Sepintas Tentang Mu

Sepintas Tentang Mu
Kecurigaan itu mulai muncul


__ADS_3

Siang kini telah berlarut, senja telah berlalu, kini malam datang berlabuh, namun ia tetap saja tidak menemukan keberadaan anak sulungnya. Fikiran dan badan Hendra mulai terasa lelah dan menyakitkan, ia merasa gagal menjadi seorang ayah hingga tidak mengetahui keberadaan putrinya.


Lelah seharian ini dan tambah kebohongan yang di terimanya membuat Hendra semakin stres dengan harinya, ia memutuskan untuk pulang dan menemui istri dan anaknya di rumah.


Sesampainya di rumah sama seperti tadi, ia masih tetap tidak menemukan istri dan anaknya, kemana mereka?. pikirnya lagi. Hendra mendudukan bokongnya di atas sofa yang berada di dalam ruang keluarga dan menyenderkan kepalanya di sofa itu dan menghembuskan nafasnya perlahan.


"Kemana lagi aku harus mencari Nita?" ujar Hendra dengan nafas lelahnya.


"Sasa dan Ratna pun sedari tadi tidak kutemui di rumah, kemana mereka?" ucap Hendra lagi dan kini matanya menatap sebuah foto yang tergantung rapi di dinding, foto yang menampakan dirinya enam tahun belakangan ini bersama kedua putri dan istrinya.


Hendra mulai mendekati foto itu dan menatapnya dengan jelas, tanganya yang mulai menyentuh gambar wajah Nita, rasanya saat ini ia benar benar merindukan anaknya itu, tak terasa air matanya mengalir begitu saja melihat figura keluarganya itu.


"Di mana kamu sekarang Nak?" isaknya yang kini sudah memeluk bingkai foto itu.


Setelah melepas pelukanya, Hendra mencium foto bagian wajah Nita dan dengan seksama ia memperhatikan raut wajah Nita. Perlahan kecurigaanya terhadap anak tiri dan istrinya itu kembali muncul sangat jelas di raut wajah Nita tidak ada kebahagian yang muncul di wajahnya di dalam foto itu.


Sedangkan di foto itu tampak Sasa dan ibunya yang tersenyum lebar, tapi Nita tampak seperti di tekan dan senyum yang di paksa, perlahan pula Hendra juga membaca ekspresi yang tergambar di wajah mereka.


Tetapi penyesalan sudah tidak berarti apa apa baginya, karena sekarang ia hanya dapat menyesali apa yang sudah terjadi padanya, anaknya pergi entah kemana tanpa sepengetahuan darinya dan juga karena ulahnya pula.


Hendra membawa foto itu dan kembali duduk di atas sofa yang sebelumnya di dudukinya dan membawa foto itu kedalam dekapanya hingga tertidur pulas.


Jam menunjukan pukul 10.30 Ratna baru saja sampai kerumah dengan membawa tas belanjaan yang berisi banyak atasan dan bawahan dan juga beberapa sepatu yang baru di belinya.

__ADS_1


Ratna mulai merasa panik, jam segini suaminya sudah berada dirumah, biasanya suaminya berada di rumah sekitar jam 11.00 atau 11.30 atau bahkan tidak pulang dan mengapa hari ini ia pulang begitu cepat?. dan bahkan sekarang ia sedang tertidur dengan memeluk foto.


Dengan langkah kecil dan sangat berhati hati Ratna berjalan menuju kamar Sasa agar kehadiranya tidak di dengar oleh suaminya dan Hendra tidak terbangun sebelum ia menyimpan seluruh belanjaan yang sudah di belinya karena jika suaminya ini melihatnya pasti suaminya akan berfikir buruk tentangnya. Nita belum kembali tapi, ia bisa berangkat kemall hanya sekadar untuk merasakan kesenangan tanpa memikirkan Nita yang keberadaanya saja tidak di ketahui.


Setelah menaruh seluruh belanjaanya di dalam kamar Sasa, Ratna kembali menuruni anak tangga dan menghampiri suaminya dari arah pintu masuk rumah setelah menghembuskan nafas panjangnya.


"Yah, Ayah kok tidur di sini?" tanya Ratna dengan menepuk pelan pundak Hendra.


Merasakan sentuhan di bagian tubuhnya Hendra terbangun dan membuka matanya perlahan dan mulai menerawang orang yang berdiri di depanya dan mengumpulkan kesadaranya secara sempurna serta meletakan bingkai foto yang di pegangnya di atas sofa yang tadi di dudukinya


"Dari mana kamu?" tanya Hendra dingin dan menatap bola mata istrinya itu dengan sangat dekat.


"Aa... aku tad..tadi mencari Nita!" jawab Ratna ketakutan dengan pertanyaan yang suaminya itu lontarkan, apalagi dengan tatapan intens itu karena ia tau jika Hendra sudah melakukan hal itu pertanda lelaki itu sedang marah.


"It.. itu.. Yah.. itu.. Yah itu!"


"Itu apa?" tanya Hendra kini volume suaranya membesar dan semakin menatap Ratna dengan tajam dan Ratna yang mendapat perlakuan itu hanya dapat tertunduk takut.


Sasa yang baru saja berada di depan rumahnya, mulai menginjakan kakinya pelan, agar kehadiranya tidak di ketahui oleh siapa pun, apalagi ayahnya karena jika ayahnya tau pasti ayahnya itu akan marah besar padanya.


Hendra adalah sosok seorang lelaki dan ayah yang sangat membenci, jika melihat seorang wanita pulang hingga larut malam, apalagi jika itu terjadi pada istri dan anak perempuanya, maka ia tidak segan segan untuk memarahi bahkan ia juga sering menghukumnya jika itu terjadi agar memberi efek jera bagi sang pelaku.


Sasa juga membuka sepatunya agar suara injakan itu benar benar tidak ada dan sangat memperhatikan sekelilingnya untuk memastikan benar benar tidak ada orang yang melihatnya.

__ADS_1


Namun, karena terlalu fokus melihat kearah belakang dan samping, Sasa tidak lagi melihat keberadaan ayahnya yang sudah berada di depanya dan hampir saja gadis itu menabrak tubuh Hendra yang berukuran lebih besar darinya.


"Dari mana kamu?"


Suara besar yang sangat familiar di telinganya, jantung Sasa benar benar di kejutkan oleh suara itu dan ia langsung mengarahkan pandanganya pada orang yang berbicara itu, dan ketakutan yang di takutkan benar benar terjadi, kini ayahnya berada di hadapanya.


"Dari mana kalian?" tanya Hendra dengan mengulang pertanyaan yang sama dan kini melangkahkan kakinya beberapa langkah kedepan.


"Tadi Sasa habis kerja kelompok Yah!" jawab Sasa tertunduk takut tampa berani melihat wajah Hendra.


"Kamu dari mana Bu?" tanya Hendra kini matanya mengarah pada Ratna yang sudah berdiri di sebelah Sasa.


"Apa kamu masih mau menjawab habis mencari Nita?" tanya Hendra yang kini memalingkan wajahnya dari Ratna dan kini penglihatanya secara tajam mengarah pada Sasa.


"Pembelajaraan apa yang menyuruh murid hingga pulang larut malam begini?" Hendra.


"Di mana kamu mencari Nita tadi dan informasi apa saja yang kamu dapat tentang anak ku?" tanya Hendra yang kini matanya mengarah pada langit dinding yang ada dalam ruangan ini.


Sasa dan Ratna kini hanya dapat terdiam dan mulutnya seketika membisu mendadak, keduanya hanya bisa tertunduk takut karena ini pertama kalinya Hendra semarah ini pada mereka dan kali ini mereka tidak dapat mengarahkan amuk Hendra ini biasanya setiap mereka di marahi mereka akan selalu membawa Nita kedalam kesalahan yang mereka perbuat dan alhasil yang di marahi adalah Nita bukan mereka, tetapi sekarang mereka sudah tidak dapat mengelak dan mengatakan apa pun.


"Kalian pergi sejak pagi tadi dan pulang hingga malam begini, mau jadi apa kalian?"


"Yah, tadi Ibu perginya sorean makanya pulangnya malam!" jawab Ratna yang masih sempat sempatnnya berbohong.

__ADS_1


__ADS_2