
Samuel sudah pulang dari rumah sakit sekitar seminggu yang lalu, luka di wajah tampannya pun sedikit-demi sedikit menghilang berkat bantuan krim yang diberikan oleh dokter yang merawatnya. Sherlyta yang saat itu tidak bisa menjemput kepulangan sang kekasih membuat laki-laki dengan rahang tegas itu cemberut dan mongok bicara dengan siapa pun termasuk Cesil, sang tunangan.
Hanya Samsul yang paham, karena laki-laki paruh baya itu tahu apa yang ada diantara Sherlyta dan juga Samuel. Cukup hanya dengan melihat tingkah dari anak laki-lakinya yang manja dan selalu ingin bersama perempuan sipit itu. Dan jangan lupakan pula beberapa waktu lalu anak lelakinya itu pernah meminta untuk membatalkan pernikahannya bersama Cesil. Sudah bisa ditebak ada hubungan apa diantara keduanya, karena memang Samsul sejak anak-anak itu berusia balita sangat dekat dengan mereka. Samsul cukup memiliki kepekaan yang baik jika berhubungan dengan anak-anaknya.
“Sam, kita berangkat ke rumah sakit sekarang ya, ini waktunya kamu untuk kontrol dan terapi berjalan.” Arini bicara dengan lembut pada anak satu-satunya itu.
“Gak deh, Ma, Samuel malas!” Jawaban yang ogah-ogahan itu membuat Arini mendekat dan duduk di tepi ranjang milik anaknya.
“Kenapa? Kamu gak mau gitu, cepat sembuh? Pernikahan kamu menanti loh, Sam.” Laki-laki tampan yang kini tengah menyandarkan punggungnya pada kepala ranjang itu memalingkan wajah kearah lain saat soal pernikahan kembali menjadi alasan sang ibu untuk kesembuhannya.
Samuel tidak menghiraukan segala ocehan dan bujuk rayu sang ibu untuk kerumah sakit, hingga akhirnya Arini menyerah dan pergi keluar dari kamar putranya itu dengan menghela napas berat. Samuel terus menerus mengucapkan kata maaf dalam hatinya karena telah mengabaikan perempuan yang telah melahirkannya itu. Menghela napas pelan kemudian Samuel meraih ponsel yang sebelumnya ia simpan di atas nakas samping kiri ranjang, mencoba menghubungi sang kekasih yang beberapa hari ini tak terdengar kabar bahkan kehadirannya pun tak tercium.
“Kamu dimana?” tanya Samuel saat sambungan tersambung pada deringan kelima.
“…”
“Aku gak akan pergi Kontrol kalo bukan kamu yang antar!”
“…
“Aku gak perduli.”
Sambungan diputus sepihak oleh Sherlyta, membuat Samuel mengacak-ngacak rambutnya dengan frustasi. Ponselnya ia lempar kesembarang arah, memaki-maki perempuan sipit itu dalam hati. Samuel merutuki kakinya yang tak dapat di gerakan, jika saja kakinya masih normal seperti beberapa waktu lalu mungkin saat ini juga laki-laki yang kini mengenakan kaos polos berwarna hitam yang menempel pas pada tubuh atletisnya itu pergi berlari mendatangi sang kekasih yang selalu mengatakan bahwa dirinya sedang sibuk.
♥
Sherlyta yang kini tengah menyelesaikan baju pesanan milik salah satu pelanggan setianya mencak-mencak kesal setelah mendapatkan telpon dari kekasih manjanya itu. Dengan terpaksa meninggalkan pekerjaannya, meraih kunci mobil dan juga tas tangan berwarna tosca senada dengan blus yang hari ini iya kenakan lalu keluar dari ruang kerjanya melewati Cesil yang baru saja akan masuk kedalam ruangan yang baru saja Sherlyta tinggalkan begitu saja.
Cesil menatap kepergian sahabatnya yang terlihat jelas raut kesal pada wajah cantiknya itu, melangkah menuruni tangga dan menuju meja kasir dimana Gita duduk. Pandangan perempuan pendek itu tertuju kearah pintu kaca dimana Sherlyta baru saja menutup pintu tersebut.
“Teman lo kenapa, Git?” Gita menggelengkan kepalanya.
“Dia pergi gitu aja, tanpa bicara apapun. Wajahnya kayak kesel gitu.” Cesil mengangguk menyetujui ucapan sahabatnya.
Perempuan cantik bermata sipit itu melajukan mobilnya meninggalkan butik, masih dengan perasaan kesal, makian dan umpatan terus keluar dari bibir tipis berwarna pinknya.
__ADS_1
Hanya membutuhkan waktu sekitar kurang dari satu jam kini Sherlyta sudah berada halaman rumah besar milik orang tua keduanya. Setelah menekan bel beberapa kali, pintu kayu berwarna coklat tua itu terbuka, menampilkan sosok perempuan paruh baya yang masih cantik diusianya yang sudah tidak muda lagi.
“Loh, kamu Lyt. Ayo masuk, Nak.” Arini mempersilahkan sahabat kecil anaknya itu untuk masuk. Sherlyta tersenyum dan masuk kedalam rumah yang penuh kenangan. Tidak lupa mencium punggung tangan dan juga kedua pipi wanita paruh baya itu.
“Kamu kemana aja, udah beberapa hari gak datang kesini. Sam, marah-marah saat kamu gak ikut jemput kepulangannya minggu lalu,” ucap Arini saat sudah membawa perempuan cantik itu duduk di sofa yang berada di ruang tamu.
“Maaf, Bun. Lyta sibuk banget di butik, banyak pesanan dari pelanggan. Waktunya juga mepet, jadi Lyta harus cepat-cepat menyelesaikannya.” Tidak sepenuhnya bohong Sherlyta memberikan jawaban. Arini mengangguk paham dan mengelus lembut rambut anak perempuannya itu.
“Kamu jangan terlalu kecapean, Lyt. Perhatikan juga kesehatanmu. Bunda gak mau loh kalo sampai kamu sakit.” Lembut Arini berucap. Menerbitkan Senyum manisnya.
“Iya Bunda, terima kasih sudah perhatian sama Lyta. Lyta sayang sama Bunda.” Sherlyta memeluk tubuh sedikit gemuk Arini dengan erat.
“Maafin Lyta sudah mengecewakan Bunda, Maaf.” Lanjutnya dalam hati.
Setelah berbasa-basi dengan ibu keduanya, Sherlyta melanjutkan tujuan utamanya datang kerumah besar ini, yaitu menemui Samuel dam membawa laki-laki manja itu ke rumah sakit untuk kontrol dan juga terapi berjalan.
Terlihat di ranjang king size berseprai hitam polos itu terbaring laki-laki tampan yang sudah mengisi hatinya selama belasan tahun. Sherlyta duduk di sisi ranjang milik Samuel, mengelus pelan kepala yang di tumbuhi rambut hitam lebat itu.
“Bangun yuk, kita pergi ke rumah sakit sekarang,” pelan Sherlyta berucap sambil menepuk pelan pipi tirus Samuel. Laki-laki berhidung mancung yang terdapat beberapa luka yang telah mengering itu tetap tak bergerak.
“Kamu kemana aja sih? Aku kangen tahu!”
Samuel bahagia bukan main saat melihat kekasihnya itu berada di kamarnya dengan senyum manis yang terukir di bibir tipisnya, sampai Samuel ingin sekali mengecup bibir beraroma strawberry yang terasa manis itu.
Sherlyta membantu laki-laki tampan itu untuk duduk di kursi roda dan bergegas pergi keluar dari kamar. Setelah berpamitan pada Arini dan juga Samsul, Sherlyta melajukan mobil merahnya meninggalkan rumah besar itu.
Samuel duduk di jok penumpang sebelah Sherlyta yang mengemudi. Senyum laki-laki tampan itu tak surut membuat kedua sumur di kedua pipinya terlihat jelas dan cukup dalam.
“Lo harus cepat sembuh, Sam. Cepat bisa jalan lagi seperti sediakala. Gue pengen jalan-jalan, menghabiskan waktu seharian berdua sama lo. Mulai dari melihat fajar sampai berakhir tergelamnya matahari.” Sherlyta berbicara cukup serius meskipun pandangannya tetap lurus kearah depan .
“Aku akan cepat sembuh, jika itu selalu bersama kamu. Aku akan berusaha keras demi mewujudkan keinginan kamu, karena aku pun menginginkan itu.” Jawaban yang di sertai senyuman itu membuat Sherlyta ikut mengembangkan senyumnya.
Kurang lebih satu jam akhirnya mobil yang dikendarai Sherlyta sampai di depan rumah sakit, tempat dimana beberapa hari lalu Samuel menginap. Membuka pintu bagasi untuk mengambil kursi roda yang akan di kenakan laki-laki itu, Sherlyta lalu berjalan membuka pintu penumpang, membantu Samuel untuk turun dan duduk di kursi roda yang di bawanya.
Setelah mengunci mobil merah kesayangannya itu, Sherlyta mendorong kursi roda yang kini sudah diduduki Samuel menuju kedalam rumah sakit, dimana ruangan Dokter Susilo berada. Laki-laki itu terus tersenyum, semangatnya untuk segera bisa berjalan bertambah karena ia ingin segera melakukan apa yang disebutkan kekasihnya itu tadi ketika di perjalanan.
__ADS_1
Sherlyta senang melihat semangat kekasih manjanya itu, begitupun suster dan Dokter Susilo. Kini mereka berada di ruang terapi, Samuel sudah bangkit dari duduknya dan berdiri di antara besi panjang di sisi kanan dan kirinya yang akan berguna sebagai penyangga. Sherlyta menyemangati laki-laki tampan itu dengan senyuman saat beberapa kali terjatuh karena kurangnya keseimbangan, berkali-kali juga Samuel meringis menhan sakit saat dirinya terlalu memaksakan berjalan. Sherlyta yang berada di samping dokter Susilo meminta izin untuk mendekati kekasihnya itu yang kini di dampingi dua suster.
“Pelan-pelan aja, jangan terlalu dipaksain.” ucapan lembut Sherlyta nyatanya mampu membuat semangat Samuel bangkit.
Perlahan laki-laki tampan yang kini mengenakan celana hitam selutut itu mulai melangkahkan kakinya kembali dengan perlahan. Suster yang mendampingi tersenyum haru melihat semangat dari pasiennya. Meskipun Samuel baru mampu hanya beberapa langkah, tapi itu cukup bagus. Hanya dua jam Samuel melakukan terapi dan kini ia pulang sudah dapat menggunakan tongkat, tidak lagi kursi roda seperti tadi.
Setelah menebus obat, Sherlyta memapah kekasihnya yang masih belum biasa menggunakan tongkat menuju parkiran dimana mobilnya iya simpan. Sherlyta lebih dulu membukakan pintu untuk Samuel dan membantu laki-laki itu untuk duduk dan memasangkan sabuk pengaman. Sebenarnya Samuel bisa melakukan itu sendiri tapi ia tidak mau protes karena sesungguhnya ia menyukai perhatian-perhatian kecil yang dilakukan kekasihnya itu.
“Langsung pulang apa mau mampir kemana dulu?” tanya Sherlyta yang mulai melajukan mobilnya.
“Ke danau boleh?” Sherlyta cepat menggelang.
“Disana gak ada kursi, lo belum bisa buat duduknya kalo harus di atas tanah.”
“Kerumah kamu aja kalau gitu,” putusnya yang kemudian diangguki setuju oleh Sherlyta.
“Beli makanan dulu ya, gue lapar banget.”
Sherlyta membelokan mobilnya menuju restoran cepat saji, setelah menyuruh Samuel untuk menunggu, perempuan cantik itu turun dari mobilnya dan melangkah masuk kedalam restoran tersebut meninggalkan Samuel didalam mobil seorang diri. Tidak sengaja ia melihat keberadaan bocah yang pernah menjadi muridnya dulu tengah memakan lahap ayam goreng yang di balut tepung dengan ditemani seorang laki-laki dewasa yang begitu iya kenal, dan sudah beberapa minggu ini tidak ia temui.
“Boleh duduk disini gak?” kedua laki-laki berbeda usia itu menoleh kearah Sherlyta, senyum dari kedua laki-laki itu terbit, anak kecil yang semula duduk di kursi sebelah kiri melompat turun dan memeluk kaki Sherlyta dengan erat.
“Bunda kemana aja, Bintang kangen. Bunda kenapa gak pernah datang lagi kesekolah?”
Sherlyta dapat merasakan basah di celana panjang yang dikenakannya saat ini, bocah itu menangis sambil memeluk kakinya membuat Sherlyta merasa bersalah. Sherlyta membawa bocah lima tahun itu kedalam gendongannya dan menghapus air mata yang membasahi pipi gembul Bintang.
“Maafin Bunda ya, Sayang Bunda lagi sibuk di butik jadi gak bisa datang ke sekolah lagi. Tapi kan Bintang nanti bisa main-main ke butik atau rumah Bunda.” Lembut Sherlyta berucap pada bocah itu. Bintang yang berada dalam gendongan Sherlyta mengangguk membuat perempuan cantik idolanya itu tersenyum manis.
“Bintang lanjutin makannya ya, Bunda mau pesan makanan dulu sebentar.” Bocah itu mengangguk dan Sherlyta mendudukan bocah bermata bulat itu kembali di kursinya semula. Setelah pamit pada Alvian, Sherlyta lalu melangkahkan kakinya menuju meja pemesanan dan menyebutkan beberapa fastfood kesukaannya dan juga Samuel, dan setelah itu kembali mendekati meja yang ditempati Bintang dan Alvian yang kini kedua laki-laki beda usia itu sudah menyelesaikan makannya.
Alvian, Bintang dan Sherlyta keluar bersamaan dimana bocah berusia lima tahun itu berada di gendongan laki-laki dewasa yang memiliki tubuh tinggi dan tegap juga jangan lupakan wajah tampannya. Mereka bertiga terlihat seperti keluarga kecil baru membuat Samuel yang melihat dari dalam mobil meradang menahan marah dan juga cemburu. Samuel ingat laki-laki yang berada di samping Sherlytaa itu adalah laki-laki yang tempo hari pernah mengunjungi kekasihnya kebutik.
Samuel semakin mengepalkan kedua tangannya saat dilihatnya Sherlyta tertawa bersana laki-laki yang jika tidak salah ingat bernama Alvian itu. Dengan susah payah ia mengambil tongkat dari jok belakang dan membuka pintu mobil, berusaha keluar untuk menghampiri Sherlyta.
“Baby, kamu lama banget sih!”
__ADS_1