
Tubuh Nita di bopong dan segera di larikan kerumah sakit terdekat oleh beberapa karyawan yang melintas di tempatnya terguling, namun karena rumah sakit terlalu jauh dari kantor ini, ia akhirnya hanya di bawa kepuskesmas dan hanya mendapat perawatan seadanya dan dengan fasillitas yang kurang memadai.
Kondisi Nita bisa di bilang cukup parah dan mengakhwatirkan karena bagian tangan dan kakinya sangat banyak mengeluarkan cairan merah yang dapat menyebab Nita kekurangan darah.
Nita segera di tangani dengan alat seadanya dan ruangan yang di bilang cukup sempit bagi kalangan atas seperti dia namun, karena kondisi tubuhnya yang masih belum stabil tubuhnya belum bisa di bawa ketempat yang lebih jauh karena kalau melakukan perjalanan jauh lagi akan membuat luka Nita semakin parah.
Hendra yang masih terus di hantui rasa khawatir pergi meninggalkan kantor dan segera kembali kerumah untuk memastikan kondisi Nita dan untuk melihat putrinya itu sudah pulang atau belum.
'
Dengan mengendarai mobil sedan putih yang di punyanya Hendra melajukanya di atas rata rata dan melewati segala sesuatu yang menghalang perjanananya begitu saja.
Sesampainya di rumahnya Hendra tak mendapati Istri dan anaknya dan sudah dapat di duga jika jam segini pasti Sasa sedang sekolah dan mengikutin pembelajaraan yang sedang berlangsung, lalu kemana istrinya?, sebelum berangkat bekerja Ratna tidak ada mengucapkan kalimat izin padanya untuk keluar, tetapi mengapa sekarang istrinya tidak berada di rumah?, kemana ia?. Apakah hal ini sudah biasa terjadi tampa sepengetahuan dirinya?.
Sudah di telusurinya seluruh bagian rumahnya namun, tak juga di temukanya istrinya bahkan tanda tandanya saja tidak ada, kondisi rumah yang sangat berantakan dan kotor membuat Hendra semakin menaruh curiga pada Ratna. Kenapa di aaat Nita pergi meninggalkan rumah tidak ada pekerjaan rumah yang selesai. Apa selama ini ucapan manis yang di ucapan saja, mereka hanya omongan belaka dan tidak ada kebenaranya dan yang selalu membersihkan dan merapikan rumahnya adalah anak yang selalu dimarahi dan di hukumnya, pikir Hendra.
Tak mau berdebat dengan fikiranya Hendra kembali kepekarangan rumahnya dan menyalahkan mobilnya untuk kembali mencari Nita karena saat ini pikiranya tidak tentang Nita sudah tidak dapat dibohongi ia merasa sangat khawatir pada putri sulungnya.
Beberapa bawahanya mulai di hubungi Hendra untuk mencari Nita termasuk dengan mengunjungi rumah Ninda, namun yang di temuimya di dalam rumah itu hanya sosok pembantu yang ada di rumah Ninda dan pembantu Ninda mengatakan kalau Ninda sedang sekolah dan Nita belum pernah datang kerumah Ninda seminggu belakangan ini.
Perasaan Hendra semakin tidak karuan, kemana anak ku? hanya itu yang terlintas di benaknya sekarang. Dan mengapa anak kesayanganya Sasa mengatakan kalau Nita berada di rumah Ninda sedangkan Nita sudah seminggu ini tidak mengunjungi rumah sahabatnya itu siapa yang membohongi?.
__ADS_1
Hendra menghentikan mobilnya di tepi jalan yang terbilang cukup sepi, ia membanting setirnya berulang kali dan berteriak tidak jelas untuk meluapkan penyesalanya dan kini ia juga menyenderkan kepalanya di atas setir mobilnya. Perasaanya benar benar hancur. Bagaimana jika hal buruk terjadi pada Nita dan bagaimana jika anaknya itu sudah tidak mau lagi menginjakan kakinya di dalam rumahnya karena perlakuanya semalam. Apa ia sanggup kehilangan anak satu satunya itu dan bagaimana dengan janji janji yang telah diucapkanya dahulu pada Nessa, istri pertamanya untuk menjaga Nita dengan baik dan tidak mengurangi perhatianya pada Nita meskipun ia akan menikah lagi. Entahlah sekarang ia benar benar di hantui oleh perasaan bersalah.
Kesana kemari sudah di jalankanya mobilnya namun, jejak Nita tak kunjung di temukanya dan satu pun bawahanya tidak ada yang menemukan tanda tanda keberadaan Nita.
Sesampainya di dalam rumah orang tuanya, Erwan berlari sekencang mungkin menuju lantai atas dan memasuki ruangan yang menjadi kamar Refan. Erwan membuka pintu kamar Erwan mengunakan kunci duplikat yang di punyanya dan di sana benar saja ucapan Danuar, Erwan melihat begitu banyak foto wanita dengan orang yang sama yang terpajang dengan rapi di dinding dinding kamarnya.
Erwan memandangi foto orang itu betapa terkejutnya ia melihat foto itu, foto itu adalah foto salah satu mantan yang mengkhiatinya dahulu dengan alasan mereka tidak akan mungkin bersama dengan usia mereka yang terpaut cukup jauh.
Erwan hanya dapat menelan ludahnya, bagaimana bisa adiknya mencintai gadis yang dulu pernah berselingkuh darinya. Dan bagaimana caranya untuk memberitahu Refan bahwa, ia sedang mencintai orang yang salah sedangkan ia tau bagaimana adiknya itu ketika sudah menyukai wanita, ia rela melakukan apa pun dan tidak mau mendengar cerita buruk yang orang lain katakan tentang gadis itu.
"Sudahlah, semua orang bisa berubah termasuk Sasa!" gumam Erwan pada akhirnya.
"Siapa?"
Suara itu harus kembali di dengar Erwan dari orang yang paling di bencinya di dunia ini, padahal dulu ia berharap agar tidak lagi berjumpa dengan sosok Sasa yang sudah menyakitinya.
"Gue Erwan, masih ingat guekan?" ujar Erwan yang berusaha untuk bersikap normal karena jika ia menampakan ketidaksukaanya pada gadis itu pasti nanti Sasa tidak mau bertemu dengan Refan, apalagi cinta Refan padanya bertepuk sebelah tangan.
"Ada apa?"
Suara sombong yang kembali muncul di telinganya tapi, kali ini ia harus benar benar menahan emosinya demi kesembuhan Refan.
__ADS_1
"Gue mau jumpa sama loh!"
"Kenapa belum move on?" tanya Sasa dengan posisi yang masih berada di dalam koridor sekolah bersama kedua temanya itu dan dua temannya itu juga ikut menguping pembicaraanya dengan Erwan dengan mendekatkan telinga mereka dengan handphone yang di pegang oleh Sasa.
"Jangan geer, ada hal penting yang harus aku sampaikan!" ucap Erwan.
"Jumpa di mana mau mu?" tanya Sasa dengan angkuhnya.
"Rumah Sakit Putra Perwira tepatnya di kantinya, segera, tidak pakai lama dan jangan membuang waktu ku!" ucap Erwan yang langsung mematikan sambungan telponya secara sepihak.
"Kebiasaan nih laki laki, sudah minta tolong terus main matiin gitu aja, nyuruh cepat pula, bisa bisanya gue sama dia dulu." ujar Sasa mematikan ponselnya dan memasukannya kembali kedalam sakunya.
"Tapi kalau dipikir pikir kenapa ya dia ngajak loh tiba tiba jumpaan di rumah sakit pula, jangan jangan mantan loh itu mau bunuh diri ya atau dia sudah bunuh diri karena loh tapi ngk mati." ucap Widya yang nada awalnya terdengar serius dan akhirnya yang di sertai tawa yang begitu renyah yang dapat membuat Sasa dan Trisa ikut tertawa.
"Sudah jumpai dulu sebelum mati beneran tuh orang!" Trisa.
"Jangan lupa vidion lumayan buat konten, hitung hitung nambah followers!" Widya.
"Judulnya berakhirnya hubunganku maka berakhir pula usiaku!" Trisa.
"Gi*a loh pada!" ucap Sasa dengan mengeleng pelan kepalanya dan berjalan mendahului kedua temannya.
__ADS_1