
Di dalam rumah sakit Sasa bersama kedua temanya langsung memasuki bagian kantin, namun di tempat itu mereka tidak menemukan Erwan, biasanya siapa yang mengajak jumpa maka ia yang lebih dulu menunggu tetapi hal itu tidak berlaku bagi seorang Erwan.
Sembari menunggu kehadiran Erwan, Sasa bersama temanya memesan minuman botol yang di jual dikantin itu, tetapi belum sempat meminum minumannya Erwan keburu dan datang menghampiri mereka.
"Ayo!" ajak Erwan yang baru saja sampai di hadapan mereka dan langsung menarik tangan Sasa agar segera menemui adiknya tampa memberitahu dahulu pada Sasa.
"Apaan sih, ngk usah pegang pegang kali!" ucap Sasa dengan jijik dan menghempas tangan Erwan dan melingkar di pergelanganya.
Erwan yang sudah lebih dulu merasa ilfil pada gadis itu semakin tidak menyukai Sasa, ia berusaha untuk menahan dirinya agar tidak emosi dan berusaha untuk menetral dirinya
"Belum move on ya, gitu amat!" ucap Trisa dengan sinis dan melipat kedua tanganya dan di letakanya di atas dadanya.
"Serah loh pada yang penting sekarang kalian ikut gue!" ucap Erwan yang langsung berjalan mendahului mereka.
Sesuai perintah dari Erwan, ketiganya mengikuti langkah lelaki yang ada di depan mereka. Erwan menghentikan langkahnya di sebuah ruangan yang sebelumnya sudah pernah di masukinya sebelumnya.
Sasa menatap ruangan itu dengan heran. Mengapa Erwan membawanya kedalam ruangan ini?.
"Ayo masuk!" ajak Erwan yang mulai melangkahkan kakinya untuk memasuki ruangan itu.
"Ini siapa yang sakit?" Widya.
"Ikut aja entar Sasa juga bakalan tau kok!" Erwan.
Masih berada di depan pintu, Sasa sudah dapat mengenali siapa orang yang sedang terbaring di atas kasur itu. Betapa terkejutnya Sasa melihat tubuh Refan yang sangat lemas di atas kasur. Apa yang sudah terjadi padanya?.
Sasa kemudian mengarahkan pandanganya pada Erwan. Mengapa Erwan membawanya kesini, Apa mungkin Refan memberitahu pada Erwan kalau dirinya menyuruh Refan untuk menikah dengan Nita dan ada hubungan apa antara Refan dengan Erwan. Apa mereka memiliki hubungan darah?.
__ADS_1
Berbagai pertanyaan muncul di benak Sasa dan orang tua yang berdiri di sebelah ranjang Refan sudah pasti orang tua Refan dan pasti orang tuanya itu akan menyalahkan lalu. Apa yang harus di katakanya?. Ketakutan benar benar sedang terjadi padajyam
Otaknya di paksa berfikir, dia tidak tau yang harus di katakanya, jika nanti orang tua Refan menanyakan sesuatu padanya dan apa yang harus di jawabnya.
"Sini Sa!" ajak Erwan ramah yang kini sudah berdiri di sebelah Martha, Mamanya.
Dengan ragu ragu Sasa mendekati dengan Erwan berharap agar tidak seorang pun yang mengetahui ide licik yang sudah di buatnya dan orang yang ada di dalam rumah sakit ini pasti akan membenci dirinya ketika mengetahui hal itu.
"Refan kenapa Bu?" tanya Sasa yang berusaha untuk tidak menampakan ketakutanya.
"Kondisi Refan drop setelah di temukan hujan hujanan di jalan!" ucap Martha dengan sendu dan mata yang terus mengarah pada tubuh Refan.
"Kamu ini siapanya Refan?" tanya Martha pula yang kini menatap wajah Sasa.
Sasa hanya membalasnya dengan senyum tipis di bibirnya, ia tidak tau apa yang harus di katakanya, pasti ibu Refan akan memarahi dan memakinya habis habisan karena ia kondisi Refan menjadi seperti ini.
"Jawab saja Sa!" ujar Erwan tanpa memandang kearah Sasa yang tampak ketakutan.
"Dari tadi Refan belum sadarkan diri dan dia selalu menyebut nama kamu. Apa kamu pacarnya?" tanya Seno yang kini ikut dalam pembicaraan mereka yanh sejak tadi hanya terdiam.
"Apa? Refan nyebut nama gue terus, sesayang itu dia sama gue? gue harus manfaatkan kesempataan ini dan rencana gue harus berhasil!" gumam Sasa licik. Wanita kini dapat bernafas lega setelah mendengar penuturan dari Papa Refan.
"Saya dan Refan hanya sebatas teman Om!" jawab Sasa tersenyum.
"Tapi, kalau benar kamu adalah pacar Refan, Ibu setuju kok!" ucap Martha yang kini berdiri berhadapan dengan Sasa dan mengelus pelan punggung gadis itu.
Mendengar ucapan Mamanya, mata Erwan seketika membulat sempurna dan langsung mengarah pada Sasa yang tampak tertunduk layaknya seorang gadis polos yang tidak mengerti apa pun, sungguh bermuka dua.
__ADS_1
"Ibu bisa saja!" balas Sasa dengan senyum malu malu yang di bibirnya.
"Ngk pantas Ma!" ucap Erwan dengan ekspresi tidak suka.
"Kamu ngk boleh bilang begitu Wan, bagaimana pun adikmu sangat mencintai dia!" ucap Seno yang langsung merangkul pundak anak sulungnya itu karena ia melihat ada aura kebenciaan yang terpancar dari wajah anaknya itu.
"Sasa boleh lihat kondisi Refan, Bu?" tanyanya lagi dengan begitu sopan dan halus.
"Silahkan Nak!" jawab Martha.
Sasa mengengam tangan kanan Refan, seakan memberi kekuataan dan semangat bagi Refan agar segera sadar dan mengelus rambut Refan dengan begitu lembut seakan memberikan kasih sayang dan perhatian pada Refan agar lelaki itu segera siuman dan sadar dari pingsanya yang di bilang sudah cukup lama.
Martha yang melihat adanya ketulusan yang di berikan Sasa pada Refan ikut merasa senang dan tersenyum melihat hal itu, bahkan kini wanita paruh baya itu berharap jika Sasa yang akan menjadi pacar Refan.
Sedangkan Erwan terus saja menatap tak suka pada Sasa. Bagaimana pun ketulusan yang Sasa tunjukan padanya tetap tidak akan bisa menghapus kebencianyaa pada gadis yang telah menyakitinya dan ia sangat yakin kalau kelak Refan akan merasakan hal yang sama denganya jika masih mencintai Sasa.
Perlahan mata Refan mulai terbuka dan kesadaraanya mulai memulih dan betul saja saat melihat orang yang ada di depanya, Refan langsung ikut membalas gengaman tangan Sasa yang sudah melingkar di pergelangan tanganya.
Senyum bahagia semakin terbit di bibir Martha apalagi saat melihat Refan yang sudah sadar dari pingsanya. Haru tentu di rasakanya begitu besar cintanya pada gadis yang baru saja menemuinya dengan hanya mengengam tanganya Refan langsung tersadar.
Melihat hal itu Seno langsung memeluk tubuh istrinya dan air matanya kini mengalir dari wajahnya. Ia juga beranggapan sama dengan Martha kalau Sasa memiliki hati yang tulus pada Refan makanya Refan langsung tersadar.
Erwan, ia tidak tau harus merasakan senang atau sedih, di satu sisi ia senang melihat adiknya yang sudah semakin membaik, tetapi di sisi lain ia tidak menyukai jika Refan karena memiliki perasaan yang terlalu besar pada Sasa karena Sasa bukanlah gadis yang tepatnya baginya dan Erwan juga sudah lebih dulu mengenal Sasa dan mengetahui watak asli mantanya itu.
Menyadari tatapan ketidaksukaan itu dari Erwan, Sasa membalas tatapan itu dengan tatapan sinis dan seolah merendahkan Erwan yang tidak berguna sebagai kakak dan menganggap, jika tanpa dirinya mungkin Refan belum sadar yang membuat kesombongan pada gadis itu semakin menjadi.
Refan terus memandangi wajah gadis yang di cintainya, jika seperti ini terus maka, ia rela jika harus sakit agar ketika ia terbangun ia langsung dapat melihat wajah cantik yang di miliki Sasa.
__ADS_1