
Matahari sudah menunjukan sinarnya, menembus celah-celah pentilasi kamar milik Sherlyta yang masih tertutup gorden. Perempuan cantik itu masih tidak terganggu meski sinar matahari mengenai wajahnya dan tetap bergelung dibalik selimut tebal berwarna ungu muda polos itu. Dengkuran halus masih keluar, membuat siapa saja yang mendengar akan gemas dibuatnya, termasuk Samuel yang kini duduk di tepi ranjang dimana Sherlyta terbaring dengan damainya.
Samuel enggan membangunkan perempuan cantik tanpa polesan make up itu, masih ingin menatap wajah cantik yang matanya masih juga terpejam. Laki-laki tampan yang terlihat rapi dengan setelan kemeja berwarna hitam yang lengannya sudah ia gelung hingga sikut dan celana bahan hitam itu tersenyum, matanya menelusuri setiap inci wajah milik kekasih tercintanya mulai dari mata indahnya yang terpejam, bulu matnya yang lentik hidung mancung kecil, hingga bibir tipis yang merah alami. Sherlyta mengigit bibir bawahnya kecil sebelum membasahi bibirnya itu tanpa sadar, seolah menggoda Samuel. Jakun tegas Samuel naik turun, susah payah laki-laki itu menelan ludah, menahan godaan nyata yang ada di hadapannya.
Sebelum terjadi sesuatu yang tidak diinginkan Samuel memilih untuk beranjak keluar dari kamar Sherlyta yang setengah jam lalu ia buka menggunakan kunci cadangan yang ia ambil diam-diam dari kamar sang Mama dirumah tadi sebelum dirinya datang ke tempat ini. Samuel menyandarkan tubuhnya di sandaran sofa ruang tengah, memijat pelan pelipisnya untuk menetralkan debaran di dada akibat nafsu yang tiba-tiba muncul.
“Loh, Sam lo kok ada disini? Sejak kapan?” suara lembut itu menyadarkan Samuel dari lamunan yang entah sudah berapa lama ia lakukan.
“Sedari tadi,” jawabnya singkat. Sherlyta berjalan menghampiri kekasihnya itu lalu duduk di samping Samuel yang masih menyandarkan kepalanya.
“Ke sini sama siapa?”
“Di antar taxi online tadi.” Samuel tersenyum menatap wajah cantik Sherlyta yang terlihat segar. Sherlyta menghela napas lega.
“Ya udah, lo tunggu bentar ya, gue mau bikin sarapan dulu. Lapar.” Sherlyta meringis saat merasakan perutnya kembali berbunyi.
“Lo mau dibikinin apa?” tanya Sherlyta saat hendak melenggang menuju dapur.
“Bikinin kopi aja,” jawab Samuel singkat. Sherlyta mengangguk dan tersenyum lembut sebelum benar-benar pergi meninggalkan Samuel seorang diri di ruang tengah.
Samuel meraih remot tv yang selalu tersimpan diatas meja dan menyalakan layar besar itu hingga menampilkan siaran anak-anak yang selalu tayang di jam-jam pagi seperti ini. Waktu memang masih menunjukan pukul 8:00 pagi, dan dia datang tepat saat Gita akan melajukan motornya untuk pergi menuju butik. Gita juga lah yang memberi tahu bahwa dirinya hari ini bebas karena Cesil sudah mulai akan disibukan dengan pekerjaan kerena Sherlyta sudah resmi mengambil cuti. Gita memang satu-satunya orang yang tahu akan hubungannya dengan Sherlyta, dan satu-satunya pula yang mendukung hubungan mereka.
Televisi baru saja berganti menjadi menayangkan iklan, membuat Samuel menghela napas panjang dan bangkit dari duduknya berjalan menuju dapur untuk menghampiri sang kekasih. Baru beberapa menit saja ditinggal dirinya sudah merasakan rindu yang teramat sangat, benar-benar seorang Adnan Samuel Prasetya sudah menjadi bucin alias budak cintanya Sherlyta Amalia.
__ADS_1
Samuel berusaha berjalan sepelan mungkin agar tidak menciptakan suara yang akan membuat perempuan yang kini berdiri membelakangi itu menyadari kedatangannya. Pelan namun pasti, Samuel berjalan mendekat kearah Sherlyta dan memeluk pinggang perempuan cantik yang kini hanya mengenakan dres tidur tanpa lengan dengan panjang diatas lutut hingga menampilkan kaki jengjang mulusnya itu dari belakang. Sherlyta berjengit kaget dengan pelukan tiba-tiba itu, hampir saja sodet yang sedang ia pegang melayang jika saja ia tidak cepat-cepat menyadari siapa yang berani memeluknya.
“Lo apa-apaan sih, Sam! Untung aja jantung gue gak copot.” Kesal Sherlyta.
“Aku kangen kamu, Baby.” Suara lembut itu tepat berada di telinga kiri Sherlyta, membuat perempuan cantik itu bergidik karena geli.
“Lepas, Sam gue lagi masak.” Sherlyta berkali-kali mencoba melepaskan tangan besar milik Samuel yang berada di pinggangnya dengan sekuat tenaga, tapi sayang tangan itu tak mau lepas dan malah semakin erat memeluknya.
“Jangan di lepas, aku masih pengen kayak gini.” Samuel semakin menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Sherlyta, membuat perempuan sipit itu sebisa mungkin menahan suara yang hendak keluar.
“Geli, Sam. Gue gak bisa masak kalo lo kayak gini. Udah laper banget ini.”
Dengan berat hati akhirnya Samuel melepaskan pelukan di pinggang Sherlyta, wajah tampan itu cemberut membuat Sherlyta gemas, dan ‘cup’ satu ciuman mendarat di pipi kanan Samuel membuat laki-laki itu membulatkan matanya tak percaya, namun kemudian tersenyum dan memberikan satu kecupan singkat pada bibir tipis Sherlyta yang memang sejak tadi ingin ia nikmati.
Wajah Sherlyta memerah, dadanya berdebar-debar dan ada rasa bahagia yang tak bisa ia ungkapkan. Samuel mencubit gemas pipi yang sedikit chuby itu, membuat ringisan kecil keluar dari mulut Sherlyta. Sejenak ia terdiam menyadari bahwa kini Samuel tidak menggunakan tongkat yang beberapa minggu belakangan ini selalu kekasihnya itu kenakan kala membantu dirinya berdiri atau berjalan.
“Sejak kapan?”
“Baru tiga hari yang lalu. Aku berusaha banget biar cepat bisa jalan demi kamu. Biar bisa samperin kamu kapan pun.” Sherlyta terharu mendengar perkataan laki-laki yang menjadi kekasihnya itu.
“Lepasin dulu pelukannya, Baby lihat itu omlete kamu gosong.” Tersadar Sherlyta langsung melepaskan pelukannya dan berbalik menatap omlet yang warnanya sudah sedikit menghitam, perempuan cantik itu menghela napasnya kecewa setelah mematikan api kompor tersebut.
“Jangan sedih, biar aku bikinkan buat kamu.”
__ADS_1
Sherlyta dengan cepat menggeleng.” Gak usah, gue makan Roti selai aja.” Tolaknya halus. Samuel mengacak gemas rambut panjang yang terurai milik Sherlyta di susul dengan kecupan kecil di puncak kepalanya.
Sarapan yang sebenarnya sedikit terlambat itu sangat dinikmati Sherlyta, karena ada laki-laki yang sangat dicintanya duduk menemani. Sesekali tangan jahil Samuel mendarat pada pipi mulus Sherlyta, mencubit gemas hidung dan pipinya, membuat bagian wajah Sherlyta itu memerah. Samuel senang saat melihat wajah kesal kekasihnya, membuat ia terus ingin menggodanya.
Selesai dengan sarapan dan mencuci piring dan juga gelas kotor kedua insan itu kembali ke ruang tengah, menonton televisi yang masih saja menayangkan siaran anak-anak, dimana kartun berwarna kuning itu menghiasi layar televisi. Samuel dan Sherlyta duduk berdampingan dengan tangan yang saling bertaut.
Perlahan Samuel membawa kepala Sherlyta untuk ia sandarkan pada dadanya, tak ada penolakan karena Sherlyta malah senang dan memposisikan kepalanya agar nyaman di dada bidang milik laki-laki tercintanya itu. Samuel tentu saja bahagia dan senyumnya terukir sempurna.
Sherlyta meraih remot yang berada di sisi kiri Samuel lalu memindah-mindahkan siaran televisi, mencari acara yang lebih berbobot dari pada kartun spon itu. Samuel memperhatikan setiap raut wajah kekasihnya itu ketikan tak ada siaran yang diinginkannya. Tangan kasar itu mengacak lembut rambut Sherlyta lalu tatapan mata yang semula menatap wajah cantik itu beralih kearah paha putih yang terpang-pang jelas, laki-laki itu baru menyadari bahwa perempuannya mengenakan pakaian yang amat pendek membuat tubuhnya panas seketika. Namun sebisa mungkin untuk terlihat biasa saja meskipun sebenarnya ia tidak mampu.
“Nonton DVD aja ya, Sam? Siarannya gak ada yang seru.” Wajah Sherlyta mendongak menatap Samuel. Laki-laki itu hanya mengangguk pelan, membiarkan perempuan itu bangkit dari duduknya dan berjalan menuju arah televisi untuk memasangkan kaset pada DVD yang berada di dalam nakas dan sudah tersambung pada layar yang tertempel di dinding bercat putih itu.
Gerak geriknya tak lepas dari pandangan Samuel hingga Sherlyta kembali duduk di sampingnya dan menyandarkan kepalanya pada dada bidang itu lagi. Sherlyta tersenyum tipis sebelum matanya fokus pada layar yang berada didepannya tengah menayangkan film kesukaannya, yang tak lain adalah Barbie. Sebelumnya Samuel memang sudah bisa menebak, karena perempuan berusia 25 tahun yang sebentar lagi akan berganti menjadi 26 itu sedari dulu memang lebih menyukai Barbie dari pada drama-drama yang sekarang banyak di gemari perempuan di luar sana.
“Masih aja tontonannya anak TK.” Samuel terkekeh kecil, hingga sebuah cubitan mendarat di perut keras Samuel.
“Muel mah jahat, malah ledekin aku segala. Ih sebel!” rajuknya manja. Senyum Samuel semakin berkembang tak kala kata ‘aku’ keluar dari mulut manis Sherlyta.
“Nah gitu dong bicaranya ‘aku, kamu’. Kan manis kedengarannya.” Sherlyta memalingkan wajahnya malu. Samuel yang gemas langsung membawa perempuan cantik itu kedalam pelukannya, mencium kening perempuan tercintanya berkali-kali.
Samuel mengelus rambut panjang dengan wangi beraroma Strawberry dengan lembut, melonggarkan pelukannya dan tangan kiri Samuel menyentuh dagu lancip milik Sherlyta menariknya pelan hingga membuat wajah Sherlyta mendongak keatas. Tangan kanan yang semula berada di pinggang Sherlyta kini berada pada pipi kiri Sherlyta, mengelus lembut pipi tersebut hingga kini elusan itu pindah pada bibir tipis Sherlyta.
Seolah tahu dengan maksud laki-laki itu, Sherlyta perlahan memejamkan matanya, memberi izin Samuel untuk melakukan keinginannya mencium Sherlyta. Terlebih dulu Samuel manatap jam yang menggantung di atas dinding takut-takut seseorang akan datang seperti saat itu dan mengganggu keinginannya. Beruntung waktu masih menunjukan pukul 9:15 pagi. Dan itu artinya tidak akan ada siapapun yang datang.
__ADS_1
Samuel mulai mendekatkan wajahnya kearah Sherlyta, mengecup kening lalu kedua mata indah yang terpejam itu secara bergantian, beralih mencium hidung dan kedua pipi perempuan itu lalu ciumannya berakhir, Samuel kembali menjauhkan wajahnya dan mata Sherlyta kembali terbuka perlahan.
“Aku sangat mencintaimu, Lyt. Jangan pernah tinggalkan aku, tetaplah berada sedekat ini disampingku.”