Sherlyta

Sherlyta
Chapter 29


__ADS_3

Dua hari berada di puncak, dan hari ini Sherlyta meminta untuk pulang pada kekasihnya itu. Awalnya Samuel menolak karena khawatir pada kondisi perempuan sipit itu yang baru saja sembuh dari demamnya, tapi rengekan manja dan memelasnya membuat Samuel akhirnya menyerah dan menuruti keinginan sang kekasih yang amat dicintainya.


Meskipun baru pertama kali lagi mengendarai mobil semenjak kecelakaan itu, tapi beruntung Samuel bisa sampai dengan selamat hingga depan rumah milik Sherlyta. Keduanya berangkat sejak pagi-pagi karena tidak ingin terjebak macet, tapi yang seharusnya perjalanan dapat di tempuh dalam waktu 3-4 jam ini malah di tempuh selama enam jam karena Samuel yang sering berhenti dan mampir terlebih dulu untuk istirhat sejenak. Sherlyta tak berkomentar, karena dirinya cukup tahu dengan kondisi kaki kekasihnya itu yang baru saja sembuh dari cidera.


Samuel merebahkan tubuhnya di sofa panjang ruang tamu, meluruskan kakinya yang sedikit pegal, sedangkan Sherlyta langsung berjalan menuju dapur untuk mengambil air minum untuk dirinya dan juga Samuel, tidak lupa juga bebera cemilan yang ada dalam kulkas. Tubuhnya sebenenarnya sudah lelah dan ingin segera istirahat, tapi melihat Samuel yang terus memijat-mijat kakinya membuat Sherlyta kasihan dan merasa bersalah.


Jam baru menunjukan pukul tiga sore, dan tentu saja Gita belum pulang membuat rumah ini sepi. Serlyta duduk di sofa panjang, dimana ada Samuel yang kini berbaring, setelah meletakan beberapa cemilan dan juga air minum yang di ambilnya barusan Sherlyta duduk di ujung sofa dan membawa kaki kekasihnya itu, meletakan kaki tersebut di pangkuannya dan memijat-mijat pelan kaki yang berbalut celana jeans hitam panjang itu.


“Maaf ya, gara-gara aku sakit kamu jadi harus nyetir,” ucapnya pelan dan merasa bersalah. Samuel bangkit dari tidurnya dan kini duduk di samping Sherlyta yang menundukan kepalanya. Samuel duduk menghadap kekasihnya itu, ia tarik lembut dagu lancip itu agar Sherlyta menatapnya.


“Gak usah minta maaf, sayang. Aku gak apa-apa kok, kaki aku cuma pegal dikit. Ini juga untuk sekalian aku belajar bawa mobil lagi. Jadi kamu jangan merasa bersalah begitu, malah aku yang sedih kalau ngebiarin kamu nyetir dari sana dengan keadaan yang masih lemas gini.” Samuel berkata lembut, satu kecupan mendarat di kening Sherlyta, merapikan anak-anak rambut yang jatuh menghalangi wajah cantik yang masih terlihat sedikit pucat itu.


“Jangan sakit-sakit lagi ya? Aku sedih lihatnya.” Sherlyta mengangguk dan memeluk kekasihnya dengan erat, menyembunyikan wajah sedihnya.


Keduanya duduk sambil berpelukan tanpa ada obrolan apa pun. Sesekali Samuel mengecup puncak kepala kekasihnya itu dan mengelus rambut panjangnya dengan sayang. Samuel mengurai pelukannya menatap wajah cantik Sherlyta lalu mendaratkan ciumannya pada bibir tipis berwarna merah alami.


“Belakangan ini kamu jadi mesum tahu gak? Dikit-dikit cium, dikit-dikit cium gak cape apa itu bibir.” Gerutuan Sherlyta membuat Samuel terkekeh geli.


“Bibir kamu manis, ngangenin. Aku jadi pengen cium kamu terus,” jawab Samuel seraya menjawil pipi Sherlyta yang sedikit chuby.


“Sakit Muel,” rengeknya manja. Samuel gemas dan membali mencium bibir tipis itu berkali-kali sebelum kecupan itu berubah menjadi lumatan-lumatan lembut yang memabukan. Tanpa mereka sadari ada dua perempuan yang menegang di ambang pintu, terkejut dengan apa yang dilihat didepannya. Satu perempuan berjalan cepat dengan tangan mengepal dan wajah memerah, marah.


“Sherlyta, Adnan, apa yang kalian lakukan, hah!!!” terikan yang amat keras itu membuat ciuman keduanya terlepas. Sherlyta menegang di tempatnya saat melihat tatapan membunuh dari sahabatnya, sedangkan Samuel, awalnya memang terkejut tapi dengan cepat ia menetralkan kembali dirinya.


“Akhirnya semua terbongkar,” gumam hati Samuel.


“Sil, ini gak …”


PLAKKk …

__ADS_1


Samuel dan Gita terbelalak kaget saat satu tamparan keras mendarat di pipi kanan Sherlyta. Begitu juga dengan Sherlyta, ia bukan hanya terkejut tapi juga merasakan perih di pipinya, Samuel yang khawatir hendak memeluk kekasihnya itu namun Sherlyta menahannya. Ia tidak ingin sahabatnya itu semakin meradang.


“Gak apa, hah! Gak seperti yang gue pikirin? Iya memang, tapi ini seperti yang gue lihat. Gue gak nyangka lo lakuin ini di belakang gue, Sher. Gue kira selama ini kita sahabat. Tapi, ternyata…?” Cesil menggeleng-gelengkan kepalanya, air mata perempuan itu sudah jatuh berderai membasahi pipi tirusnya.


“Kenapa lo lakuin ini sama gue, Sher? Apa salah gue sama lo, hah!!?”


“Sil, maafin gue, gue gak mak…”


“Haha, lo bilang gak maksud, lalu barusan yang gue lihat apa? Mata gue masih normal, asal lo tahu!”


“Sil…?”


“Apa? Lo mau belain sahabat lo itu? Atau jangan-jangan lo emang udah tahu tentang hubungan mereka?” tuduhan yang sayangnya benar itu mampu membuat Gita bungkam dan menunduk. Cesil merasa amat perih karena telah dihianati oleh sahabat juga tunangannya.


“Selama itu, gue cukup sabar melihat kedekatan kalian berdua. Gue maklumin, karena emang kenyataannya lo lebih dulu kenal dan dekat sama dia. Gue kira kedekatan kalian karena di landasi kasih sayang seorang sodara. Tapi ternyata... haha!”


“Sejak kapan? Sejak kapan kalian main-main di belakang gue?” Tanya Cesil dengan marah. Menatap Sherlyta dan Samuel bergantian.


“Pantas, akhir-akhir ini kamu lebih dingin ke aku, ternyata ada main dengan sahabat sendiri. Apa alasan kamu la…”


“Karena aku cinta sama, Lyta.” Samuel memotong ucapan tunangannya itu cepat.


PLAKKk


Kembali satu tamparan Cesil layangkan, namun kini di pipi tirus Samuel, laki-laki itu meringis kecil sebelum kembali menatap Cesil yang wajahnya semakin merah karena amarah. Gita sampai memejamkan mata saat suara tamparan itu kembali terdengar, sedangkan Sherlyta terkesiap.


“Ini salah gue, Sil …”


“Iya ini semua emang salah lo!!”

__ADS_1


PLAKKK


Satu lagi tamparan mengenai pipi Sherlyta bagian kiri, lebih keras dari sebelumnya, saat Cesil akan kembali melayangkan tamparan pada pipi Sherlyta dengan sigap Samuel menahan kuat lengan mungil itu. laki-laki itu berdiri membelakangi Sherlyta, sengaja menyembunyikan sang kekasih di balik punggungnya.


“Kalau kamu mau nampar, silahkan tampar aku sepuas kamu, jangan Lyta. Dia gak salah. Aku yang salah karena khianatin kamu. Aku yang salah karena maksa Lyta buat terima aku.”


“Kalian berdua emang salah!!” Teriak Cesil berang.


“Gue benci kalian semua!!” Teriaknya lagi, lalu berlari pergi meninggalkan ketiga orang itu. Gita hampir saja terjatuh saat bahunya di senggol Cesil dengan keras. Samuel menahan pergelangan tangan Sherlyta ketika perempuan itu hendak berlari mengejar Cesil.


“Lepasih, Sam. Aku mau kejar Cesil.” Sherlyta menarik kuat lengannya yang di cengkram Samuel, air mata Sherlyta sudah sedari tadi menetes dan membasahi pipinya yang terdapat tanda merah bekas tamparan Cesil.


“Astaga Sher, idung lo!” teriak Gita terkejut saat melihat darah menetes dari hidung Sherlyta. Samuel segera meraih tubuh kekasihnya itu dan benar saja darah segar keluar lumayan banyak dari hidung mancung itu. Samuel segera membawa Sherlyta untuk duduk dan menyuruh Gita untuk mengambilkan es batu dan juga air.


“Aku mau kejar Cesil, Sam. Dia pasti kecewa banget sama aku. Aku gak mau dia marah.” Tangis Sherlyta semakin kencang dan air matanya pun semakin deras. Samuel membawa kekasihnya itu kedalam pelukannya hingga membuat kemeja biru muda yang Samuel terkena darah dari hidung kekasihnya itu.


Gita kembali dengan membawa Es batu, baskom berisi air dingin dan juga handuk kecil, sebelumnya pendarahan di hidung Sherlyta di sumbat dengan tisu namun darah itu tetap keluar. Dengan sigap, Samuel membungkus es batu tersebut dan mengompreskan pada hidung Sherlyta agar pendarahan itu dapat dihentikan. Gita menatap sahabatnya dengan iba. Air matanya ikut menetas.


“Maaf, karena gue bawa dia kesini, hubungan kalian jadi terbongkar dan lo jadi seperti ini.” Ucapan penuh penyesalan itu keluar dari mulut Gita, Sherlyta menatap sahabatnya itu dan memeluknya erat.


“Gak apa-apa, Git lo gak salah. Ini udah jadi resiko yang harus gue terima. Hubungan gue sama Samuel emang udah salah dari awal. Gue tahu Cesil pasti kecewa banget sama gue, dan tamparan ini gak sebanding dengan sakit hati Cesil.” Sherlyta mencoba menenangkan sahabatnya itu, meski sebenarnya kini kepalanya kembali sakit dan berdenyut.


“Sekarang kamu pulang, bicarakan baik-baik sama Cesil,” ucap lembut Sherlyta pada kekasihnya itu.


“Tapi, kamu…”


Sherlyta menggeleng. “Aku gak apa-apa, ada Gita yang jagain aku.” Samuel menghela napasnya berat, mengacak rambutnya frustasi, tak tega melihat wajah Sherlyta yang semakin pucat, tapi tatapan memohon yang di berikan kekasihnya itu membuat Samuel menyerah dan kemudian mengangguk.


“Git, tolong jagain Lyta, hubungin gue kalo ada apa-apa,” pesan Samuel pada sahabat kekasihnya itu, Gita mengangguk.

__ADS_1


“Aku pulang, ya. Kamu istirahat, jangan pikirin yang tadi, dan jangan nangis lagi.” Sherlyta tersenyum lembut lalu mengangguk untuk meyakinkan kekasihnya itu agar tidak cemas. Samuel mengecup lama kening Sherlyta, menyalurkan kasih sayang dan juga kekhawatirannya sebelum akhirnya pergi karena taxi yang di pesannya sudah datang.


__ADS_2