
Hari ini Samuel kembali memutuskan untuk pulang kerumah Sherlyta, ini sudah hari ke dua ia pulang kerumah kekasihnya, dan ini akan menjadi malam ketiganya tidur bersebelahan dengan Sherlyta, kekasih yang amat dicintainya.
Tepat pukul eman sore dirinya sampai, mencari keberadaan Sherlyta yang belum juga terlihat, di meja makan ia sudah melihat berbagai masakan yang masih mengepul tersusun rapi dan juga cukup banyak. Senyum laki-laki tampan itu terbit saat di meja itu tersaji juga cumi-cumi telur asin salah satu makanan kesukaan dirinya yang lain. Ia berpikir mungkin kekasihnya itu tahu dirinya akan kembali pulang kerumah ini.
Langkah besar itu melangkah menaiki tangga menuju kamar yang semalam ia tempati. Suara gemericik air terdengar dari kamar mandi. Membuat dirinya yakin bahwa Sherlyta berada di dalam sana. Samuel merebahkan tubuhnya di atas ranjang membuka dua kancing teratas kemejanya setelah dasi biru tua yang di pakainya ia lempar ke sisi ranjang sebelah. Terbayang kehidupannya nanti setelah ia resmi menikahi Sherlyta. Ah, betapa bahagianya dia meski hanya membayangkannya saja.
“Loh, kamu udah pulang?” Samuel langsung bangkit dari berbaringnya menjadi duduk, tersenyum manis kearah kekasihnya yang baru saja keluar dari kamar mandi, masih mengenakan handuk putih sebatas paha, juga rambut yang di gelung keatas.
“Sini,” titah Samuel.
“Iya nanti, aku pakai baju dulu.” Jawab Shelyta sambil berjalan menuju lemari yang arahnya berlawanan dengan dimana Samuel yang duduk di ranjang.
Laki-laki tampan yang masih mengenakan kemeja putih seperti tadi pagi yang kini sedikit kusut itu mengembungkan pipinya. Lalu bangkit dari duduknya menghampiri Sherlyta yang sudah berada di depan lemari tengah memilih pakaian yang akan ia kenakan. Samuel menarik lengan kekasihnya itu pelan, hingga Sherlyta berbalik menatap Samuel dengah kening berkerut.
“Kenapa?”
Tanpa menjawab pertanyaan yang diberikan Sherlyta, Samuel langsung mendaratkan bibirnya pada bibir Sherlyta mengelumnya lembut seperti biasa. Perempuan sipit itu menghela napas kemudian membalas lumatan-lumatan yang di berikan Samuel.
“Buka mulutnya,” ucap Samuel, kemudian melumat kembali bibir tipis itu semakin dalam. Sherlyta membalas dengan senang hati. Tangan Samuel sudah tak tinggal diam, kedua tangan itu kini sudah meremas-remas dua gundukan kenyal yang terhalang handuk dengan lembut, membuat Sherlyta susah payah Manahan desahannya.
“Udah, ya. Kamu mandi dulu. Lalu turun, kita makan malam sama-sama. Gita juga udah pulang kayaknya,” ucap Sherlyta setelah melepaskan ciumannya.
“Tapi aku masih pengen.” Sherlyta tersenyum, mengecup bibir Samuel singkat lalu membalikan tubuhnya membelakangi Samuel dan mengambil gaun tidur berwarna merah meyala. Samuel menghela napasnya kecewa, lalu masuk kedalam kamar mandi setelah sebelumnya ia sempatkan mengecup leher bagian belakang Sherlyta.
__ADS_1
“Laki lo balik lagi kesini?” Tanya Gita, saat Sherlyta baru saja sampai di ruang tengah, duduk bergabung menonton televisi.
“Iya.” Singkat Sherlyta menjawab.
“Lo gak apa-apa kan soal tadi?” Cemas Gita. Sherlyta menggeleng kemudian tersenyum.
Gita menatap Sherlyta yang sedari tadi pandangannya lurus kedepan, tatapannya kosong, keningnya juga sedikit ada kerutan. Gita tahu sahabatnya itu tengah menyembunyikan sesuatu yang di sebut beban. Beban yang pasti tidaklah ringan. Gita sebenarnya ingin bertanya, tapi ia tahu sahabatnya itu tidak akan mau berbagi, Sherlyta adalah perempuan terbaik dalam menyembunyikan masalah yang sedang menimpanya, Sherlyta adalah perempuan yang tidak ingin terlalu merepotkan orang lain dan juga tidak ingin membuat orang terdekatnya khawatir. Perempuan kuat dan tangguh diluar itu nyatanya memiliki luka menganga di dalamnya.
Samuel keluar dari kamar sudah segar dan berganti dengan pakaian santai, T-shirt polos berwarna putih di padukan celana pendek berwarna hitam. Tubuh atletisnya tercetak jelas di balik kaos tersebut. Laki-laki itu duduk di samping Sherlyta yang masih juga menatap kosong kearah depan tanpa menyadari kehadiran sang kekasih. Gita dan Samuel saling pandang dan bicara lewat isarat mata, menanyakan keadaan Sherlyta. Samuel menghela napasnya saat mendapat gelengan dari sahabat kekasihnya itu.
“Kamu melamun?” Sherlyta terkesiap saat sebuah tangan besar menepuk pelan pipinya, menatap kesamping dan menyentuh lembut legan kekar yang masih berada di pipinya itu lalu tersenyum manis.
“Makan yuk,” ajaknya tanpa menjawab pertanyaan Samuel. Sherlyta bangkit dari duduknya, masih menggenggam lengan kasar itu dan mengajaknya untuk ikut berdiri.
“Kayak mau nyebrang aja pakai gandengan segala.” Cibir Gita seperti biasa. Kepala Samuel memutar kebelakang menjulurkan lidahnya pada perempuan pendek itu.
“Makanya cari pacar, Git biar ada yang gandeng.” Sherlyta terkekeh geli melihat delikan tak suka dari Gita.
“Truk aja gandengan, masa lo enggak. Haha.” Tentu saja Samuel paling bahagian jika melihat wajah kesal perempuan bermata bulat itu.
Samuel makan dengan lahap begitu pun dengan Gita, tapi tidak dengan Sherlyta yang hanya makan sedikit karena dirinya memang tidak bernapsu. Berbagai lelucon dan gurauan dari ketiganya meramaikan ruang makan, hingga selesai pun terus berlanjut. Sherlyta bahagia malam ini dan sejenak melupakan masalah tadi siang saat bertemu dengan Cesil dan juga Ibu dari sang kekasih.
“Besok hari minggu, lo ada acara kemana, Git?” Tanya Samuel ketika ketiganya berkumpul di ruang tenang, menonton siaran televisi yang saat ini menayangkan sinetron Indonesia yang menjadi favorit Gita.
__ADS_1
“Gak kemana-mana kayaknya, gue di rumah aja. Kenpa emang, lo mau ngajak gue jalan?” tanya balik Gita mengedipkan sebelah matanya genit.
“Apaan itu mata, ngedip-ngedip, mau godain gue, lo?” Sherlyta dan Gita tertawa berbahak.
“Kenapa kamu ketawa? Gak cemburu aku di godain cewek macam Annabel gitu?” Samuel memberengut sambil menunjuk kearah Gita yang berada di depan bersebrangan dengannya. Bukannya menjawab Sherlyta malah semakin meledakan tawanya, merasa lucu dengan laki-laki yang berada di sampingnya itu.
“Berenti ngatain gue boneka Annabell! Dasar boneka Chukki.” Balas Gita tak terima.
“Bodo amat!” Gita yang geram langsung melemparkan bantal sofa yang berada dipangkuannya dengan keras kearah Samuel, membuat laki-laki itu menyembunyikan wajahnya di belakang tubuh Sherlyta hingga bantal tersebut hanya mengenai pinggangnya.
“Haha, udah. Udah berantemnya ini udah larut malam. Pada tidur ayo ah, gue udah cape ketawa mulu dari tadi.” Lerai Sherlyta masih dengan sisa-sisa tawanya.
Gita dan Samuel mengangguk, mematikan televisi terlebih dulu, mematikan semua lampu dan hanya menyisakan bagian luar yang di biarkan menyala, lalu masuk kedalam kamar masing-masing.
“Gue duluan ya, Night Sher, Nan,” ucap Gita seraya masuk kedalam kamarnya yang masih berada di lantai bawah.
“Night too, Git. Tidur yang nyenyak, mimpi indah.” Balas Sherlyta lalu melangkah menaiki tangga bersama Samuel yang setia merangkulnya.
“Boneka Annabel, awas nanti pas lo tidur ada yang ketuk-ketuk jendela dan lampu di kamar lo kedip-kedip.”
“Jangan nakutin gue, Boneka Chukki!!!” kesal Gita, membuat Samuel tertawa puas dan berlari menaiki tangga meninggalkan Sherlyta yang hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.
Sherlyta melanjutkan langkahnya yang sempat terhenti, menyusul Samuel yang menunggunya di undakan tangga terakhir dengan senyum mengembang, meraih pinggang kekasihnya itu saat Sherlyta sampai dihadapannya, dan mengecup puncak kepalanya dengan penuh kasih sayang.
__ADS_1
“I love you, Baby. Apa pun yang menjadi beban pikiran kamu, tenanglah,aku akan selalu ada disampingmu, menjadi sandaran dan pengobat lukamu.” Ucapan tulus yang keluar dari mulut manis itu membuat Sherlyta meneteskan air mata haru.