
Gita panik bukan main saat mendapatkan telpon dari Sherlyta. Terdengar jelas dari suaranya bahwa perempuan yang tidak lain sahabat juga bosnya itu sedang tidak baik-baik saja, maka dari itu perempuan yang kini mengenakan kemeja hitam yang dipadukan rok selutut berwarna merah itu segera memanggil Sera, salah satu pramuniaga kepercayaannya itu berada di meja kasir, selama dirinya pergi untuk menjemput sang bos.
Ojek pesanannya sudah tiba, dan Gita pergi begitu saja sebelum menjawab pertanyaan yang dilayangkan Sera. Kepergian yang terlalu cepat membuat gadis berambut sebahu itu melongo, menatap kearah luar.
Sepanjang perjalanan tak hentinya Gita berdoa, berharap tidak terjadi apa-apa pada sahabatnya. Gita duduk gelisah di jok belakang motor yang di tumpanginya, menyuruh sang pengendara untuk lebih cepat melaju.
Setelah memberikan ongkos dengan harga pas, Gita langsung berlari mencari keberadaan mobil Sherlyta. Matanya celingukan kekanan dan kekiri mencari dengan perasaan cemas.
“Neng, Neng helmnya,” Suara teriakan itu menghentian Gita yang tengah berlari. Tangannya meraba kearah kepala, menemukan benda berat itu masih menempel membuat perempuan dengan rambut yang di cepol itu berdecak dan memaki dirinya sendiri.
“Maaf ya, pak. Saya keburu panik soalnya.” Gita menyerahkan benda tersebut dengan wajah bersalah. Beruntung mamang ojek online itu baik dan memaklumi kecerobohannya, gimana coba kalau ojeknya gak terima dan malah memaki-maki? Bisa ramai dan jadi viral dia.
“Nah ketemu,” senang Gita saat menemukan keberadaan mobil merah milik sang bos. Cepat perempuan itu berlari menghampiri. Terlihat Sherlyta berada di dalam dengan mata terpejam dan kepala yang bersandar pada kepala kursi. Beruntungnya pintu mobil tidak terkunci, sehingga memudahkan Gita untuk masuk dan memeriksa keadaan si cantik berbaju merah yang berada didalam mobil merah kesayangannya.
“Sher, Sherlyta, bangun,” tangan kanan Gita, menepuk-nepuk pipi chuby Sherlyta, wajah cantik perempuan sipit itu terlihat pucat, membuat kekhawatiran Gita bertambah.
“Sher, Sherlyta. Aduh gimana ini? Pingsan apa, ya?” panik Gita.
__ADS_1
“Sher, bangun please, jangan buat gue khawatir gini.” Perempuan berwajah bulat dengan mata yang sudah berkaca-kaca itu celingukan mencari seseorang yang dapat dimintai bantuan, namun sayang, parkiran terlalu sepi saat ini.
“Sher?"
“Oh, lo udah datang ternyata. Maaf gue ketiduran.” Sherlyta berucap dengan suara pelan dan serak. Perempuan yang tengah menunduk itu menghela napasnya lega dan menyeka sudut matanya yang basah.
“Lo kenapa sih, Sher! Bikin khawatir tau gak?” Sherlyta tersenyum tipis melihat raut khawatir di wajah sahabatnya yang begitu ketara.
“Lo kan abis dari ruangannya Adnan, kenapa gak langsung kedokter sih! ini malah di parkiran, heran gue.”
Omelan-omelan yang terlontar dari bibir sedikit tebal dan kecil itu belum juga berhenti meskipun Sherlyta sudah pindah duduk ke jok sebelah dan Gita pun sudah duduk di kursi kemudi. Perempuan yang memiliki tubuh pendek jika di bandingkan dengan Sherlyta itu mulai menjalankan mobil merah kesayangan sahabatnya keluar dari parkiran rumah sakit karena sang bos yang begitu kekeh tidak ingin masuk dan di periksa oleh dokter.
Sherlyta menggeleng pelan, “ ke butik aja, Git. Gue juga udah mendingan kok.”
“Keras kepala banget sih, lo. Lihat tuh wajah lo pucat gitu, mendingan lo istirahat aja. Butik biar jadi urusan gue, asal nanti gajinya naik.” Delikan mata sipit itu membuat Gita terkekeh.
“Banyak banget kerjaan gue, Git! Gue gak mau kalau nanti gue pergi malah ninggalin kerjaan. Gue mau selesaikan satu-persatu.” Gita berdecak kesal dengan kekeras kepalaan sahabatnya itu.
__ADS_1
“Emang lo mau pergi kemana sih, hah?”
Gita memarkirkan mobil merah itu di depan butik, membantu Sherlyta berjalan masuk kedalam meski perempuan cantik itu berkali-kali menolak. Setelah mendudukan sang bos di atas sofa yang berada di ruang kerja milik Sherlyta, Gita berjalan menuju galon air dan menuangkan air hangat kedalam gelas yang kemudian di berikannya pada Sherlyta.
“Lo istirahat dulu bentar, gue ke bawah dulu buat beli bubur ayam.”
Sherlyta memejamkan matanya, menyandarkan punggungnya pada sandaran sofa, kepala bagian belakangnya masih terasa berdenyut, meskipun tidak sesakit tadi.
Tidak butuh waktu lama untuk Gita menunggu Sani, salah satu karyawan Sherlyta yang lainnya untuk mendapatkan semangkuk bubur ayam di siang hari seperti ini, karena memang di sebrang butik ini ada kedai bubur ayam yang buka 24 jam. Gita kembali masuk kedalam ruangan Sherlyta untuk memberikan semangkuk bubur yang masih panas. Meskipun tidak tega, Gita tetap membangunkan sahabat sekaligus bosnya itu.
“Lo habisin dulu buburnya, abis itu minum obat.” Gita menyodorkan semangkuk bubur dan juga obat yang selalu tersedia di kotak P3K. Sherlyta tersenyum tipis lalu mengucapkan terima kasih.
“Git, apa lo gak keberatan gue repotin?” tanya Sherlyta menatap serius sahabatnya.
“Ya masa gue gak mau di repotin. Udah di kasih tempat tinggal juga kerjaan sama lo aja gue bersyukur. Gak tahu diri namanya gue kalau direpotin gini aja gak mau.” Gita tersenyum tulus yang di balas senyum pula oleh Sherlyta.
Perempuan cantik bermata sipit itu kembali melanjutkan suapan bubur yang masih tersisa banyak kedalam mulutnya tanpa selera. Dokter Alvin pun pernah mengatakan hal itu kepadanya, nafsu makannya akan berkurang dan juga dirinya akan mudah lelah. Itu sudah iya alami satu persatu.
__ADS_1
“Tuhan, berapa lama lagi aku akan bertahan?”