
Jam menunjukan pukul 02.23, namun Nita belum kunjung juga kembali kerumah Erwan, membuat Sari menaruh khawatir padanya,.sedangkan Nita berangkat untuk mengantarkan makanan sudah sejak pagi tadi, tetapi mengapa sudah jam segini gadis itu belum juga kembali?. Apa yang sudah terjadi padanya.
Sejak pukul 12.03 tadi Sari sudah menunggu kehadiran Nita di pintu gerbang menuju rumah Erwan,.namun sepertinya tanda tanda kehadiran gadis itu saja tidak ada dan Erwan sebelum berangkat bekerja sempat berpesan kalau tuan besar akan datang sewaktu makan siang, tapi sampai sekarang kedatanganya juga tak juga kelihatan.
Bolak balik sudah Sari di depan gerbang, namun seperti kehadiraan orang yang diharapkan sudah tidak mungkin hadir.
"Apa mungkin Nita pulang kerumahnya tapi kenapa dia tidak izin terlebih dahulu? Apa yang harus kukatakan nanti jika Den Erwan bertanya tentang dia?"
Sari benar benar sudah di rundung rasa ketakutan akan di marahi oleh majikanya, tetapi bukan hanya hal itu yang menjadi ketakutanya, tetapi juga bagaimana nanti jika hal buruk terjadi pada Nita. Dia tidak akan mungkin bisa memaafkan dirinya jika hal itu terjadi karena sejak awal ia tidak melarang Nita untuk datang kekantor Erwan dan membiarkan Nita kesana seorang diri tanpa di temani dirinya sedangkan Nita belum mengetahui tentang kawasan kawasan daerah ini.
Karena tak ingin hal itu terjadi Sari terpaksa memberanikan diri untuk menghubungi Erwan untuk memberitahu keberadaan Nita yang sudah tidak ada di rumah dan ia juga takut nanti ketika Erwan pulang pemuda itu tidak melihat kehadiran Nita.
"Halo Den, Nita tidak ada dirumah Den!" ucap Sari yang sudah kepanikan, mendengar nada suara Sari yang sudah seperti benar benar ketakutan, ia langsung keluar dari ruangan Refan agar orang tuanya tidak mengetahui kalau ia membawa seorang gadis kedalam rumahnya dan jika orang di situ mendengar pembicaraannya akan membuat seluruh orang di situ menjadi khawatir.
"Emang tadi Nita kemana Bi?" tanya Erwan ikut panik dan kini sudah berada di kursi tunggu yang berada di luar ruangan Refan di rawat.
"Tadi Nita berniat buat ngantar bekal makan siang sebagai bentuk terima kasihnya untuk Den, tapi sampai sekarang Nita belum kembali Den, tuan juga sedari tadi belum nyampai!" aduh Sari melalui sambungan telponya.
"Mama dan Papa sama aku, Bi karena sekarang Refan di rawat dirumah sakit dan baru sadar!"
"Apa Den Refan masuk rumah sakit lalu, bagaimana kondisinya sekarang Den?"
"Alhamdulillah sekarang sudah baikan dan Refan sudah sadarkan diri jadi, Bibi ngk perlu khawatir!"
"Tapi, Bibi khawatir sama Nita, Den, bagaimana sekarang kondisinya?, Bibi jadi menyesal telah membiarkanya pergi seorang diri!"
"Bibi ngk usah khawatir!, sekarang akan aku cari Nita dan aku juga akan kembali membawa Nita dengan keadaan baik, sekarang Bibi tunggu saja di rumah!" Erwan.
"Baik Den!"
__ADS_1
"Yasudah kalau begitu Bi, sudah dulu biar aku selesaikan semuanya!"
"Iya Den!"
Selepas itu Erwan langsung mematikan ponselnya dan menyimpanya kembali kedalam sakunya, setelah itu ia berlari keluar dari rumah sakit untuk mencari keberadaan Nita tanpa permisi pada orang yang masih berada dalam ruangan Refan.
Erwan melajukan mobilnya menuju kantor miliknya, setelah sampai di parkiran pribadinya, Erwan kembali mengambil ponselnya dan menghubungi salah satu staf yang bekerja di kantornya untuk mengumpulkan seluruh karyawan dan pegawai kerja lainnya.
Erwan turun dari mobilnya dan segera menghampiri tempat karyawan yang sudah berkumpul dan tak perlu waktu lama, seluruh Karyawan dan Stafnya yang lain sudah berkumpul.
"Silahkan Pak, semuanya sudah berkumpul di sini!" ucap salah satu pria yang ada di situ setelah Erwan sudah berada di antara mereka.
"Baikah saya tidak ingin basa basi dan saya juga akan langsung to the point, mengapa saya mengumpulkan kalian di sini karena saya ingin bertanya pada kalian. Apakah tadi ada seorang gadis asing yang datang kekantor ini dengan membawa bekal?" tanya Erwan yang mulai menatap mereka satu persatu dengan intens.
"Dan gadis itu menanyakan tentang saya."
Seluruh Karyawan itu kini saling pandang satu sama lain, saling melempar tatapan dan mengelengkan kepala pertanda tidak mengetahui sosok yang di maksud oleh bosnya itu.
"Ada Pak, gadis itu tadi menanyakan ruangan Bapak dan setelah saya menunjukanya saya sudah tidak tau lagi kemana gadis itu!" ucap staf wanita yang sempat di tanya oleh Nita sebelum ia terjatuh dari tangga.
"Lalu kemana dia sekarang?"
Seluruh karyawan kembali saling lempar pandang, tak ada satu pun di antara mereka yang berani mengatakanya, setelah mendengar jawaban salah satu staf tadi, mereka tau siapa yang bos mereka maksud, tetapi melihat ekspresi bosnya yang tampak cemas, tidak ada dia di antara mereka yang berani mengatakanya karena tampak kekhawatiran yang besar di raut wajah Erwan.
"Kemana dia sekarang?" tanya Erwan dengan volume suara yang lebih tinggi dari sebelumnya karena ia merasa di sepelekan oleh bawahan dengan tidak menjawab pertanyaanya.
"Dia terjatuh di tangga tadi Pak!" jawab seseorang lelaki dengan seragam seorang Ceaning Servis sambil tertunduk.
"Lalu sekarang di mana dia?"
__ADS_1
"Dia ada di puskesmas depan Pak!" jawab sekretaris Erwan.
Mendengar jawaban sekretarisnya, Erwan langsung pergi meninggalkan seluruh karyawan untuk mendatangi tempat yang mereka maksud.
"Sekarang semua kembali bekerja!" ucap Direktur yang di perintah oleh Erwan untuk mengumpulkan mereka.
Mereka semua memang bubar dan kembali ketempat masing masing, tetapi mulut mereka juga ikut bekerja membicarakan sikap bosnya itu yang di nilai memiliki kekhawatiran berlebihan pada gadis yang tadi memasuki kantor tempat mereka bekerja.
"Nambah lagi nih saingan gue!" ucap sekretaris Erwan dengan wajah cemberutnya.
"Tapi gue yakin sih itu orang spesial bagi Pak Erwan!" ucap satu di antara mereka.
"Tapikan Pak Erwan sudah punya pacar,"
"Iya namanya juga laki laki apalagi orang kayak Pak Erwan sudah ganteng, tajir pula siapa yang ngk mau sama beliau?"
"Gue juga mau kali jadi selingkuhanya!"
"Tapi setahu gue sih Pak Erwan itu setia banget walau pun dia itu kaya!"
"Tapikan loh ngk tau aslinya, kita ini cuma karyawanya jadi, cuma tau luarnya doangnya!"
"Lagi pula mana mungkin selera Pak Erwan sama gadis kayak tadi gayanya aja culun banget!"
"Tapi gadis tadi punya aura cantik tau mungkin, tertutup saja sama culunya!"
"Walaupun dia cantik tapi kalau ngk tau cara bergaya tetap aja dia kelihatan kampungan dan mana cocok sama Pak Erwan yang hidup serba modern jadi ngk mungkin!"
"Sudah, sudah intinya Pak Erwan itu cocoknya sama gue bukan sama pacarnya apalagi gadis tadi!" ucap Sekretaris Erwan dengan bangganya.
__ADS_1
"Idih, sok loh!"
Setelah pergibahan itu selesai, para staf wanita Erwan kembali kekursinya masing masing untuk melanjutkan kembali pekerjaanya yang sempat tertunda.