Sherlyta

Sherlyta
Chapter 35


__ADS_3

Sherlyta duduk di sofa panjang yang bersebelahan dengan sofa single yang di duduki Alvian. Laki-laki tampan itu tersenyum manis menyapa, yang di balas Sherlyta dengan senyuman pula. Samuel menyusul, menatap datar laki-laki yang menjadi tamu kekasihnya. Laki-laki yang beberapa waktu lalu ia lihat tengah bersama Sherlyta dan seorang anak kecil, juga laki-laki yang dulu sempat datang ke butik yang membuatnya cemburu untuk pertama kalinya.


“Ada hal yang harus Mas bicarakan sama kamu, Lyt,”Alvian membuka suara setelah beberapa menit sunyi.


Sherlyta menatap penuh permohonan pada Alvian agar tidak membicarakan tentang kesehatannya kala ini. Helaan napas panjang dapat Sherlyta dengar, raut cemas juga dapat ia lihat di wajah tampan itu. Sherlyta mengerti apa yang ingin dokternya itu sampaikan karena memang selama beberapa waktu ini Sherlyta secara sembunyi-sembunyi selalu datang kerumah sakit, memeriksakan kondisinya atau sedekar meminta obat, tapi ia selalu tak memberikan jawaban saat Alvian memberikan kembali pertanyaan soal pengobatan lanjut.


Samuel menatap Sherlyta dan laki-laki bernama Alvian itu secara bergantian, wajah tegang di keduanya membuat Samuel bingung. Kedua orang itu seakan berbicara melalui tatapan mata dan raut wajah, dan Samuel tidak dapat memahami itu. Begitu pun Gita yang baru saja datang membawa nampan berisi empat gelas jus jeruk dan dua toples cemilan sama bingungnya dengan Samuel. Helaan napas Alvian kembali terdengar, dan tatapannya berubah menjadi intens kearah Sherlyta tanpa memperdulikan kedua orang yang tengah kebingungan dengan sikapnya dan Sherlyta.


“Kita gak punya waktu banyak, Lyt. Demi kamu, Mas mohon!” Pinta Alvian dengan sangat. Sherlyta menghela napasnya pelan menatap Alvian tepat dimatanya, kemudian ia mengangguk, membuat senyum di bibir tebal Alvian mengembang.


Tak lama setelah itu Alvian pamit undur diri, Sherlyta mengantarkan Alvian sampai depan, sampai laki-laki itu melaju dengan mobilnya meninggalkan pekerangan rumah. Samuel menghampiri kekasihnya yang masih menatap kearah depan dengan pandangan kosong. Samuel menepuk bahu kekasihnya itu pelan membuat Sherlyta sadar dari lamunannya. Berbalik dan tersenyum menatap Samuel yang juga tengah menatapnya.


“Kamu sama dia ada urusan apa sih, kok kayaknya rahasia banget?” Tanya Samuel penasaran.


Sherlyta yang memang pandai menyembunyikan hanya memberikan senyuman pada kekasihnya itu. Mengecup singkat pipi kekasihnya dan melangkah kedalam rumah meninggalkan Samuel yang masih terbengong. Sherlyta kembali menemukan wajah penasaran lainnya, dan kali ini adalah Gita. menatapnya seakan menuntut sebuah penjelasan.


“Gak usah natap gue kayak gitu, Git. Gue gak takut!” Gita mendengus kesal lalu berjalan untuk duduk di samping Sherlyta.


“Lo ada hubungan apa sama laki-laki tadi? Gue salut, kalian bisa ngobrol cuma lewat tatapan mata kayak gitu. Tapi sayangnya itu buat gue gak bisa paham dengan apa yang kalian bicarakan.”


“Emang niat gue supaya lo gak paham, Git,” jawab Sherlyta tenang, Gita kembali mendengus kesal.


“Tapi gue penasaran, Sher. Gue yakin laki lo juga penasaran,” ucap Gita saat Samuel masuk dan duduk di sofa yang tadi Alvian duduki.


“Nanti juga kalian akan tahu.” Sherlyta tetaplah Sherlyta, perempuan yang selalu penuh dengan rahasia dan teka-teki.

__ADS_1


“Makan Siang diluar yuk?” Sherlyta menatap bergantian Samuel dan Gita meminta persetujuan.


“Lo yang bayar?” Tanya Gita, Sherlyta tersenyum dan melirik kearah Samuel.


“Kamu yang bayar ya, sayang?”


“Giliran ada maunya aja, manis banget ngomongnya.” Cibir Samuel mendelik pada kekasihnya itu. Sherlyta cengengesan.


“Kenapa kita gak makan berdua aja, sih! Kenapa harus bawa-bawa boneka Annabel segala?” gerutu Samuel. Gita yang merasa disinggung menatap tajam Samuel, kedua lengannya ia simpan diantara pinggangnya dan mendengus kesal.


“Udah jangan mulai, mending sekarang siap-siap, setengah jam lagi kita berangkat.” Lerai Sherlyta saat Gita baru saja akan mengeluarkan lahar kemarahannya untuk Samuel.


Tak butuh waktu lama untuk ketiganya bersiap, karena sebelum tiga puluh menit berlalu pun semuanya sudah berkumpul kembali siap untuk pergi. Gita mengunci pintu terlebih dulu, menunggu mobil Samuel yang kali ini akan digunakan keluar dari pekarangan rumah dan Gita mengunci gerbangnya kembali setelah itu masuk kedalam mobil Samuel, duduk di jok belakang seorang diri.


Hanya membutuhkan waktu sekitar satu jam untuk mereka sampai di sebuah restoran jepang, pilihan Sherlyta. Samuel awalnya menolak, karena dirinya menginginkan makanan khas nusantara, tapi Sherlyta yang memang sedang menginginkan makanan has Negara sakura itu seperti biasa menampilkan wajah memohon dan mengeluarkan sedikit kata-kata manis untuk membuat kekasihnya itu menuruti apapun keinginannya, dan itu tidak pernah gagal karena kemudian Samuel mengangguk menuruti keinginan sang kekasih tercinta.


Bukan lah Sherlyta jika memesan hanya beberapa menu, karena sekarang di atas meja sudah di penuhi beberapa macam makanan khas jepang, yang membut Samuel melongo. Padahal ia tahu kekasihnya itu hanya akan makan sedikit tapi pesananya sudah melebihi porsi untuk tiga orang. Saat di protes pun Sherlyta hanya menjawab biar Samuel dan Gita yang menghabiskan.


Gita bahkan sampai merasa perutnya penuh dan hendak meledak saking kekenyangan. Begitu juga Samuel, Sherlyta hanya menatap meraka dengan senyum. Sejujurnya ia juga menginginkan makan banyak seperti kedua orang di depannya, tapi ia merasa tak sanggup karena kadang ia merasa mual saat ia memaksakan untuk makan.


Awalnya ia memang seperti bernapsu untuk makan tapi saat makanan itu terhidang seleranya pun menghilang, dan tentu itu menyiksanya, berat tubuhnya perlahan turun dan itu membuat Sherlyta kadang menangis dalam diam.


Menjelang malam Samuel baru mengantarkan Sherlyta dan Gita pulang dan setelah itu ia pamit untuk pulang kerumahnya karena merasa tidak enak jika terus-terusan menginap di rumah Sherlyta yang belum resmi menjadi istrinya meski sebenarnya ia masih ingin berada disana. Setelah melepaskan ciumannya di bibir Sherlyta, Samuel mengecup kening kekasihnya itu, membiarkan Shelyta keluar dari mobilnya dan setelah itu baru ia menjalankan mobilnya meninggalkan rumah Sherlyta.


Laki-laki tampan dengan stelan santainya itu tidak langsung pulang, melainkan mampir ke sebuah café yang berada di tengah kota. Café yang bernuansa romantis itu terlihat penuh dengan pasangan muda mudi yang tengah menikmati santap malam dengan pasangan, dan sahabat, tak sedikit juga yang duduk bergerombol.

__ADS_1


Mata hitam Samuel melirik sekeliling mencari seseorang yang tadi mengajaknya bertemu, matanya menemukan sosok yang dicarinya duduk di meja yang berada di pojok ruangan duduk seorang diri dengan secangkir coffe di hadapannya.


“Maaf lama,” ucap Samuel datar, lalu duduk di kursi yang berhadapan dengan perempuan yang tak lain adalah Cesil. Perempuan berwajah jutek itu mengangguk kecil.


“Mau bicarain soal apa?” tanya Samuel langsung pada intinya.


“Sekarang kamu to the poin banget ya, gak bisa basa-basi dulu gitu? Nanyain kabar aku misalnya?” Cesil menatap laki-laki di depannya itu dengan tatapan sedih dan juga kecewa.


“Aku bisa lihat kalau kamu baik-baik aja. Sekarang apa bisa langsung pada intinya? Aku mau pulang, cape.” Cesil mengangguk paham.


“Apa kamu melepas aku gitu aja, setelah hampir sepuluh tahun kita bersama? Tidak adakah rasa di hati kamu buat aku? Belakangan ini aku bersikap baik-baik aja di depan semua orang, tapi asal kamu tahu, Nan aku tidak sedikit pun merasa baik. Kenapa kamu tidak sedikitpun perjuangkan aku? Apa setidak ingin itukah kamu untuk melanjutkan pernikahan kita?” air mata Cesil pelahan menetes dengan lancangnya.


“Maaf, Sil aku gak bisa. Aku terlalu mencintai Sherlyta. Maaf bukan aku ingin kembali menorehkan luka di hati kamu tapi mungkin ini lebih baik. Aku memutuskan akan menikahi Sherlyta dalam waktu dekat ini.” Mata Cesil terbelalak saat kata terakhir keluar dari mulut Samuel.


“Gak, aku gak setuju!”


“Ada atau tidaknya persetujuan dari kamu, aku akan tetap menikahi Lyta, Sil. Aku harap kamu mengerti, hubungan kita sudah berakhir. Tidak ada lagi kata kita diantara kamu dan aku.” Ucapan itu mengakhiri pertemuan mereka, Samuel bangkit dan pergi dari café meninggalkan Cesil yang menangis di sana.


Dalam hati Samuel terus mengucapkan kata maaf, maaf yang begitu besar pada mantan tunangannya. Setelah berada di dalam mobil, Samuel segara menjalankan mobilnya membelah jalanan kota malam hari ini menuju rumah orang tuanya. Ia ingin segera istirahat.


“Dari mana aja kamu selama beberapa hari ini gak pulang kerumah?” suara tegas itu menyambut kedatangannya yang baru saja membuka pintu utama.


“Aku tahu, Papa pasti lebih tahu aku dari mana.” Samsul berjalan kearah Samuel, menepuk bahu anaknya itu dua kali.


“Jika memang dia yang kamu inginkan, Papa dukung. Tapi sebelum itu yakinkan dulu Mama mu, karena Mama yang tidak memberikan restu itu untuk kalian,” ucap Samsul sebelum akhirnya melangkah meninggalkan Samuel menuju kamarnya.

__ADS_1


“Sekeras apa pun Mama menolak, aku akan tetap menikahi Lyta. Aku tahu Mama sangat menyayangi Lyta, jadi tak akan sulit buat Mama untuk menerima dia.”


__ADS_2