Serigala Itu Suamiku

Serigala Itu Suamiku
Episode 1


__ADS_3

Yuana Aurora, Gadis berusia 20 tahun yang memiliki paras cantik dan menawan. Diusianya yang genap 20 tahun dan masih sangat muda dia terbilang sukses meniti karir dari nol hingga sekarang.


Hidup Ana terbilang pelik dan menyedihkan, saat usianya yang masih muda sudah ditinggal orang tuanya selamanya.


Dimanja hingga usia 14 tahun membuat hidup Ana yang kehilangan orang tuanya terpukul keras dengan kenyataan bahwa orang yang selalu menyayanginya dan memanjakannya telah pergi.


Saat itu ana sangat terpuruk dan mengerti bahwa orang yang yang akan menemani kita tidak akan selamanya ada di samping kita. Kita harus siap kapanpun untuk ditinggal


Untung saja masih ada nenek yang sedia menemani ana dan menyemangatinya. Walau harus banting tulang karena harta warisan orang tua ana diambil oleh pamannya yang serakah.


Nenek ana tidak suka hidup di kota karena menurutnya itu berisik. Sejak itu ana tinggal bersama nenek nya dikampung.


" Nenek ana pulang!" ucap ana yang sudah berada didepan pintu rumah kayu yang terbilang kuno.


Sebenarnya dulu ana ingin merenovasi rumah ini karena ada bagian yang agak rusak terutama jendela kamar nenek dan pintu yang terbilang bobrok tapi nenek tidak mengijinkannya katanya rumah ini adalah pemberian kakek dan khususnya jendela, pintu dan kamar dan banyak bagian adalah hasil karya kakek. Ini adalah salah satu kenangan berharga untuk nenek yang sangat mencintai kakek. Jadi Nenek tidak mengijinkan dan dibiarkan saja.


" Ana akhirnya kamu pulang sayang " Nenek menyambut hangat kepulangan cucu tersayangnya. Ana tersenyum senang melangkah maju dan memeluk neneknya.


Senang rasanya pulang ketempat orang terkasih Satu satunya yang masih memberi kehangatan dan dukungan tidak ada habisnya untuknya setelah orang tuanya


" Bagaimana dengan pekerjaanmu? " Nenek memeluk dan mengelus pelan rambut ana dengan sayang


"Pekerjaan baik nek walau kadang banyak kendala " Ana menghela nafas pelan.

__ADS_1


bersyukur walau banyak rintangan tapi sejauh ini masih bisa dihadapi, terkadang ana frustasi dengan banyaknya masalah yang dia hadapi, tapi ana sangat bersyukur ada nenek yang selalu menguatkan disampingnya yang membuat ana bertahan hingga sekarang.


" Ana ku memang hebat, tapi kesehatan lebih penting jadi sebanyak apapun masalahnya jangan lupa jaga selalu kesehatan. dan sejauh ini ana adalah yang terbaik!" ucap nenek dengan sayang, inilah yang selalu ana rindukan untuk neneknya. memeluk hangat dan memberi dukungan yang selalu ana butuhkan.


" Ana mengerti nek " ana tersenyum senang dan memeluk nenek dengan haru.


" Nenek baru saja masak SOP kesukaan kamu, ayo makan" Nenek menarik ana ke meja makan yang sudah berisi lauk pauk seperti SOP ayam, tempe goreng, aneka lalapan dan nasi.


Semua adalah menu kesukaan ana dan nenek, walau ana dulu hidup bergelimang harta di kota tapi soal makan kesukaan ana dan orang tuanya persis seperti ini, banyak aneka lalapan dan jauh dari kata mewah.


Setelah makan, ana duduk berdua dengan nenek di ruang tamu sambil membongkar oleh oleh yang dia bawa untuk neneknya dan nenek dengan senang hati menerima hadiah dari cucu kesayangannya.


Dulu pernah nenek tegur agar tidak usah membawa lagi, karena nenek tau ini adalah kerja keras sang cucu, dan tidak membebani ana. tapi ana sedih dan bersikeras ini untuk nenek bukan orang lain dan perkataan ana membuat nenek tidak lagi menolak hadiah sang cucu kesayangannya.


Keesokan harinya, sinar matahari belum tampak, langit biru dengan kabut tipis menghiasi pegunungan dan langit semilir angin yang bertiup menggoyangkan dahan pepohonan yang menyebabkan embun menetes membasahi rerumputan yang basah. bunga-bunga bermekaran Dengan Indah kicauan burung- burung yang hinggap bertengger di dahan - dahan memecah kesunyian pagi hari.


Ana seketika terbangun dari tidur lelapnya. sinar matahari yang menembus jendela kamar bersama angin sejuk berhembus pelan membelai tirai yang bergoyang membuat nya tersibak lembut oleh hembusan angin segarnya.


Ana bangkit dari tempat tidur meregangkan tubuh dan melangkah ke depan jendela dan menyibak lembut tirai yang bergoyang dan melihat pemandangan pegunungan yang tidak bosan-bosannya dia lihat.


Setelah melihat pemandangan pagi, Ana melangkah ke kamar mandi untuk mandi dan gosok gigi. setelah mandi ana melangkah keluar dan berjalan ke dapur dan benar saja nenek sudah menyiapkan sarapan pagi. ana melangkah mendekati nenek dan memeluk nenek dari belakang sambil tersenyum senang.


" Pagi nenek " ana tersenyum senang saat memeluk manja sang nenek.

__ADS_1


" Pagi sayang " Nenek balas memeluk ana. Saat sedang sarapan ana memberitahu nenek bahwa dia akan pergi melihat kebunnya yang sudah lama tidak dia lihat.


Itu adalah kebun buah buahan dan bunga yang ana tanam dengan sepenuh hati, diwaktu ana tidak ada kebun akan dirawat oleh pak Harto yang juga warga desa, kenapa tidak nenek? karena medan di sana agak sulit dan nenek juga sudah tua, nenek pernah membantah bahwa nenek masih bisa merawatnya tapi ana tidak mengijinkan.


Setelah sarapan ana mengganti pakaiannya dengan pakaian yang nyaman. Dengan celana jeans dan atasan kaos hitam longgar dan sepatu boots nya. ana berangkat dengan membawa pisau yang bersarung di pinggangnya.


Awalnya nenek ingin ikut tapi karena semalam hujan membuat jalanan licin dan medannya yang berada di kaki gunung ana tidak ingin nenek terjatuh jadilah ana pergi sendiri.


Ana berjalan dengan pelan sambil menyapa warga desa yang berlalu dan mungkin akan pergi bekerja. setelah sampai di kebun ana melihat buah buahan yang segar dan tumbuh dengan subur, sepertinya pak Harto menjaga nya dengan baik.


Saat sedang mengamati, ana dikejutkan dengan teriakan seseorang yang arahnya ada dari hutan. Tanpa pikir panjang ana berlari kesana dengan cepat dan melihat seorang wanita sedang bergelantungan di pinggir jurang sambil menangis.


" Tolong! tolong aku! " wanita itu terisak memohon meminta tolong saat melihat ana yang mendekat.


" Mbak tahan bentar, ayo pegang tangan ana mbak " ana berjongkok dan mengulurkan tangan kepada wanita itu, dan dengan gemetar wanita itu menangkap tangan ana.


" tolong! aku takut!! " Wanita itu melihat kebawah dan terus menerus gemetar ketakutan masih terus terisak dan ana dengan sekuat tenaga menarik wanita itu keatas.


" Mbak pegang yang kuat, jangan takut " ana masih menarik dengan kuat dengan tangan kanannya sedangkan tangan kiri memegang erat akar pohon di dekatnya menjaga agar tubuhnya tidak ikut terserat saat menarik wanita itu.


setelah perjuangan yang menguras tenaga akhirnya wanita itu selamat dan ikut terbaring di tanah dengan ana yang terengah engah. wanita itu masih memejamkan mata dan terus gemetar ketakutan.


" Mbak bangun mbak " ana bangkit dan memegang pelan bahu wanita itu, dan selanjutnya yang tidak ana sangka dan mungkin penyesalan terbesar ana dalam hidupnya adalah menyelamatkan wanita ini.

__ADS_1


Mohon dukungan untuk karya pertamaku ya......☺️


__ADS_2