Sepintas Tentang Mu

Sepintas Tentang Mu
Trauma itu belum hilang


__ADS_3

Beruntungnya Nita selepas turun dari angkot yang di naikinya, ia melanjutkan perjalananya mengunakan ojek yang tak jauh dari angkot itu berhenti dan tukang ojek itu tau alamat yang Nita maksud dan mengantar Nita kekantor Erwan dengan selamat.


Nita memandangi kebesaran bangunan yang ada di hadapanya, bangunan yang bertingkat yang sangat besar dan luas, bekerja di tempat sebesar ini merupakan salah satu bagian dari impianya.


Nita terus saja menatap bangunan itu dengan takjub, Ia jika di lihat seperti orang yang tidak punya dan mampu, padahal perusahaan yang di pimpin oleh ayahnya juga tidak kalah besar dengan kantor yang di miliki Refan.


Seketika ingatan Nita tentang ibunya dahulu terlintas di benaknya. Perih rasanya jika mengingat hal itu dan sudah lebih dari tujuh tahun ia tidak pernah lagi mengunjungi perusahaan ayahnya, sejak kejadian. Di mana ia menjatuhkan Sasa dari tangga atas hingga tergelinding kelantai bawah dan membuat Sasa saat itu harus melakukan operasi dan sejak itu pula perhatian ayahnya secara drastis tertuju pada Sasa dan melupakan dirinya.


Nita menghembuskan nafasnya panjang, ia sudah tidak mau lagi untuk mengingat kejadian yang akan menyayat hatinya dan ia memilih untuk memasuki kantor Erwan dan mencari sosok lelaki tampan itu.


"Mbak numpang tanya, ruangan kak Erwan di mana ya?" tanya Nita dengan sopan pada salah satu Karyawan yang bekerja di kantor itu dengan mengunakan blazer hitam dan membawa beberapa berkas yang ada di tanganya.


"Pak Erwan, Ceo perusahaan ini Mbak?" tanya orang itu dengan pula dengan sopan.


"Di sini yang namanya Erwan ada berapa Mbak?" Nita.


"Dua Mbak, satu Ceo di perusahaan ini dan satunya adalah Cleaning Servis di kantor ini"


"Pak Erwan Ceo, Mbak!"


"Ruangan pak Erwan ada di lantai atas Mbak, silahkan naik saja dan nanti akan ada tulisan yang tertera diatas dengan bacaan 'Ruang Ceo' Mbak silahkan masuk saja!" ucap Karyawan itu.


"Dan Mbak hanya bisa naik keatas mengunakan tangga mati karena lif kita lagi mengalami kerusakan dan akan melakukan perbaikan nanti siang Mbak!"

__ADS_1


"Baiklah, Terima kasih Mbak!" ucap Nita dengan menundukan kepalanya.


"Ya sama sama Mbak, saya bisa kembali bekerja Mbak?"


"Iya Mbak silahkan!" ujar Nita dengan tersenyum.


Nita kini sudah berhadapan dengan tangga yang di maksud oleh karyawan itu, Nita benar benar ragu untuk menaikinya, rasa trauma yang di alaminya tujuh tahun yang lalu masih melekat di ingatanya.


Nita terus menatapnya dengan tatapan kosong dan ketakutan, trauma itu masih ada, ketakutan itu masih besar dalam hidupnya. Sejak kejadian itu Nita sudah tidak pernah lagi menaiki tangga kantor. jangankan, untuk menaiki tangganya bahkan ia sendiri sudah tidak pernah lagi masuk kedalam perusahaan besar mana pun termasuk perusahaan ayahnya sendiri.


"Kamu harus jatuh sekarang!" ucap Sasa yang hendak mendorong Nita dari anak tangga pertama. Sasa dan Nita kini berada di lantai ke tiga dan berada di atas anak tangga yang cukup tinggi.


"Sasa, aku takut!" teriak Nita yang berusaha untuk menolong dirinya dengan menarik ujung baju yang di pakai oleh Sasa, Sasa berusaha untuk melepas gengaman tangan Nita dari bajunya dan semakin berniat untuk menjatuhkan Nita.


"Nita takut Bu!, Nita anak Ibu jugakan?" ucap Nita yang semakin mengeratkan peganganya dan kini ia juga menarik rok yang di pakai Ratna.


"Lepas!"


Dengan kasar Ratna menghempaskan tangan Nita namun, keberuntungan kini tertuju padanya dan kemalangan tengah menghampiri Sasa anak kandung Ratna, tanganya yang di gunakanya untuk menghempaskan Nita mengenai bokong Sasa karena memiliki tubuh yang ramping pada saat itu Sasa langsung terhempas kelantai bawah.


Sasa tergelinting di tingginya anak tangga, Nita menatapnya dari atas dengan terkejut. Ia tidak menyangka harusnya ia yang ada diposisi Sasa sekaranh, tapi kini posisi itu di gantikan oleh orang yang akan mencelakainya seperti senjata makan tuan.


Ratna yang melihat tubuh anaknya tergelinting dengan darah yang sudah mengalir di kepalanya segera menuruni anak tangga satu persatu untuk menghampiri anaknya yang sudah tergeletak di lantai.

__ADS_1


Nita masih berdiam diri di tempatnya, di usianya yang masih kecil, ia tidak tau apa yang harus di lakukanya dan ia hanya bisa menatap Sasa yang sudah di lumuri oleh darah dan Ratna yang sudah terisak di atas tubuh Sasa.


Namun sialnya kali ini keberuntungan sedang tidak berpihak padanya, ayahnya datang menghampirinya dengan masih membawa tas kerja hitamnya, ayahnya langsung membuang tas itu sembarang arah dan berlari untuk menolong Sasa.


Sasa di larikan kerumah sakit dan membiarkan Nita seorang diri di dalam kantor itu tanpa ada yang mempertanyakan kondisinya dan apa penyebab hal ini terjadi.


Di saat seperti itulah ada salah satu oknum yang mengambil kesempatan, ia mengambil tas yang di buang oleh Hendra dan mengambil berkas berkas penting perusahaan yang ada di dalamnya dan di saat itu pula perusahaan yang di pimpin oleh Hendra mulai mengalami kebangkrutan secara perlahan karena dokumen penting dan rahasia kantor ada di dalam tas kerjanya itu.


Setelah kondisi Sasa pulih tak seorang pun yang menanyakan kejadian sebenarnya padanya. Ayahnya juga sangat irit bicara padanya dan bahkan lebih sering memarahi dan membanding bandingkan dirinya dengan Sasa.


Penyebab kemiskinannya saat itu semua di berikan pada Nita dan menganggap hal ini terjadi karena Nita, sebelum Sasa sembuh Ratna, Ibu tirinya Nita sudah memberitahu kejadian yang tak benar yang sudah menimpa putrinya yang membuat Hendra membenci anaknya sendiri.


Ratna mengatakan bahwa Nita sangat tidak menginginkan pernikahannya dengan ayahnya yang akan menambah beban bagi ayah dan dirinya. Maka Nita berniat jahat dan menuanangkanya pada Sasa dengan mencelakai Sasa dan berusaha untuk melenyapkaanya dan bodohnya ayahnya sangat mempercayai perkataan dusta yang sudah ibunya itu lontarkan.


Nita menghapus buliran air mata yang sudah mengalir di wajahnya saat mengingat memori memori yang pernah di laluinya itu. Rasanya ia masih sangat takut untuk menginjakan kakinya untuk melewati anak tangga.


Namun karena mengingat niatnya datang ketempat ini, Nita memberanikan diri untuk melewatinya dengan sangat hati hati Nita melangkahkan kakinya perlahan.


Dan naas. sepertinya kejadian tujuh tahun lalu kini terjadi padanya karena masih memiliki ketakutan akan hal itu, Nita berjalan dengan tertunduk dan tiba tiba saja seorang wanita berbadan gemuk melewatinya dan menabraknya hingga terjatuh dan tubuhnya juga mengelinding hingga lantai bawah namun, untungnya luka itu tidak mengenai kepala Nita.


Wanita itu hampir saja melarikan diri dan tak ingin bertanggung jawab atas Nita namun karena ada seseorang yang menyaksikan kejadian itu segera meneriakinya dan alhasil orang itu mau membantu Nita.


Nita di bopong tubuhnya oleh beberapa orang dan di letakanya di atas kursi tunggu yang tak jauh dari mereka.

__ADS_1


__ADS_2