
Samuel memangku tubuh Sherlyta dan membawanya masuk ke dalam bathub yang yang sudah berisi air hangat tanpa melepaskan kelumannya pada payudara Sherlyta, tabgan kirinya menahan tengkuk Sherlyta, sedikit menekan agar dadanya semakin menenggelamkan wajah Samuel pada belahan payudara kenyal dan menantang itu.
Posisi Sherlyta berada di perut Samuel sedangkan laki-laki itu duduk bersandar di bathtub, kakinya ia luruskan di dalam air hangat dalam bathtub dan mulutnya kini beralih mencium bibir Sherlyta dengan rakus tapi tidak menghilangkan kesan lembut. Tangan satunya meremas gundukan kenyal yang menggantung di depannya sedangkan tangan satunya lagi membuka celana boxer yang masih melekat menutupi kejantanannya dan melemparkan kain tipis itu ke sembarang tempat.
Sherlyta bisa merasakan benda keras berada tepat di belakang menyentuh punggung bagian bawahnya, kedua tangan Samuel meremas kedua payudara Sherlyta dan mulutnya kini menelusuri leher Sherlyta menjilat dan menghisap leher itu hingga meninggalkan bekas kemerahan. Sherlyta melenguh nikmat sampai tubuhnya semakin maju dan merapat pada dada bidang Samuel.
“Sam, aku udah gak kuat,” bisik Sherlyta sensual tepat di depan telinga kekasihnya itu. satu kecupan dan jilatan mendarat di cuping telinga Samuel, membuat laki-laki tampan itu mengeluarkan desahannya.
“Aku juga, honey." Suara serak nan seksi itu terdengar merdu di telinga Sherlyta. Selagi mulut Samuel bermain-main dengan payudara kenyal itu, tangannya kini meremas-remas bokong sintal Sherlyta dengan kuat membuat perempuan cantik itu mendesah.
“Kamu sakit?” tanya Samuel lembut saat melihat wajah kekasihnya semakin pucat. Dan itu benar-benar membuat Samuel merasa bersalah karena telah bermain-main dengan tubuh Sherlyta yang sedang tidak baik.
“Ya udah, yuk aku mandiin, abis itu kamu istirahat.”
“Ta-- tapi kamu ...?” ucapan Sherlyta terhenti saat satu kecupan mendarat di bibir tipis yang membengkak itu.
“Aku baik-baik aja, honey. Yang di bawah biar aku yang urus. Yang penting sekarang itu kamu. Wajah kamu udah pucat gitu, aku gak mau kamu sakit.” Jelas Samuel panjang lebar.
Sherlyta menurut dan melingkarkan tangannya pada leher Samuel, kakinya juga ia lingkarkan di perut Samuel dan kepalanya ia tenggelamkan di ceruk leher Samuel. Sherlyta benar-benar lelah dan kepalanya terasa sakit.
__ADS_1
Setelah menurunkan tubuh ramping itu di bawah shower, Samuel segera menyalakan kran tersebut dan membasuh tubuh polos Sherlyta, kepala perempuan itu bersandar pada dada bidang Samuel. Sherlyta benar-benar lemas, tenaganya seolah tak ada, bahkan hanya untuk menahan berat tubuhnya sendiri. Samuel amat khawati dan menyesali perbuatannya yang malah terus mencumbu perempuan itu padahal ia tahu sedari awal, bahwa kekasihnya itu tidak baik-baik saja.
Samuel kembali menggendong Sherlyta setelah tubuh polos itu ia balut dengan handuk putih yang menggantung di balik pintu. Dan membaringkannya di ranjang kamar sebelah, kamar yang biasa Sherlyta gunakan saat berada di villa ini. Samuel membantu Sherlyta memakai pakaiannya sedangkan dirinya masih bertelanjang bulat. Tapi Samuel tidak perduli karena yang terpenting saat ini adalah Sherlyta hangat dan beristirahat.
“Kamu pakai baju dulu, Sam nanti masuk angin.” Samuel mengangguk. Sebelum beranjak pergi laki-laki itu menarik Selimut tebal berwarna putih itu, membungkus tubuh Sherlyta hingga menutupi leher. Dan barulah setelah itu ia kembali ke kamar mandi, tidak lupa mengambil handuk yang semula Sherlyta kenakan, membasuh tubuhnya kemudian memakai pakaian yang tadi ia beli saat di perjalanan. Hanya celana pendek selutut dan kaos biru tua polos, sederhana tapi tetap tidak memadamkan ketampanannya.
Samuel melangkahkan kakinya menuju kamar Sherlyta, dan duduk di tepian ranjang menatap wajah pucat Sherlyta dengan cemas. Suhu tubuhnya pun hangat dan keningnya cukup panas. Samuel mengecup kening itu lama membukakan ikatan rambut Sherlyta lalu setelah itu beranjak keluar dari kamar tersebut menuju dapur untuk membuatkan bubur, karena tidak memungkinkan dirinya untuk beli mengingat hari sudah larut malam.
Kurang lebih satu jam, berkutat di dapur hanya untuk membuatkan bubur dan juga sup ayam, Samuel kembali naik ke lantai atas menuju kamar Sherlyta dengan nampan di kedua tangannya. Tidak lupa juga laki-laki itu membawa baskom berisi air hangat untuk mengompres Sherlyta.
“Sayang, bangun dulu yuk, kamu harus makan dan minum obat setelah itu baru tidur lagi.”
Samuel mengambil handuk kecil berwarna putih yang sebelumnya sudah ia celupkan di air hangat dan meremasnya lalu meletakan handuk basah itu di dahi Sherlyta. Perempuan cantik itu terharu dengan perhatian-perhatian Samuel dan tidak lupa mengucapkan terima kasih pada kekasihnya.
“Makan dulu, ya habis itu minum obat,” titah Samuel yang kemudian diangguki oleh Sherlyta.
“Maaf ya, aku jadi ngerepotin kamu,” sesal Sherlyta menundukan kepalanya.
“Jangan merasa seperti itu, Baby karena bagaimana pun kamu adalah tanggung jawabku. Aku senang bisa rawat kamu,” ucap Samuel tulus.
__ADS_1
Hanya beberapa suapan dan kemudian Sherlyta menolak suapan berikutnya. Bubur itu masih tersisa banyak tapi Samuel tidak ingin memaksa dan menyimpan mangkuk itu ke atas nakas yang berada di sebelah ranjang. Samuel membantu Sherlyta untuk meminum air putih hangat yang ia bawa dan menyodorkan satu tablet obat berwarna putih yang ia tahu sebagai obat penurun panas.
“Disini aja, temani aku,” ucap Sherlyta saat Samuel hendak bangkit untuk menyimpan kembali mangkuk dan gelas bekas itu.
Sherlyta menggeleng. “Nanti aja, sekarang kamu tidur samping aku, aku mau peluk kamu.” Samuel menurut dan merangkak menaiki ranjang, berbaring di samping Sherlyta dan memeluk tubuh itu dengan erat.
“Cepat sembuh, Baby. Aku gak bisa lihat kamu kayak gini.” Lirih Samuel berucap lalu kemudian mengecup kening kekasihnya itu penuh sayang.
“Ini yang buat aku gak tega bilang soal penyakit aku sama kamu, Sam. Aku gak mau kamu khawatir.”
Sherlyta semakin menenggelamkan wajahnya di dada bidang Samuel, dan memeluk tubuh laki-laki itu erat. Hingga rasa kantuk menyerang dan kesadarannya menghilang.
Samuel sudah bisa mendengar dengkuran halus dan teratur Sherlyta membuat ia tahu bahwa kekasih cantiknya itu sudah tertidur.
Samuel meraih ponsel yang sebelumnya ia simpan di bawah bantalnya, terdapat banyak pesan dan juga panggilang tak terjawab dari Cesil. Samuel lupa mengabari tunangannya itu. Setelah selesai mengirimkan pesan singkat untuk Cesil, Samuel kembali m
meletakan ponselnya di bawah bantal, tidak lupa memasang mode sunyi pada ponselnya.
Tangan kanan Samuel mengusap lembut kepala kekasihnya itu dan berkali-kali mengecupnya penuh sayang. Samuel benar-benar sedih melihat wajah pucat Sherlyta, bahkan tadi saat tubuh lemah itu berada dalam gendongannya. Entah kenapa ada perasaan takut yang menyeruak dalam hatinya, dan itu adalah rasa takut akan kehilangan.
__ADS_1
“Aku tidak tahu perasaan seperti apa ini. Tapi yang jelas aku tidak akan pernah membiarkan kamu pergi dan meninggalkan aku.”