
Kedua orang tua Samuel baru saja pamit untuk pulang, meninggalkan Sherlyta dan Samuel berdua di dalam ruangan serba putih berukuran 3×4 meter. Perempuan cantik itu tengah mengupas Apel yang tadi sempat ia beli di supermarket yang tidak jauh dari ruamah sakit. Tak bosannya Samuel memandangi wajah cantik dengan polesan make up natural itu, dan sesekali tersenyum kecil. Setelah selesai mengupas buah berwarna merah tersebut Sherlyta menyuapkan pada laki-laki yang kini terbaring di ranjang rumah sakit.
“Cepat sembuh, Sam. Bentar lagi kan pernikahan lo. Masa mempelai prianya nanti di perban gini kayak mumi. Gak keliatan gantengnya dong.” Sebenarnya Sherlyta mengucapkan itu dengan setengah hati. Samuel menghentikan kunyahannya, menatap perempuan di sampingnya dengan raut tidak suka.
“Jangan bahas itu, bisa?” Tatapan tajam itu membuat Sherlyta menundukkan kepalanya.
“Aku minta Papa, buat undur pernikahannya.” datar laki-laki itu berkata. Sherlyta mendongakan kepalanya menatap Samuel.
“Tapi ….”
“Aku cuma minta diundur sampai aku benar-benar sembuh. Tadinya aku ingin pernikahan itu untuk dibatalkan. Tapi aku tahu, kamu gak akan setuju.” Sherlyta kembali menundukan kepalanya, ia tidak tahu akan menjawab apa ucapan kekasihnya itu, maka lebih baik dirinya diam agar tidak memancing kemarahan Samuel.
“Aku sebenarnya heran, kenapa kamu tidak ingin aku membatalkan pernikahan ini? Padahal harusnya kamu bahagia, karena aku menepati janjiku sepuluh tahu lalu sama kamu.”
“Sam…”
“Aku mau nikahin kamu bukan karena merasa bersalah, bukan juga karena kasihan, tapi karena aku sadar bahwa aku juga masih mencintai kamu. Perasaan aku masih sama seperti beberapa tahun lalu. Maaf karena aku telat menyadarinya, maaf karena aku sempat melupakan janji itu dan mengecewakan kamu. Itu bukan keinginanku, Lyt.” Samuel mengucapkan itu dengan tatapan serius, tatapan mata keduanya saling berpandangan seolah berbicara dari hati-kehati. Sherlyta terharu dengan yang di ucapkan Samuel. Berdiri dari duduknya lalu memeluk tubuh laki-laki yang tengah berbaring itu menempelkan kepalanya pada dada bidang Samuel hingga membuat posisi Sherlyta membungkuk.
“Maaf, Sam. Bukan karena gue gak percaya ketulusan lo, tapi gue gak bisa menerima tawaran lo. Tidak ingin mengecewakan Cesil bukanlah alasan pertama gue, tapi ada alasan yang lebih utama dari itu, alasan yang gak bisa gue ucapkan.” Air mata dari iris coklat terang itu menetes tanpa bisa dicegah, membasahi baju rumah sakit yang dikenakan Samuel, membuat laki-laki itu bisa merasakan basah akibat tetesan air mata sang kekasih.
“Aku mau tahu alasan itu, Lyt agar aku mengerti kenapa kamu terus menolak pernikahan yang ku tawarkan.” Elusan di rambut Sherlyta terasa lembut dan menengkan membuat perempuan bermata sipit itu memejamkan matanya menikmati elusan-elusan yang akan ia ingat hingga nanti.
“Lo akan tahu nanti, Sam. Gue mohon, jangan paksa gue untuk mengatakannya.” Sherlyta melepaskan pelukannya dan mendongak menatap laki-laki tampan didepannya dengan tatapan memohon. Dengan berat Samuel mengangguk untuk menghormati keputusan kekasih yang amat dicintainya itu.
Samuel terlelap setelah dokter memeriksakan keadaannya dan menyuntikan obat beberapa menit lalu. Sherlyta menatap pahatan wajah Samuel yang terbungkus kain kasa, matanya yang terpejam masih memperlihatkan kedamaian tidur laki-laki itu. Tatapan mata Sherlyta beralih ke arah jari manis sebelah kiri Samuel yang kini sudah tidak mengenakan cincin putih pertunangannya seperti beberapa hari yang lalu, Alis Sherlyta terangkat satu, bertanya-tanya kemana perginya benda kecil berbentuk bulat itu.
Sherlyta mengalihkan tatapannya kearah belakang dimana suara pintu terbuka terdengar oleh indranya. Setelah mengetahui siapa yang datang, cepat-cepat Sherlyta melepaskan tautan tangannya dengan tangan Samuel. Tersenyum menyambut kedatangan perempuan seusianya itu yang tidak lain adalah tunangan dari sang kekasih.
Cesil membalas senyum sahabatnya lalu mendekat kearah Samuel yang tengah tertidur, mengecup pelan kening calon suaminya penuh sayang. Sherlyta merasakan dadanya berdenyut sesak dan hatinya seperti tercubit, nyeri menyaksikan yang dilakukan Cesil pada Samuel.
__ADS_1
“Maaf ya lama. Pasti lo bosan nungguin Adnan,” sesal Cesil merasa bersalah.
Sherlyta tersenyum. “Gak apa-apa kok Sil,” seadanya Sherlyta menjawab dan bangkit dari duduknya mempersilahkan sahabatnya itu untuk duduk.
“Pernikahan gue sama Adnan di undur sampai bulan depan, tadi Om Samsul sama Tante Arini datang kerumah, membicarakan soal pernikahan gue. Gue setuju sih, soalnya bagaimanapun, Adnan baru terkena musibah. Dia butuh pemulihan, apa lagi kondisi kaki dan wajahnya yang memprihatinkan. Gue gak mau egois memikirkan keinginan gue sendiri tanpa memikirkan kondisi Adnan yang seperti ini.”
Sherlyta menghela napas lega, entah kenapa mendengar pernikahan antara Cesil dan Samuel yang di undur membuat hatinya merasa lega dan bahagia. Ia lega karena setidaknya masih ada sedikit waktu untuk ia habiskan bersama laki-laki tercintanya itu. Tapi Sherlyta tidak menunjukan semua itu, ia tidak ingin Cesil curiga.
Kedua perempuan cantik itu mengobrol di sofa panjang yang diletakan di ujung ruangan, membahas tentang pembukaan cabang baru butik milik keduanya yang yang sudah hampir selesai di renovasi. Juga membahas segala hal yang menurut mereka menarik untuk di bicarakan, membuat keduanya sesekali tertawa.
Sherlyta menikmati moment ini, moment yang mungkin tak akan bisa ia lakukan lagi bersama Cesil kemudian hari. Sekarang mereka masih sedekat nadi, siapa yang tahu esok atau lusa keduanya akan jauh, sejauh langit dan bumi. Hari ini keduanya masih saling mengobrol dan tertawa bersama, siapa yang tahu beberapa waktu kedepan keduanya tidak saling menyapa bahkan membuang muka saat berpas-pasan.
Sherlyta terus mengucapkan kata maaf dalam hatinya. Maaf yang tidak berani ia ucapkan secara langsung pada sahabatnya. Ia tahu telah menyakiti dan mengecewakan sahabatnya itu, tapi biarkan dirinya egois untuk beberapa saat, izinkan dirinya merampas kebahagian sahabatnya untuk sejenak. Karena ia tidak pernah tahu, masih bisa bertahan atau tidak, meskipun Alvian beberapa kali meyakinkan Sherlyta bahwa dirinya bisa disembuhkan dari penyakit itu.
“Gue minta maaf, Sil. Benar-benar minta maaf.”
♥♥♥
Samsul sampai berdecek kesal dengan rengekan anak laki-lakinya, Arini mengomel sepanjang waktu mengatakan bahwa laki-laki itu terlalu kekanakan dan Cesil hanya tersenyum tipis, hatinya sedikit tersenggol saat sang calon suami kukuh ingin menunggu keberadaan perempuan lain hanya untuk sekedar membuka perban wajah saja. Namun Samuel seolah tuli dan tidak perduli, karena yang di inginkan hanya lah Sherlyta bukan yang lain. Samuel hanya ingin Sherlyta menjadi orang pertama yang melihat wajahnya. Meskipun ia tahu sang tunangan tersinggung.
Satu jam kemudian Sherlyta datang, membuat Samuel mengembangkan senyumnya begitu juga Samsul yang sudah tidak tahan dengan rengekan anak laki-lakinya yang selalu meminta untuk menghubungi perempuan cantik itu. Cesil memaksakan senyum ketika sahabatnya itu datang.
“Lo apa-apaan sih, Sam manja banget cuma mau buka bungkus pepes doang juga! Lo gak tahu gue lagi sibuk di butik karena banyak pesanan?” Tanpa berbasa basi dan beramah tamah lebih dulu, Sherlyta yang jengah dengan tingkah bocah Samuel langsung mencak-mencak dan ngomel pada laki-laki yang malah tersenyum-senyum saat ini.
“Jangan marah-marah gitu, Lyt. Nanti cepat tua.”
“Bodo amat! Sekarang cepetan deh buka itu bungkusan pepes. Gue mau balik ke butik!” Perempuan cantik bermata sipit itu terus menampilkan wajah kesalnya, tidak perduli masih ada orang lain ruangan ini.
“Berisik sayang, gue cium juga itu bibir di depan mereka!” Bisikan yang berupa ancaman itu membuat Sherlyta memutarkan bola matanya jengah, namun berhasil juga membuat perempuan bermata minimalis itu menghentikan omelannya.
__ADS_1
Tidak lama Dokter datang dengan seorang suster setelah Samsul memanggilnya. Sherlyta berdiri di samping suster disisi sebelah kanan ranjang Samuel menanti dengan perasaan yang masih dongkol namun juga penasaran dan harap-harap cemas, tidak jauh beda dengan Cesil yang berada di belakang bersama Arini dan Samsul. Dokter bername tag Susilo dengan kisaran usia 50 tahun itu dengan perlahan membuka kain kasa yang membalut wajah tampan Samuel, hingga akhirnya terbuka semua dan memperlihatkan wajah laki-laki 25 tahun itu dengan luka yang sudah sedikit mengering.
“Sam, kok muka lo jadi buruk rupa gitu sih?” celetukan Sherlyta membuat laki-laki itu terjengkat kaget dan segera meminta kaca pada suster dengan wajah panik. Cesil yang berada di belakang langsung mendekat kearah ranjang yang Samuel tempati untuk melihat jelas wajah calon suaminya itu.
“Gantengnya masih gak luntur kok meskipun luka-lukanya menghalangi.” Dengan percaya dirinya laki-laki itu berucap setelah menatap wajahnya dari pantulan cermin yang diberikan suster bername tag Anna itu. Sherlyta mencebikan bibirnya dan Cesil tersenyum, perempuan berwajah jutek itu mengelus lemput rambut tunangannya.
“Gak apa-apa, gue masih tetap mau nikah sama lo, kok. Gak perduli wajah lo seperti apa saat ini,” ucapan itu menohok Sherlyta dan juga Samuel tepat di hati mereka.
Perempuan yang kini mengenakan dres selutut berwarna merah itu menundukkan kepalanya dan meringis pelan, merasa amat bersalah pada sahabatnya. Samuel hanya tersenyum kecil menanggapi ucapan tunangannya dan kembali menatap cermin yang masih di pegangnya, melirik lewat ujung mata pada kekasihnya yang tengah menunduk. Arini merasakan ada yang aneh diantara anak laki-lakinya dan juga perempuan yang sudah ia anggap seperti anak itu.
“Tidak perlu khawatir, karena bekas luka itu akan hilang dengan sendirinya asal anda tidak menggaruknya, oleskan krim ini jika merasa gatal.” Dokter Susilo menyodorkan satu pot cream obat gatal.
“Kalau kakinya gimana Dok?” Sherlyta mengalihkan tatapannya pada Dokter tersebut.
“Itu tidak akan lama, Pak Adnan hanya harus sering berlatih saja untuk mempercepat penyembuhan, tapi tetap tidak boleh terlalu di paksakan. Dua bulan paling lama Pak Adnan akan kembali normal.” Dokter Susilo menjelaskan, sebelum akhirnya pamit untuk melanjutkan pekerjaannya.
“Nanti aku bantu kamu belajar jalan ya?” lembut Cesil berkata dengan diiringi senyuman manisnya. Laki-laki itu tidak menjawab dan memilih memejamkan matanya. Sherlyta hanya menahan sesak didadanya yang di sebabkan karena cemburu.
“Udah kan, Sam? Gue mau balik ke butik, masih banyak kerjaan. Kasihan Gita, kewalahan kalo harus ngehandle sendiri.”
“Gue minta maaf ya, Sher gak bisa bantu kalian dulu di butik.” Cesil merasa tak enak hati.
Sherlyta dengan cepat menggelengkan kepalanya, “Gak apa-apa kok, Sil lo santai aja. Jaga dulu bayi besar lo. Gita juga akan ngerti kok. Kalau gitu gue pamit.”
“Bunda, Ayah, Lyta balik kebutik ya,”
“Iya, Nak. Kamu hati-hati di jalannya. Maaf, karena Sam udah merepotkan kamu.” Sherlyta menggeleng pelan lalu menyalami kedua orang baya itu sebelumnya pergi meninggalkan ruangan Samuel, tanpa berpamitan pada laki-laki yang tengah menatap kepergiannya dengan sendu.
Sherlyta berlari menuju mobilnya yang berada di parkiran, menelungkupkan kepalanya pada stir dan menangis keras, menumpahkan segala rasa sakit yang bersumber dari hati dan juga kepalanya yang mulai kembali diserang rasa sakit yang tak terkira.
__ADS_1
Berkali-kali perempuan cantik itu menjedotkan kepalanya pada sandaran kursi mobil yang sedang diduduki, berharap sakit itu berkurang, tapi rasa itu malah bertambah dan matanya berkunang-kunang, rasa pusing tak lagi bisa ia tahan. Sherlyta dengan susah payah meraih tasnya yang berada di jok samping, mengambil botol kecil yang berisikan obat pereda nyeri yang beberapa waktu lalu Alvian berikan.
“Git, lagi banyak pelanggan gak? Jemput gue di parkiran Rumah Sakit Buana.”