
Samuel berbaring di samping Sherlyta, di sofa panjang yang sempit hingga membuat Sherlyta terhimpit, membungkus tubuh telanjang mereka dengan selimut tebal. setelah itu Samuel memberikan kecupan di kening sang kekasih yang kini sudah memejamkan mata. Wajah lelah Sherlyta membuat Samuel menyunggingkan senyum, dan ucapan terima kasih melantun di susul dengan ungkapan cinta yang tidak pernah ingin Samuel hentikan.
"Tetap di sampingku, honey, tetap lah berada di sisi ku apapun yang akan terjadi nanti. tolong percaya, bahwa hanya kamu yang aku cinta."
Serlyta yang memang belum benar-benar terlelap, mendengar semua yang di ucapakan kekasihnya itu. Sherlyta sedikit bangkit, lalu melayangkan satu kecupan di bibir pria itu. "Aku percaya, Sam. Dan kamu pun harus tahu, bahwa cintaku selalu untukmu sejak dulu. Kamu tidak pernah terganti."
Samuel yang amat bahagia mendengar pengakuan kekasihanya itu, mengangkat tubuh Sherlyta, membaringkan tubuh ramping itu di atas tubuhnya, dan memeluknya dengan erat hingga kantuk mulai menyerang dan membawa mereka ke alam mimpi.
♥♥♥
“Pengantin baru jam segini baru keluar kamar, ngapain aja kalian semalam?” tanya Gita saat melihat Sherlyta dan Samuel yang baru saja menuruni tangga saat jam yang sudah menunjukan pukul 09:15 pagi dengan tangan Samuel yang melingkar posesif di pinggang Sherlyta.
“Begadang gue semalam. Capek banget, Git.” Samuel menampilkan wajah lesunya pada Gita. Sherlyta mencubit pinggang kekasihnya itu cukup keras membuat Samuel meringis sakit, tapi itu tidak menghentikan Samuel untuk menggoda sahabat dari kekasihnya yang selalu ingin tahu.
“Benar kalian abis bergadang? Olahraga malam?” tanya Gita penasaran.
“Iya, kenapa, lo mau juga?” Sherlyta balik bertanya.
__ADS_1
“Kok rambut lo gak basah, lehernya gak merah-merah?” selidik Gita menelusuri tubuh Sherlyta dengan tatapannya.
“Bodo amat, Gita!” dengus Sherlyta lalu menarik Samuel menuju dapur. Gita mengikuti kedua orang itu dari belakang, masih terus kepo menanyakan kebenarannya.
Sherlyta dan Samuel tetap bungkam membiarkan Gita dengan kekepoannya. Menikmati makanan yang sudah terhidang meski sudah dingin dengan tenang, tanpa terganggu dengan rengekan Gita yang meminta penjelasan. Samuel menahan tawanya sedangkan Sherlyta terlihat cuek-cuek saja.
“Kalian nyebelin tahu gak, bikin gue penasaran, tapi gak mau ngasih tahu.” Kesal Gita mendengus dan memanyunkan bibirnya.
Sherlyta berterima kasih karena Samuel tidak meninggalkan bercak merah di leher bagian depannya, tapi digantikan dengan di bagian belakang yang tertutup rambut panjangnya yang terurai. Sedangkan di bagian dada atasnya terhalang pakaian yang di kenakannya. Samuel menghentikan pergerakan Sherlyta yang akan bangkit membawa piring kotor dan menyuruh kekasihnya itu untuk kembali duduk.
“Biar aku aja,” ucap Samuel lembut, mengecup singkat puncak kepala Sherlyta sebelum mengambil piring yang Sherlyta gunakan makan tadi menuju wastafel dan mencucinya disana.
“Emang ada laki-laki yang mau sama boneka Annabel?” cibir Samuel di tengah kegiatan mencuci piringnya.
“Banyak laki-laki yang mau sama gue, secara gue cantik, seksi dan mempesona,” ucapnya bangga. Samuel mencebikan bibirnya.
“Tapi gak ada tuh laki-laki satu pun yang nempel sama lo sampai saat ini.” Gita mendengus kesal saat Sherlyta ikut-ikutan meledeknya. Samuel tertawa puas mendengar cibiran yang dilayangkan Sherlyta dan melihat kekesalan Gita.
__ADS_1
“Kenapa setelah pacaran sama manusia itu, lo jadi ikutan nyebelin Sher?” tanya Gita kesal pada sahabatnya itu.
“Lo gak tahu aja, Git kalau Sherlyta lebih nyebelin dari gue. Gue aja dulu selalu kalah sama dia, di buat kesal,” ucap Samuel mengenang masa lalunya.
“Kok gue baru tahu? Selama beberapa tahun ini kenal dia, baru kali ini gue tahu kalo dia nyebelin.” Gita memandang Sherlyta yang mendelikan matanya. Memang Gita akhir-akhir ini melihat sahabatnya itu lebih banyak mengeluarkan ekspesinya yang jarang, bahkan belum pernah ia lihat, dan sekarang Gita tahu bahwa pengaruh Samuel sangatlah besar bagi Sherlyta. Tawanya pun lebih lepas sekarang.
Gita memperhatikan kedua orang di depannya yang sedang bercanda, Samuel menggelitik pinggang Sherlyta membuat perempuan itu terbahak keras hingga keluar air mata dari sudut matanya. Samuel juga berkali-laki mendaratkan ciuman di pipi bahkan bibir Sherlyta, sekilas membuat Gita iri melihatnya. Ia merasa tidak nyaman jika berdiam terus seperti ini sedangkan kedua orang di depannya menganggap hanya mereka berdualah yang berada di bumi.
Gita bangkit dari duduknya menghentakan kaki dan pergi dari pandangan kedua orang itu, Samuel dan Sherlyta yang memang menyadari wajah kesal Gita, hanya terkekeh geli tanpa mau mencegah perempuan mungil itu. Gita semakin mengerucutkan bibirnya saat tak ada satu pun dari mereka yang menanyakan kepergiannya.
Gita duduk di kursi malas teras depan memandang taman bunga yang beberapa minggu lalu ia buat dengan Sherlyta, hingga sebuah mobil BMW putih masuk ke pekarangan rumah Sherlyta, dan keluarlah seorang laki-laki tampan berkulit putih, tinggi, tubuhnya tegap dan bidang. Gita merasa pernah melihat laki-laki itu, tapi ia tak ingat dimana, bertemu sosok itu.
“Permisi, apa Sherlyta-nya ada?” sekejap Gita melongo, terpesona dengan wajah sempurna seperti pangeran-pangeran yang ada di novel, apalagi di tambah dengan suaranya yang merdu, semakin membuat Gita terpesona sebelum sebuah deheman menyadarkannya kembali.
“Oh, ah iya ada. Mari silahkan masuk,” ucap Gita gelagapan. Laki-laki yang belum ia ingat siapa namanya itu mengikut langkah Gita masuk ke dalam rumah, dan duduk di sofa ruang tamu setelah perempuan bermata bulat itu mempersilahkannya.
Gita pamit untuk memanggil Sherlyta, sekaligus untuk membuatkan minuman. Sahabatnya itu masih juga berada di ruang tengah menonton DVD kesukaannya sambil tiduran di paha sang kekasih yang mengelus rambutnya penuh sayang. Senyumnya terbit melihat pemandangan indah itu, namun kemudian ia segera mengatur lagi ekspesinya dan menghampiri sahabatnya itu memberi tahu bahwa ada tamu yang mencarinya.
__ADS_1
Samuel sempat melarang kekasihnya itu untuk menemui tamu yang datang saat Gita mengatakan bahwa tamu itu laki-laki tampan, karena memang kenyataannya seperti itu. Namun Sherlyta tidak mendengarkan larangan Samuel dan tetap berjalan menuju ruang utama dimana tamu yang di sebutkan Gita berada.
“Loh, Mas Alvian?”