiganya.
"Saya art di rumah ini, nama Ibu Sari!" jawab wanita itu.
__ADS_1
"Saya Erwan!" ucap Erwan tersenyum.