
"Nita, Mama disini Nak!" ucap seorang wanita paruh baya dengan mengunakan gaun putih yang menutup seluruh bagian tubuhnya kecuali wajah dan telapak tanganya. Wanita itu berjalan pelan menghampiri Nita dengan telapak tangan terbuka yang diluruskan kearah depan dan sejajar dengan arah wajah Nita.
Nita ingin meletakan tanganya diatas tangan itu dan mengengam erat tangan itu, namun wanita itu keburu menutup tanganya dan membelakangi Nita.
"Ma, tungguin Nita!" teriak Nita yang terus menatap wanita itu yang mulai menjauh darinya dan kini yang terlihat hanyalah punggung belakangnya yang ditutupi oleh gaunya. Perlahan tangan Nita mulai menurun dan diletakanya bersebelahan tanganya.
"Gengam tangan Mama, setelah kamu membawa Ayah kesini!" ucap wanita itu yang kemudian menghilang entah dari mana seperti ditelan bersama gelapan yang sedikit ditutupi oleh asap yang berwarna keputihan coklat.
"Mamaaaaaaa!" teriak Nita kencang dengan mengelengkan kepalanya berulang kali dengan cepat dan mata yang masih tertutup.
"Kamu kenapa Nak?" tanya Sari yang mendengar teriakan Nita dan langsung memasuki kamar Nita yang tidak dikunci serta menghampiri Nita yang masih tertidur diatas ranjang.
"Jangan tinggali Nita, Ma!" ucap Nita yang semakin menguatkan gelengan kepalanya dan kini tanganya sudah mengengam tangan Sari yang sudah duduk ditepi ranjangnya.
Sari mengecek suhu badan Nita dengan meletakan telapak tanganya tanganya terbalik dikening Nita, suhu badan Nita menaik, bukan hanya wajahnya tetapi bagian tubuh lainya juga terasa panas.
perlahan Nita mulai membuka matanya dan menumbuhkan kembali kesadaranyaa dan menatap sekitarnya dengan tatapan kosong serta tangan yang masih mengengam tangan Sari dengan erat.
"Kamu kenapa Nak?" tanya Sari sembari menataap wajah Nita dari dekat dan Nita hanya mengelengkan kepalanya sebagai jawabanya.
"Kamu kenapa Sayang?" tanya Sari lagi dengan mengecek kembali suhu badan Nita yang panas badanya mulai menurun dan untuk kedua kalinya Nita mengelengkan kepalanya sebagai jawabanya.
Melihat hal ini Sari perlahan mengerti apa yang sedang dialami oleh Nita bisa ditebaknya pasti gadis ini baru saja bermimpi hingga berteriaak menyebut orang yang dimimpikanya itu dan pasti Nita sedang memiliki rindu yang sangat berat pada orang itu hingga terbawa ketidurnya.
__ADS_1
Sari langsung membawa Nita kedalam dekapanya dan memeluknya dengan sangat erat dan memberikan seluruh kasih sayang dan kehangatanya pada Nita.
"Mama Nita sudah tenang disana, sekarang tugas Nita hanya mendoakan Mama saja!" ucap Sari ditengah tengah pelukanya itu.
"Nita kangen Mama!" lirih Nita.
"Kamu yang sabar ya!" ucap Sari lagi sembari mengelus punggung belakang Nita dengan lembut.
Dan hari ini juga merupakan hari pemakaman bagi jenazah yang dianggap adalah jenazah Nita setelah melakukan beberapa penyidikan terhadap kasus ini untuk menangkap sang pelaku dan memberikan hukuman yang setimpal.
Jenazah yang dianggap adalah jenazah Nita mulai dimasukan kedalam keranda dan dijunjung oleh beberapa orang dan diikuti oleh Hendra bersama empat stafnya dan juga Ratna serta Sasa yang mengikutinya dari belakang.
Ratna dan Sasa berada pada posisi paling belakang diantara mereka dengan sesekali senyum yang terbit diantara mereka saat melihat jenzah itu mulai dibawa kepemakaman dan disiap untuk dikebumikan.
"Nita, Anak ku!" tangis Hendra sembari mengusap wajahnya mengunakan handuk yang berada dilehernya saat menuju pemakaman Nita.
"Yang sabar Pak, Nita sudah tenang!" ucap menajer Hendra dengan menepuk pelan punggung Hendra yang tidak memberikan rasa apa apa pada pria yang tengah mengalami duka itu.
"Anak ku Nita!" teriaknya kali ini histeris saat mendengar suara suara orang yang membaawa keranda Nita semakin kerasa saat melantunkan nama kebesaraan yang diatas.
Orang orang yang membawa keranda mulai menghentikan langkahnya didepan sebuah lubang persegi panjang yang sudah siap diisi. Ada diantara mereka yang mulai membuka keranda.
Sebelum tubuh Nita dimasukan kedalam lubang itu, Hendra lebih dulu mengintip kedalaman lubang itu dari atas.
__ADS_1
"Jangan masukan anak ku kedalamnya dia takut gelapan!" teriak Hendra dengan menatap orang orang yang ada disekitarnya satu persatu.
"Pak, Nita sudah tiada!" ucap Direktur Hendra dengan lembut. Hendra menengang sejenak mendengarnya dan tubuhnya kembali melemah dan tidak dapat berdiri kembali dengan tegak.
Dengan bantuan Menajer dan Direkturnya, Hendra dapat berdiri dengan dirangkul oleh keduanya dan sekretarisnya yang sibuk menghubungi rekanya untuk mengantarkan kursi roda secepatnya kepemakaman Nita karena tidak mungkin juga Direktur dan menajer itu dapat menjunjung tubuh Hendra hingga pemakaman selesai.
Setelah penuturan Direkturnya itu, Hendra menjadi diam dan tak mengatakan apa pun lagi serta air matanya sudah tak dapat lagi keluar akibat terlalu banyak menangis, kini ia hanya dapat menatap anaknya untuk dimakamkan dengan tatapan kosong dan setengah sadar.
Tak lama setelahnya rekan sekretarisnya itu pun datang dengan membawa kursi roda dan mereka segera mendudukan Hendra diatas kursi itu.
Pemakaman usia, pemanjataan doa juga kian usia, perlahan satu persatu orang mulai berpulangan dan beberapa aparat polisi juga sudah meninggalkan pemakaman. Kini yang tersisa tinggalag Hendra bersama keempaat stafnya dan anak berserta istrinya.
Air mata itu kembali mengalir setelah beberapa waktu terjeda, sepertinya Hendra mulai kembali tersadar bahwa putrinya sudah tiada dan tidak dapat ditemuinya lagi.
"Yang tenang disana ya Nak!" tangis Hendra lagi dengan tangan yang masih menabur bunga diatas tanah yang menutupi tubuh Nita.
"Pak, iklaskan Nita agar dia bisa tenang!" ucap Sekretaris Hendra.
Sedangkan Sasa mulai merasa gatal dibagian kakinya yang mulai digigiti oleh nyamuk dan dengan kaki sebelahnya pula Sasa mengaruknya, Sasa sebenarnya mulai merasa bosan berada ditempat ini dan ingin segera meninggalkan pemakaman ini, namun tidak mungkin ia kembali kerumah sendiri dan tidak bersama ayahnya bisa jadi nanti orang orang akan menyadari kalau ia dan ibunya senang dengan kepergian Nita untuk selamanya dan Sasa tidak ingin hal itu terjadi.
"Yah, biarkan Nita pergi dengan tenang!" ucap Ratna yang kini sudah berdiri disebelah hendra dan menyinggirkan Sekretaris Hendra yang sempat ingin berdiri disebelah suaminya dan menatap Sekretaris Hendra dengan sinis dan tak suka.
Sekretarisnya yang paham dengan arti tatapan itu dan mengerti sesama wanita segera menjauhkan tubuhnya Hendra dan berdiri disebelah Direktur Hendra. Bukan hanya Ratna tetapi Sasa juga ikut ikutan menatap Sekretaris itu dengan sinis.
__ADS_1
Sekretarisnya itu hanya dapat mengehela nafas panjang melihat kelakuaan ibu dan anak ini, rasanya ingin sekali sekretaris itu menarik dan menjambak Ratna berserta anaknya ini, namun ia belum memiliki hal dan bukti bahwa mereka terllibat dalam kematian Nita ini.