
Semenjak kenyataan di butik tempo hari, Sherlyta belum lagi bertemu dengan kedua orang itu, Samuel dan Cesil. Ia juga belum menginjakan kaki lagi di butik. Hari-harinya hanya ia habiskan di sekolah dan juga danau, meratapi kesedihan yang terus menimpa.
Jujur saja ia belum bisa menerima kenyataan ini, kenyataan dimana Samuel yang akan menikah dengan Cesil, sahabatnya dalam waktu kurang dari tiga bulan lagi. Di satu sisi Sherlyta merasa bahagia karena Sahabatnya akan menikah, juga bahagia karena seseorang yang sejak lama ia tunggu akhirnya telah kembali.
Namun kesedihan itu lebih besar karena kedua orang yang sangat berarti di hidupnya memiliki hubungan yang begitu erat, dan tentu saja Sherlyta merasa cemburu, bahkan terluka dan kecewa. Bukan kecewa pada Cesil, karena ia tahu sahabatnya itu tidak mengetahui apa pun tentang Samuel dan dirinya, hanya saja ia kecewa pada Samuel yang ternyata tidak menepati janjinya pulang untuk mewujudkan antara aku dan kamu untuk menjadi kita.
Penantian yang selama sepuluh tahun ini ia harapkan, nyatanya malah membuatnya kecewa, dan penantian panjang ini menjadi sia-sia. Sherlyta sebenarnya ingin marah, namun ia tidak bisa, bukan tidak ingin. Mungkin jika perempuan itu bukan sahabatnya Sherlyta bisa meluapkan kemarahannya. Tapi kenyataan perempuan itu adalah Cesil, sahabatnya yang sangat berarti dalam hidupnya, Sherlyta tak bisa berbuat apa-apa dan hanya mampu diam, berpura-pura bahagia, meski kenyataannya dia terluka, bahkan lebih dari sekedar terluka.
Janji yang sepuluh tahun lalu Samuel ucapkan tersimpan rapi dalam ingatan Sherlyta, tapi siapa sangka bahwa orang yang mengucapkan itu malah melupakan janjinya sendiri.
"Mungkin gue yang terlalu berharap, makanya saat tahu semua ini, gue merasa sekecewa ini."
Matahari dengan perlahan tenggelam dan menghilang digantikan dengan langit malam, Sherlyta tersenyum menatap itu meski air matanya ikut menetes. Sakit dikepalanya tak ia hiraukan karena sakit itu tidak sebanding dengan rasa sakit dihatinya. Rasa sakit yang laki-laki itu torehkan atau mungkin rasa sakit itu Sherlyta sendiri yang menorehkannya.
Sherlyta melangkahkan kaki menuju mobil yang terparkir tidak jauh dari danau, berniat untuk pulang karena tubuhnya sudah merasa lelah. Ia ingin istirahat, mengistirahatkan hati dan juga tubuhnya. Sedari tiga hari yang lalu ponsel Sherlyta tidak pernah berhenti bersuara hingga perempuan sipit itu memutuskan untuk men-silent-kan ponselnya agar tidak berisik. Pesan dan juga panggilan tidak terjawab dari kedua sahabat dan juga Samuel memenuhi layar ponselnya, tapi ia tidak berniat untuk menjawab salah satu diantara ketiganya. Dirinya butuh waktu sendiri untuk menenangkan hati dan juga pikirannya.
Di pekarangan rumah Sherlyta terparkir mobil hitam yang tidak ia ketahui milik siapa, membuat Sherlyta cepat-cepat turun dari mobilnya untuk melihat siapa yang datang bertamu dan dengan lancang membuka pintu gerbang yang sudah jelas-jelas sebelumnya ia kunci dan kuncinya pun ia bawa.
Langkah Sherlyta berhenti saat di depan sana dirinya melihat tiga orang yang sangat dikenalinya tengah duduk di kursi teras depan rumah peninggalan orang tua Sherlyta. Tadinya ia ingin segera beranjak pergi, namun langkahnya tertahan karena Gita lebih dulu menyadari kehadirannya. Mau tidak mau Sherlyta mengembangkan senyum pada orang tersebut dan berjalan menghampiri ketiganya.
"Kalian kok bisa ada disini, sejak kapan?" bingung Sherlyta saat sudah berada di hadapan ketiganya."Kok bisa masuk?" tanya Sherlyta lagi masih dengan kebingungannya.
"Gue kan punya kunci pagar rumah lo, Lyt." Samuel menjawab.
"Lo masih nyimpen ternyata. Terus kenapa gak masuk ke rumah? Bukannya lo juga punya kunci semua ruangan rumah gue?" Samuel terkekeh dan menggaruk tengkuknya yang sudah di pastikan tidak gatal.
"Ada sih, tapi kuncinya di pegang Bunda lo, katanya jangan sembarangan masuk lagi."
"Kenapa lo gak sekalian ajak Bunda ke sini juga?" tanya Sherlyta lagi
"Ah, lo banyak nanya kayak wartawan. Buka dulu ini pintu gue haus." Samuel mulai kesal. Sherlyta merongoh tas tangan yang dibawanya dan mengambil kunci rumah di dalamnya.
"Lo dari mana aja Sher? Udah beberapa hari gak ke butik, dihubungin juga susah banget." Gita bertanya saat kami sudah duduk di sofa ruang tamu.
"Sorry, gue sibuk banget di sekolah, bentar lagi mau ada pentas seni," jawab Sherlyta tidak sepenuhnya berbohong. Gita mengangguk paham.
__ADS_1
"Sibuk di sekolah? Emang lo sekolah lagi Lyt, bukannya udah lulus?" tanya Samuel.
"Dia kan jadi guru TK, Yank," sahut Cesil.
Senyum Samuel mengembang dan matanya berbinar senang. "Akhirnya cita-cita lo kecapai. Gue kira itu cuma cita-cita masa kecil aja, tapi ternyata ... Hebat banget sih sahabat gue ini ...!" Samuel berpindah duduk di samping Sherlyta dan dengan gemas menjawil kedua pipi chuby-nya.
"Sakit Muel," rengek Sherlyta yang tidak di pedulikan Samuel. Cesil dan Gita terkekeh geli melihat keduanya. Setelah cubitan itu terlepas Sherlyta cemberut, sedangkan Samuel tersenyum senang.
"Itu foto kalian waktu kecil?" tanya Cesil memperhatikan sebuah pigura tertempel di dinding yang tersusun beberapa bingkai foto keluarga Sherlyta juga Samuel.
Samuel mengangguk. "Iya, itu foto waktu aku sama Lyta masih berusia tiga tahun kalau gak salah, " Samuel mencoba mengingat.
Gita melirik foto tersebut begitu pun juga dengan Sherlyta. Perempuan itu tersenyum tipis saat mengingat foto itu. Foto dirinya dan Samuel ketika usia keduanya baru tiga tahun, di foto itu terlihat Samuel yang merangkul Sherlyta di taman rumah Samuel dulu. Terlihat jelas tawa Samuel dan Sherlyta yang bahagia.
Laki-laki yang hari ini mengenakan kemeja abu tua yang lengannya dilipat hingga siku itu menunjukkan dan menjelaskan satu per satu foto di sana pada Cesil dengan raut berbinar, sesekali Cesil terkekeh geli dan Samuel mengecup puncak kepala kekasihnya itu.
Sherlyta menatap keduanya dengan tatapan pedih. Ada rasa sakit yang timbul dihatinya, mungkin lebih tepatnya cemburu. Gita yang tidak sengaja memperhatikan Sherlyta melihat jelas bahwa ada luka di balik mata minimalis dan senyumnya itu.
"Gue ke kamar dulu ya, mau mandi." Pamitnya beralasan, meski alasan sebenarnya adalah karena ia tidak ingin terlalu lama menyaksikan sepasang kekasih itu, yang akan membuat luka dihatinya semakin dalam, karena ia tidak yakin masih bisa menahan cemburunya.
Dibawah guyuran shower, Sherlyta kembali meneteskan air matanya. Beberapa hari ini ia memang berubah menjadi perempuan cengeng, tapi bukankah itu wajar? Sepuluh tahun menanti dan kini dihadapkan dengan kenyataan yang tak pernah dirinya pikirkan. Sherlyta menyesal karena telah sedalam ini mencintai laki-laki itu. Ia menyesal telah menyia-nyiakan waktunya untuk menunggu laki-laki itu dan ia menyesal karena tidak pernah bisa melepaskan laki-laki itu dari pikiran dan juga hatinya.
"Lyt udah selesai belum mandinya?" terdengar suara Samuel di luar sana menyadarkan Sherlyta dari lamunannya.
"Bentar Sam, gue pake baju dulu, lo duluan aja ke bawah nanti gue nyusul." Teriak Sherlyta lalu bergegas memakai pakaiannya, tidak lupa mengeringkan rambutnya yang basah sebelum keluar dari kamar dan mendapati laki-laki tinggi dengan lesung pipit di kedua pipinya ketika tersenyum itu berada di depan pintu kamarnya.
"Lo mandi apa semedi, lama banget!" cibir Samuel. Sherlyta segera menutup pintu kamar sebelum laki-laki itu melihat isi kamarnya.
"Kenapa di tutup? Gue pengen masuk Lyt!" Sherlyta menggeleng, dan dengan cepat mengunci pintu kamarnya sebelum laki-laki didepannya itu menerobos masuk.
"Dilarang masuk ke kamar perawan, Sam, pamali," ucap Sherlyta tersenyum tipis.
"Dulu juga gue sering masuk kamar lo, bahkan tidur disana. Kenapa sekarang gak boleh?" tanya Samuel tak terima. Kembali Sherlyta menggeleng dan mendorong tubuh laki-laki itu untuk menjauh dari kamarnya.
Sherlyta menggandeng lengan kiri Samuel menuruni tangga untuk menghampiri kedua sahabatnya yang kini berada di dapur. Entah siapa yang menyuruh keduanya menerobos dapur, karena seingatnya kedua manusia itu tidak pernah sekalipun berkunjung ke rumah Sherlyta meskipun sudah berteman sejak lama. Tapi itu tidak masalah sebenarnya karena di rumah ini memang tidak ada siapa pun selain Sherlyta. Sedari kepergian sang Ibu, Sherlyta mengurus rumah ini sendiri dan tidak berminat mencari asisten rumah tangga karena ia merasa masih mampu untuk membersihkan sendiri.
__ADS_1
"Sher, Sorry ya kita masuk dapur lo tanpa izin. Abis gue laper dari pagi gak ada yang ngasih makan." Cesil berkata dengan nada menyesal juga kesal yang dibuat-buat.
"Gak apa-apa kok, di rumah gue mah bebas." Jawab Sherlyta tersenyum.
"Enak banget ya kamu bilang dari pagi gak ada yang ngasih makan. Terus tadi siang apa? Aku ke butik bawa makanan sebanyak itu kamu kemanain?" ucap Samuel pura-pura kesal.
"Makanan tadi siang yang kamu bawa diabisin sama Gita, Yank. Aku gak kebagian."
"Enak aja lo bilang, itu makanan jelas-jelas masuk perut lo semua. Yang ada gue yang gak kebagian." Cepat Gita menyambar karena tidak terima disalahkan.
"Ih pendek, gak asik lo mah, ah!" cemberut Cesil. Gita mendelik kesal sedangkan Sherlyta dan Samuel hanya menonton masih dalam keadaan tangan yang menggandeng Samuel. Sherlyta merasa nyaman dan tidak ingin melepaskannya.
"Sher, lo lapar gak? Biar sekalian gue masakin," tanya Gita. Sherlyta mengangguk.
"Sekalian dong Git, gue juga lapar soalnya," ucap Samuel cengengesan.
"Yank, kamu apa-apaan sih nyuruh-nyuruh orang gitu!" Cesil menatap tajam kekasihnya. "Sekalian gue juga Git, bikinin." Lanjutnya membuat ketiga orang yang barusan terlihat tegang itu menghela napas lega.
Cesil tertawa lepas merasa puas, sedangkan Gita yang memang berada di samping Cesil langsung menoyor kepala sahabat sekaligus bosnya itu kesal. Ia kira Cesil benar-benar marah karena Samuel memilih menyuruh membuatkan makanan pada Gita dari pada dirinya.
"Sialan lo!" dengus Gita lalu menyiapkan bahan untuk membuat Mie goreng untuk dirinya dan juga ketiga orang yang malah duduk asik di meja makan.
Cesil dan Samuel duduk bersampingan, sedangkan Sherlyta di seberang meja makan yang berhadapan dengan Samuel. Sherlyta tersenyum iri melihat kemesrasaan kedua orang didepannya. Terlihat jelas raut bahagia dari kedua orang itu. Tatapan cinta yang Samuel berikan pada Cesil membuat dada Sherlyta sesak.
Gita sesekali memperhatikan ketiganya, namun perhatiannya lebih tertuju pada Sherlyta yang selalu menatap sepasang kekasih itu dengan tatapan iri dan juga kecewa. Tak sekali dua kali Gita melihat air mata sahabatnya itu menetes, meski dengan cepat Sherlyta mengahapusnya. Gita semakin penasaran tentang hubungan yang sebenarnya antara Sherlyta dan juga calon suami Cesil.
Perlakuan manis Samuel dan Cesil tidak lepas dari pengamatan Sherlyta begitupun luka di mata Sherlyta yang tidak lepas dari perhatian Gita. Kini keempat orang itu tengah menyantap makan malam yang sebenarnya sudah terlewat itu. Obrolan di meja makan di dominasi oleh Cesil dan juga Samuel, tawa dan canda selalu keduanya lontarkan seolah lupa bahwa ada dua orang lainnya di meja makan itu.
Sherlyta makan dalam diam, sesekali ia menunduk hanya untuk menghapus air mata yang menetes dan sebisa mungkin terlihat biasa saja agar tidak ada yang curiga. Mie goreng yang berbau enak itu tidak membuat Sherlyta berselera karena rasa sakit hatinya lebih mendominasi dari pada rasa laparnya.
"Tidakkah kamu menyadari perasaanku, Sam? Tidakkah kamu sadar telah melukai perasaanku!"
"Salah kah aku memiliki perasaan ini? Dan salahkan aku cemburu melihatmu dengan dia?"
"Aku harus bagaimana, Sam?"
__ADS_1
***
...cerita ini pindah ke ****** ya, jadi kalau penasaran silahkan mampir. cari dengan judul yang sama 'Aku Bahagia Walau Sementara' terima kasih....