Sherlyta

Sherlyta
Chapter 16


__ADS_3

Sherlyta, Arini dan Samsul duduk di kursi tunggu yang berhadapan dengan ruang IGD dengan cemas. Doa tak henti ketiganya lantunkan untuk keselamatan Samuel. Di dalam perjalanan tadi Arini sudah meminta Sherlyta menghubungi Cesil untuk menyampaikan kabar ini pada calon menantunya itu. Sherlyta melakukan permintaan Ibu keduanya itu meskipun dengan berat hati.


Satu jam kemudian Cesil sampai dengan raut wajah panik dan juga khawatir. Perempuan berwajah judes yang kini tengah cemas itu langsung menghampiri Arini, dan memeluk tubuh Arini, air mata Cesil mengalir deras dengan dibarengi dengan suara isakannya.


Arini mengelus lembut punggung perempuan yang sebentar lagi akan menjadi menantunya untuk menenangkan. Pemandangan itu tidak lepas dari tatapan sayu Sherlyta, ada rasa sakit yang timbul dihatinya, melihat kedekatan Cesil dengan Arini.


“Ayah, Lyta pamit ke toilet dulu ya,” ucap Sherlyta pada laki-laki paruh baya yang duduk di sampingnya itu. Laki-laki yang masih terlihat segar di usia tuanya itu mengangguk mengizinkan.


Sherlyta bangkit dari duduknya, menatap sekilas pada dua perempuan beda generasi yang tengah saling memeluk untuk saling menguatkan itu, lalu tatapannya beralih kearah pintu dimana Samuel tengah ditangani oleh Dokter dengan tatapan cemas.


“Sam, gue pergi dulu sebentar. Panggil gue jika lo butuh gue. Lo kuat Sam, dan gue yakin lo gak apa-apa,” ucap Hati Sherlyta sebelum akhirnya melenggang pergi.


Setelah membasuh wajahnya, Sherlyta keluar dari toilet tersebut dan mengambil ponsel dari dalam tasnya, menghubungi Gita untuk mengatakan bahwa dirinya tidak pulang malam ini karena ingin menemani Samuel di rumah sakit.


Beruntung ini bukanlah rumah sakit tempat Alvian bekerja dan tempat dirinya dirawat dulu, jadi Sherlyta tidak perlu khawatir Dokter muda itu akan menanyakan kesiapan dirinya untuk melakukan pengobatan. Setelah tahu apa yang akan terjadi pasca operasi nanti, Sherlyta menjadi bimbang antara penyetujui atau menolak, karena yang Sherlyta pikirkan toh dirinya nanti akan tetap mati juga, melakukan atau tidaknya pengobatan yang di sarankan Alvian.


Dalam gelap dan dinginnya malam, di taman belang rumah sakit Sherlyta termenung, memikirkan nasib kehidupan kedepannya, juga memikirkan tentang hubungannya dengan Samuel yang di jalaninya secara diam-diam. Sherlyta mencintai Samuel, sangat-sangat mencintai laki-laki itu. Sepuluh tahun adalah bukti kesetiaannya, meskipun saat itu belum ada ikatan diantara keduanya.


Sherlyta ingin menghabiskan sisa hidupnya bersama laki-laki itu, tapi ia juga tidak ingin menyakiti Cesil yang menjadi sahabatnya. Entah setan mana yang saat itu merasuki dirinya hingga mengiyakan ajakan Samuel untuk menjalin kasih. Namun Sherlyta tidak menyesali keputusannya.


Dengan cepat perempuan bermata sipit itu bangkit dari duduknya dan berlari menuju ruangan dimana Samuel berada kini. Samsul baru saja mengirim pesan pada Sherlyta memberi tahu bahwa Samuel sudah dipindahkan ke ruang perawatan.


“Ayah, bagaimana keadaan Sam?” Tanya Sherlyta dengan napas ngos-ngosan akibat berlari.


“Sam, baik-baik aja, sayang. Kamu kan tahu anak laki-laki ayah itu kuat. Kecelakaan segitu bukan masalah buat dia,” ucap Samsul tersenyum. Sherlyta menatap tidak percaya lalu beralih bertanya pada Arini yang duduk di tengah-tengah antara Samsul dan Cesil. Matanya masih terlihat sembab meskipun sudah tidak ada air mata yang mengalir.

__ADS_1


“Kaki kanan Sam patah, dan wajahnya terkena pecahan kaca, beruntung matanya tidak terkena pecahan itu karena Samuel terlindungi oleh kaca mata yang dipakainya. Sherlyta menghembuskan napas lega, meskipun raut khawatir itu masih mendominasi.


“Sudah bisa di jenguk belum?” ketiga orang itu mengangguk bersamaan. Tanpa mengucapkan apapun lagi Sherlyta masuk kedalam kamar rawat VIP yang hanya di isi oleh Samuel seorang diri.


Perempuan yang masih mengenakan midi dres tanpa lengan berwarna peach itu mendekat kearah ranjang dimana laki-laki yang kini wajahnya di perban itu berbaring. Sherlyta menggeser pelan kursi yang berada di samping tempat tidur pasien itu tidak ingin membangunkan Samuel yang masih terpejam.


Melihat kaki kanan yang dibalut perban berwarna coklet muda dari telapak kaki hingga dengkul itu membuat Sherlyta meringis ngilu membayangkan sakit dan perihnya. Lalu tatapan mata sipit itu naik keatas, kearah wajah Samuel yang hampir seluruhnya juga di bungkus kain kasa.


“Lo udah mirip kayak mumi, Sam, tinggal dimasuki peti, terus simpan di museum” Sherlyta itu terkekeh geli dengan ucapannya sendiri.


“Jahat banget sih kamu, Baby. Ini aku abis kecelakaan loh?” Wajah polos Sherlyta terperanjat kaget saat mendengar suara pelan seperti bisikan yang bersumber dari laki-laki yang berbaring tak berdaya itu.


“Kok, lo udah bangun? Gue kira masih pingsan.” Laki-laki yang hanya terlihat mata dan bibir itu berdecih meskipun beberapa detik kemudian ringisan terdengar. Bibir bagian bawah Samuel memang sedikit robek, dan mungkin karena itu juga laki-laki itu meringis.


“Tadi aku pura-pura, siapa tahu kan dapat ciuman manis dari bidadari.” Kerlingan genit dari mata Samuel menimbulkan cibiran dari bibir tipis tanpa gincu milik Sherlyta.


“Bentar gue panggilin mereka dulu.”


Saat hendak bangkit dari duduknya, lengan kiri Sherlyta ditahan oleh lengan Samuel. Kepalanya yang ditutupi perban itu menggeleng pelan tanda tidak setuju dengan yang akan dilakukan kekasihnya.


“Jangan, kalau mereka disini, aku gak bisa berduan sama kamu.” Lirih Samuel memohon. Akhirnya perempuan dengan wajah sedikit pucat itu mengangguk dan kembali duduk di tempatnya semula


.


“Kamu bawa kaca gak?”

__ADS_1


“Bawa, kenapa emang?” kening Sherlyta berkerut heran.


“Coba pinjam, aku mau lihat wajah tampan aku yang terbungkus ini.”



Semalaman Sherlyta tertidur di sofa yang panjang dan lebarnya tidak seberapa, sedangkan Cesil tidur sambil duduk di kursi sebelah ranjang rumah sakit yang di atasnya terdapat Samuel yang berbaring. Sherlyta merubah posisinya menjadi duduk, menatap kearah dua orang yang masih terpejam itu. Cesil tidur dengan berbantalkan tangan kiri yang di letakan pada tepi kasur rumah sakit hingga tidur perempuan itu sedikit membungkuk, lengan kanannya menggenggam tangan kiri Samuel yang bebas dari selang infus.


Semalam niatnya Sherlyta lah yang akan duduk disana menemani laki-laki itu, namun perempuan berwajah jutek itu menolak karena dirinya ingin terus berada dekat dengan sang calon suami. Akhirnya Sherlyta pun mengalah karena sadar akan posisinya. Sherlyta hanya menatap miris pada pasangan kekasih yang tak lama lagi akan melangsungkan pernikahan, dengan telaten Cesil menyuapi Samuel saat malam tadi, membuat hati kecil Sherlyta cemburu. Tapi apa daya, ini resiko yang harus dirinya terima sebab ia sendiri yang menginginkan hubungannya dirahasiakan meskipun Samuel melayangkan protes.


Perempuan yang masih mengenakan pakaian yang sama seperti kemarin itu berjalan pelan kearah ranjang dimana Samuel berbaring, berusaha tidak menciptakan suara sebab tidak ingin membangunkan kedua orang yang masih terpejam itu. Jam memang masih menunjukan pukul 4:15, masih terlalu pagi untuk bangun, tapi Sherlyta memang tidak bisa tertidur semalaman karena terlalu memikirkan perasaan cemburu dan mirisnya.


Sherlyta menyentuh lengan kanan Samuel, mengelusnya pelan dan hati-hati sebab ada selang infus yang terpasang di nadinya, menatap wajah Samuel yang terbungkus perban membuat Sherlyta meringis, perlahan ia mendekatkan wajahnya kearah kening Samuel yang terbungkus dan mengecupnya pelan, tidak ingin laki-laki itu merasakan sakit.


Hanya beberapa detik, lalu kemudian Sherlyta kembali mengangkat wajahnya, ia melihat laki-laki itu sudah membuka matanya membuat Sherlyta gelagapan dan salah tingkah karena ketahuan tengah mengecup keningnya. Samuel tersenyum melihat ada semburat merah di kedua pipi kekasih tercintanya itu.


“Gak tidur?” hanya gerakan bibir tanpa suara laki-laki itu bertanya. Sherlyta yang mengerti langsung menggelengkan kepalanya. Sesekali Samuel meringis saat akan membuka mulutnya untuk berbicara, membuat air mata perempuan cantik bermata tipis itu menetes karena sedih dan juga tidak tega.


“Jangan nangis, aku gak apa-apa,” suara itu terdengar seperti bisikan . Sherlyta dengan cepat menyeka air matanya saat melihat binar sedih kedua bola mata milik Samuel.


“Gue pulang ya?” Sherlyta berkata pelan, karena tidak ingin Cesil mendengar, meskipun sahabatnya itu masih tertidur.


“Jangan!” gelengan kecil Samuel berikan meskipun sedikit kesusahan karena rasa sakit dan perih di sekitar wajahnya, melarang kekasihnya itu untuk pergi.


“Nanti gue kesini lagi, mau mandi sama ganti pakaian dulu.” Sherlyta memberikan senyuman manisnya. Mata Samuel menelusuri pakaian Sherlyta yang masih belum berganti dari kemarin, akhirnya dengan berat hati ia mengizinkan.

__ADS_1


“Cium.” Laki-laki yang sudah seperti mumi itu memanyun-manyunkan bibirnya sedikit meminta kekasihnya untuk mencium, namun bukannya mencium Sherlyta malah melayangkan cubitan pada lengan bagian atas milik laki-laki itu, membuat Samuel meringis. Sherlyta tersenyum tipis namun kemudian mengecup pelan dan singkat ujung bibir kekasih rahasianya itu lalu berlalu pergi tanpa mentap lagi pada laki-laki yang kini tengah mengembangkan senyuman, sekipun kemudian disusul dengan ringisan.


__ADS_2