
Sudah dua hari Sherlyta tak pergi ke butik karena memang sedang menikmati cutinya, tapi dengan terpaksa hari ini ia harus datang ke butik karena Gita memaksa dirinya untuk datang sebab ada seorang pelanggan yang kukuh ingin baju yang khusus di rancang olehnya. Meski enggan tapi Sherlyta tetap bersiap-siap untuk pergi.
Berdiri di depan cermin besar yang ada di kamarnya. Sherlyta mematut diri dengan polesan make up tipis, beruntung tanda merah yang dua hari lalu Samuel buat sudah menghilang sepenuhnya. Sepulangnya Samuel, Sherlyta langsung membuka ponselnya dan mencari berbagai cara untuk menghilangkan bekas merah itu. Dan hasilnya cukup memuaskan, Sherlyta tidak perlu menunggu hingga seminggu karena sehari pun tanda merah itu hilang.
Sherlyta menghentikan mobilnya dipinggir jalan dekat rumah besar yang beberapa kali pernah ia singgahi. Di depan gerbang itu terlihat pemilik rumah sedang berdiri mengenakan pakaian santai, kaos polo putih dengan di padukan celana hitam selutut.
“Selamat pagi menjelang siang Mas Alvian,” sapa Sherlyta ramah sambil tersenyum.
“Selamat pagi juga Lyta.” Balas Alvian tak kalah ramah.
“Lagi ngapain, Mas, berdiri sendirian disini?” tanya Sherlyta.
“Gak lagi ngapa-ngapain kok. Tadi habis dari depan terus liat mobil kamu menuju sini jadi Mas diam disini nunggu kamu.” Sambil tersenyum Alvian menjawab. Membuat Sherlyta mengangguk anggukan kepalanya.
“Bintang mana?”
“Ada, lagi sama Neneknya. Kamu mau kemana?”
“Mau kebutik, Mas. Ada panggilan mendadak.” Alvian mengangguk paham.
“Gimana keadaan kamu sekarang?”
Sherlyta menghela napasnya pelan, lalu menatap sendu Alvian. “Beberapa waktu ini aku merasakan apa yang sempat Mas bilang waktu itu. Tubuh aku lebih cepat lelah dan kadang rasa sakit di kepalaku datang lebih parah dari sebelumnya. Tapi aku masih rutin minum obat yang waktu itu Mas kasih.”
“Kita harus segera bertindak, Lyt sebelum penyakit kamu semakin parah dan berubah jadi ganas. Mas mohon dengarkan omongan Mas kali ini! Demi kesehatan kamu, Lyt.” Sherlyta semakin menundukan kepalanya.
“Aku akan hubungi, Mas saat aku sudah siap.” Putus Sherlyta akhirnya. Alvian menghela napasnya pasrah kemudian mengangguk.
Sherlyta kembali melajukan mobil merahnya, tentu saja setelah berpamitan pada laki-laki dewasa tampan dan penuh karisma itu. Sepanjang perjalanan ia memikirkan ucapan Alvian hingga suara ponsel yang terletak di jok sebelahnya berbunyi, menandakan ada sebuah panggilan yang masuk.
“Hallo.”
__ADS_1
“Kamu dimana, Baby?” Tanya Samuel di sebrang telepon.
“Aku di perjalanan menuju butik.”
“Oh, ok.”
Sambungan itu ditutup sepihak oleh Samuel, membuat Sherlyta mendengus kesal dan melemparkan ponsel itu ke jok belakang. Sherlyta sampai di depan butik dan langsung memarkirkan mobil merahnya. Setelah mengunci mobilnya, Sherlyta merapikan dulu dres selutut berwarna tosca yang hari ini iya kenakan. Rambutnya yang tergerai indah berayun seiring langkah kaki Sherlyta yang memasuki Butik.
“Selamat siang semuanya,” sapa Sherlyta ramah pada Gita dan beberapa pembeli yang tengah pengantri untuk membayar. Sejenak Gita menghentikan kegiatan menghitungnya dan tersenyum kearah Bos kesayangannya. Beberapa pembeli itu pun menyunggingkan senyumnya mengetahui sang pemilik lah yang datang.
Setelah mengobrol basa-basi dengan salah satu pelanggan setianya, Sherlyta pamit untuk masuk kedalam ruang kerjanya, tidak lupa senyum ramah ia berikan sebelum berlalu melangkahkan kaki naik menuju ruangan berpintu putih yang berada di sebelah kanan.
“Siang, Baby.” Sherlyta sedikit terkejut saat sapaan itu terdengar. Mata sipit Sherlyta menatap sekeliling mencari sosok sahabatnya.
“Dia gak ada disini. Sepuluh menit yang lalu pergi sama Dina untuk beli kain yang habis.” Sherlyta bernapas lega mendengar penjelasan dari kekasihnya itu.
“Kamu lagi ngapain disini?” Tanya Sherlyta. Samuel menarik tubuh ramping Sherlyta kedalam pelukannya.
“Gak ngapa-ngapain aku pengen ketemu kamu aja,” jawab Samuel polos.
“Aku sengaja, biar pernikahan aku yang tinggal 3minggu lagi itu di batalkan,” jalas Samuel ringan. Sherlyta membelalakan matanya tak percaya, ia melepas paksa pelukan Samuel dan menatap tajam mata hitam itu.
“Kamu Gila, hah!! Aku udah pernah bilang sama kamu, jangan pernah lakuin itu! Aku gak mau pernikahan kalian di batalkan, apa lagi aku sebagai alasannya.”
Dengan cepat menepis tangan Samuel yang berada di pinggangnya lalu Sherlyta melangkahkan kakinya keluar dari ruangan itu meninggalkan Samuel yang berdiri mematung. Cepat Samuel mengejar kekasihnya itu sebelum Sherlyt pergi lebih jauh meninggalkannya. Tadi ia hanya mengira bahwa kekasihnya itu akan setuju dengan pembatalan pernikahan itu, karena dua hari lalu Sherlyta mengizinkan ia menyentuhnya sejauh itu. Samuel pikir tidak akan ada protesan dan penolakan, tapi nyatanya ia salah. Samuel jadi bingung sendiri dengan apa yang diinginkan wanitanya.
“Lyt, Lyta tunggu, Lyt!” Sherlyta mengabaikan teriakan kekasihnya itu dan terus berjalan cepat keluar dari butik, namun sial langkahnya harus terhenti ketika salah satu pelanggannya yang baru masuk menyapanya dengan ramah. Sherlyta sebenarnya ingin segera pergi tapi ia merasa tak enak jika tidak membalas sapaan ramah wanita berusia 40 tahun di depannya itu.
Samuel menghela napasnya lega, dan berjalan pelan kearah Gita berpesan pada sahabat kekasihnya itu untuk mengatakan pada Cesil bahwa dirinya mendadak ada urusan. Tentu saja perempuan berambut kecoklatan itu mencibir dan mendelik kesal, tapi tak luput juga mengangguk dan menyuruh Samuel untuk segera menghampiri Sherlyta sebelum perempuan itu kembali melarikan diri.
Saat kaki jenjang yang mengenakan Hells setinggu 7cm itu akan melangkah, Samuel lebih dulu memegang lengan Sherlyta. Tanpa kata, Sam membuka pintu kaca tersebut dan membawa kekasihnya itu keluar, berjalan menuju mobil merah Sherlyta yang terparkir di depan sana. Sherlyta tidak berontak untuk mencoba melepaskan karena ia tidak ingin orang yang berada disekitar sana melihat, jika mereka berdebat. Dan kemungkinan besar karyawannya pun akan tahu dan bisa saja melaporkan pada Cesil. Maka dari itu Sherlyta lebih baik mengalah dan mengikuti langkah Samuel.
__ADS_1
“Kunci mobil kamu mana?” Tanya Samuel saat mereka sudah berada tepat di depan mobil jazz merah milik Sherlyta.
“Emang kamu udah bisa nyetir?”
“Ya, gak tahu. Makanya ini aku mau nyoba.” Sherlyta mendengus kesal, mengambil kunci mobil dari dalam tas tangannya dan membuka pintu mobil sebelah kanan, menyuruh Samuel untuk masuk. Lalu setelah itu ia berputar untuk menuju pintu sebelah kiri, duduk di balik kemudi dan mulai menjalankan mobilnya tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Samuel perlahan mulai mendekatkan tubuhnya kearah Sherlyta membuat perempuan cantik itu terkejut dan konsentrasinya sedikit buyar.
“Sam, kamu ngapain sih? Minggir Sam aku lagi ngetir ini. kalau tiba-tiba aku nabrak gimana? Samuel!” sentak Sherlyta saat Samuel semakin memdekatkan tubuh apa lagi wajahnya. Semakin membuat Sherlyta panik, namun berusaha tetap fokus pada jalanan di depannya. Mau menepi pun Sherlyta tidak bisa karena mobinya berada di tengah-tengah jalanan dan samping mobilnya pun ada mobil lain yang sama-sama sedang melaju.
“Kamu tenang dong, Baby gak usah tegang gitu wajahnya. Aku cuma mau pasangin sabuk pengaman kamu aja.” Santai Samuel berucap lalu kembali menjauhkan tubuhnya dari Sherlyta dengan kekehan geli di wajahnya.
“Ya kamu kan bisa bilang aja, biar aku yang pasang sendiri. Gak harus lakuin kayak barusan.” Kesal Sherlyta dengan wajah memerah, antara malu dan juga marah.
“Abis aku suka liat wajah panik kamu.” Samuel terkekeh kecil lalu melayangkan kecupan di pipi kiri Sherlyta.
“Kepuncak yuk, Lyt.”
“Mau ngapain?” Tanya Sherlyta menaikan sebelah alisnya.
“Main aja, udah lama aku gak kesana,” jawab Samuel menatap Sherlyta dengan memohon.
“Besok aja ya, sekarang udah siang, pasti kemalaman sampai sananya.”
“Sekarang ya, kita nginap di villa kelurga kamu. Belum di jualkan?” Sherlyta menggeleng, kemudian mengangguk.
“Ya udah kita pulang dulu kerumah ambil pakaian buat ganti,” usul Sherlyta yang di balas gelengan oleh laki-laki tampan di sampingnya.
“Gak usah, nanti kita beli aja di jalan. Lama lagi kalau harus pulang dulu kerumah.”
“Bunda sama Ayah gimana kalau tahu kamu gak pulang? Cesil juga.”
“Kamu tenang aja, Mama sama Papa lagi pulang ke Belanda untuk beberapa hari ini. Ada sahabat Papa yang mau nikahin anaknya. Cesil biar nanti aku telpon aja, bilang kalau aku lagi kencan sama kamu.”
__ADS_1
“Sam!!” Samuel terkekeh geli. Laki-laki itu puas melihat kemarahan Sherlyta.
“Udah kamu tenang aja, sayang. Yang penting sekarang aku pengen liburan dulu sama kamu. Menebus waktu sepuluh tahun yang sudah aku lewatkan bareng kamu.”