Sepintas Tentang Mu

Sepintas Tentang Mu
Berita menyebar


__ADS_3

"Kak kok kaki Nita sakit ya?" tanya Nita ketika ia akan mengerakan kakinya.


"Masih sakit banget ya? kamu jangan banyak gerak dulu ya, kaki kamu masih dalam pemulihan!" ujar Erwan yang kembali meluruskan kaki Nita.


"Maafin Nita ya kakak jadi ngerepotin Kakak mulu!" ucap Nita sendu.


"Ini musibah Nit, ngk ada yang bisa disalahkan!"


"Tapi muka Kakak kelihatan banget kecapekan pasti karena aku,"


"Ngk Nit, adek Kakak sekarang juga lagi dirawat dirumah sakit setelah ditemukan tergeletak dijalanan dan ditimpa hujan deras juga sama seperti kamu!"


"Terus kondisinya gimana Kak?" tanya Nita antusias.


"Sekarang sudah membaik dan siuman kok Nita!"


"Aku mau dong Kak jenguk adik Kakak!"


"Nanti ya setelah kondisi kamu membaik!" ucap Erwan sembari mengelus rambut Nita dengan lembut.


"Adik Kakak pasti beruntung banget ya punya Kakak seperti Kak Erwan apalagi cewek Kakak pasti seneng banget!"


Erwan yang mendengar ucapan Nita hanya membalasnya dengan seuntai senyum yang dipunyanya dan kembali mengelus rambut gafis itu hingga berantakan.


"Kak berantakan tau!" ucap Nita dengan manja sembari merapikan kembali rambutnya.


"Nita, Anak ku!" teriak Hendra histeris tetapi matanya masih tertutup dan kepala yang menegeleng geleng sepertinya lelaki ini belum dapat menerima takdir yang sudah digariskan padanya bahwa ia harus kehilangan sosok anaknya seperti yang polisi itu katakan padanya.


"Pak, tenang Pak!" ucap Direktur Hendra memegangin dada bosnya itu.


"Seperti Pak Hendra akan mengalami depresi berat akibat kepergian putrinya!" ucap Sekretaris Hendra.


"Aku juga berkata seperti itu!" Menajer.


"Tapi ini sudah menjadi dan ketentuan baaagi Nita!" Direktur.


"Aku lebih setuju jika Nita tidak ada dan bahagia bersama ibu Nessa disurga daripada ia terus disiksa dan diperlakukan tidak adil oleh ibu Ratna!" Menajer.

__ADS_1


"Kamu tidak boleh berkata seperti itu!" Direktur.


"Tapi aku pernah menyaksikan Nita diperlakukan tidak baik oleh ibunya ketika Pak Hendra menyuruh saya mengambil berkas yang ketinggalan dirumah dan Nita itu adalah teman anak ku dan anak kujuga sering mengatakan Nita sering menangis dirumah karena ibu dan adim tirinya itu," Menajer.


"Sekarang kita doain yang terbaik saja buat Pak Hendra dan Nita!" Sekretaris.


"Itu lebih baik!" Direktur.


Sekarang hanya tiga staf yang tertinggal diruangan Hendra untuk mengurus segala kepentingan dan kesehatan Hendra sedangkan yang lain ikut membantu evakuasi mayat yang diduga adalah jenazah Nita.


"Mana anak ku?" tanya Hendra yang kini ia sudaj tersadar dari pingsanya dengan suara melemah dan memandang dinding ruanganya dengan tatapan kosong.


"Jenazah Nita sedang dievakuasi Pak!" Direktur.


"Untuk kedua kalinya aku harus kehilangan orang yang sangat aku sayangi dan Nita pergi meninggalkan ku dalam keadaan bersalah dan belum sempat meminta maaf," ucap Hendra sendu.


"Bapak yang sabar ya Pak!" Sekretaris.


"Kejadian yang sama pada Nesa kini juga terjadi pada Nita dan semua ini salah ku!" teriak Hendra dengan air mata yang berlinang dari pipinya.


"Tetapi jika saat itu aku percaya pada anak ku mungkin ini tidak akan terjadi dan Nita masih bersamaku!" Hendra.


"Sebaiknya ini Bapak jadika pelajaran bagi Bapak dan jangan sampai terulang kembali!" Direktur.


"Yah, Ayah, Kak Nita kenapa Yah?" tanya Sasa yang baru memasuki ruangan Hendra bersama Ratna dengan membawa tas sandang setelah menanyakan ruangan Hendra dirawat pada suster suster yang dilewatinya.


"Yah, Nita kenapa Yah?" tanya Ratna dengan air mata yang sudah membasahi wajahnya dan air mata itu sudah ia buat sebelum memasukin ruangan Hendra, tepatnya didepan pintu masuk ruangan Hendra, tentunya Sasa juga melakukan hal yang sama.


"Yah, Kak Nita kenapa Yah?" tanya Sasa lagi dengan menguncang guncangkan tubuh Hendra yang masih terbaring diatas ranjang.


"Maaf Non, bukanya saya lancang tetapi sebaiknya  Tuan jangan dipaksa dahulu karena kondisi Tuan juga belum stabil dan baru sadarkan diri!" Direktur.


Peringatan Direktur ini memang tidak dibantah oleh Sasa tetapi ia langsung dihadiahi tatapan tajam oleh Ratna, sang wanita bermuka dua membuat Direktur itu hanya dapat menunduk dan Sekretaris Hendra malah menatap Ratna dengan tatapan tidak suka, hal yang sama juga dilakukan oleh menejer Hendra.


"Ayah, Kak Nita baik baik ajakan?" tanya Sasa yang kini menatap Hendra dengan wajah pilunya dan mata merah seakan meminta jawaban pasti dari ayahnya itu.


"Kalian bisa diam tidak?" bentak Hendra.

__ADS_1


Hendra langsung bangkit dari ranjangnya dan membuka infus yang menganjal ditangan dan segera pergi dari ruanganya.


"Pak, tapi kondisi Bapak belum stabil!" cegah Direktur itu yang ikut berlari mengejar Hendra.


"Aku hanya ingin melihat kondisi anak ku!" jawab Hendra dengan suara tertekan.


"Tapi kondisi Bapak dan jantung Bapak?"


"Anak ku lebih penting dari segalanya!"


Tanpa mengubris mereka Hendra melangkahkan kakinya keluar dari ruangan dan berniat untuk kembali menumemui yang katanya adalah jenazah Nita dan Direktur yang setia menemainya mengikuti langkah Hendra dari belakang karena ia tidak ingin sesuatu buruk semakin terjadi pada bosnya itu karena ia tau jika bosnyabitu dalam masalah ia akan meluapkan amarahnya pada jalanan dengan menancapka setir mobilnya.


"Ini semua karena kalian!" ucap Sekretaris Hendra menatap Ratna dan Sasa dengan sinis dan kemudian ikut keluar dari dalam ruangan.


"Kalau kalian tidak rusuh pasti Tuan tidak akan senekat ini!" sinis menajer itu pula yang ikut keluar dari dalam ruangan.


"Bu, kok mereka malah nyalahin kita?" kesal Sasa menatap wajah Ratna.


"Tunggu saja mereka nanti akan ibu buat juga menyesal atas apa yang telah mereka ucapan!" ucap Ratna penuh dendam


"Ibu harus nyuruh Ayah buat mecat mereka jika tidak mereka akan menjadi penggangu buat kita apalagi sekretaris ayah pasti dekat dengan ayah dan memberitahu semuanya!" Sasa.


"Kamu betul tapi sekarang kita harus mengikuti mereka dulu jika tidak mereka akan semakin membenci kita!"


"Iya Bu!"


Hendra duduk dikuri sebelah supi yang dikendarai oleh Direkturnya dan Seertaris bersama menajernya duduk dikursi belakang sedangkan Sasa dan ibunya mengikuti mereka dari belakang mengunakan mobil pribadai milik Sasa.


"Bu, bagaimana jika Nita beneran meninggal?" tanya Sasa sembari mengendari mobil yang dibawanya.


"Bukanya itu informasi baik?" tanya Ratna yang merasa heran dengan pertanyaan putrinta itu.


"Kalau dia tidak ada siapa nanti yang akan membereskan dan merapikan rumah?"


"Kan kita bisa nyewa pembantu!" Ratna.


"Aku tidak mungkin memberitahu ide ku ini pada Ibu jika aku berniat menikahkan Refan dengan Nita yang ada ibu nanti tidak setuju," pikir Sasa yang semakin binggung dan bimbang.

__ADS_1


__ADS_2