
Sherlyta terkejut bukan main saat melihat keberadaan Samuel berdiri tak jauh di belakangnya, dengan cepat ia pamit pada Alvian dan juga Bintang, lalu menghampiri kekasihnya itu dengan perasaan kesal dan juga khawatir.
“Lo kenapa keluar sih, hah! Kalau jatuh gimana?” gerutu Sherlyta yang kini memapah laki-laki menyebalkan itu kembali menuju mobil yang terparkir tidak jauh dari posisinya berdiri.
“Abis kamu lama banget. Udah tahu pacarnya nunggu dalam mobil dengan bosan dan pegal, kamu malah haha-hihi sama laki-laki lain, kamu gak tahu sih gimana rasanya menahan cemburu.”
Sherlyta lebih dulu membantu Samuel masuk kedalam mobil, tanpa menjawab ucapan kekasihnya itu. Lalu memutar menuju pintu kemudi. Sherlyta membunyikan klakson dua kali tanda pamit pada Alvian yang masih berdiri di tempatnya semula. Laki-laki yang masih menggendong anak kecil itu mengangguk pelan, menatap kepergian pasien sekaligus perempuan yang selalu tersemat dalam doanya itu dengan tatapan yang tak bisa di artikan. Pikirannya bertanya-tanya tentang hubungan Sherlyta dengan laki-laki yang mengenakan tongkat itu. Selintas bayangan wajah laki-laki itu muncul dikepalanya, ia mengingat siapa dia, dan pernah bertemu sebelumnya meskipun tidak ingat jelas.
“Tadi laki-laki yang beberapa waktu lalu datang kebutik, kan?” Tanya Samuel yang sudah tidak tahan dengan rasa penasarannya. Sherlyta mengangguk pelan, pandangannya masih fokus pada jalanan.
“Dia siapa?”
“Alvian.” Jawaban yang diberikan Sherlyta tidaklah membuat Samuel puas. Laki-laki tampan dengan wajah seriusnya itu menatap Sherlyta yang masih fokus pada kemudi.
__ADS_1
“Aku bukan nanya soal namanya, tapi soal hubungan kamu dengan laki-laki itu!” kesal Samuel. Sherlyta tak menjawab dan malah keluar dari dalam mobilnya, lalu membukakan pintu untuk Samuel dan memberikan tongkat untuk digunakan laki-laki itu. Samuel baru menyadari bahwa ternyata mereka sudah sampai di depan rumah Sherlyta.
Setelah membantu kekasihnya untuk duduk di sofa ruang tengah, Sherlyta kembali ke luar untuk mengambil beberapa kantong berisi makanan yang sebelumnya ia beli saat di perjalanan tadi.
Samuel meraih remot tv yang berada di atas meja, dan menyalakan tv berukuran 60 inc itu sambil menunggu Sherlyta kembali. Saluran televisi yang kini menayangkan acara kartun Bis bisa bicara itu sesekali membuat laki-laki berusia 25 tahun itu tertawa, Sherlyta yang melihat hanya menggeleng-gelengkan kepalanya lalu berjalan mendekat dan duduk di samping laki-laki itu.
“Kamu belum jawab pertanyaan aku tadi loh, Baby,” ucap Samuel saat menyadari Sherlyta yang sudah duduk di sampingnya tengah memakan potongan ayam tepung.
“Pertanyaan yang mana?” Sherlyta menaikan sebelah alisnya bingung.
“Kok gak dijawab?” kesal Samuel membalikan tubuh perempuan cantik itu agar menghadap kearahnya.
“Gue sama Mas Alvian gak ada hubungan apa-apa, Sam.” Samuel mencoba mencari kebohongan dari mata kekasihnya itu, namun ia tidak menemukan itu, kekasihnya berkata jujur membuat Samuel menghela napas lega.
__ADS_1
Jam sudah menunjukan pukul 15:25 , namun Samuel masih enggan untuk pulang. Dirinya masih betah berlama-lama dirumah kekasihnya, dimana di tempat ini dirinya bisa puas berduaan dengan Sherlyta, kekasih yang sangat ia cintai. Kini dirinya tengah berbaring di sofa dengan berbantalkan paha Sherlyta, perempuan yang kini sudah berganti dengan pakaian santai itu mengelus dan memainkan rambut lebat milik Samuel.
“Lyta, apa alasan lo menerima gue?” tanya Samuel setelah beberapa menit sunyi.
“Karena gue ingin,” jawabnya singkat.
“Gue pengen bebas bersama lo, Lyt. Gak sembunyi-sembunyi kayak gini. Gue pengen semua orang tahu bahwa lo milik gue, begitupun sebaliknya.” Sherlyta menghela napasnya pelan lalu menatap lembut laki-laki yang juga menatapnya masih dalam keadaan berbaring.
“Ada hati yang harus lo jaga, Sam. Jangan bertindak sembarangan. Sedari awal lo udah terlanjur mengikatnya, membawanya masuk kedalam hati dan kehidupan lo. Dan gue hadir di tengah-tengah kebahagian kalian. Gue tahu ini menyakiti perasaan gue sendiri, tapi gak apa-apa, gue terima, karena nyatanya gue memang menginginkan lo. Biarkan gue melakukan peran sebagai orang ketiga untuk sementara waktu. Biarkan gue egois karena ingin bersama lo, sebelum nanti gue mengihklaskan lo bersama dia.” Wajah Samuel memerah menahan marah, sungguh ia tidak suka dengan apa yang diucapkan kekasihnya barusan, tapi tetap saja ia tidak bisa membalas ucapan Sherlyta.
Samuel bangkit dari baringnya, mengubah posisi menjadi duduk di samping perempuan cantik itu. Mata hitam milik Samuel beradu dengan mata coklat milik Sherlyta, kedua mata itu saling menatap seolah menyampaikan rasa cinta yang besar antara keduanya. Perlahan Samuel mendekatkan wajahnya kearah wajah perempuan cantik didepannya, tatapan laki-laki itu turun pada bibir pink milik Sherlyta, wangi napas Samuel sudah dapat tercium di indra Sherlyta, begitu memabukan hingga dengan perlahan mata sipit itu terpejam, keinginan dalam diri Samuel semakin besar dan ingin segera melahap bibir tipis favoritenya itu.
“Gue pulang!” Teriakan suara cempreng dan disusul dengan terbukanya pintu membuat jarak yang tinggal beberapa centi itu kini kembali menjauh, Sherlyta maupun Samuel mengumpat dalam hati, menyumpahi siapa saja yang berteriak dan menggagalkan aktivitas yang sebentar lagi akan keduanya nikmati.
__ADS_1
“Arrrggghhh sial!”